Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Foto: Situs Resmi NU
Jakarta - Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama akan memilih Ketua Umum PBNU untuk periode 2015-2020. Mekanisme pemilihannya pun tak sekadar mempertimbangkan suara terbanyak saja seperti pada organisasi kebanyakan, tetapi juga mengedepankan musyawarah.
"Pertama sekali peserta Muktamar sudah membuat rapat masing-masing untuk menentukan nama Ahlul Halli Wal Aqdi. Nama-nama itu kemudian ditabulasi oleh panitia pada saat hari pertama Muktamar, saat pendaftaran. Kemudian akan ada 9 nama teratas yang akan menduduki posisi Ahlul Halli Wal Aqdi. Jadi ini perlu diluruskan karena selama ini banyak yang mengira bahwa Ahlul Halli Wal Aqdi itu nama yang 'turun dari langit'. Padahal nama ini sudah dipilih peserta," ujar Ketua Panitia Muktamar Imam Aziz saat dihubungi, Selasa (28/7/2015).
Proses tabulasi juga akan dilakukan secara terbuka di hadapan muktamirin sehingga prosesnya transparan. Ahlul Halli Wal Aqdi nantinya akan memilih Rais Aam secara musyawarah mufakat.
Rais Aam dalam tradisi NU merupakan posisi tertinggi yang biasanya diisi oleh para kiai senior. Posisi ini bisa dibilang lebih tinggi dari jabatan Ketua Umum PBNU.
"Pemilihan Rais Aam oleh Ahlul Halli Wal Aqdi. Sementara Ketua Umum oleh wilayah dan cabang setelah mendapat persetujuan Rais Aam yang terpilih," imbuh Imam.
Calon Ketua Umum sebelumnya akan mendaftar atau pun didaftarkan terlebih dahulu. Setelah itu Rais Aam akan melakukan verifikasi terhadap calon-calon yang diusulkan tersebut.
Setelah itu peserta atau muktamirin yang memiliki hak suara akan melakukan pemilihan. Suara terbanyak akan menduduki posisi Ketua Umum PBNU.
(bag/tor)
Jakarta - Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama akan memilih Ketua Umum PBNU untuk periode 2015-2020. Mekanisme pemilihannya pun tak sekadar mempertimbangkan suara terbanyak saja seperti pada organisasi kebanyakan, tetapi juga mengedepankan musyawarah.
"Pertama sekali peserta Muktamar sudah membuat rapat masing-masing untuk menentukan nama Ahlul Halli Wal Aqdi. Nama-nama itu kemudian ditabulasi oleh panitia pada saat hari pertama Muktamar, saat pendaftaran. Kemudian akan ada 9 nama teratas yang akan menduduki posisi Ahlul Halli Wal Aqdi. Jadi ini perlu diluruskan karena selama ini banyak yang mengira bahwa Ahlul Halli Wal Aqdi itu nama yang 'turun dari langit'. Padahal nama ini sudah dipilih peserta," ujar Ketua Panitia Muktamar Imam Aziz saat dihubungi, Selasa (28/7/2015).
Proses tabulasi juga akan dilakukan secara terbuka di hadapan muktamirin sehingga prosesnya transparan. Ahlul Halli Wal Aqdi nantinya akan memilih Rais Aam secara musyawarah mufakat.
Rais Aam dalam tradisi NU merupakan posisi tertinggi yang biasanya diisi oleh para kiai senior. Posisi ini bisa dibilang lebih tinggi dari jabatan Ketua Umum PBNU.
"Pemilihan Rais Aam oleh Ahlul Halli Wal Aqdi. Sementara Ketua Umum oleh wilayah dan cabang setelah mendapat persetujuan Rais Aam yang terpilih," imbuh Imam.
Calon Ketua Umum sebelumnya akan mendaftar atau pun didaftarkan terlebih dahulu. Setelah itu Rais Aam akan melakukan verifikasi terhadap calon-calon yang diusulkan tersebut.
Setelah itu peserta atau muktamirin yang memiliki hak suara akan melakukan pemilihan. Suara terbanyak akan menduduki posisi Ketua Umum PBNU.
(bag/tor)
Labels:
Gabungkan Musyawarah dan Suara Terbanyak,
Pemilihan Ketum PBNU
Thanks for reading Pemilihan Ketum PBNU Gabungkan Musyawarah dan Suara Terbanyak. Please share...!

0 Komentar untuk "Pemilihan Ketum PBNU Gabungkan Musyawarah dan Suara Terbanyak"