-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Kemenkeu: 18 bank setuju tampung dana repatriasi

Kemenkeu: 18 bank setuju tampung dana repatriasi

Kemenkeu: 18 bank setuju tampung dana repatriasi
Robert Pakpahan (FOTO ANTARA/Ujang Zaelani) ()
 Bank yang memenuhi syarat ada 19, tapi setelah dipanggil tadi hanya 18 yang bersedia,"

"Bank yang memenuhi syarat ada 19, tapi setelah dipanggil tadi hanya 18 yang bersedia," kata Robert dalam jumpa pers terkait kebijakan amensti pajak di Jakarta, Senin.

Robert menjelaskan 18 bank persepsi tersebut telah memenuhi syarat untuk menerima dana repatriasi yaitu merupakan bank yang masuk dalam kategori umum kelompok usaha empat dan bank umum kelompok usaha tiga.

Syarat lainnya adalah merupakan bank yang mendapatkan persetujuan untuk melakukan kegiatan penitipan dengan pengelolaan (trust), memiliki surat persetujuan bank sebagai kustodian (memiliki kewenangan menyimpan aset) dari OJK dan menjadi administrator rekening dana nasabah.

Robert memastikan dari 28 bank yang masuk dalam kategori umum kelompok usaha empat dan bank umum kelompok usaha tiga, hanya 19 yang memenuhi syarat untuk menjadi bank persepsi.

"Yang belum memenuhi syarat dari gateway mungkin karena dia belum menjadi trust atau kustodian," kata Robert.
Bank persepsi tersebut antara lain Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Danamon, Bank Permata, Maybank Indonesia, Bank Pan Indonesia, CIMB Niaga dan Bank UOB Indonesia.

Selain itu, Citibank, DBS Indonesia, Standard Chartered, Deutsche Bank, Bank Mega, BPD Jawa Barat dan Banten, Bank Bukopin dan Bank Syariah Mandiri. Hanya HSBC yang belum memastikan kesediaan untuk menjadi bank persepsi.

Robert menjelaskan para wajib pajak yang melakukan repatriasi modal dari luar negeri harus memasukkan dana terlebih dahulu di bank persepsi, yang nantinya tersimpan dalam rekening khusus program amnesti pajak.

"Semua yang ikut tax amnesty kami haruskan masuk pertama kali di rekening penampungan yaitu rekening biasa yang dibuat khusus, tidak dicampur dengan rekening lain. Tidak boleh, misalnya, langsung masuk ke saham. Kalau nantinya gateway jadi destinasi investasi boleh saja," jelasnya.
Dana yang masuk tersebut bisa disalurkan ke berbagai instrumen investasi yang telah disiapkan pemerintah maupun sektor swasta seperti Surat Berharga Negara, obligasi BUMN, reksadana, deposito, giro, termasuk sektor riil seperti properti, paling lama selama tiga tahun.

Mengenai masuknya bank asing sebagai bank persepsi, Robert mengatakan hal ini dilakukan karena bank-bank tersebut, selain menetap di Indonesia, juga memiliki cabang di berbagai negara lain, yang selama ini diduga menyimpan dana milik para WNI.

"Kami bisa melakukan audit kepatuhan dan memastikan dana tersebut menetap di Indonesia (meskipun dana repatriasi itu masuk ke bank asing). Ini untuk memudahkan dan memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat," katanya. 
Ia mengharapkan para wajib pajak yang selama ini belum memenuhi kewajiban perpajakannya secara benar, untuk ikut program amnesti pajak, apalagi Indonesia saat ini dilirik sebagai salah satu tempat menarik untuk berinvestasi, meskipun perekonomian global sedang melambat.

Selain menunjuk 18 bank persepsi, pemerintah juga menetapkan 18 manajer investasi dan 19 perantara pedagang efek yang telah memenuhi syarat, untuk dapat dipilih sebagai pengelola harta wajib pajak yang mengikuti kebijakan amnesti pajak. 
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

"Telah ada dua bank dari Iran yang ingin melakukan investasi di sektor perbankan Indonesia, mereka adalah Bank Saman dan Bank Parsian," ujar Ali Taiebnia kepada Antara.

