Rabu, 13/05/2015 16:37 WIB
"Dengan tren penurunan (harga) minyak mentah dunia dan terbatasnya kapasitas kilang maka kami harus impor. Tingginya impor tentunya membutuhkan valuta asing terutama dolar Amerika Serikat yang nilainya besar," kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Rabu (13/5).
Dalam kesepakatan ini, Bank Mandiri memberikan fasilitas hedging terbesar dengan nilai US$ 1 miliar. Sementara US$ 1,5 miliar sisanya dibagi rata antara BNI dan BRI, masing-masing sebesar US$ 750 juta.
Dwi mengungkapkan, sepanjang 2014 nilai impor minyak dan gas (migas) yang dilakukan perusahaannya mencapai US$ 31 miliar, sedangkan nilai impor produk turunan mencapai US$ 25 miliar.
Selain untuk membayar minyak yang dibelinya dari luar negeri, Pertamina juga kerap menggunakan dolar untuk membiayai kegiatan operasional serta memenuhi belanja modal. Selain itu, Pertamina juga memiliki kewajiban utang luar negeri dan operasional dalam valuta asing.
“Sementara lebih dari 80 persen penerimaan kami diterima dalam rupiah. Akibatnya ada potensi missmatch arus kas, yang coba dimitigasi risikonya dengan cara hedging ini,” katanya.
Menurut Dwi, dilakukannya hedging sejalan dengan satu dari lima prioritas strategis Pertamina tahun ini yaitu perbaikan struktur keuangan perusahaan.
Labels:
Pertamina
Thanks for reading Pertamina Hedging US$ 2,5 Miliar untuk Mengimpor Minyak. Please share...!

0 Komentar untuk "Pertamina Hedging US$ 2,5 Miliar untuk Mengimpor Minyak"