-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
PLN jajaki obligasi global Rp26 triliun pada 2017

PLN jajaki obligasi global Rp26 triliun pada 2017

PLN jajaki obligasi global Rp26 triliun pada 2017
Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
 Tingkat bunga `global bond` diproyeksikan berada di kisaran 2,5-3 persen. Diharapkan obligasi itu mendapat `pricing` (harga) yang bagus dan respon positif dari pasar internasional." 
Jakarta (ANTARA News) - PT PLN (Persero) menjajaki penerbitan obligasi dalam denominasi dolar AS (global bond) hingga dua miliar dolar AS atau setara Rp26 triliun pada 2017.

"Penerbitan surat utang ditargetkan awal tahun depan (2017), supaya persiapannya lebih matang," kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir di Kantor Kementerian BUMN Jakarta, Jumat.

Menurut dia, hasil penerimaan dari obligasi akan digunakan untuk mendanai sebagian kebutuhan investasi perseroan dalam jangka menengah.

Ia menjelaskan, kebutuhan pembiayaan pembangkit, transmisi, dan distribusi yang dalam lima tahun ke depan berkisar Rp170 triliun.

Selain dari internal, pembiayaan proyek-proyek PLN juga diperoleh dari obligasi global maupun rupiah serta pinjaman perbankan.

Sementara itu, Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, awal 2017 adalah waktu yang tepat menerbitkan obligasi global.

"Tingkat bunga global bond diproyeksikan berada di kisaran 2,5-3 persen. Diharapkan obligasi itu mendapat pricing (harga) yang bagus dan respon positif dari pasar internasional," ujarnya.

Ia menambahkan, obligasi tersebut rencananya akan ditawarkan ke investor Asia Pasifik, Amerika Serikat, dan Eropa.

"Bicara soal kebutuhan dana yang sifatnya rolling progress, jangan sampai dananya tidak terpakai optimal. Karena kami harus bayar bunga," ujarnya.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
saham-saham AS berakhir bervariasi setelah laporan "beige book"

saham-saham AS berakhir bervariasi setelah laporan "beige book"

New York (ANTARA News) - Saham-saham AS ditutup bervariasi pada Rabu (Kamis pagi WIB), dengan indeks komposit Nasdaq memperbarui rekor penutupan hari sebelumnya karena Wall Street mencerna laporan Beige Book Federal Reserve. 

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 11,98 poin atau 0,06 persen menjadi berakhir di 18.526,14. Indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,33 poin atau 0,02 persen menjadi 2.186,15, sedangkan indeks komposit Nasdaq meningkat 8,02 poin atau 0,15 persen menjadi 5.283,93.

Menurut Beige Book yang dirilis di sore hari, laporan dari dua belas distrik Federal Reserve menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi nasional terus berkembang pada kecepatan moderat selama periode pelaporan Juli sampai akhir Agustus.

"Kondisi pasar tenaga kerja tetap ketat di sebagian besar distrik, dengan pertumbuhan gaji pada umumnya tercatat moderat. Kenaikan harga secara keseluruhan tetap sedikit," kata Beige Book sebagaimana dikutip Xinhua.

The Fed telah menjadi fokus baru-baru ini, karena para investor merenungkan tentang kapan bank sentral AS akan memutuskan untuk menaikkan suku bunganya.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), unit kebijakan moneter The Fed, akan menggelar pertemuan mereka 20-21 September.

Di sisi ekonomi, jumlah lowongan kerja meningkat menjadi 5,9 juta pada hari kerja terakhir Juli, lapor Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu.

Dalam berita perusahaan, semua mata tertuju pada Apple, yang meluncurkan iPhone 7 di sebuah acara di San Francisco pada Rabu sore. Saham raksasa teknologi itu naik 0,61 persen menjadi 108,36 dolar AS per saham setelah acara tersebut. 

(Uu.A026) 
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Rupiah Rabu sore menguat menjadi Rp13.078

Rupiah Rabu sore menguat menjadi Rp13.078

Rupiah Rabu sore menguat menjadi Rp13.078
Nilai Tukar Rupiah Menguat. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16. ()
Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Rabu sore bergerak menguat sebesar 49 poin menjadi Rp13.078, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.127 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa data-data ekonomi Amerika Serikat yang belum lama dirilis mencatatkan perlambatan masih menjadi pemicu bagi dolar AS mengalami tekanan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Lemahnya data ekonomi Amerika Serikat meredam kenaikan suku bunga acuan The Fed dalam waktu dekat. Kondisi itu membuat aset berdenominasi dalam bentuk dolar AS menjadi kurang menarik sehingga investor cenderung melirik aset berisiko yang masih menawarkan imbal hasil tinggi," ujarnya.

