Foto: Getty Images
Hiroshima - Pada Kamis (6/8/2015) besok, Jepang akan memperingati 70 tahun tragedi bom Hiroshima. Hingga kini, Jepang merupakan satu-satunya negara di dunia yang menjadi korban bom nuklir.
Amerika Serikat, yang menjadi negara pertama yang menjatuhkan bom nuklir itu, menilai tindakannya menjatuhkan bom yang saat itu baru tersebut diperlukan untuk memaksa Jepang menyerah. Namun ada pakar yang menilai bahwa pandangan AS untuk memaksa Jepang menyerah itu dinilai berbeda oleh pandangan Jepang sendiri.
"Kalau Anda melihatnya dari perspektif militer Jepang, itu (bom atom) tak benar-benar membuat perbedaan besar apakah orang-orang sekarat dari bom api atau bom nuklir..itu (cuma) dua pusat kota tambahan yang hancur," tutur Jeggery Kingston, Direktur Asian Studies di Temple University, Tokyo seperti dilansir dari ABC Australia, Rabu (5/8/2015).
Kingston menambahkan bahwa bom atom mungkin memainkan peran penting untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak melalui perang darat dan juga menyelamatkan ribuan nyawa tentara AS. Namun di sisi lain, bom atom tersebut lebih mengirimkan pesan ke Uni Soviet saat itu.
"Kami memiliki senjata baru yang dahsyat ini saat itu, kami memonopolinya dan kami akan memaksa superpower terkuat. Dalam akal sehat, ini malah membuka tembakan salvo ke Perang Dingin," jelas dia.
Sedangkan sejarawan Jepang, Yuki Tanaka menguatkan pernyataan Kingston, bahwa bom atom itu sebenarnya tidak membuat Jepang menyerah. Kejutan lebih besar untuk Jepang adalah deklarasi Uni Soviet yang akan memerangi Jepang, dua hari setelah bom jatuh di Hiroshima.
Kondisi ini membuat Jepang tersudut. Sedangkan tentara kekaisaran Jepang yang saat itu melemah tidak punya kapasitas untuk melawan Uni Soviet di China.
Tanaka mengatakan saat itu Jepang tidak punya pilihan karena Soviet akan mengeksekusi kaisar, yang menjadi jantung dan jiwa kekaisaran Jepang.
"Uni Soviet akan menghancurkan sistem kekaisaran dan akan mengeksekusi kaisar juga anggota kerajaan," tutur Tanaka.
Para sejarawan sepakat bahwa alasan versi Pemerintah AS untuk menjatuhkan bom atom ke Hiroshima itu terlalu sederhana. Bagaimanapun, Tanaka menilai aksi AS itu adalah kejahatan perang di bawah hukum internasional.
"Juga secara moral itu salah. Jadi mereka (AS) harus mencari argumen non-legal untuk menjustifikasi diri atas tindakan mereka, bahwa mereka memusnahkan 210 ribu nyawa warga sipil (bom Hiroshima dan Nagasaki)," tambah Tanaka.
Di satu sisi, para korban bom atom Hiroshima yang bertahan kini ramai-ramai mengajak agar tak ada bom atom lagi yang digunakan di masa-masa yang akan datang. Seruan yang bernada khawatir itu dilandasi fakta bahwa kini tak hanya AS saja yang memiliki bom atom.
"Beberapa orang di dunia ini masih belum tahu jahatnya senjata nuklir dan itu sudah jelas jahat. Ini mengejutkan saya. Saya ingin mereka datang ke Hiroshima dan Nagasaki," jelas Keiko Ogura (78), salah satu yang bertahan dalam bom itu.
Ogura masih berusia 8 tahun saat bom atom itu jatuh. Saat itu dia hanya berjarak 2,4 kilometer dari pusat bom jatuh, dan mendadak sontak merasakan tubuhnya dilalap api.
"Cahaya sangat terang dan ledakan melemparkan saya ke tanah dan saya langsung pingsan," kenangnya.
"Saat saya terbangun, suasana gelap dan semua orang menangis," imbuh dia yang menilai bom di Hiroshima dan Nagasaki adalah kejahatan perang.
