-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Gajah Afrika perlu waktu seabad untuk pulih dari perburuan

Gajah Afrika perlu waktu seabad untuk pulih dari perburuan

Gajah Afrika perlu waktu seabad untuk pulih dari perburuan
Penyelundupan Gading Gajah Afrika Petugas Bea & Cukai menjaga ratusan gading gajah Afrika yang berhasil ditegah saat gelar perkara di Kantor Bea & Cukai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (26/5/2016). Gading gajah Afrika tersebut dibawa oleh dua warga negara China dari Nigeria dengan tujuan Jakarta yang dibungkus di dalam sejumlah tas. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/ama/16) ()
Johannesburg (ANTARA News) - Gajah hutan Afrika yang langka dan berperan penting menyeimbangkan ekosistem hutan hujan tropis Afrika Tengah memerlukan waktu sekitar seabad untuk pulih dari serangan pemburu gading, demikian hasil suatu kajian, Rabu.

Hal itu terjadi lantaran tingkat kelahiran gajah cukup rendah. 

Penelitian tersebut dilakukan oleh lembaga yang berpusat di New York, Masyarakat Konservasi Satwa Liar (WCS). Kajian mengenai demografi hewan itu baru pertama dilakukan mengingat sulitnya melacak gajah di hutan.

Namun, medan sulit hutan hujan tropis tak membuat pemburu gentar. Pasalnya mereka telah mengurangi populasi gajah hingga 65 persen dari 2012 sampai 2013.

Turunnya populasi itu disebabkan tingginya permintaan gading dari China dan negara Asia lain yang perekonomiannya cukup baik.

"Dalam periode itu, populasi gajah menurun dari 100 ribu mungkin kini tinggal 70 ribu ekor," kata Peter Wrege dari Cornell University, salah satu peneliti.

"Demi mengembalikan jumlah populasi gajah pada 2002, melihat tingkat kelahirannya, mereka butuh waktu sekitar satu abad untuk kembali pulih," kata Wrege.

Banyak hal dipertaruhkan dalam hal populasi hewan. Biolog menyebut gajah hutan adalah "spesies penting" karena memiliki peran krusial menjaga keseimbangan ekosistem hutan Afrika Tengah, ungkap hasil penelitian yang disiarkan Jurnal Ekologi Terapan.

Tumbuhan bergantung pada gajah untuk proses penyebaran benih via kotorannya, karena hewan besar umumnya mengonsumsi makanan yang banyak.

Ukuran tubuh yang besar dan pola makan gajah di vegetasi tebal itu turut membuat jalur bagi mahluk lebih kecil.

"Struktur hutan akan berubah jika gajah tak lagi melakukan perannya," ujar Wrege.

Kesehatan hutan di Afrika Tengah memiliki efek mendunia karena kawasan itu adalah zona penyerapan karbon kedua terbesar.

Artinya, hutan menyerap karbon, alhasil, memperlambat laju perubahan iklim.

"Gajah hutan menghadapi tingkat perburuan yang tinggi di Afrika, setidaknya 10 sampai 18 persen populasi gajah tewas per tahunnya," ungkap penelitian tersebut.

Gajah hutan merupakan satu dari dua spesies gajah di Afrika.

Jenis lainnya, gajah sabana berukuran lebih besar dan berjumlah agak banyak.

Sementara itu, gajah hutan cukup sulit dilacak keberadaannya, mengingat beberapa spesies mamalia memiliki masa reproduksi yang lambat.

Kajian itu menemukan, gajah betina mulai melahirkan pada umur 23 tahun, lebih lama satu dasawarsa dari gajah sabana.

Gajah hutan betina juga hanya melahirkan anak tiap lima atau enam tahun, sementara gajah sabana memiliki rentang waktu tiga sampai empat tahun.

Sejumlah wilayah perburuan dilakukan di Republik Afrika Tengah dan Republik Demokratis Kongo, dua negara miskin yang memiliki sistem pemerintahan buruk dan ditimpa konflik.

Temuan itu disiarkan jelang pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Johannesburg akhir September. Dalam sesi itu, Zimbabwe dan Namibia akan mendesak izin penjualan stok gadingnya.

