-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Gerhana matahari total sebagai puisi Ilahi

Gerhana matahari total sebagai puisi Ilahi

Gerhana matahari total sebagai puisi Ilahi
Foto kombinasi menunjukkan beberapa fase gerhana matahari total di atas Longyearbyen, Svalbard, Norwegia, Jumat (20/3). Gerhana matahari parsial terlihat di beberapa bagian Afrika, Eropa, dan Asia pada hari pertama musim semi utara. Gerhana matahari total hanya dapat terlihat di Kepulauan Faroe dan kepulauan Svalbard, Norwegia, di Samudera Arktik. (REUTERS/Jon Olav Nesvold/NTB Scanpix)

Jakarta (ANTARA News) - Pada hari Rabu, 9 Maret 2016, seluruh ciptaan bersama sarwa fauna dan flora layak memuji untuk mengamini fenomena alam langka gerhana matahari total (GMT) di Indonesia.

Selama 1,5 menit hingga tiga menit, baris demi baris puisi ilahi mencetuskan sukacita bercampur takjub paripurna.

Pujangga Latin klasik Ovidius melukiskan kegembiraan tak terperi dengan menulis sebait puisi mengenai intisari keindahan "tanta potentia formae est", yang artinya begitu besarlah daya kekuatan sebuah keindahan (alam semesta).

Layaknya baris demi baris dari setangkup puisi, gerhana matahari total masuk menyelinap ke dalam relung pengalaman manusia. Dengan menyaksikan fenomena alam ciptaan Yang Ilahi itulah, manusia memanjatkan puja-puji dalam mantra Ilahi karena hari itu bertepatan dan bersamaan dengan perayaan Nyepi.

Gerhana matahari total yang melewati 12 provinsi di Indonesia benar-benar memenuhi kredo dari puisi Yunani klasik bahwa kosmos selalu hadir apa adanya dalam keselarasan atau harmoni alam semesta.

Artinya, gerhana matahari total mengembalikan firdaus manusia yang telah sirna. Sebagai citra dari Yang Ilahi, jiwa manusia tiada henti mengembara bersama alam semesta. Sebanyak 12 provinsi di bumi Nusantara merayakan liturgi alam semesta dengan dipandu empat kata sarat penyesalan, "mea culpa, mea culpa", karena kesalahanku, karena kesalahanku.

Ya, keduabelas provinsi itu, yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung, termasuk semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Sesal yang memunculkan sesah, itulah nasib asasi setiap manusia. Manusia berujar, "Kami ingin memahami alam semesta, padahal kami sendiri berada dalam alam semesta yang justru kami ingin amati dan selidiki."

Di bawah tajuk peristiwa alam gerhana matahari total 2016 yang terjadi setiap 350 tahun, sang ciptaan Ilahi justru menepuk dada penuh bangga seraya berujar, mana mungkin peristiwa alam semesta mengandung segala sesuatu yang tidak terdefinisi atau terurai secara terang benderang.

Gerhana matahari total di 12 provinsi Indonesia memenuhi tilikan (insight) tidak sebatas fakta alam menakjubkan, tetapi ucapan penuh pengakuan akan misteri alam semesta dengan mengulang ujaran pujangga Aeneas, "Kita berlayar meninggalkan pelabuhan dan daratan serta kota-kota pun menjauh."
Sebagai manusia yang tidak menyerah kepada mahkamah mukjizat yang serba dipercaya tanpa pernah digugat maka fenomena alam gerhana matahari total sebagai puisi Ilahi memberi mandat setiap insan untuk menggelar penyelidikan dengan berbekal pertanyaan awal, mengapa alam semesta datang dan pergi layaknya pagi berganti malam.

Apakah gerhana matahari total merupakan mukjizat? Sebelum menjawab itu, bukankah manusia merupakan mukjizat Ilahi yang terbesar? Dua pertanyaan itu muncul dari satu pernyataan telak dari filosof Yunani klasik Aristoteles bahwa bumi merupakan pusat dari kosmos dan api akan naik sementara tanah akan ke bawah. Alam semesta bergerak secara melingkar dan tidak bersifat terbatas. 