Ia juga menyampaikan dua bank swasta tersebut berkeinginan membangun bank baru, atau bahkan membeli sebagian saham bank yang ada di Indonesia.
Menurut dia, salah satu alasan bank-bank itu "melirik" Indonesia adalah karena ingin membangun sistem kerja sama yang baik di bidang perbankan kedua negara.
"Tentu saja tujuan lain adalah agar dapat juga memajukan dan mempercepat perkembangan hubungan perekonomian antara kedua negara," kata Ali Taiebnia.
Terkait dengan ketertarikan bank Iran ini, pada Kamis (19/5), Ali Taiebnia direncanakan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, dan hubungan perbankan kedua negara tersebut akan menjadi salah satu agenda pembahasan.
"Selama ini proses komunikasi yang begitu erat telah dilakukan terkait sistem perbankan ini, di mana titik awalnya adalah mengadakan hubungan koresponden perbankan antara Indonesia dan Iran. Kami ingin dan sangat berharap sistem perbankan kedua negara dapat bekerja sama," katanya menambahkan.
Sementara itu, sebelumnya Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia akan membuka kembali hubungan perbankan dengan Iran pada Maret lalu, yang disampaikan usai mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di sela KTT Luar biasa OKI, pada 3 Maret 2016.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Wapres dorong bank perluas jaringan ke daerah

Wapres dorong bank perluas jaringan ke daerah

Pewarta: 
Wapres dorong bank perluas jaringan ke daerah
Wapres Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Saptono)

Dengan memberikan layanan perbankan, khususnya pemberian kredit, hingga ke pelosok negeri, maka kegiatan usaha kecil dan menengah semakin berkembang di Tanah Air.

Akibatnya, kata Wapres Kalla, kegiatan usaha kecil dan menengah itu dapat membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin meningkat.

Selain itu pula, pemerataan pertumbuhan ekonomi juga dapat dirasakan jika kegiatan usaha kecil dan menengah dapat digiatkan di seluruh daerah.

"Oleh karena itu, OJK, Bank Indonesia, lembaga keuangan dan Kementerian Keuangan harus berpikiran seperti itu, yakni bagaimana kita bisa hidup demi pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan yang baik," jelasnya.

Menurut Wapres, suatu negara tidak akan mudah terpengaruh dengan kondisi penurunan ekonomi global jika negara tersebut dapat menciptakan pemerataan ekonomi dengan baik.

"Tidak ada suatu negara yang jatuh karena pertumbuhannya kurang, tetapi negara mana pun bisa terkena masalah apabila pemerataan perekonomiannya tidak bagus, sehingga kesenjangan menjadi tidak baik. Itulah prinsipnya," katanya.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat puluhan juta masyarakat Indonesia tidak dapat mengakses layanan keuangan dengan baik karena penyebaran jasa lembaga keuangan, khususnya perbankan, tidak merata.

Pada 2013, OJK melakukan survei yang menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat di pedesaan dalam mengakses layanan keuangan masih rendah.

"Hanya sebesar 21, 84 persen dari masyarakat kita yang berumur 17 tahun telah melek keuangan atau well-literated, dengan tingkat penggunaan layanan keuangan formal hanya sebesar 59,74 persen," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mulyaman Hadad.
Fenomena tersebut, kanjut Mulyaman, tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan hampir di seluruh dunia.

"Menurut survey Bank Dunia tahun 2014, sekitar 38 persen atau 2 miliar orang dewasa berumur di atas 15 tahun di dunia diperkirakan tidak memiliki akses terhadap jasa keuangan formal dan sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah," katanya.

Berdasarkan riset tersebut, 6 persen dari jumlah orang dewasa tersebut adalah di Indonesia, peringkat tiga terbesar di dunia setelah India 21 persen dan China 12 persen.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Penyebaran KIP, Kemendikbud Masih Negosiasi dengan Bank

Penyebaran KIP, Kemendikbud Masih Negosiasi dengan Bank

, CNN Indonesia
Penyebaran KIP, Kemendikbud Masih Negosiasi dengan Bank Presiden Joko Widodo memamerkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera didampingi Lady Iriana, Puan Maharani, Khofifah Indar Parawansa, Rini Soemarno di Kantor Pos Pasar Baru, Senin (3/11). (CNN Indonesia/Resty Armenia)
 
Jakarta, CNN Indonesia --Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad menyatakan masih dalam proses melakukan negosiasi dengan pihak bank terkait distribusi Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Kami tersendat karena pihak bank minta bayaran untuk distribusi KIP. Kami masih coba negosiasi," kata Hamid saat ditemui seusai Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2015 di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3).

 Adapun, penyaluran KIP tahap pertama kepada sekitar enam juta siswa seluruh Indonesia akan dilakukan oleh sejumlah bank, yaitu Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia. "Dari kemendikbud akan memberikan daftar lengkap sekolah penerima KIP, sementara yang menyalurkan tetap bank," katanya.

Sebanyak 17.920.270 anak merupakan calon penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Calon penerima iti akan diprioritaskan kepada penerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) 2014 pemegang Kartu Perlindungan Sosial (KPS) siswa dari keluarga KPS yang belum menerima BSM 2014, siswa dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH) non KPS, siswa/anak berstatus yatim piatu, maupun siswa/anak yang terkena dampak bencana alam.

Selain itu, anak usia 6-12 tahun yang tidak bersekolah dan diharapkan kembali bersekolah, siswa dari keluarga miskin yang terancam putus sekolah, siswa di daerah konflik, dan siswa berkebutuhan khusus juga menjadi prioritas.
(pit)
Back To Top