-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Agung Laksono sesalkan politik uang jelang Munas

Agung Laksono sesalkan politik uang jelang Munas

Agung Laksono sesalkan politik uang jelang Munas
Agung Laksono (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
 KPK ikut mengawasi lah, supaya tidak ada praktik merusak

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono menyesalkan adanya kabar praktik bagi-bagi uang menjelang Musyawarah Nasional Golkar tahun ini. 

"Saya menyesalkan hal tersebut. Saya mendengar ada praktik itu, semoga saja tidak benar," kata Agung Laksono di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya politikus Golkar Nurdin Halid menyatakan dirinya menerima informasi adanya iming-iming uang senilai 10.000 dolar Singapura dari seseorang kepada DPD II Golkar, guna kepentingan Munas. 

Namun Nurdin belum mau membeberkan dari mana informasi itu diperolehnya, hingga ada bukti kuat.

Agung menyampaikan seluruh bakal Calon Ketua Umum Golkar boleh saja melakukan pertemuan dengan pengurus dan kader daerah. Namun dia menekankan pertemuan tersebut agar tidak dimanfaatkan untuk membagikan uang.

"Pertemuan hanya sebatas dialog saja itu dibolehkan. Tapi jangan terang-terangan bagikan uang," jelas dia.
Agung pun kembali menyuarakan harapannya agar Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dapat ikut serta mengawasi Munas Golkar tahun ini guna mencegah adanya praktik politik uang. 

"KPK ikut mengawasi lah, supaya tidak ada praktik merusak," kata Agung.

Agung juga meminta tidak ada praktik-praktik menyatakan surat dukungan terhadap calon tertentu menjelang Munas karena hal tersebut berpotensi menyangkut hal-hal transaksional.

Inisiator Generasi Muda Golkar Ahmad Doli Kurnia menyampaikan adanya kabar praktik politik uang semakin mendorong keinginan atas pelibatan KPK dan PPATK. 
Selain itu, kata Doli, kabar tidak sedap ini menjadi pekerjaan rumah bagi panitia penyelenggara Munas nantinya.

"Saya kira ini tantangan panitia penyelenggara. Harus dibuat mekanisme aturan sedemikian rupa untuk meminimalisir praktik politik uang," kata Doli.

Munas Golkar akan dilaksanakan tahun ini. Kepanitiaan Munas akan diputuskan akhir Februari melalui rapat pleno Golkar.

Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Agung Laksono temui Jokowi

Agung Laksono temui Jokowi

Agung Laksono temui Jokowi
Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Ancol Agung Laksono. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) - Politisi senior Partai Golkar Agung Laksono menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Senin siang.

Mengenakan kemeja batik lengan panjang, Agung Laksono hadir sendiri menuju Istana Merdeka.

Setibanya di depan gerbang pemeriksaan pintu kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Agung diantar ke Istana Merdeka dengan menggunakan mobil golf.

Ketua Partai Golkar versi Munas Jakarta Ancol itu tiba di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta sekitar pukul 15.26 WIB.

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Agung Laksono: kami ingin bersatu secara "fair"

Agung Laksono: kami ingin bersatu secara "fair"

Pewarta: 
Agung Laksono: kami ingin bersatu secara
Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Ancol, Agung Laksono (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
 Kami memang beda pendapat tapi kami mencintai sebuah persatuan. Kami ingin rekonsiliasi, kami ingin bersatu kembali tapi dengan cara yang `fair`, dengan cara yang adil,"

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Partai Golkar hasil musyawarah nasional Ancol Agung Laksono mengungkapkan keinginannya untuk bersatu bergabung dengan kubu munas Bali Aburizal Bakrie dengan cara yang adil.

"Kami memang beda pendapat tapi kami mencintai sebuah persatuan. Kami ingin rekonsiliasi, kami ingin bersatu kembali tapi dengan cara yang fair, dengan cara yang adil," kata Agung di kediamannya di Jakarta, Selasa (5/1) malam.
Menurut Agung, cara rekonsiliasi yang paling baik ialah dengan mengadakan munas untuk memilih kembali pimpinan Partai Golkar yang baru.

Ia menginginkan diadakan munas secepatnya dan paling lambat pada Februari, sehingga Golkar bisa melaksanakan tugas-tugas sesuai kewenangan sebuah partai.

Agung menilai pandangan yang mengatakan untuk tidak perlu mengadakan munas merupakan sikap yang arogan.

"Kami juga mendengar ada pertemuan di bali yang mengatakan menolak melaksanakan munas. Saya kira itu sebuah putusan yang tidak simpatik," jelas Agung.

Ia juga menyayangkan sikap kubu Aburizal yang dinilai tidak menanggapi upaya pembentukan tim dari kubu Agung untuk melakukan komunikasi.

"Tapi tampaknya mereka tidak menanggapi, dan tidak ada niat sama sekali dan terlihat arogan mengatakan bahwa tidak perlu ada munas. "Saya kira sikap-sikap seperti itu yang kami serahkan kepada publik silakan menilai, bahwa kami yang ingin melaksanakan rekonsiliasi secara damai," ujar Agung.
Ia menginginkan Munas Golkar diadakan secara terbuka dan memilih kembali kepemimpinan yang baru dengan demokratis.

"Kalau sudah seperti itu, dilakukan secara demokratis dan terbuka, maka siapapun ya harus legowo menerima siapapun yang diputuskan," kata Agung.

