-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menteri Belgia salahkan polisi dalam Bom Brussels

Menteri Belgia salahkan polisi dalam Bom Brussels

Menteri Belgia salahkan polisi dalam Bom Brussels
Asap hitam terlihat dari bandara Brussels menyusul terjadinya ledakan, dalam foto yang ada, Selasa (22/3). (REUTERS/Peter van Rossum via Reuters TV)

Brussels (ANTARA News) - Menteri Dalam Negeri Belgia Jan Jambon menyalahkan polisi karena lalai setelah gagal menjejak militan ISIS yang diusir Turki tahun lalu yang meledakkan diri di bandara Brussels Selasa lalu.

Jan Jambon yang mengajukan mundur Kamis lalu menyatakan kendati dia mengambil tanggung jawab atas terjadinya teror itu, namun dia menyatakan seseorang telah lalai dan tidak cukup proaktif.

"Seseorang dalam aparatur kepolisian kita telah melakukan blunder," kata dia.
Pihak berwenang Belgia malu berat setelah Turki Rabu lalu menyatakan bahwa Ankara telah mengusir balik El Bakraoui ke Eropa Juli tahun lalu karena dia dianggap seorang militan. Bakraoui adalah salah seorang pelaku bom bunuh diri Selasa itu.

Pihak berwajib Belgia dan Belanda telah diingatkan oleh Turki bahwa Bakraoui adalah pejuang asing yang berusaha mencapai Suriah.

Saat itu, pihak berwajib Belgia mengatakan bahwa Bakraoui yang pernah menjalani setengah dari masa 10 tahun hukumannya karena perampokan bersenjata, adalah penjahat dan bukan militan. Belgia juga berusaha mendapatkan informasi dari Turki.

Jambon mengatakan Bakraoui ditangkap di Turki dekat perbatasan Suriah pada 11 Juni 2015.

Turki lalu memberi tahu kedutaan besar Belgia bahwa dia akan dipulangkan lewat pesawat ke Amsterdam pada 14 Juli tahun lalu di mana dia tidak ditangkap karena polisi Belanda tidak menerima instruksi dari sejawatnya di Belgia.

Jambon mengatakan pejabat penghubung polisi Belgia di kedutaan besar di Turki baru berkata kepada polisi di Belgia enam hari kemudian pada 20 Juli bahwa Bakraoui telah ditahan Turki karena kecurigaan terorisme.

Pejabat Belgia kemudian berusaha mencari konfirmasi lebih jauh mengenai Bakraoui dari pihak berwenang Turki yang baru melaporkan balik pada 11 Januari silam, demikian Reuters.


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bom Brussels membuat Bandara Adi Soemarmo diperketat

Bom Brussels membuat Bandara Adi Soemarmo diperketat

Bom Brussels membuat Bandara Adi Soemarmo diperketat
Papan jadwal penerbangan di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Andika Betha)

Boyolali, Jawa Tengah (ANTARA News) - PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo lebih memperketat penjagaan di kawasan terminal bandara sebagai langkah antisipasi teror menyusul teror bom di Bandara Brussels, Belgia.

"Kami adanya kejadian di Brussels, merespon dengan lebih memperketat pengamanan setiap bandara di Indonesia termasuk Adi Soemarmo ini," kata Direktur Operasi PT Angkasa Pura Wendo Asrul Rose pada acara simulasi penanggulangan keadaan darurat (PKD) di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Rabu.
Menurut Wendo, aksi teror ledakan bom di Brussel dan sebelumnya juga di bandara di Inggris ini di areal check-in penumpang.

Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan TNI AU, termasuk Bandara Adi Soemarmo dengan melakukan peningkatan pengamanan khususnya di area publik terkait aksi teror peledakan bom di Brussels beberapa waktu lalu.

"Jika melihat kejadian di Brussels dan sebelumnya di Inggris terjadi proses ancaman aksi terorisme di areal check-in atau ruang pengecekan tiket dan penitipan barang bagasi," katanya.


Pihaknya yang mengelola 13 bandara komersial di Indonesia segera meningkatkan pengamanan dengan menambah alat sinar X yang akan dipasang sebelum areal check-in atau saat penumpang mau masuk ruang check-in.
Menurut dia, X-ray ini adalah peralatan detektor yang digunakan untuk mendeteksi secara visual semua barang bawaan calon penumpang pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan dengan cepat tanpa membuka kemasan barang tersebut.

"Alat X-ray yang sebelumnya diletakkan di belakang saat penumpang melakukancheck-in. Alat ini, kini akan dikembalikan ke atuaran lama dipasang di ruang depan atau sebelum melakukan check-in," katanya.

General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandara Adi Soemarmo Surakarta Abdullah Usman mengatakan akan segera memasang alat pemeriksaan sinar X saat penumpang melakukan check-in dan yang kedua masuk ruang boarding pass. 



Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bom Brussels; momen hitam untuk Belgia

Bom Brussels; momen hitam untuk Belgia

 | 1.714 Views
Bom Brussels; momen hitam untuk Belgia
Orang-orang meninggalkan lokasi ledakan di bandara Zaventem dekat Brussels, Belgia, Selasa (22/3). (REUTERS/Francois Lenoir)

Brussels (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama memimpin dukungan solidaritas kepada Perdana Menteri Belgia Charles Michel setelah Brussels sempat dinyatakan darurat setelah bom bunuh diri kembar yang menghajar sebuah bandara dan kereta metro di ibu kota Uni Eropa itu sehingga menewaskan paling sedikit 30 orang.

"Kita harus bersatu apa pun kebangsaan atau ras atau keyakinannya dalam perang melawan momok terorisme," kata Obama dalam jumpa pers di Kuba. "Kita bisa dan kita akan mengalahkan mereka yang mengancam keselamatan dan keamanan rakyat di seluruh dunia."

Michel menyebut tragedi ini sebagai "momen hitam" bagi negerinya. "Apa yang kami takutkan terjadi sudah."


Di Paris, di mana ISIS membantai 130 orang November tahun silam, Eiffel Tower dililit warna warni bendera kebangsaan Belgia Selasa malam waktu setempat sebagai unjuk solidaritas dengan Brussels.

Bandara Brussels sendiri masih ditutup hari ini, kata kepala eksekutifnya Arnaud Feist kepada wartawan.

Stasiun milik pemerintah VRT menyatakan polisi menemukan sebuah senapan serbu Kalashnikov di samping jenazah seorang penyerang di bandara.

Senapan semacam ini menjadi kekhasan dari serangan terinspirasi ISIS di Eropa, khususnya di Belgia dan Prancis, termasuk Serangan 13 November di Paris.

Inggris, Jerman, Prancis dan Belanda, semuanya khawatir dampak konflik Suriah ke negerinya. Negara-negara ini memperketat sistem keamanannya. Penjagaan diperketat di perbatasan Belanda - Belgia.



Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top