-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Tujuh Dubes hadiri festival budaya Lembah Baliem

Tujuh Dubes hadiri festival budaya Lembah Baliem

Wamena (ANTARA News) - Sebanyak tujuh duta besar negara sahabat Indonesia menghadiri jamuan malam keakraban yang digelar Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam rangka pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem 2016.

Wakil Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua di Wamena, Senin mengatakan ketujuh duta besar tersebut berasal dari Swiss, Italia, Armenia, Hungaria, Bulgaria, Mexico dan India.

"Kami berharap kedatangan para duta besar ini dapat memberikan kesan yang baik bagi Tanah Papua, khususnya Kabupaten Jayawijaya," katanya.

Menurut Jhon, festival budaya ini menghabiskan anggaran sebesar Rp9 miliar khusus untuk jasa pelaksana kegiatan atau Event Organizer (EO), di luar biaya lain-lain seperti pembangunan infrastruktur dan sebagainya.

"Dana ini secara keseluruhan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkab Jayawijaya tanpa ada sharing dari APBN," ujarnya.

Dia menjelaskan pula persiapan pelaksanaan festival budaya di Distrik Walesi ini sudah mencapai 99 persen, dan sisanya untuk hari-H pelaksanaan sebagai finishing atau penyelesaian saja.

"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Jayawijaya, apapun cuacanya ketika festival dibuka untuk ikut berpartisipasi memeriahkan agenda nasional ini," katanya lagi.

Sekadar diketahui, Festival Budaya Lembah Baliem ini digelar pada 8-10 Agustus 2016 di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya.

Festival budaya ini merupakan festival yang dilaksanakan setiap tahunnya di wilayah yang akrab disebut Kota Dingin Wamena.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Festival Budaya Melanesia bangun persaudaraan

Festival Budaya Melanesia bangun persaudaraan


Festival Budaya Melanesia bangun persaudaraan
ilustrasi Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan (kiri), Seniman Kain Tenun NTT Alfonsa Horeng (tengah), dan Kepala Museum Nasional Intan Mardiana, saat pembukaan Pameran Tekstil ASEAN di Museum Nasional, Jakarta. (ANTARAFOTO/ Ujang Zaelani)
Setelah memahami dan mengenal dapat meningkat menjadi tukar pikiran, kerja sama dan akhirnya menuju kesejahteraan bersama rakyat Melanesia,"
Kupang (ANTARA News) - Festival Budaya Melanesia yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 27-30 Oktober merupakan cara untuk membangun persaudaraan, persahabatan dan kerja sama di negara-negara yang memiliki penduduk Melanesia.

"Setelah memahami dan mengenal dapat meningkat menjadi tukar pikiran, kerja sama dan akhirnya menuju kesejahteraan bersama rakyat Melanesia," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan saat memberi sambutan di malam penyambutan delegasi Festival Budaya Melanesia di Kupang, Selasa (27/10) malam.

Ia mengharapkan kebudayaan menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang ekonomi, khususnya kemaritiman, dan politik.

"Mudah-mudahan dengan pintu kebudayaan bisa menciptakan perdamaian dan membangun kesejahteraan."
Kerja sama dalam bidang budaya juga diharapkan dapat menjembatani perbedaan yang ada diantara negara Melanesia.

Festival Budaya Melanesia diadakan di Indonesia untuk pertama kali dan antara lain dihadiri oleh delegasi dari Papua Niugini, Fiji dan Kaledonia Baru.
Selain seminar mengenai penyebaran, bahasa dan kerja sama Melanesia, festival ini juga akan diisi oleh pemutaran film dari negara peserta.

Indonesia memutar tiga film dalam festival ini, yaitu "Cahaya Dari Timur", "Tanah Mama" dan "Atambua 39 C".

Festival ini turut mengagendakan penampilan seni dari negara peserta, Indonesia mengirim perwakilan dari Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Melanesia adalah sub-ras dengan persebaran di wilayah Indonesia mencakup Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat serta negara lain seperti Vanuatu, Fiji, Pulau Solomon dan Papua Nugini.

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak menjelaskan pada jumpa pers, Kamis (22/10), leluhur yang datang ke Nusantara ada yang tetap tinggal dan ada yang bermigrasi hingga ke Australia dan berpusat di Papua, Papua Nugini dan Australia.

Budaya yang berkembang di Papua dan Papua Nugini meluas sampai ke Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat serta timur jauh seperti Fiji dan Vanuatu.

Bukti-bukti peninggalan Melanesia menunjukkan sub-ras tersebut hadir di Australia, yang diwakili oleh Aborigin, sejak 60.000 tahun lalu.

Sementara itu peninggalan di Indonesia menunjukkan mereka datang 45.000 sampai 50.000 tahun yang lalu.

Perbedaan budaya yang ada di tempat persebaran Melanesia menurut Truman disebabkan oleh faktor lokal.



Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top