Keindahan puisi Ilahi dari gerhana matahari total justru meletak ketika warga masyarakat Indonesia memaknainya sebagai perayaan nan megah. Ini berpulang dari pernyataan yang dilontarkan oleh filosof teolog Agustinus bahwa manusia yang memohon keajaiban tidak melihat bahwa dia sebenarnya meminta kepada alam semesta agar menghentikan sejenak keajaiban-keajaibannya.
Gerhana matahari total 2016 dirayakan sebagai fakta keindahan. Saksikan euforia yang indah, dari Tidore Kepulauan, Maluku Utara yang siap menyuguhkan tradisi dolo-dolo kepada para wisatawan mancanegara (wisman).

Masyarakat setempat akan memukul kentongan bambu secara bersamaan di seluruh wilayah kampung saat terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan. Mereka berharap dapat mengusir raksasa yang menelan bulan atau matahari. Masyarakat meyakini bahwa ada raksasa yang menelan matahari atau bulan.

Ingin merayakan liturgi kemeriahan gerhana matahari total, ratusan warga Poso, Sulawesi Tengah, siap menabuh padengko--sebuah alat bunyi-bunyian tradisional yang terbuat dari bambu. Kemeriahan itu digelar mulai Selasa (8/3) sebagai bagian dari Festival Kawaninya yang sedang disiapkan Pemkab Poso.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, akan digelar lomba perahu hias dan perahu naga di lapangan Merdeka dan Pantai Manggar, sedangkan di Maluku Utara dihelat program 10 hari bersih. Seluruh Babinsa di wilayah itu diperintahkan untuk melakukan pembersihan secara rutin di wilayahnya senyambang amanat Adat se Atorang.

Di Palembang, Yang indah dalam peristiwa alam gerhana matahari total ingin diekspresikan dalam lampion naga yang diberi nama Naga Sumatra dengan dominasi warna kuning dan merah pada sisiknya yang terbuat dari rangka besi dibalut kain, sementara kepalanya berbahan styrofoam.

Lampion naga itu mulai dipasang pada tanggal 8 Maret 2016 agar masyarakat dapat melihatnya, baik dari atas jembatan Ampera maupun di pelataran Benteng Kuto Besak Palembang. Replika naga raksasa berbentuk lampion sepanjang 18 meter dengan ketinggian 4,5 meter akan bertengger di Jembatan Ampera.

Rentetan kegembiraan bercampur keindahan hendak dirayakan menyambut gerhana matahari total 2016. Ada tiga makna dari fenomena alam yang akan terjadi pada hari Rabu, 9 Maret 2016.

Pertama, benar bahwa alam semesta menyembunyikan banyak misteri yang menarik untuk dipahami setiap manusia tanpa kecuali. Ini lantas tidak hanya berhenti hanya dengan pembacaan teks secara harfiah tanpa melakukan tilikan kritis dengan melakukan upaya telaah logis-sistematis terhadap peristiwa alam semesta.

Kedua, penyelidikan ilmiah dapat saja menjadi salah satu cara kerja untuk memahami sejengkal misteri dari peristiwa alam yang tersaji dalam kehidupan.

Ketiga, keunikan dari misteri Ilahi dapat saja dilihat dengan "mata telanjang". Gerhana matahari total hendaknya tidak dipenuhi dan tidak disesaki dengan rumusan-rumusan jelimet. Setiap keunikan dan setiap misteri alam tetap tersembunyi dan perlu dicermati agar sedikit demi sedikit tersingkap.

Ketika manusia melafalkan bait demi bait puisi Ilahi bertajuk gerhana matahari total, pantas dikutip pernyataan filosof Pierre Teilhard de Chardin, "Tidak ada bidang atau tahap di mana sains dan wahyu yang saling menggusur atau menjadikan sia-sia satu sama lain... Baik Sains maupun pewahyuan Ilahi sama-sama tidak dapat berfungsi selain dalam gerakan yang mempertemukan keduanya."
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Gerhana Matahari Total, beda zaman Orba dan sekarang

Gerhana Matahari Total, beda zaman Orba dan sekarang

Gerhana Matahari Total, beda zaman Orba dan sekarang
ilustrasi -Siswa Sekolah Deutschherren dan guru mereka menggunakan kacamata pelindung untuk menyaksikan gerhana matahari parsial di Frankfurt, Jumat (20/3/2015). (REUTERS/Kai Pfaffenbach )

Jakarta  (ANTARA News) - Gerhana matahari total (GMT) terakhir kali di Indonesia terjadi pada tahun 1983.