Agung juga meminta untuk menunda pencalonan ketua DPR dari Partai Golkar karena partai sedang tidak memiliki "legal standing".

"Karena situasi sekarang terjadi kekosongan maka sebaiknya usulan calon ketua DPR dari Partai Golkar ditunda, tidak bisa dilaksanakan," ujar dia. 

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Agung Laksono serukan kocok ulang pimpinan DPR

Agung Laksono serukan kocok ulang pimpinan DPR

Agung Laksono serukan kocok ulang pimpinan DPR
Agung Laksono (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
 Kita kembali saja pada aturan MD3 yang lama bahwa pemenang Pemilu yang mendapatkan posisi ketua DPR, yakni untuk sekarang ini adalah PDIP
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua DPR periode 2004-2009 Agung Laksono menilai perlu ada wacana kocok ulang pimpinan DPR jika Ketua DPR Setya Novanto mengundurkan diri atau dimundurkan dari jabatannya berdasarkan hasil sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

"Menurut saya kalau saudara Novanto dimundurkan atau mengundurkan diri, kocok ulang ketua DPR harus dilakukan," kata Agung Laksono kepada pers, Minggu, seraya menilai pergantian pimpinan DPR bukan mustahil menyusul dugaan pelanggaran etik Ketua DPR Setya Novanto atas kasus permintaan saham PT Freeport Indonesia.

Agung menyebutkan pada periode-periode sebelumnya, posisi Ketua DPR selalu dijabat politisi partai politik pemenang Pemilu, kecuali yang saat ini.

"Ketua DPR periode 2004-2009 dipimpin Golkar di mana saya jadi ketua DPR-nya dan pada periode 2009-2014 dipimpin Pak Marzuki Alie karena Partai Demokrat menang pemilu," kata Agung.

Menurut Agung, menjelang berakhir masa jabatan DPR periode 2009-2014 ada manuver politik dari Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengubah "kebiasaan" itu melalui UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3).
"Menjelang berakhirnya masa jabatan dewan, di situ diubah bukan pemenang Pemilu. Kita tahu Pemilu 2014 yang menang adalah PDIP. Tapi karena persekongkolan KMP, ada perombakan UU MD3 yang seolah dipaksakan," kata Agung.

Ketua Umum DPP Partai Golkar hasil Munas Ancol Jakarta itu mengharapkan kocok ulang pimpinan DPR dan pimpinan dikembalikan kepada yang "berhak" sesuai desain politik sebelumnya bahwa pemenang Pemilu berhak mendapat posisi ketua DPR.

"Kita kembali saja pada aturan MD3 yang lama bahwa pemenang Pemilu yang mendapatkan posisi ketua DPR, yakni untuk sekarang ini adalah PDIP," ujar Agung.

Ia menambahkan, kalau MKD menyatakan Setya Novanto bersalah dan harus turun dari jabatannya atau mengundurkan diri, Golkar harus ikhlas jika posisi Setyo diserahkan ke PDIP sebagai pemenang Pemilu 2014.
"Dengan demikian maka pengisiannya dengan kocok ulang dan komposisinya PDIP sebagai Ketua DPR, diikuti Partai Golkar, Partai Gerindra dan seterusnya," kata Agung.

MKD pekan lalu menyidangkan dugaan pelanggaran etik oleh Ketua DPR berdasarkan aduan Menteri ESDM Sudirman Said menyangkut kontrak dan saham PT Freeport Indonesia.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Rekaman Lengkap Terungkap, Agung Laksono: Setya Novanto Harus Mundur

Rekaman Lengkap Terungkap, Agung Laksono: Setya Novanto Harus Mundur

Danu Damarjati - detikNews
Rekaman Lengkap Terungkap, Agung Laksono: Setya Novanto Harus Mundur  
Foto: Andhika Akbarayansyah
 

"Kalau nyatanya Setya Novanto seperti yang sudah mulai tergambar dalam rekaman itu, dari mana dimundurkan akan lebih membuat malu sendiri dan partai. Lebih baik segera mundur," kata Agung Laksono kepada wartawan, Kamis (3/12/2015).
Agung mengapresiasi Sudirman Said yang melaporkan pencatutan nama Jokowi-JK ke MKD DPR. Karena laporan Sudirman Said ini sekarang fakta yang sebenarnya mulai terungkap.

"Kita sangat salut dan mengapresiasi kepada Pak Sudirman Said yang secara profesional dan proporsional menjelaskan dengan gamblang, tidak emosional di depan MKD. Penjelasan sangat lugas sehingga publik mengetahui terjadi persekongkolan jahat mengeruk kekayaan negara kita," kata Agung.

Agung juga sangat mengapresiasi sidang MKD yang akhirnya menyepakati pemutaran rekaman lengkap Setya Novanto. Agung berharap MKD mengusut kasus ini sampai tuntas.

"Jadi MKD harus mengusut tuntas karena sekarang ini mulai tergambar yang sebenarnya," kata Agung.

MKD DPR telah memutar rekaman lengkap pembicaraan Setya Novanto, Reza Chalid, dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dalam sidang pertama kasus Novanto dengan agenda pemanggilan pelapor yakni Sudirman Said. Hari ini MKD melanjutkan pemanggilan pengusaha Reza Chalid dan Maroef Sjamsoeddin.


(van/nrl)
 
  

 
 
 
 
 
Back To Top