-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Pemerintah Inggris tolak petisi serukan referendum kedua EU

Pemerintah Inggris tolak petisi serukan referendum kedua EU

 | 3.324 Views
Pemerintah Inggris tolak petisi serukan referendum kedua EU
Ilustrasi hasil referendum rakyat Kerajaan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit). (globalresearch.ca)

London (ANTARA News) - Pemerintah Inggris menolak petisi dalam jaringan, yang ditandatangani 4,1 juta orang, menyerukan referendum baru mengenai menetap atau meninggalkan Uni Eropa.

Warga Inggris memberikan suara 52 persen berbanding 48 persen atau 17,4 juta suara berbanding 16,1 juta untuk meninggalkan EU dalam referendum pada 23 Juni, yang sebagian besar politisi katakan hendaknya dihormati, tetapi sebagian yang memberikan suara "tetap dalam EU", berjuang untuk menerima.

Petisi tersebut mengimbau pemerintah memberlakukan ketentuan untuk menyelenggarakan referendum lain jika pemungutan suara bagi "yang tetap" atau "meninggalkan" EU kurang dari 60 persen berdasarkan atas hasil dari kurang 75 persen.

Kantor Kementerian Luar Negeri, yang mengajukan melalui parlemen Akta Referendum EU, yang mengatur ketentuan, menanggapi bahwa legislasi itu tidak menetapkan ambang batas bagi hasil atau hasil minimum referendum.
"Perdana Menteri dan pemerintah telah jelas bahwa ini sekali dalam sebuah pemungutan suara generasi dan, sebagaimana Perdana Menteri telah katakan, keputusan itu harus dihormati," kata pernyataan kantor itu.

"Kami sekarang harus menyiapkan proses untuk keluar EU dan pemerintah berkomitmen menjamin hasil sebaik mungkin bagi rakyat Inggris dalam negosiasi-negosiasi," katanya.

Dua calon yang akan menggantikan David Cameron sebagai ketua Partai Konservatif yang berkuasa dan perdana menteri telah menyatakan hasil referendum itu hendaknya jangan dipertanyakan dan Brexit harus dilaksanakan.

"Brexit berarti Brexit,", kata Theresa May, menteri dalam negeri dan calon pengganti Cameron, dalam pidato yang mengumumkan pencalonannya. May telah mendorong tetap dalam blok itu, tetapi bukan tokoh terkemuka dalam kampanye "tetap" dalam EU.
Pesaingnya, Andrea Leadsom, menteri muda energi, adalah salah satu calon diunggulkan dari kelompok "Brexit" dan menyatakan bahwa Inggris akan maju di luar EU, demikian Reuters.

(M016)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Turki: pasca-Brexit, EU harus pertimbangkan kembali visi

Turki: pasca-Brexit, EU harus pertimbangkan kembali visi

 | 2.589 Views
Turki: pasca-Brexit, EU harus pertimbangkan kembali visi
Binali Yildirim. (aksam.com.tr)
 UE harus membaca perkembangan ini dengan baik dan menilai kembali visi masa depan."

"UE harus membaca perkembangan ini dengan baik dan menilai kembali visi masa depan," kata Yildirim dalam komentar yang disiarkan televisi setempat, seperti dikutip Reuters, Jumat waktu setempat.

Dia juga mengkritik Perdana Menteri Inggris David Cameron yang mendasarkan kampanyenya dalam menjaga Inggris tetap dalam UE pada gagasan bahwa keanggotaan Turki di blok itu merupakan prospek jangka panjang.

Hasil jajak pendapat atau referendum hampir memastikan Inggris keluar dari UE. Dengan demikian, Inggris akan menjadi negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa sejak negeri Ratu Elizabeth II ini bergabung pada 1973, kala itu masih bernama EEC (European Economic Community).

Menurut laman BBC, proses pemisahan itu bisa memakan waktu minimal dua tahun.