Namun usulan itu tampaknya akan ditentang banyak negara Afrika lain.

Pendukung penjualan gading mengatakan, keuntungannya dapat digunakan mendanai program konservasi. Akan tetapi, pihak lain menentangnya karena izin itu akan menjadi kamuflase bagi pemburu, serta membuat produk berbahan hewan terancam punah, misalnya gajah hutan, diterima masyarakat.

Secara keseluruhan, perburuan ilegal gajah di Afrika dinilai telah menurun dari 30 ribu ekor pada 2011. Namun merujuk laporan terbaru, angka saat ini masih terbilang tinggi.
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bogor miliki Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia

Bogor miliki Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia

Bogor (ANTARA News) - Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia resmi diluncurkan, Rabu, berlokasi di Jl Juanda Kota Bogor, Jawa Barat, yang merupakan pengembangan dari Museum Etnobotani-LIPI. 

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Alam Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, hadirnya museum tersebut mencerminkan alam Indonesia, interaksi antara manusia dari masa ke masa, menginformasikan keberadaan binatang dan tanaman yang dipelihara dan didomestikasikan.

"Melalui museum ini, kita akan sampaikan kepada masyarakat luas dan juga dunia, bahwa Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam tumbuhan, tetapi juga hewan, bahkan mikroorganisme," katanya.

Ia mengatakan, secara total pengembangan Museum Etnobotani menjadi Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia akan selesai pada 2019. Secara bertahap LIPI melakukan penataan setiap ruangan dan lima lantai gedung museum.

Menurutnya, setiap lantai bangunan gedung museum akan dieksplorasi berupa keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang layak menempati koleksi museum. Museum selain berisikan tentang etnobotani, pemanfaatan tumbuhan tropis Indonesia, juga tentang kehidupan modern sampai rekayasa genetika.

"Museum ini akan menjadi medium pendidikan dan penelitian, sesuai misi LIPI untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," katanya.

Selain itu, karena museum tersebut merupakan Museum Nasional Sejarah Alam satu-satunya di Indonesia akan bekerjasama dengan museum sejarah alam yang ada di negara-negara lainnya.

"Adanya kerjasama ini, akan memudahkan kita melakukan penukaran spesimen untuk ditampilkan di dalam museum," katanya.

Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia, lanjutnya menampilkan 1.840 koleksi tanaman, ditambah dengan koleksi hewan yang berasal dari Museum Zoologi yang dikenal sebagai museum terbesar 10 dunia dengan jumlah koleksinya.

"Tinggal bagaimana mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadikan museum sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi, seperti di negara-negara luar yang sudah menyukai museum di wilayah," katanya.

Upaya untuk mendorong minat masyarakat ke museum akan dilakukan dengan memberikan edukasi kepada sekolah-sekolah, dan terbitnya kurikulum museum, sehingga bisa dilakukan aktivitas menarik di museum.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sangat antusias melihat koleksi yang ada di Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia. Salah satu sudut menampilkan perkembangan Kota Bogor dari masa ke masa. Juga ada tampilan peta Bogor yang dibuat pada tahun 1901.

Menurutnya, museum tersebut akan mengingatkan sekaligus menggambarkan kembali tentang Bogor sebagai kota pusaka. Ia bahkan sudah membayangkan ke depan tujuan favorit wisatawan ke Kota Bogor tidak hanya kuliner dan Kebun Raya Bogor (KRB) saja tetapi juga mengunjungi museum yang memang sangat menarik dan nyaman.

"Saya ingin generasi muda mempunyai hasrat dan passion-nya untuk menghabiskan waktunya di museum," kata Bima.

Salah satu pengunjung Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia, Azizia Oktaviana (22) mengaku sangat tertarik dengan tampilan yang ada di museum tersebut, selain menampilkan foto, juga ada benda-benda yang berkaitan dengan sejarah alam Indonesia.

"Saya pernah ke Museum Pagaruyung di Sumatera Barat, hanya ada foto-foto saja membosankan. Kalau museum ini tidak, kita bisa melihat banyak hal, tidak hanya foto, tetapi ada alat-alat, dan lengkap," katanya.