(nwk/ita)
Amerika Serikat, yang menjadi negara pertama yang menjatuhkan bom nuklir itu, menilai tindakannya menjatuhkan bom yang saat itu baru tersebut diperlukan untuk memaksa Jepang menyerah. Namun ada pakar yang menilai bahwa pandangan AS untuk memaksa Jepang menyerah itu dinilai berbeda oleh pandangan Jepang sendiri.
"Kalau Anda melihatnya dari perspektif militer Jepang, itu (bom atom) tak benar-benar membuat perbedaan besar apakah orang-orang sekarat dari bom api atau bom nuklir..itu (cuma) dua pusat kota tambahan yang hancur," tutur Jeggery Kingston, Direktur Asian Studies di Temple University, Tokyo seperti dilansir dari ABC Australia, Rabu (5/8/2015).
Kingston menambahkan bahwa bom atom mungkin memainkan peran penting untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak melalui perang darat dan juga menyelamatkan ribuan nyawa tentara AS. Namun di sisi lain, bom atom tersebut lebih mengirimkan pesan ke Uni Soviet saat itu.
"Kami memiliki senjata baru yang dahsyat ini saat itu, kami memonopolinya dan kami akan memaksa superpower terkuat. Dalam akal sehat, ini malah membuka tembakan salvo ke Perang Dingin," jelas dia.
Sedangkan sejarawan Jepang, Yuki Tanaka menguatkan pernyataan Kingston, bahwa bom atom itu sebenarnya tidak membuat Jepang menyerah. Kejutan lebih besar untuk Jepang adalah deklarasi Uni Soviet yang akan memerangi Jepang, dua hari setelah bom jatuh di Hiroshima.
Kondisi ini membuat Jepang tersudut. Sedangkan tentara kekaisaran Jepang yang saat itu melemah tidak punya kapasitas untuk melawan Uni Soviet di China.
Tanaka mengatakan saat itu Jepang tidak punya pilihan karena Soviet akan mengeksekusi kaisar, yang menjadi jantung dan jiwa kekaisaran Jepang.
"Uni Soviet akan menghancurkan sistem kekaisaran dan akan mengeksekusi kaisar juga anggota kerajaan," tutur Tanaka.
Para sejarawan sepakat bahwa alasan versi Pemerintah AS untuk menjatuhkan bom atom ke Hiroshima itu terlalu sederhana. Bagaimanapun, Tanaka menilai aksi AS itu adalah kejahatan perang di bawah hukum internasional.
"Juga secara moral itu salah. Jadi mereka (AS) harus mencari argumen non-legal untuk menjustifikasi diri atas tindakan mereka, bahwa mereka memusnahkan 210 ribu nyawa warga sipil (bom Hiroshima dan Nagasaki)," tambah Tanaka.
Di satu sisi, para korban bom atom Hiroshima yang bertahan kini ramai-ramai mengajak agar tak ada bom atom lagi yang digunakan di masa-masa yang akan datang. Seruan yang bernada khawatir itu dilandasi fakta bahwa kini tak hanya AS saja yang memiliki bom atom.
"Beberapa orang di dunia ini masih belum tahu jahatnya senjata nuklir dan itu sudah jelas jahat. Ini mengejutkan saya. Saya ingin mereka datang ke Hiroshima dan Nagasaki," jelas Keiko Ogura (78), salah satu yang bertahan dalam bom itu.
Ogura masih berusia 8 tahun saat bom atom itu jatuh. Saat itu dia hanya berjarak 2,4 kilometer dari pusat bom jatuh, dan mendadak sontak merasakan tubuhnya dilalap api.
"Cahaya sangat terang dan ledakan melemparkan saya ke tanah dan saya langsung pingsan," kenangnya.
"Saat saya terbangun, suasana gelap dan semua orang menangis," imbuh dia yang menilai bom di Hiroshima dan Nagasaki adalah kejahatan perang.
(nwk/ita)
Labels:
Awal Perang Dingin dan Ajakan Musnahkan Senjata Nuklir,
Bom Hiroshima
Thanks for reading Bom Hiroshima, Awal Perang Dingin dan Ajakan Musnahkan Senjata Nuklir. Please share...!

0 Komentar untuk "Bom Hiroshima, Awal Perang Dingin dan Ajakan Musnahkan Senjata Nuklir"