Selain itu, Perdana Menteri David Cameron harus memutuskan menggunakan Pasal 50 Perjanjian Lisbon, yang akan memberikan waktu dua tahun bagi Inggris untuk bernegosiasi.

Pasal 50 juga menyebutkan bahwa suatu negara tidak dapat bergabung kembali ke dalam Uni Eropa tanpa persetujuan dari semua negara anggota.
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016
EU tawari Turki dana, dukungan jadi anggota terkait penanganan migran

EU tawari Turki dana, dukungan jadi anggota terkait penanganan migran

EU tawari Turki dana, dukungan jadi anggota terkait penanganan migran
Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) melihat ke depan saat ia bersama Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz (tak terlihat) menjelang sidang di Parlemen Uni Eropa di Brussels, Belgia, Senin (5/10). Erdogan sepertinya mengejek tawaran Uni Eropa untuk membantu krisis migrasi mereka saat tiba dalam kunjungan kenegaraan yang ditunggu-tunggu ke Brussels dan serangkaian pertemuan dengan pemimpin Uni Eropa yang dimulai kemarin. (REUTERS/Francois Lenoir)

Brussel (ANTARA News) - Para pemimpin Uni Eropa (EU) pada pertemuan puncak, Minggu, akan menawarkan kepada Turki dana tunai serta dukungan menjadi anggota kelompok itu sebagai imbalan atas kerja sama yang diberikan Turki dalam krisis migran.

Namun, para pejabat memperingatkan bahwa kesepakatan akhir akan diwarnai dengan perundingan "alot", lapor AFP.

Uni Eropa diperkirakan akan menyetujui paket bantuan senilai tiga miliar euro (Rp43,9 triliun) bagi Turki guna membantu negara itu menghentikan aliran pengungsi ke Eropa dari konflik di Suriah. Sebanya 2,2 juta pengungsi Suriah saat ini berada di Turki. 

Perdana Menteri Ahmet Davutoglu juga diperkirakan akan mencapai kesepakatan untuk membuka babak baru perundingan, yang sebelumnya terhenti, soal penerimaan Turki sebagai anggota Uni Eropa pada Desember. 

Namun, kedua belah pihak tampaknya sama-sama akan mengajukan syarat. 

Penembakan sebuah pesawat jet Rusia oleh Turki di perbatasan Suriah pada Selasa juga akan menambah ketegangan terhadap hubungan rumit Brussel dengan Ankara.

"Pertemuan ini akan memberikan momentum pada hubungan (EU dan Turki, red). (Pertemuan puncak) memiliki begitu banyak aspek penting karena ini adalah yang pertama kalinya diselenggarakan antara EU dan Turki dalam 11 tahun terakhir," kata Davutoglu kepada para wartawan di bandar udara Ankara ketika ia akan berangkat menuju Brussel. 

"Sudah diputuskan bahwa Turki jangan sampai menanggung masalah migran ini sendirian. Rencana aksi bersama sudah disepakati."
Davutoglu, yang akan melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Senin, meminta para pemimpin Eropa untuk mendukung Turki dalam perseteruannya dengan Rusia.

Rusia telah menjatuhkan sanksi terhadap Turki terkait insiden pesawatnya yang ditembak jatuh.

"Menurut saya, adanya pandangan bersama Turki dan EU akan memberikan arti bagi perdamaian dunia," tambahnya. 
Sudah sekitar 850.000 warga Suriah, yang dipicu karena perang, memasuki Uni Eropa tahun ini dan lebih dari 3.500 di antaranya tewas atau hilang dalam krisis pengungsi terburuk yang pernah dihadapi Eropa sejak Perang Dunia II itu. 

Turki merupakan gerbang utama bagi para migran dan pengungsi untuk mencapai Eropa.

Jerman adalah pihak yang mendorong terselenggaranya pertemuan puncak karena negara itu menjadi tujuan utama bagi sebagian besar migran yang tiba di wilayah Eropa. 
(Uu.T008)
Back To Top