Ia mengemukakan bahwa indeks non-manufaktur Amerika Serikat pada Agustus tercatat sebesar 51,4 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya dan juga di bawah konsensus pasar yang sebesar 55,0 persen. Data lainnya, yakni total penggajian pekerjaan non-pertanian AS juga di bawah konsensus pasar, hanya mencapai 151.000 pada Agustus.

Dari dalam negeri, lanjut dia, sentimennya juga masih cukup menopang mata uang rupiah. Program pemerintah mengenai amnesti pajak masih menjadi harapan bagi investor pasar uang.

"Program itu diharapkan berjalan sesuai target yang akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional ke depan," katanya.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa salah satu pejabat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan memberikan kesaksian mengenai kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.

"Dolar AS dapat kembali tertekan jika FOMC memberikan sinyal dovish," katanya.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu ini mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.086 dibandingkan hari sebelumnya (6/9) Rp13.162.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kemenperin jaga iklim usaha dongkrak daya saing industri elektronik

Kemenperin jaga iklim usaha dongkrak daya saing industri elektronik


Iklim usaha yang kondusif guna mendukung berkembangnya industri elektronika dan komponennya,” kata Direktur Industri Elektronika danTelematika Kemenperin Achmad Rodjih Almanshoer lewat siaran pers di Jakarta, Selasa.

Rodjih menyampaikan, upaya strategis yang telah dilakukan seperti pengembangan kebijakan tarif dan perpajakan.

Selain itu, pengamanan pasar domestik melalui penerapan standardisasi bagi produk-produk elektronika baik yang terkait dengan keselamatan, unjuk kerja maupun standar penandaan.

Di sisi lain, Rodjih mengingatkan, perkembangan perdagangan dunia semakin memberikan ruang gerak yang terbatas untuk melakukan kebijakan yang bersifat proteksi, namun sebaliknya yang terjadi adalah dorongan agar pasar semakin terbuka. “Hal ini menuntut kita untuk meningkatkan daya saing agar industri kita dapat bertahan dan unggul dalam persaingan global,” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Rodjih, pemerintah akan mengambil langkah seperti pembangunan infrastruktur, energi dan transportasi serta fasilitasi lainnya yang dapat mendongkrak keunggulan kompetitif industri nasional.

“Selain itu, diharapkan industri kita terus melakukan peningkatan efisiensi dan produktivitas, karena kami meyakini industri dalam negeri khususnya sektor elektronika masih memiliki ruang dan peluang untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.139 per dolar AS

Rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.139 per dolar AS

Rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.139 per dolar AS
Ilustrasi - Petugas menata uang di cash center BNI di Jakarta, Kamis (30/10/2014). (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)
Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak menguat menjadi Rp13.139 per dolar AS.

Analis Riset Forextime Lukman Otunuga di Jakarta, mengatakan, secara umum mata uang dunia bergerak menguat terhadap dolar AS setelah harapan atas peningkatan suku bunga Amerika Serikat dalam waktu dekat, terkikis.

"Sentimen itu membuat selera pelaku pasar uang terhadap aset berisiko, termasuk rupiah menjadi meningkat," katanya.

Apalagi, lanjut dia, prospek ekonomi Indonesia secara umum juga tetap optimistis. Harapan positif dari program amnesti pajak masih menyelimuti pasar yang dipercaya dapat mendongkrak laju produk domestik bruto (PDB).

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan sentimen mengenai harga minyak mentah dunia yang relatif stabil juga turut menopang penguatan mata uang berbasis komoditas, seperti rupiah.

Harga minyak jenis WTI Crude menguat 0,99 persen menjadi 44,88 dolar AS per barel, dan Brent Crude turun 0,88 persen menjadi 47,21 dolar AS per barel.

"Saat ini, pelaku pasar sedang menanti sentimen tambahan untuk penguatan lanjutan bagi mata uang domestik," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.162 dibandingkan kemarin (5/9) Rp13.197.

Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top