-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online

Sengaja atau Tidak, BG Telah Persatukan KMP dan KIH

Capres dari poros Gerindra, Prabowo Subianto berbincang dengan capres dari poros PDIP, Jokowi-JK saat acara pengundian dan penetapan nomor urut untuk pemilihan presiden Juli mendatang di kantor KPU, Jakarta Pusat, Minggu (1/6/2014). Pada pengundian ini, pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan nomor urut satu sedangkan Jokowi-JK nomor urut dua.


JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Riset Akbar Tandjung Institute Muhammad Alfan Alfian menilai masalah pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian RI secara tidak langsung telah mempersatukan partai pengusung Presiden Joko Widodo dengan partai-partai yang memposisikan diri sebagai penyeimbang (oposisi). Langkah Jokowi yang melakukan komunikasi politik dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang didukung koalisi partai penyeimbang bisa menjadi pembuka jalan perubahan peta politik.
"BG (Budi Gunawan) atau tidak sengaja telah mempersatukan partai pengusung dengan partai penyeimbang. Lihat saja di DPR, kan semua fraksi mendukung," kata Alfan dalam acara diskusi di Jakarta, Minggu (1/2/2015).
Terkait pencalonan Budi Gunawan ini, Alfan menilai kelompok oposisi tidak lagi konsisten. Jokowi pun mulai memancing partai oposisi melalui pertemuannya dengan Prabowo. Langkah ini, kata dia, dilakukan Jokowi yang tengah mencari dukungan kekuatan politik selain dari koalisi pengusungnya. Pasalnya, menurut Alfan, Jokowi saat ini tengah bermasalah dengan partai pengusungnya, terutama PDI-Perjuangan. Ia menilai ada tekanan yang diterima Jokowi dari partai pengusungnya agar menetapkan Budi Gunawan sebagai Kapolri.
"Ketika ada masalah dengan partai pengusungnya, dia (Jokowi) ingin mencari dukungan kekuatan di kelompok penyeimbang. Pertemuan Jokowi dan Prabowo, dia tengah memainkan bandul politiknya," ucap Alfan.
Di sisi lain, menurut dia, partai penyeimbang yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) juga memainkan peristiwa politik ini sebagai kredit poin untuk meningkatkan daya tawar pengaruh politik mereka. Bisa saja, menurut Alfan, Presiden Jokowi kelak memutuskan untuk tidak melantik Budi sebagai Kapolri dan mencari dukungan dari KMP atas langkah yang diambilnya tersebut.
"Ini menarik karena politik Indonesia begitu cairnya, pascapilpres, politik negeri akan diwarnai parpol penyeimbang dan pendukung yang bertentangan, tapi yang terjadi berubah sangat cair," ucap dia. (Baca: Dunia Sudah Terbalik, Sekarang KMP yang Dukung Jokowi)
Ia juga menilai bahwa kemungkinan Jokowi mencari dukungan dari KMP merupakan konsekuensi logis karena mendukung pemimpin politik yang populis. Atas dasar itu lah, menurut Alfan, tidak mudah bagi PDIP untuk menitipkan agenda politiknya kepada Jokowi.
"Karena di sisi lain Jokowi berlindung kepada civil society dan bisa berlindung kepada kelompok penyeimbang. Saya tidak tahu ujungnya di mana, apakah Jokowi bisa keluar dari labirin ini atau tidak," sambung dia.
Hingga kini, Jokowi masih menunda pelantikan Budi Gunawan setelah ajudan Megawati itu ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka. Budi diduga menerima pemberian hadiah atau janji terkait jabatannya di Kepolisian.
 
Penulis: Icha Rastika
Editor : Fidel Ali Permana
Labels: Nasional

Thanks for reading Sengaja atau Tidak, BG Telah Persatukan KMP dan KIH. Please share...!

0 Komentar untuk "Sengaja atau Tidak, BG Telah Persatukan KMP dan KIH"

Back To Top