Ahli astronomi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Bambang Hidayat saat mengingat kembali GMT 1983 mengatakan kala itu masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah dan melihat proses GMT hanya melalui televisi yang kala itu disiarkan secara langsung oleh TVRI. 


"Tapi orang-orang desa juga punya wisdom. Zaman dulu orang melihat refleksi gerhana dari air dalam belanga atau kolam, atau melihat dari lubang jarum, orang zaman dulu sudah tahu itu," kata Bambang.

Bambang menunjukkan kliping beberapa berita dari surat kabar yang terbit pada Juni 1983 yang di antaranya dari Suara Karya berjudul "Teropong Gerhana Disita Polri", dari Kompas yang berjudul "Akhirnya Batara Kala Muncul Juga" yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid, dan tulisan lain berjudul "Pikiran-pikiran tentang Suatu Gerhana" yang ditulis Y B Mangunwijaya.

Ahli astronomi lulusan Institut Teknologi Bandung ini memperlihatkan kondisi berbeda melalui foto jurnalistik yang diterbitkan tahun 1988 yang menunjukkan masyarakat Bengkulu memenuhi pantai sambil menggunakan kacamata khusus dengan fitler matahari mengamati proses GMT.

Foto lain memperlihatkan seseorang dalam posisi tidur di atas pasir putih dengan santai mengamati proses GMT dengan menggunakan filter matahari.

Profesor yang juga merupakan mantan Kepala Observatorium Bosscha di tahun 1968 hingga 1999 ini juga  menunjukkan klipingan foto dokumentasi persiapan pengamatan GMT 1901 dan 1926 di Bengkulu yang dilakukan peneliti Belanda dan ahli astronomi Amerika Serikat.

Tampak di dalam foto banyak orang pribumi yang dilibatkan dalam persiapan observasi GMT.

"Di masa belum ada Indonesia saja ilmuwan dan pemburu gerhana dunia sudah berdatangan ke Nusantara. Proses pengamatan mereka pun melibatkan orang-orang pribumi, sehingga banyak yang sudah paham soal gerhana tersebut," ujar dia.
Memahami fase GMTBambang menjelaskan fase-fase dan sifat GMT yang perlu dipahami masyarakat sebelum pergi melihat fenomena alam langka ini sehingga masyarakat dapat secara aman menyaksikannya tanpa merusak retina mata.

Proses menuju gerhana matahari total dimulai saat kontak pertama piringan luar bulan dengan piringan luar matahari terjadi, saat itu fase gerhana matahari sebagian dimulai dan dinamakan fase K1.

Pada fase K1 ini masyarakat harus menggunakan kacamata dengan filter matahari yang mampu menyaring radiasi inframerah matahari hingga 100.000 kali untuk menyaksikan proses GMT.

Proses GMT dilanjutkan dengan kontak awal piringan luar matahari dengan bagian dalam piringan bulan, saat itu fase gerhana matahari total di mulai dan disebut sebagai fase K2.

Pada fase ini masyarakat masih harus tetap menggunaan kacamata dengan filter matahari.

Pada saat piringan bulan tepat di tengah piringan matahari pada saat itu, menurut Bambang, gerhana matahari total mencapai maksimal dan memasuki fase M.

Pada fase M ini terjadi kegelapan nyaris sempurna dan masyarakat dapat melepaskan kacamata berfilter matahari yang digunakannya untuk menyaksikan keindahan totalitas gerhana matahari total.

"Pada saat itu Baily beads atau manik-manik Baily bisa kita lihat, ini terjadi sangat cepat hanya 10 hingga 15 detik saat cahaya matahari masih dapat melewati permukaan bulan yang tidak rata sebelum akhirnya cahaya benar-benar hilang dan menyisakan sangat sedikit kilau cahaya tampak seperti cincin berlian yang berkilau. Kalau saya menyebutnya cahaya akik, karena mirip batu akik yang menyembul di lingkaran cincin," ujar penerima Habibie Award ini.