Menurut Azizia, perlu ada peta atau keterangan petunjuk arah untuk mengeksplor seluruh ruangan di gedung museum tersebut, sehingga pengunjung tidak kebingungan dan mau melihat kemana saja.

"Cuma agak bingung tidak ada petunjuk arah, kemana lagi kita bisa melihat dan mengeksplor museum ini," kata dara yang berasal dari Riau ini.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Aren solusi tangkal bencana banjir Bengawan Solo

Aren solusi tangkal bencana banjir Bengawan Solo

Aren solusi tangkal bencana banjir Bengawan Solo
Warga mengamankan perabot rumah tangga saat banjir menggenangi permukiman di Kampung Sewu, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Minggu (19/6/2016), akibat meluapnya sungai Bengawan Solo. (ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc/16)
Wonogiri (ANTARA News) - Pohon Aren dipilih oleh relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI Jawa Tengah sebagai solusi untuk menangkal bencana banjir yang kerap terjadi di wilayah yang dilewati aliran sungai Bengawan Solo, khususnya di kota Surakarta.

Penanaman bibit Aren dilakukan di bantaran sungai Keduang, desa Gedong, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Sabtu, yang merupakan salah satu anak sungai Bengawan Solo di bagian hulu dan dianggap memiliki kontribusi besar penyebab bencana banjir di Kota Surakarta.

"Sungai Keduang bisa dibilang menjadi sumber utama masuknya endapan atau sedimen ke Waduk Gajah Mungkur dan Bengawan Solo. Makanya kita tanami Aren karena bisa mengikat tanah di sekitar bantaran, jadi bisa menahan endapan supaya tidak masuk ke sungai," kata Koordinator Lapangan Sibat Kabupaten Wonogiri, Warjo.

Lebih lanjut Warjo menjelaskan, kemampuan pohon Aren dalam menangkal banjir di wilayah hulu yang baik terletak pada bagian akarnya yang bisa saling mengikat satu sama lain dengan pohon Aren yang ada di sekitarnya, sehingga memberikan kestabilan bagi tanah agar tidak mudah tergerus atau larut ke aliran sungai.

Maka dari itu, penanaman pohon Aren akan dilakukan di sepanjang bantaran sungai Keduang dari dua dusun di desa Gedong, yaitu dusun Sasap hingga dusun Watu Pecah dengan jarak total sejauh 15 kilometer.

"Pohon Aren akan ditanam dengan jarak tujuh meter, ini jarak ideal untuk akarnya mengikat dengan kuat. Jumlah bibit Aren yang ditanam sebanyak dua ribu batang," tutur salah seorang anggota Sibat desa Gedong, Suyarto, menjelaskan.

Selain memiliki manfaat di bidang mitigasi bencana, pohon Aren tersebut diharapkan juga memberikan keuntungan ekonomi bagi warga sekitar yang memanfaatkan pohon dari keluarga palem-paleman tersebut.

Suyarto menjelaskan, setiap bagian pohon Aren bisa dimanfaatkan mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya, baik untuk kepentingan kesehatan, pangan, maupun ekonomi.

"Batangnya bisa dibuat sagu, buahnya bisa dimakan jadi kolang-kaling, akarnya mencegah erosi, batang daunnya jadi sapu lidi, sadapan buahnya jadi gula aren, bisa untuk obat sembelit dan diare juga," ujar pria yang sehari-hari menjadi petani itu menjelaskan.

Meski pun memiliki beragam manfaat, namun salah satu alasan kuat pemilihan pohon Aren sebagai bagian mitigasi bencana banjir ialah karena kurangnya minat masyarakat untuk menebang pohon tersebut.

Harapannya, dengan kurang berminatnya masyarakat untuk menebang pohon Aren maka keberadaannya bisa bertahan lebih lama untuk berfungsi sebagai penahan erosi di wilayah bantaran sungai.

"Tadinya ada kajian untuk menanam pohon kelapa, tapi orang masih mau menebang karena dijadikan bahan baku bangunan atau rumah. Tapi kalau pohon Aren tidak menarik, jadi kita pilih itu," ujarnya menambahkan.




Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Hiu tutul terdampar di Pantai Menganti-Cilacap

Hiu tutul terdampar di Pantai Menganti-Cilacap

Hiu tutul terdampar di Pantai Menganti-Cilacap
Dokumentasi hiu tutul berenang mencari makan di Desa Botu Barani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu (6/4). Ketersediaan makanan yang cukup dan kualitas air laut yang baik membuat tujuh hiu tutul berukuran 5-10 meter sering datang ke sana. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Cilacap, Jawa Tengah (ANTARA News) - Satu hiu tutul atau hiu zebra (Stegostoma fasciatum) dilaporkan terdampar di Pantai Menganti, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dalam kondisi hidup meskipun akhirnya mati karena terlalu lama berada di darat.

"Hiu itu diperkirakan terdampar sejak dini hari tadi. Saat ditemukan, kondisinya masih hidup karena terlihat bergerak-gerak," kata Eko, nelayan di Pantai Menganti, Cilacap, Sabtu.

Menurut dia, sejumlah nelayan berusaha mengevakuasi hiu yang bermotif tutul itu ke tengah pantai dengan cara mendorong.

Akan tetapi, kata dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena terlalu berat.

"Padahal sudah didorong oleh 10 orang tetapi hiu itu tidak bisa bergeser. Berat hiu sepanjang 6 meter itu diperkirakan sekitar 1 ton," katanya.

Oleh karena terlalu lama di daratan, kata dia, hiu itu akhirnya mati dan selanjutnya dikubur dengan bantuan alat berat dari salah satu perusahaan di sekitar tempat tersebut.

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Cilacap-Pemalang Teguh Arifianto mengaku tidak sempat melihat hiu tutul itu secara langsung karena bangkainya sudah terlanjur dikubur.

"Namun kalau dilihat fotonya, dapat dipastikan hiu tutul bukan cucut karena terlihat ada insangnya di samping," katanya.

Ia mengatakan hiu tutul merupakan salah satu ikan yang dilindungi dan banyak terdapat di Samudra Hindia atau wilayah perairan yang hangat.

"Hiu tutul makanannya berupa plankton sehingga mereka hidup di wilayah perairan yang hangat atau tidak lebih dari 30 derajat lintang selatan maupun lintang utara," jelasnya. 
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tiga kucing hutan diselamatkan dari perdagangan ilegal

Tiga kucing hutan diselamatkan dari perdagangan ilegal

Palembang (ANTARA News) - Tiga ekor anak kucing hutan diselamatkan dari perdagangan ilegal oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumsel AKBP Tulus Sinaga didampingi Kanit IV Kompol Rafael BJ Lingga mengatakan di Palembang, Rabu, tiga anak kucing tersebut akan ditemukan akan dijual di Pasar Burung, kawasan Pasar 16 Ilir pada Minggu (21/8) oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel yang sedang melakukan razia.

Petugas kemudian menangkap pemiliknya bernama Azhari alias Ujang, warga Jejawi, Ogan Komering Ilir.

"Tiba-tiba pelaku datang ke lokasi untuk menjual kepada pedagang.

Mengetahui pelaku membawa satwa dengan Felis Bengalensis itu, petugas langsung menangkapnya," kata dia.

Pelaku kemudian ditahan di Mapolda Sumsel, sementara barang bukti dibawa ke BKSDA Sumsel untuk karantina.

Polisi masih mengembangkan kasus ini untuk mengetahui keterlibatan warga lain.

"Sementara ini, tersangka bekerja sendirian, tapi tetap kita telusuri lagi," kata dia. 

Tersangka Azhari mengatakan membeli tiga ekor kucing itu dari rekannya seharga Rp200.000.

Kemudian, tersangka membawanya ke Palembang untuk dijual kembali.

Tersangka Azhari mengatakan dirinya berencana menjual tiga anak kucing hutan itu Rp300.000.

"Saya tidak tahu jika kucing hutan merupakan salah satu satwa yang dlindungi. Sudah tiga bulan saya jual beli hewan-hewan, misalnya burung. Tapi baru kali ini jual kucing hutan," kata dia.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dengan ancaman penjara lima tahun.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top