Di depan 27 anggota Komisi IV DPR, Susi sempat menayangkan film dokumenter berdurasi 5 menit soal investigasi yang dibuat AP dengan judul “Are slaves catching the fish you buy?" pada 25 Maret 2015.
"Kejadian Benjina kita sangat terpukul. Kita berharap solid menangani ini," kata Susi di Gedung Komisi IV DPR Senayan, Jakarta, Rabu (1/04/2015).
Susi mengatakan berdasarkan laporan yang diterimanya, setiap tahun puluhan pekerja Anak Buah Kapal (ABK) asing yang bekerja di PT PBR meninggal dengan berbagai sebab termasuk karena praktik perbudakan. Antara lain pemukulan, jam kerja yang melebihi batas kewajaran hingga 22 jam per hari, hingga penahanan.
"Ya kejadiannya seperti ini. Yang meninggal ada 20 sampai 30 orang setiap tahun dan saya nggak enak makan," jelas Susi.
Menurut Susi dari temuan lapangan, banyak ABK yang berada di dalam kapal-kapal Thailand bukanlah orang Thailand tetapi dari Kamboja dan Myanmar. Ia mengatakan biasanya orang Thailand tidak banyak berminat menjadi ABK karena risiko yang cukup besar.
"Pemerintah Thailand punya kebijakan tahanan menjadi ABK kapal karena tidak banyak orang Thailand yang mau jadi ABK. Selain tahanan, tenaga kerja ABK kapal Thailand itu dari Kamboja dan Myanmar," paparnya.
Susi menambahkan di Thailand jumlah ABK asing dari Myanmar dan Kamboja bisa mencapai 100.000 orang. Dari jumlah itu sebanyak 1.185 orang bekerja di Benjina. Mereka bekerja tanpa identitas resmi dari imigrasi yang dikeluarkan oleh Thailand.
"Mereka tidak punya dokumen imigrasi, dan tinggal sudah cukup lama di Benjina. Saya bicara ini slavery, aparat bilang tidak ada slavery. Memang kejadian seperti itu. Kita minta maaf kepada dunia," tutur Susi.(wij/hen)
Labels:
Perbudakan Ada di Mana-Mana
Thanks for reading Kasus Perbudakan di Aru, Menteri Susi: 20-30 Orang Meninggal Setiap Tahun. Please share...!

0 Komentar untuk "Kasus Perbudakan di Aru, Menteri Susi: 20-30 Orang Meninggal Setiap Tahun"