"Bailys beads", ia mengatakan dinamai sesuai nama peneliti Francis Baily yang menjadi orang pertama yang menjelaskan tentang gumpalan cahaya yang mirip manik-manik di tepi piringan bulan sesaat menjelang dan sesudah totalitas gerhana matahari total terjadi.

Saat fenomena cincin berlian hilang keindahan lain dari fenomena gerhana matahari total mulai tampak, yakni munculnya korona matahari di mana akan tampak seperti cincin tipis dan cahaya redup mengelilingi bulan saat totalitas terjadi.

Korona bisa dilihat saat gerhana matahari total terjadi. Bentuknya tidak sama (di setiap GMT) karena dibentuk oleh matahari dengan kekuatan cahayanya yang berbeda-beda.

Fase gerhana matahari total selesai saat kontak akhir piringan luar matahari dengan bagian dalam piringan bulan terjadi. Fase ini masuk ke fase K3 dan kegiatan mengobservasi gerhana matahari total yang dilanjutkan harus menggunakan kacamata dengan filter matahari.

Menurut Bambang, pada fase K3 ini di mana bulan tiba-tiba menyingkir dari matahari dan memancarkan sinar yang begitu cemerlang menjadi fase paling berbahaya untuk diamati mata secara langsung. Begitu pula pada fase K4 saat gerhana matahari sebagian selesai, karenanya pengamatan harus menggunakan kacamata dengan filter matahari.

Melihat dengan aman

Kacamata dengan filter matahari menjadi salah satu alat bantu yang aman yang dapat digunakan untuk melihat proses gerhana matahari total.

Kepala Observatorium Bossca Mahasena Putra akan berupaya membuat kacamata dengan filter matahari sebanyak mungkin agar dapat digunakan masyarakat luas.

Filter matahari yang mampu mengurangi radiasi sinar ultraviolet dan inframerah hingga 100.000 kali lipat dan wajib menggunakan tipe Neutral Density 5.

Menurut Mahasena, filter ini belum diproduksi di Indonesia dan selama ini masih impor.

Karena itu, ia meminta masyarakat untuk teliti dalam membeli kacamata gerhana dengan filter matahari tersebut jangan sampai membeli barang palsu.

Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengingatkan memakai kacamata filter, masyarakat dianjurkan untuk tidak lebih dari dua menit melihat ke arah matahari yang belum sempurna tertutup oleh bulan.

Pandangan harus dialihkan ke obyek lain beberapa saat sebelum dapat melakukan pengamatan lagi dengan menggunakan kacamata gerhana tersebut.

Cara aman lainnya untuk mengamati GMT dapat dilakukan melalui lobang jarum yang memproyeksikan proses gerhana matahari ke kertas putih yang di tempatkan di dalam kotak. Cara ini menjadi yang paling aman dan murah untuk melakukan pengamatan bagi masyarakat. 
Editor: Aditia Maruli
Warga Poso tabuh padengko sambut gerhana matahari total

Warga Poso tabuh padengko sambut gerhana matahari total

Warga Poso tabuh padengko sambut gerhana matahari total
Gerhana matahari total terlihat dari satelit mini Proba-2 pemerhati-Matahari milik ESA, yang menggunakan SWAP imager untuk mengabadikan gambar saat bulan melintas di depan matahari dalam foto handout dari Observatorium Kerajaan Belgia, Jumat (20/3). SWAP memandang piringan matahari pada panjang gelombang ultraviolet ekstrem untuk mengambil gambar permukaan matahari yang bergolak dan koronanya yang terus berputar. (REUTERS/ESA/Royal Observatory of Belgium/Handout via Reuters)

Palu (ANTARA News) - Ratusan warga Poso, Sulawesi Tengah, akan menabuh padengko - sebuah alat bunyi-bunyian tradisional yang terbuat dari bambu - untuk menyambut Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016.

Penabuhan alat-alat musik dan bunyi-bunyian tradisional itu akan digelar mulai Selasa (8/3) sebagai bagian dari Festival Kawaninya yang sedang dipersiapkan Pemkab Poso, kata Kepala Dinas Pariwisata Poso Putra Botilangi yang dihubungi di Poso, Jumat.

