mad - detikNews
Foto: Ade/pembaca
Jakarta - Tawuran warga di Johar Baru, Jakarta Pusat seperti tak berkesudahan. Ada saja kabar datang soal tawuran yang pecah, dan bahkan terjadi di saat lebaran. Terus harus bagaimana?
"Ini biasanya masalah sepele pemicunya, soal perempuan digodain atau soal anak-anak yang berkelahi dan orangtuanya ikut," jelas Ade, seorang warga Johar Baru, Minggu (19/7/2015).
Ade menuturkan, tawuran setelah lebaran ini sudah terjadi dua kali. Pertama saat hari lebaran Jumat (17/7) di sore hari dan kemudian Sabtu (18/7) malam hingga dini hari ini.
"Begitu polisi datang, melepaskan tembakan gas air mata, tawurannya selesai. Tapi nanti juga muncul lagi," jelas Ade.
Soal 'budaya' tawuran ini memang memprihatinkan. Tak kurang dari aparat kelurahan, kecamatan, hingga Pemkot dan Pemprov DKI, dan juga kepolisian memfasiltasi agar tak pecah tawuran. Tapi begitu damai dirajut, tak lama akan pecah lagi tawuran.
"Nggak ngerti ini harus bagaimana," imbuh Ade.
Persoalan ini memang cukup rumit. Di Johar Baru tawuran sudah bak hobi bagi sebagian orang. Tak hanya remaja, terkadang orangtua juga ikut-ikutan.
Pastinya mesti ada penanganan segera dan komprehensif meredam budaya tawuran warga di Johar Baru. Pemerintah pun harus turun sepenuh hati dengan mendamaikan hingga tuntas.
(dra/dra)
Note : Saatnya budayawan, tokoh masyarakat setempat dan ahli sosiologi perkotaan bicara.
Jakarta - Tawuran warga di Johar Baru, Jakarta Pusat seperti tak berkesudahan. Ada saja kabar datang soal tawuran yang pecah, dan bahkan terjadi di saat lebaran. Terus harus bagaimana?
"Ini biasanya masalah sepele pemicunya, soal perempuan digodain atau soal anak-anak yang berkelahi dan orangtuanya ikut," jelas Ade, seorang warga Johar Baru, Minggu (19/7/2015).
Ade menuturkan, tawuran setelah lebaran ini sudah terjadi dua kali. Pertama saat hari lebaran Jumat (17/7) di sore hari dan kemudian Sabtu (18/7) malam hingga dini hari ini.
"Begitu polisi datang, melepaskan tembakan gas air mata, tawurannya selesai. Tapi nanti juga muncul lagi," jelas Ade.
Soal 'budaya' tawuran ini memang memprihatinkan. Tak kurang dari aparat kelurahan, kecamatan, hingga Pemkot dan Pemprov DKI, dan juga kepolisian memfasiltasi agar tak pecah tawuran. Tapi begitu damai dirajut, tak lama akan pecah lagi tawuran.
"Nggak ngerti ini harus bagaimana," imbuh Ade.
Persoalan ini memang cukup rumit. Di Johar Baru tawuran sudah bak hobi bagi sebagian orang. Tak hanya remaja, terkadang orangtua juga ikut-ikutan.
Pastinya mesti ada penanganan segera dan komprehensif meredam budaya tawuran warga di Johar Baru. Pemerintah pun harus turun sepenuh hati dengan mendamaikan hingga tuntas.
(dra/dra)
Note : Saatnya budayawan, tokoh masyarakat setempat dan ahli sosiologi perkotaan bicara.
Labels:
Harus Bagaimana?,
Jakarta Pusat,
Johar Baru,
Tawuran
Thanks for reading Tawuran Tak Berkesudahan di Johar Baru Jakarta Pusat, Terus Harus Bagaimana?. Please share...!

0 Komentar untuk "Tawuran Tak Berkesudahan di Johar Baru Jakarta Pusat, Terus Harus Bagaimana?"