Pewarta: Dolly Rosana
Palembang (ANTARA News) - Presiden keenam Indonesia, Susilo Yudhoyono, mengatakan, sistem ekonomi kapital yang diterapkan di banyak negara yakni menyerahkan ke mekanisme pasar terbilang sangat membahayakan kelestarian lingkungan karena para pelaku cenderung serakah.
"Ekonomi dunia saat ini masih konvensional dan kapital, menyediakan ke mekanisme pasar. Jika tidak segera dikoreksi dan diperbaiki maka akan mengancam keberlangsungan kehidupan manusia di bumi," kata Yudhoyono, dalam kuliah umum di Universitas Islam Negeri Raden Patah, Palembang, Rabu.
Konsep green economy ini tertuang dalam Sustainable Development Goals 2015-2030 (pengganti MDGs) yang tujuan utamanya mengurangi kemiskinan dan menghilangkan kelaparan. Yudhoyono menjadi salah satu konseptor itu.
Presiden
keenam Indonesia, Susilo Yudhoyono, saat berpidato saat terpilih
menjadi Ketua Dewan Global Green Growth Institute (GGGI) di Markas Besar
PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa waktu setempat (23/9). (ANTARA
FOTO/Setpres-Cahyo Bruri Sasmito)
"Ekonomi dunia saat ini masih konvensional dan kapital, menyediakan ke mekanisme pasar. Jika tidak segera dikoreksi dan diperbaiki maka akan mengancam keberlangsungan kehidupan manusia di bumi," kata Yudhoyono, dalam kuliah umum di Universitas Islam Negeri Raden Patah, Palembang, Rabu.
Kuliah umumnya bertemakan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau Abad 21.
Untuk itu, kata presiden periode 2004-2014 ini, negara harus bertindak dan mengukuhkan keberadaannya sebagai penjaga lingkungan dengan bertanggung jawab penuh.
Menurutnya, ini berdasarkan koreksi atas penerapan revolusi industri pada abad ke-18 yang berujung pada kerusakan lingkungan secara masif meski di sisi lain mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Jadi konsep pembangunan berkelanjutan harus dikedepankan, dan untuk sektor pertanian, model yang paling cocok yakni green economy yakni sistem perekonomian yang mampu meningkatkan kualitas hidup manusia (sejahtera) dengan berkeadilan sosial (tidak ada lagi kelaparan)," kata dia.
Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang dengan perkirakan penduduk mencapai 306 juta jiwa di tahun 2035 harus bertransformasi total terkait pembangunan sektor pertanian ini.
Untuk itu, kata presiden periode 2004-2014 ini, negara harus bertindak dan mengukuhkan keberadaannya sebagai penjaga lingkungan dengan bertanggung jawab penuh.
Menurutnya, ini berdasarkan koreksi atas penerapan revolusi industri pada abad ke-18 yang berujung pada kerusakan lingkungan secara masif meski di sisi lain mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Jadi konsep pembangunan berkelanjutan harus dikedepankan, dan untuk sektor pertanian, model yang paling cocok yakni green economy yakni sistem perekonomian yang mampu meningkatkan kualitas hidup manusia (sejahtera) dengan berkeadilan sosial (tidak ada lagi kelaparan)," kata dia.
Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang dengan perkirakan penduduk mencapai 306 juta jiwa di tahun 2035 harus bertransformasi total terkait pembangunan sektor pertanian ini.
Konsep green economy ini tertuang dalam Sustainable Development Goals 2015-2030 (pengganti MDGs) yang tujuan utamanya mengurangi kemiskinan dan menghilangkan kelaparan. Yudhoyono menjadi salah satu konseptor itu.
Mulai saat ini, menurut SBY, negara harus berhitung dalam setiap
penggunaan sumber daya alam dari mulai produksi, distribusi hingga
konsumsi.
"Kita semua harus keluar dari ekonomi yang serakah dan beralih ke ekonomi hijau. Pakailah yang dibutuhkan saja," ujar kata Presiden The Global Green Growth Institute ini.
"Kita semua harus keluar dari ekonomi yang serakah dan beralih ke ekonomi hijau. Pakailah yang dibutuhkan saja," ujar kata Presiden The Global Green Growth Institute ini.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Labels:
Bahayakan lingkungan,
Sistem ekonomi kapital,
Susilo Yudhoyono
Thanks for reading Susilo Yudhoyono: Sistem ekonomi kapital bahayakan lingkungan. Please share...!

0 Komentar untuk "Susilo Yudhoyono: Sistem ekonomi kapital bahayakan lingkungan"