Ratusan padengko telah disiapkan dan ditambah lagi gendang dan gong, yang akan ditabuh secara bersamaan olh ratusan warga di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, yang ditetapkan lembaga penelitian astronomi Boscha ITB Bandung sebagai titik pemantauan GMT.

Festival Kawaninya yang akan berlangsung dua hari itu akan diawali dengan Tari Motaro, yang merupakan tarian massal menyambut tamu-tamu agung, kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik, tari dan budaya tradisional Poso.

Pemkab Poso juga akan memamerkan potensi wisata dan aneka seni dan budaya tradisional daerah, kuliner serta produk-produk ekonomi kreatif masyarakat Poso.

Sementara tim Boscha ITB akan menggelar workshop dan seminar astronomi, pameran astronomi, serta permainan anak-anak untuk menumbuhkan rasa cinta kepada ilmu astronomi.

"Kami sudah mempromosikan Festival Kawaninya ini secara luas ke berbagai negara dan daerah-daerah tujuan wisata utama di Indonesia bekerja sama Mowintuwu Institute Poso. Saya yakin banyak wisatawan mancanegara akan hadir di Kalora nanti," ujarnya.

Ia tidak menyebut berapa banyak wisman yang sudah memastikan hadir di Poso terkait GMT itu, namun mengemukakan bahwa puluhan rumah warga di Kalora sudah dikontrak untuk digunakan wisman yang akan hadir nanti.

Dalam beberapa hari ini, kata Putra, sudah banyak wisman yang mondar-mandir ke Poso dalam persiapan menyaksikan GMT, bahkan wisman yang sedang menikmati keindahan alam bawah laut di Taman Nasional Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Unauna, dikhabarkan akan turun semuanya ke Poso saat GMT.

"Pada Selasa (8/3) malam, Tim Boscha ITB akan menggelar malam pesta bintang untuk menghibur pengunjung, dengan melakukan live streaming pemantauan bintang-bintang di ruang angka melalui teleskop dan peralatan modern yang akan dibawa dari Bandung," ujarnya.

Sedangkan pada hari H GMT yakni 9 Maret, Boscha ITB akan memonitor langsung peristiwa gerhana matahari mulai pukul 07.00 WITA, sehingga pengunjung di Desa Kalora akan menyaksinya prosesi GMT itu saat melintas di Indonesia mulai dari Palembang hingga berakhir di Ternate.

"Sebuah stasiun televisi swasta Net-TV juga berencana menyiarkan langsung prosesi gerhana matahari total tersebut bekerja sama dengan Boscha ITB," kata Putra Botilangi.
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
BMKG siarkan langsung peristiwa gerhana matahari total

BMKG siarkan langsung peristiwa gerhana matahari total

Pewarta: 
BMKG siarkan langsung peristiwa gerhana matahari total
ilustrasi Gerhana matahari total terlihat dari satelit mini Proba-2 pemerhati-Matahari milik ESA, yang menggunakan SWAP imager untuk mengabadikan gambar saat bulan melintas di depan matahari dalam foto handout dari Observatorium Kerajaan Belgia, Jumat (20/3/2015). (REUTERS/ESA/Royal Observatory of Belgium/Handout via Reuters)

Padang (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Geofisika Padang Panjang, Sumatera Barat, akan menyiapkan fasilitas siaran langsung melalui jaringan internet peristiwa gerhana matahari total pada 9 Maret 2016.

"Masyarakat dapat mengamati detik-detik terjadinya gerhana matahari mulai pukul 6.30 WIB dengan mengakses situs http://media.bmkg.go.id/gmt," kata kata Kepala Stasiun Geofisika kelas I BMKG Padang Panjang Rahmat Triyono saat dikonfirmasi dari Padang, Selasa.

Menurut dia fasilitas siaran langsung disediakan agar masyarakat dapat melihat proses terjadinya gerhana tanpa harus melihat langsung ke arah matahari

"Kami akan melakukan pengamatan secara langsung di Mukomuko, Bengkulu menggunakan teropong khusus pengamatan bulan dan matahari, infocus dan layar, "ujar dia.

