Gagah Wijoseno - detikNews
Foto: Gagah Wijoseno
Makkah - Takdir telah memberikan pelajaran bagi manusia yang berfikir, seperti yang terjadi di Arafah dan Mina pada musim haji tahun ini. Tenda roboh di Arafah dan tragedi Mina yang menimbulkan korban jiwa jemaah haji Indonesia mendapat perhatian khusus Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.
"Indonesia mendukung penuh membuat fasilitas permanen tidak hanya kenyamanan tapi juga keselamatan mereka. Misalnya di Arafaah. Bagaimana tenda itu permanen. Lebih baik atau sama dengan tenda di Mina. Kenapa Arafah tidak bisa," kata Menag Lukman Hakim di Makkah, Sabtu (27/9/2015).
Menag merujuk kejadian tenda-tenda jemaah Indonesia yang roboh di maktab 8 ketika ada angin kencang beberapa waktu lalu. Tenda yang roboh itu mengganggu proses ibadah haji jemaah Indonesia padahal angin yang bertiup kala itu masih belum kencang sekali.
"Angin tidak seperti waktu ada insiden crane jatuh di Masjidil Haram," tuturnya.
Keberadaan perluasan Mina yang sering disebut Mina Jadid memiliki potensi beragam masalah. Selain masalah fikih karena secara geografis sudah bukan di Mina lagi, jarak Mina Jadid ke jamarat (tempat lempar jumroh) sejauh 7 km membuat peluang jemaah tersesat semakin besar.
"Di mina kita usulkan dibuat tenda bertingkat. Tidak perlu menempatkan di Mina Jadid," kata Menag.
Menag Lukman Hakim mencontohkan jamarat yang bisa dibuat sampai 4 tingkat. Seharusnya tenda-tenda juga bisa dibuat sedemikian rupa demi kenyamanan dan keamanan jemaah.
"Wilayah Mina tidak bisa diperluas maka tidak ada pilihan selain meningkatkan ke atas. Daya tampung juga lebih banyak," ujarnya.
(gah/Hbb)
Makkah - Takdir telah memberikan pelajaran bagi manusia yang berfikir, seperti yang terjadi di Arafah dan Mina pada musim haji tahun ini. Tenda roboh di Arafah dan tragedi Mina yang menimbulkan korban jiwa jemaah haji Indonesia mendapat perhatian khusus Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.
"Indonesia mendukung penuh membuat fasilitas permanen tidak hanya kenyamanan tapi juga keselamatan mereka. Misalnya di Arafaah. Bagaimana tenda itu permanen. Lebih baik atau sama dengan tenda di Mina. Kenapa Arafah tidak bisa," kata Menag Lukman Hakim di Makkah, Sabtu (27/9/2015).
Menag merujuk kejadian tenda-tenda jemaah Indonesia yang roboh di maktab 8 ketika ada angin kencang beberapa waktu lalu. Tenda yang roboh itu mengganggu proses ibadah haji jemaah Indonesia padahal angin yang bertiup kala itu masih belum kencang sekali.
"Angin tidak seperti waktu ada insiden crane jatuh di Masjidil Haram," tuturnya.
Keberadaan perluasan Mina yang sering disebut Mina Jadid memiliki potensi beragam masalah. Selain masalah fikih karena secara geografis sudah bukan di Mina lagi, jarak Mina Jadid ke jamarat (tempat lempar jumroh) sejauh 7 km membuat peluang jemaah tersesat semakin besar.
"Di mina kita usulkan dibuat tenda bertingkat. Tidak perlu menempatkan di Mina Jadid," kata Menag.
Menag Lukman Hakim mencontohkan jamarat yang bisa dibuat sampai 4 tingkat. Seharusnya tenda-tenda juga bisa dibuat sedemikian rupa demi kenyamanan dan keamanan jemaah.
"Wilayah Mina tidak bisa diperluas maka tidak ada pilihan selain meningkatkan ke atas. Daya tampung juga lebih banyak," ujarnya.
(gah/Hbb)
-
Labels:
Bangun Tenda Permanen di Arafah dan Tenda Bertingkat di Mina,
Usulan Menag
Thanks for reading Usulan Menag: Bangun Tenda Permanen di Arafah dan Tenda Bertingkat di Mina. Please share...!

0 Komentar untuk "Usulan Menag: Bangun Tenda Permanen di Arafah dan Tenda Bertingkat di Mina"