-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Bekraf: asing lirik startup Indonesia

Bekraf: asing lirik startup Indonesia

Bekraf: asing lirik startup Indonesia
Dokumentasi: Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Deputi II Bidang Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo mengatakan potensi startup di Indonesia mulai dilirik oleh negara-negara lain.

Dalam konferensi pers Startup World Cup Indonesia, di Jakarta, Selasa, Fadjar mengungkapkan sejumlah pihak asing telah mengirimkan email untuk mencarikan startup Indonesia untuk didanai.

"Kami beberapa waktu lalu menerima beberapa email, ada satu venture capital Ukraina minta tolong mencari start up di Indonesia," katanya pula.

Hal itu, menurutnya, membuktikan potensi startup Indonesia juga telah terdengar sampai ke mancanegara.

Namun, ia mengatakan, masih ada kendala bahasa, terutama bahasa Inggris dari para startup lokal untuk menawarkan investasi kepada investor asing. Hal ini menurut dia yang akan diperbaiki oleh Bekraf.

Sebaliknya, menurut dia pula, potensi Indonesia juga dilirik oleh para startup luar negeri. Hal itu dirasakannya saat bertemu dengan startup asal Singapura dalam acara yang digelar di Indonesia.

Ia menuturkan, dalam sebuah kesempatan, dirinya bertemu dengan seorang startup asal Singapura yang datang jauh-jauh ke Jakarta ikut dalam sebuah kompetisi untuk para perintis.

Dalam kesempatan tersebut, startup Singapura tersebut menyampaikan bahwa banyak masalah di Indonesia justru menjadi peluang bagi para startup untuk mencari solusi dan potensi bisnis.

"Jadi masalah dalam pandangan mereka berarti potensi bisnis," katanya lagi.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tingkatkan industri kreatif, Bekraf dukung Echelon 2016

Tingkatkan industri kreatif, Bekraf dukung Echelon 2016

Tingkatkan industri kreatif, Bekraf dukung Echelon 2016
Salah satu sesi dalam gelaran Echelon 2016, Selasa (5/4/2016). (ANTARA News/ Arindra Meodia)

"Sasaran untuk jadikan ekonomi kreatif jadi kontributor besar pertumbuhan ekonomi nasional karena ekomoni kreatif menyumbang besar ekomomi nasional," kata Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Ricky Pesik, di Jakarta, Selasa.

Dukungan Bekraf terhadap Echelon, Ricky mengatakan, sebagai upaya Bekraf untuk mencapai tiga target hingga 2019 yaitu meningkatkan sektor ekonomi kreatif 13 persen GDP, meningkatkan tenaga kerja 13 juta, dan ekspor 10 persen.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa Bekraf akan fokus pada industri kreatif seperti aplikasi game, dkv, arsitektur, desain produk, fesyen, fotografi, kulinari, publishing, advertising, seni rupa, televisi dan radio konten.

"Ekosistem yang dibutuhkan indonesia, untuk diluncurkan secara masif," ujar Ricky.

Untuk menciptakan ekosistem tersebut, Ricky mengatakan bahwa Bekraf akan bekerja dalam dua hal, "bantu menghadirkan ekosistem baik untuk perkembangan inovasi, serta memberikan masukan terkait ekonomi makro melalui regulasi baru dan mencabut regulasi yang menghambat," ujar dia.

"Menciptakan regulasi lebih adaptif untuk membantu inovasi lebih maju," tambah dia.

Echelon 2016 digelar dua hari. Dibagi menjadi tiga panggung utama (Start, Scale dan Steer), Echelon Indonesia hari pertama diramaikan oleh deretan keynotes, panel, workshop juga pembahasan tren di masa mendatang dari tokoh ternama di bidang teknologi dan entrepreneurship di Indonesia maupun internasional, seperti Hendrik Tio (CEO Bhinneka.com) dan Stefan Jung (Managing Partner Venturra Capital).
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bekraf gelar Konferensi Kota Kreatif akhir Maret

Bekraf gelar Konferensi Kota Kreatif akhir Maret

Pewarta: 
Bekraf gelar Konferensi Kota Kreatif akhir Maret
ilustrasi Jakarta Smart City berbasis Qlue. (qlue.co.id)

Jakarta (ANTARA News) - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia, Pemkot Malang dan komunitas Malang Creative Fusion (MCF) menyelenggarakan konferensi Indonesia Creative Cities Conference 2 (ICCC2) pada 31 Maret-1 April 2016 di Malang, Jawa Timur.

Kegiatan yang digelar bersamaan dengan Indonesian Creative Cities Network (ICCN) itu akan dihadiri seluruh wali kota dan delegasi beberapa negara ASEAN.

"Acara ini merupakan lanjutan acara yang digelar pertama kali 2015 lalu di Solo. Saat itu, kami menghasilkan 10 prinsip kota kreatif dan Deklarasi Solo, juga Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia," kata Sekjen ICCN Liliek Setiawan dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa petang.

Menurut Liliek, pihaknya akan membuat kegiatan konferensi kota kreatif se-Indonesia itu menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahun.

Hal itu dilakukan guna mendukung upaya penyusunan kebijakan nasional dan dapat dijadikan sebagai acuan guna mewujudkan visi Presiden Jokowi menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.

"Secara mikro, dengan adanya ICCC2 ini, jadi ada buku panduan kota kreatif Indonesia. Pasalnya, tidak semua yang dari luar negeri itu bisa diaplikasikan. Makanya kita harus cari yang sesuai dengan prinsip di Indonesia," katanya.
Kegiatan ICCC2 yang bertajuk "Menuju Kota Kreatif Indonesia yang Berkelanjutan" diharapkan mampu mewakili inovasi, komoditas, dinamika dan aneka bentuk kreativitas di Indonesia yang mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi kreatif di level kabupaten dan kota.
Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan setelah memperjuangkan pembentukan kota kreatif, misi selanjutnya adalah kota kreatif yang berkelanjutan.