Untuk mengamati gerhana tersebut BMKG Padang Panjang menurunkan tim Kepala Stasiun Geofisika BMKG Rahmat Triyono, Kepala Seksi Data dan Informasi Buha M. Simanjuntak, dan tiga observer yaitu Rachmad Billyanto, Dedy Hermanto, serta Fitri Anggraini.

Ia menyampaikan gerhana matahari total merupakan kejadian langka dan hanya terjadi sekali 350 tahun .

"Indonesia adalah satu-satunya wilayah daratan di dunia yang bisa menyaksikan gerhana kali ini, wilayah lainnya adalah lautan Hindia dan Pasifik," kata dia.
Ia mengatakan gerhana matahari total akan melintasi 12 provinsi yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Untuk Sumbar ada dua daerah yang dilewati jalur gerhana matahari total, yaitu Desa Seai, Sikakap Kepulauan Mentawai dengan magnitudo gerhana sebesar 1,012 dan Silaut, Pesisir Selatan, dengan magnitudo sebesar 1,002, lanjutnya.

Ia menyebutkan untuk Desa Seai Kepulauan Mentawai durasi gerhana matahari terjadi 1 menit 51,6 detik, dan Silaut Pesisir Selatan 0 menit 50,9 detik.

Desa Seai Kepulauan Mentawai merupakan lokasi totalitas gerhana matahari total paling barat di Indonesia, ujarnya.

Sementara itu, pada sebagian besar daerah di Sumbar gerhana yang teramati berupa gerhana matahari sebagian dengan magnitudo gerhana terentang antara 1,000 sebelah Utara Silaut di Pesisir Selatan hingga 0,900 di Sumbar bagian utara.

Ia mengatakan secara umum, puncak gerhana di Sumbar akan terjadi pada pukul 07.20 WIB dan gerhana akan berakhir pada pukul 08.27 WIB. 

Durasi gerhana yang teramati di Sumbar rata-rata adalah 2 jam 6 menit. Namun, dalam realisasinya durasi gerhana yang akan teramati di setiap kota akan kurang dari waktu tersebut. Hal ini mengingat waktu kontak awal gerhana terjadi sebelum matahari terbit, lanjut dia.

Rahmat menambahkan gerhana matahari adalah peristiwa ketika terhalangnya cahaya matahari oleh bulan sehingga tidak semuanya sampai ke bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.

Sementara magnitudo gerhana adalah perbandingan antara diameter matahari yang tergerhanai oleh bulan dan diameter matahari secara keseluruhan saat puncak gerhana terjadi. Jika magnitudo gerhananya satu atau lebih dari satu, matahari tergerhanai total, namun, jika magnitudonya kurang dari satu matahari tergerhanai sebagian, tambah dia.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Asnawi Bahar mendorong pemerintah daerah yang dilalui gerhana matahari total, menjadikan peristiwa tersebut sebagai momen menggelar ajang pariwisata.

Apalagi peristiwa tersebut langka, ini bisa jadi peluang pemerintah Kabupaten Mentawai dan Pesisir Selatan menggelar even khusus agar wisatawan berkunjung menikmati gerhana matahari total, ujar dia.

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Gerhana matahari total, akomodasi "fully-booked"

Gerhana matahari total, akomodasi "fully-booked"

 | 1.747 Views
Gerhana matahari total, akomodasi
Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Putu Ngurah dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa. (ANTARA News/Ida Nurcahyani)

"Akomodasi untuk kota-kota yang dilintasi GMT setahu saya sudah penuh semua, Ternate saja sudah 4.000 orang yang confirmed datang," kata  Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Putu Ngurah, dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa.
Putu menyebutkan, untuk mengantisipasi membludaknya wisatawan yang datang ke kota-kota yang dilintasi gerhana itu, pemerintah daerah mengoptimalkan rumah penduduk menjadi tempat penginapan semacamhomestay.
"Kami juga berkoordinasi dengan PT Pelni untuk mempromosikan paket wisata engan kapal-kapal besar sebagai hotel terapung di sejumlah wilayah," kata Putu.

Gerhana matahari total akan berlangsung pada Rabu 9 Maret 2016. Kota-Kota besar yang akan dilalui antara lain Muko-Muko (Bengkulu), Palembang, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu dan Ternate.



Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top