-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Mengetahui manusia purba di situs Gua Pawon

Mengetahui manusia purba di situs Gua Pawon

11:19 WIB | 1.410 Views
Mengetahui manusia purba di situs Gua Pawon
Tiga Arkeolog melakukan proses eskavasi manusia purba di Gua Pawon, Bandung Barat, Jawa Barat.(ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
 
Jakarta (ANTARA News) - Masyarakat yang ingin mengetahui situs Gua Pawon tempat ditemukannya kerangka manusia purba di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat, dapat mengikuti kegiatan geotrek ke daerah itu, demikian rilis yang diterima Antara dari Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (PMPA) PALAWA Universitas Padjadjaran (Unpad).

"Kegiatan geotrack akan digelar pada Sabtu (7/11) setelah sebelumnya mengikuti kegiatan seminar yang bertemakan 'Ayo (kembali) mengenal Karst kita'," kata Ketua Pelaksana kegiatan tersebut Andre Vincent Wenaz di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang terdiri dari konsep indoor dan outdoor. Kegiatan indoor berupa seminar dan bedah buku mengenai pengenalan karst disertai dengan fungsi, potensi, dan bahaya yang akan ditimbulkan jika kawasan karst rusak.

Disamping itu akan juga dikenalkan mengenai keindahan yang bisa digali dari kawasan karst. Kegiatan dilanjutkan dengan geotrek Gua Pawon di Kawasan Karst Citatah. Acara akan ditutup dengan mengenalkan dn menikmati keindahan stone garden (taman bebatuan) yang berada tidak jauh dari kawasan Gua Pawon," katanya.

Kegiatan seminar digelar di Aula Kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan pembicara Budi Bramantyo (peneliti dan pemerhati karst Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Kegiatan seminar dan geotrek merupakan bagian dari kegiatan HUT33th PMPA PALAWA Unpad, katanya.

T Bachtiar (Peneliti Cekungan Bandung yang juga Ketua Masyarakat Geografi Indonesia) dan Ronald Agusta (fotografer).

Gua Pawon berada di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat atau sekitar 25 kilometer ke arah barat dari Kota Bandung.

Situs Gua Pawon sudah dijadikan kawasan cagar lindung arkeologi atau keperbukalaan setelah ditemuaknnya kerangka manusia purba.

Penemuan kerangka manusia purba itu pada 2009, selanjutnya ditemuka fragmen tulang kaki manusia dengan panjang antara 20 sampai 30 centimeter.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Situs Gua Pawon terancam penambangan kapur

Situs Gua Pawon terancam penambangan kapur


Situs Gua Pawon terancam penambangan kapur
Tiga Arkeolog sedang mengekskavasi manusia purba di Gua Pawon, Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (28/20). (ANTARA FOTO/Novrian Arbi) 
 
Jakarta (ANTARA News) - Situs Gua Pawon, tempat ditemukannya kerangka manusia purba, di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat, terancam penambangan kapur, kata Peneliti Cekungan Bandung yang juga Ketua Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar.

"Beberapa gua di kawasan Karst Citatah dalam kondisi kritis. Gua itu ada di Pasir Bancana, Pasir Masigit, dan Gunung Hawu," katanya di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, nasib Gua Bancana yang berada di Pasir Bancana juga tragis. Tahun 2004 gua itu sudah tidak ditemukan lagi karena penambangan kapur. Saat ini gua itu hanya bisa dilihat di foto dan peta saja.

Seharusnya, menurut dia, kawasan karst tersebut dipertahankan dan area yang sudah masuk zona lindung diperluas.
"Citatah setidaknya dapat dijadikan laboratorium atau kampus lapangan," katanya.
Situs Gua Pawon sudah dijadikan kawasan cagar lindung arkeologi atau keperbukalaan setelah kerangka manusia purba ditemukan di sana pada 2009.


Dampak penambangan
Peneliti dan pemerhati karst Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) Budi Brahmantyo menyatakan penambangan kapur juga membuat mata air dan sungai di kawasan karst Citatah menyusut.

"Saat ini tinggal tersisa sedikit mata air dan sungai di kawasan karst Citatah," kata Budi, pengajar di Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung.
Sementara peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Republik Indonesia Cahyo Rahmadi menyebutkan penambangan kapur di Citatah berpotensi memutus fungsinya sebagai penyalur air.

"Penambangan di karst berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Jika distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sangat sulit," katanya.
Ia menjelaskan kawasan karst merupakan bentang alam di batuan mudah larut seperti batu gamping yang terbentuk setelah proses yang berlangsung puluhan ribu tahun.

Karst memiliki jaringan gua sebagai "pipa" air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan dan mata air yang penting bagi masyarakat di kawasan itu.

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top