-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menteri Susi paparkan upaya perangi illegal fishing disela FAO Roma

Menteri Susi paparkan upaya perangi illegal fishing disela FAO Roma

Menteri Susi paparkan upaya perangi illegal fishing disela FAO Roma
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menyampaikan pemaparannya di depan Sidang FAO di Roma, Senin (11/7/2016). (istimewa)

Hal itu Susi Pudjiastuti dalam acara "Combating IUU Fishing" yang diselenggarakan Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai side-eventdari Sidang Sesi ke-32 FAO Committee of Fisheries di Markas Besar FAO, Roma, 14 Juli.
Menteri Susi, menurut keterangan Fungsi Penerangan KBRI Roma pada Jumat, telah mengatakan bahwa langkah tersebut mampu menurunkan jumlah kapal ikan tak berizin dan praktik perikanan ilegal (illegal, unreported and unregulated fishing) sehingga berkontribusi positif terhadap pasokan ikan tangkap nasional serta pertumbuhan produksi di sektor perikanan. 

Menteri Susi didaulat sebagai pembicara bersama dengan wakil dari berbagai organisasi internasional yang selama ini aktif dalam upaya pemberantasan IUU Fishing di tingkat global seperti FAO Fisheries and Aquaculture Department, International Monitoring, Control and Surveillance (MCS) Network, The Pew Charitable Trust dan International Seafood Sustainability Foundation (ISSF). 

Berbagai organisasi internasional memaparkan hasil kajian terkait IUU Fishing dan usulan mekanisme dalam memberantasnya. 

Selain itu hadir pula pembicara dari Google Inc yang menyajikan citra satelit rekamannya menggambarkan betapa masifnya praktik perikanan ilegal dewasa ini. Besarnya kerugian yang ditimbulkan menegaskan pandangan tentang besarnya ancaman praktik IUU Fishing terhadap industri perikanan global serta keberlangsungan ekosistem laut. 

Hal ini mengundang perhatian dari berbagai kalangan untuk dapat secara bersama-sama memberantas IUU Fishing. 

Partisipasi Menteri Kelautan dan Perikanan RI dalam forum yang diadakan KBRI Roma bekerja sama dengan FAO merupakan bukti diakuinya upaya Indonesia dalam memberantas IUU Fishing oleh komunitas global. 
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
 Indonesia terima "MDGs Award" dari FAO

Indonesia terima "MDGs Award" dari FAO

Indonesia terima
FAO (REUTERS)
Penghargaan yang diserahkan langsung Direktur Jenderal FAO, Dr. Jos Graziano da Silva, kepada Dubes Parengkuan dalam kapasitas sebagai Wakil Tetap RI di FAO itu dilakukan di Plenary Hall Gedung FAO di Roma."
London (ANTARA News) - Dubes RI Roma, August Parengkuan, atas nama Pemerintah RI menerima "Millennium Development Goals (MDGs) Award" dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) atas keberhasilan Indonesia dalam upaya memerangi kelaparan.

"Penghargaan yang diserahkan langsung Direktur Jenderal FAO, Dr. Jos Graziano da Silva, kepada Dubes Parengkuan dalam kapasitas sebagai Wakil Tetap RI di FAO itu dilakukan di Plenary Hall Gedung FAO di Roma," demikian Minister Counsellor Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Roma, Nindarsari Utomo, kepada Antara London, Senin.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono yang sedang berada di Roma memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan Konferensi ke-39 FAO, ikut hadir dan menyaksikan acara penyerahan penghargaan tersebut bersama anggota delegasi Indonesia lainnya.

Penghargaan dengan nama Achievement Award "Completing the MDG round: recognizing achievements in the fight against hunger" tersebut diberikan kepada negara-negara yang dinilai telah berhasil menurunkan secara signifikan angka tingkat masyarakat yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Wakil Kepala Perwakilan KBRI Roma, Minister Des Alwi, mengatakan selain Indonesia, terdapat 71 negara lainnya seperti Angola, Bolivia, Tiongkok, Laos, Myanmar, Nepal, dan Uzbekistan yang tahun ini juga mendapatkan penghargaan serupa.