Ia bercerita, dalam kunjungannya ke Singapura beberapa waktu lalu, salah satu mantan pejabat negeri singa itu kaget mendengar bahwa Indonesia akan membentuk kota kreatif dalam waktu singkat.

"Itu karena mereka mengalami perjalanan panjang. Mereka kaget saya bilang kita akan bentuk kota kreatif (dalam waktu singkat). Ini memang tidak bisa dilakukan di sebuah negara, tapi di kota bisa. Itu yang kita lakukan dengan acara ini, tentu dengan dukungan jaringan," tutupnya.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bekraf luncurkan aplikasi seluler BIIMA

Bekraf luncurkan aplikasi seluler BIIMA

Bekraf luncurkan aplikasi seluler BIIMA
Triawan Munaf (twitter.com)

“Aplikasi BIIMA dikembangkan untuk mendukung kerja kreatif kita semua dalam konteks Hak Kekayaan Intelektual yang perolehannya dapat meningkatkan nilai ekonomis sebuah produk kreatif,” kata Triawan, dalam siaran pers, Rabu.
Aplikasi BIIMA merupakan kependekan dari Bekraf’s IPR (Intellectual Property Rights) Info in Mobile Apps yang ditujukan bagi masyarakat luas, secara khusus bagi para pelaku ekonomi kreatif yang membutuhkan kemudahan akses informasi tentang HKI melalui gadget yang digunakan sehari-hari.

Diharapkan, aplikasi ini membantu masyarakat memiliki pengetahuan yang baik seputar HKI, dari cara bagaimana melindungi jenis HKI, hingga bagaimana mengajukannya agar meningkatkan nilai ekonomis sebuah produk kreatif.

“Semoga aplikasi info HKI yang diluncurkan hari ini dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami perlindungan hak kekayaan intelektual atas karya-karyanya,” ujar Ari Juliano Gemma, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi.

Sejalan dengan tema Social Media Week 2016, “The Invisible Hand: Hidden Forces of Technology”, Bekraf turut beradaptasi dengan percepatan teknologi informasi melalui kehadiran program sosialisasi HKI.

Hal tersebut dilakukan agar para pelaku ekonomi kreatif dapat semakin memiliki kesadaran mengenai pentingnya HKI untuk melindungi karya mereka dari pemalsuan, serta memberikan jaminan kualitas terhadap produk yang dihasilkan.


Bekraf akan menyelenggarakan program Konsultasi Gratis HKI oleh 100 Konsultan HKI secara one-on-one, pada tanggal 26 Februari 2016 pukul 16.00 – 19.00 WIB di ajang Social Media Week, The Hall Senayan City Jakarta.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bekraf dorong Indonesia jadi pusat busana muslim dunia

Bekraf dorong Indonesia jadi pusat busana muslim dunia

Bekraf dorong Indonesia jadi pusat busana muslim dunia
Dian Pelangi jadi desainer pertama yang membawakan busana muslim di London Fashion Week, yang merupakan salah satu perhelatan pekan mode paling bergengsi di Internasional selain Paris Fashion Week, Milan Fashion Week, dan New York Fashion Week. (ANTARA News/Monalisa)

Jakarta (ANTARA News) - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi pusat busana muslim dunia.


Menurut Ricky, fashion memberikan kontribusi terbesar ketiga setelah kuliner dan kriya dengan pertumbuhan yang menjanjikan.

"Maka kami sedang menyusun peta jalan dan langkah-langkah strategis bagi pengembangan fashion bahkan bukan hanya bagaimana desainer Indonesia bisa mendunia tetapi karya-karyanya jadi tren dunia. Itu mimpi besar sekaligus tantangan Bekraf," jelas Riky.

"Terutama untuk busana muslim, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar, maka prakarsa yang mengarah ke sana harus didukung," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Ricky mengatakan bahwa prestasi Dian Pelangi yang akan memamerkan koleksinya dalam runway show utama London Fashion Week Autumn/Winter 2016: Fashion Scout Ones to Watch yang akan berlangsung pada 19–22 Februari 2016 merupakan gebrakan desainer Indonesia yang harus didukung.

"Ini menjadi ajang memperkenalkan busana muslim dari Indonesia ke dunia. Ini suatu hal yang besar serta bisa menjadi diplomasi budaya yang efektif," tuturnya.

Sebelumnya, Dian Pelangi telah berangkat ke London untuk berbagi ilmu tentang modest wear di London College of Fashion sambil mempelajari pasar modest wear di Inggris. 

Dian yang juga merupakan salah satu desainer program Indonesia Fashion Forward, yakni program inkubasi desainer muda hasil kerja sama British Council, Jakarta Fashion Week, Bekraf, dan Center for Fashion Entreprise (CFE) London itu akan menampilkan koleksi kolaborasinya di London Fashion Week dengan dua desainer lulusan London College of Fashion, yaitu Odette Steele dan Nelly Rose Stewart.

"Saya akan mewakili Indonesia. Rasanya bangga, terharu, tidak percaya. Ini akan jadi pertama kalinya modest fashion (busana muslim) tampil di salah satu top four fashion week dunia, London Fashion Week," tutur Dian.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memilki gaya busana muslim yang lebih berani ketimbang negara lain di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.

"Indonesia paling multi culture, keren, berani memadukan baju dan paling berani," ujar Dian.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top