Jakarta - Anak-anak yang menjadi korban insiden penyerangan saat
salat idul fitri dan pembakaran musala di Tolikara, Papua harus
dipulihkan kondisi psikologisnya dari trauma. Mereka harus diberikan
bimbingan agar tidak menderita ketakutan akibat penyerangan pada Jumat
(17/7).
"KPAI meminta semua pihak, mulai dari tingkat pusat hingga daerah untuk membuktikan komitmen mereka akan perlindungan anak, sekaligus memberikan bantuan nyata bagi pemulihan hidup anak-anak tersebut secara menyeluruh, meliputi proses rehabilitasi psikis-fisik-sosial-ekonomi-budaya-reliji dan penegakan hukum," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam, Minggu (19/7/2015).
KPAI secara khusus meminta kepada Kemensos untuk merehabilitasi korban, khususnya anak-anak yang mengalami trauma akibat tindak kekerasan yang terjadi. Anak-anak ini menyaksikan penyerangan dan ikut diungsikan ke Koramil.
"KPAI sedang melakukan langkah-langkah untuk mengidentifikasi jumlah korban anak-anak akibat pembakaran dan trauma yang dialami, salah satunya denga jalin komunikasi dengan LPA Papua untuk identifikasi dan advokasi serta pendampingan," tutur dia.
"KPAI juga menyemangati lembaga-lembaga perlindungan anak, khususnya yang berada di Papua, untuk bekerja keras memberikan perlindungan kepada anak-anak korban tragedi kemanusiaan tersebut. Inilah momen pembuktian bahwa kita, Indonesia, sungguh-sungguh menjunjung HAM dan nilai-nilai Pancasila serta pengejawantahannya bagi anak-anak korban di Kabupaten Tolikara, Papua," tutup Niam.
(dra/dra)
"KPAI meminta semua pihak, mulai dari tingkat pusat hingga daerah untuk membuktikan komitmen mereka akan perlindungan anak, sekaligus memberikan bantuan nyata bagi pemulihan hidup anak-anak tersebut secara menyeluruh, meliputi proses rehabilitasi psikis-fisik-sosial-ekonomi-budaya-reliji dan penegakan hukum," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam, Minggu (19/7/2015).
KPAI secara khusus meminta kepada Kemensos untuk merehabilitasi korban, khususnya anak-anak yang mengalami trauma akibat tindak kekerasan yang terjadi. Anak-anak ini menyaksikan penyerangan dan ikut diungsikan ke Koramil.
"KPAI sedang melakukan langkah-langkah untuk mengidentifikasi jumlah korban anak-anak akibat pembakaran dan trauma yang dialami, salah satunya denga jalin komunikasi dengan LPA Papua untuk identifikasi dan advokasi serta pendampingan," tutur dia.
"KPAI juga menyemangati lembaga-lembaga perlindungan anak, khususnya yang berada di Papua, untuk bekerja keras memberikan perlindungan kepada anak-anak korban tragedi kemanusiaan tersebut. Inilah momen pembuktian bahwa kita, Indonesia, sungguh-sungguh menjunjung HAM dan nilai-nilai Pancasila serta pengejawantahannya bagi anak-anak korban di Kabupaten Tolikara, Papua," tutup Niam.
(dra/dra)
Labels:
Anak korban pembakaran Musala,
Harus disembuhkan dari Trauma,
Tolikara
Thanks for reading Anak Korban Pembakaran Musala di Tolikara Harus Disembuhkan dari Trauma. Please share...!

0 Komentar untuk "Anak Korban Pembakaran Musala di Tolikara Harus Disembuhkan dari Trauma"