Des Alwi menyebutkan pemberian penghargaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya internasional untuk mencapai MDGs. Indonesia miliki tanggung jawab dan komitmen internasional untuk memenuhi dan mencapai target MDGs serta Post-2015 Development Agenda.

Minister Counsellor Multilateral KBRI Roma, Tazwin Hanif, menyebutkan pemberian penghargaan kali ini merupakan penegasan atas apresiasi FAO kepada Indonesia yang telah menerima Award pencapaian target MDG-1 pada tahun 2013.
Sementara itu, Dubes/Watap RI August Parengkuan menyampaikan penghargaan yang diberikan ini merupakan bentuk pengakuan internasional atas keberhasilan Indonesia.

Menurut dia, hal ini merupakan buah manis dari berbagai upaya dan jerih payah yang dilakukan seluruh pemangku kepentingan di tanah air, termasuk para diplomat RI yang berjuang di berbagai organisasi internasional melalui jalur diplomasi multilateral.

Namun demikian, Dubes Parengkuan mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan terlalu cepat berpuas diri dengan penghargaan ini. Jalan panjang menuju keberhasilan yang hakiki masih harus perlu dilalui, ini baru permulaannya, pungkas Dubes.
Acara penyerahan penghargaan yang digelar di sela pelaksanaan Konferensi ke-39 FAO tersebut merupakan inisiatif bersama FAO dan badan program pangan dunia (WFP). Sedianya, Presiden RI telah diundang untuk hadir dalam acara tersebut, namun berhalangan hadir.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015
FAO: Masa Depan Pangan RI Ada di Sagu dan Singkong

FAO: Masa Depan Pangan RI Ada di Sagu dan Singkong

FAO: Masa Depan Pangan RI Ada di Sagu dan SingkongFeby Dwi Sutianto - detikfinance
 
Jakarta -Lembaga pangan dan pertanian dunia yang berada di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Food and Agriculture Organization (FAO) mengungkapkan masa depan pangan Indonesia ada di sagu dan singkong. Saat ini, pangan pokok di Indonesia masih mengandalkan beras.

Cadangan sagu dan singkong di Indonesia sangat besar. Sagu dan singkong bisa menjadi tumpuan atau pilihan makanan berkarbohidrat pengganti nasi di masa mendatang.
"Untuk masa depan, pangan di Indonesia salah satunya sagu dan singkong," kata Assistant FAO Representative Indonesia Ageng Setiawan Herianto saat diskusi di Menara Thamrin, Jakarta, Rabu (1/4/2015).

Kedua jenis makan tersebut saat ini masih dianggap sebagai makanan kelas bawah atau bukan makanan utama. Sehingga minat masyarakat mengkonsumsi sagu dan singkong sebagai bahan pokok masih rendah.

"Kalau bisa dimanfaatkan dan dinaikkan prestige, yakni makan sagu sagu dan singkong bukan makanan orang pinggiran maka orang akan geser untuk mengkonsumsi," ujarnya.
Fakta saat ini, Indonesia merupakan lumbung sagu terbesar di dunia. Namun sayangnya negara tetangga yang justru memanfaatkan potensi sagu di Indonesia.

Sagu juga masih dimanfaatkan bukan sebagai bahan pangan tetapi untuk kebutuhan industri seperti bahan baku lem. Potensi lahan sagu Indonesia mencapai 1,2 juta hektar.
"Kita area sagu terbesar di dunia," sebutnya.
Khusus singkong, produksi singkong Indonesia masih kalah daripada Thailand bahkan Indonesia masih mengimpor singkong. Tanaman singkong masih dianggap sebagai produk pertanian alternatif.

"Thailand berhasil atur sistem penanaman, mereka berhasil tanam. Sedangkan kita masih tradisional dan dianggap sebagai tanaman sampingan," ujarnya.(feb/hen)
Back To Top