Pesawat
tempur Sukhoi Su-27 Flanker dari Skuadron Udara 11 yang bermarkas di
Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, dalam satu
manuver. Bagian perut fuselage Su-27 Flanker ini terlihat, sebagaimana
dua silo mesin jetnya. Dia terbang dalam konfigurasi tanpa senjata.
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
... sangat ironis anggaran pertahanan dikurangi...
Jakarta
(ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR, Salim Mengga, menyatakan,
pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk mengimbangi
kekuatan pertahanan udara nasional.
Purnawirawan TNI AD itu menyebutkan, Malaysia sudah memesan pesawat tempur F-35 Lighting II
buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat, atau Sukhoi Su-35. Begitu juga
dengan Singapura dan Australia yang telah membeli F-35. Bahkan,
Australia sudah datang sebanyak 58 unit F-35.
Yang
masih misterius adalah proses pengadaan Sukhoi Su-35 itu oleh
pemerintah, mulai dari pengumuman permintaan informasi kepada pabrikan,
permintaan spesifikasi, proses tender, pengujian, hingga keputusan
penentuan pemenang tender.
Saat
Angkatan Udara India membeli pesawat tempur Dassault Rafale dari
Prancis, semua proses itu diungkap kepada publik dalam batas tertentu.
Kompetisi
dibuka untuk semua pabrikan dengan cara yang jujur dan terukur, sampai
akhirnya 178 unit Dassault Rafale dibeli India, dengan hanya 28 unit
dibuat di Prancis dan sisanya di India sebagai bagian utama dari proses
transfer teknologi.
Saat
Sukhoi Su-27/30MKI dibeli Indonesia, Rusia melalui Rosoboronexport juga
sempat menyatakan keinginannya untuk menerapkan transfer teknologi
kepada Indonesia.
Namun
sampai kini publik tidak mendapat informasi pasti tentang hal ini dari
Rusia sebagai penjual pesawat tempur itu ataupun dari militer Indonesia
sebagai operator.
“Kita
harus tingkatkan pertahanan kita untuk mengantisipasi konfik di kawasan
Asia Tenggara, termasuk di Laut China Selatan,” kata politisi Partai
Demokrat itu.
Pembelian Sukhoi Su-35 asal Rusia itu dikarenakan tidak serumit saat membeli pesawat tempur dari Amerika Serikat.
“Kita
cari arsenal yang resikonya rendah. Misalnya kita beli F-16, tapi dalam
perjanjiannya kita tidak boleh digunakan untuk keamanan dalam negeri,
terus untuk apa?," katanya.
"Jadi
kita cari syaratnya yang ringan. Dengan Rusia tidak banyak resikonya.
Kita pernah rasakan embargo, kita beli 25 unit, yang bisa dioperasikan
hanya lima. Jangan kita ulangi lagi,” kata Mengga.
Ia
menambahkan, dengan diperkuatnya angkatan udara dengan mempunyai
pesawat tempur Sukhoi Su-35, tentunya akan membuat negara lain akan
memperhitungkan Indonesia.
“Kita harus waspada, kalau kita lemah, bahaya bagi NKRI,” kata dia.
Mantan
komandan Pusat Kavaleri TNI AD itu menyebutkan, pengurangan anggaran
Kementerian Pertahanan akan berdampak besar bagi Indonsia.
“Ini
sangat ironis anggaran pertahanan dikurangi. Saya kira penambahan
anggaran harus diperjuangan untuk mencapai standar minimun agar bisa
imbangi negara-negara tetangga. Kalau tidak, kita tidak akan berani
dengan negara tetangga,” sebutnya.
Oleh karena, kekuatan militer mutlak diperlukan meskipun Indonesia kuat dalam diplomasi.
“Kalau
kita lelat, dalam waktu 10 tahun ke depan kita tertinggal dibanding
negara lain, meskipun kuat diplomasi. Kekuatan militer mutlak buat kita,
tidak bisa diabaikan,” demikian Mengga.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Labels:
Diklaim untuk imbangi negara tetangga,
Sukhoi Su-35
Thanks for reading Sukhoi Su-35 diklaim untuk imbangi negara tetangga. Please share...!

0 Komentar untuk "Sukhoi Su-35 diklaim untuk imbangi negara tetangga"