-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Gubernur BI: investasi DIRE akan marak 2017

Gubernur BI: investasi DIRE akan marak 2017

Gubernur BI: investasi DIRE akan marak 2017
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memperkirakan investasi ke instrumen dana investasi real estat (DIRE) akan marak di Indonesia pada 2017.

"Sekarang yang penting ikut amnesti pajak dulu, nanti setelah masuk mereka akan berpikir investasi ke mana, DIRE merupakan pilihan yang baik," kata Agus Martowardojo.

Gubernur BI mengatakan hal itu setelah mengikuti pengarahan Presiden Joko Widodo kepada sejumlah kepala daerah di Istana Negara Jakarta, Senin.

Agus menilai pengarahan yang juga dihadiri oleh pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sejumlah menteri itu merupakan koordinasi langsung dengan pemerintah daerah.

"Kami sambut baik pertemuan ini karena Presiden berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah dan menjelaskan secara langsung bahwa secara nasional Indonesia akan meluncurkan instrumen ini," katanya. 
Ia menyebutkan upaya mendorong perkembangan instrumen DIRE sebelumnya sudah ada di Paket Kebijakan Ekonomi V, kemudian dipertajam di Paket Kebijakan Ekonomi XI.

"Jadi, pemerintah membuat investasi akan jelas, tidak ada pungutan, tidak ada pajak penghasilan, dan ada fasilitas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan atau BPHTB," kata mantan Menteri Keuangan itu.

Ia menyebutkan tidak semua properti akan disekuritisasi untuk kemudian menjadi dasar penerbitan DIRE karena hanya properti yang besar yang akan disekuritisasi.

Agus menyebutkan saat ini banyak sekali dana di tengah masyarakat apalagi dengan adanya amnesti pajak sehingga pemerintah perlu menyiapkan instrumen investasi alternatif.
"Jadi, saya lihat koordinasi hari ini bagus dan dalam waktu dekat akan direspons oleh menteri atau pemerintah daerah. Ini merupakan kepastian untuk berinvestasi di instrumen itu," katanya.
Ia yakin DIRE yang akan dikeluarkan di Indonesia akan kompetitif dengan negara lain.
"Satu yang merupakan kelebihan, DIRE ini juga cocok untuk investor kecil," katanya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bahwa pemerintah menyiapkan instrumen investasi karena selama ini investor lebih suka menaruh dananya di luar negeri.

"Investor tidak mau di sini karena ada beban biaya bea perolehan hak atas tanah dan bangunan sebesar 5 persen. Di Singapura hanya 3 persen, kita mau bikin 1 persen," kata Gubernur DKI yang biasa disapa Ahok.

DIRE merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan pada aset real estat.

Reksa dana jenis DIRE akan digunakan untuk membeli tanah, bangunan, gedung, perkantoran, hotel, apartemen, rumah sakit, saham dan obligasi perusahaan pengembang. Dana tersebut dikelola secara profesional oleh manajer investasi untuk dikelola ke dalam properti.


Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Gubernur BI minta IDB tingkatkan investasi infrastruktur

Gubernur BI minta IDB tingkatkan investasi infrastruktur

Gubernur BI minta IDB tingkatkan investasi infrastruktur
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo meminta lembaga multilateral Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) meningkatkan nilai investasi infrastruktur kepada negara-negara anggota lembaga tersebut.

Menurut Agus, dalam pertemuan Dewan Gubernur IDB, di Jakarta, Rabu, kepastian tersedianya infrastruktur menjadi hal penting untuk merealisasikan ambisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.

"Pembangunan infrastruktur juga sejalan dengan lima pilar strategis dari 10 tahun kerangka strategis IDB dan fokus pemerintah Indonesia," kata dia melalui keterangan tertulis.

Dalam pertemuan forum tertinggi IDB itu, sebagai pimpinan delegasi Indonesia, Agus memuji kemajuan yang dicapai IDB dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sosial negara anggota, selama 41 tahun.

Sebagai gambaran, pada 2015, Grup IDB memberikan bantuan finansial maupun bantuan teknis sebesar 12,1 miliar dolar AS, meningkat 13 persen dari jumlah bantuan sebelumnya sebesar 10,7 miliar dolar AS.

Khusus untuk Indonesia, seperti data "Blue Book" 2015-2019, IDB berencana menawarkan pinjaman kepada Indonesia sebesar 5,2 miliar dolar AS.

"Sekarang kami punya komitmen dengan IDB di mana IDB akan memberi pinjaman 5 miliar dolar AS yang akan ditekan besok (Rabu, 18/5)," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Selasa kemarin, di Jakarta.

Indonesia dan IDB juga menandatangani trategi kerja sama negara anggota atau "member country partnership strategy" (MCPS) untuk periode 2016-2020.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Jokowi Pimpin Langsung Rapat TPID, Gubernur BI: Saya Makin Optimistis

Jokowi Pimpin Langsung Rapat TPID, Gubernur BI: Saya Makin Optimistis

Maikel Jefriando - detikfinance
Jokowi Pimpin Langsung Rapat TPID, Gubernur BI: Saya Makin Optimistis Foto: Rakor TPID (Maikel-detikFinance)
 
Jakarta -Hari ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung memimpin rakor Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), yang dihadiri kepala daerah, sejumlah menteri, dan Gubernur Bank Indonesia (BI). Apa hasilnya?

Usai rapat selama 2 jam, Jokowi mengatakan, semua pihak sepakat melakukan pembenahan sistem distribusi pangan. Contohnya adalah dengan membuat pasar lelang, sehingga petani bisa menikmati margin keuntungan yang baik.

"Kemudian inflasi 4% plus minus 1% harus dicapai. Ini kalau dilakukan bersama, baik (pemerintah) pusat dan daerah. Karena inflasi hanya masalah distribusi pasokan dan keterjangkauan harga yang harus konsiten dari minggu ke minggu," jelas Jokowi usai rapat di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (27/5/2015).

Pembenahan infrastruktur, baik jalan, pelabuhan, irigasi, dan juga energi akan dilakukan. Tujuannya adalah mendukung distribusi pangan. "Kalau nanti pasar lelang berhasil dan Bulog sebagai penyangga baik, maka inflasi akan membaik," ujar Jokowi.
Di tempat yang sama, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, dengan rapat koordinasi TPID yang langsung dipimpin presiden maka dirinya semakin optimistis inflasi berjalan dengan baik.

"Pada kuartal I inflasi 6,38%. Kuartal II inflasi 7,4%, lalu kuartal III inflasi 7,3%. Di akhir tahun sudah masuk 4,2%," imbuh Agus.
Dia mengingatkan, ada sejumlah komoditas pangan yang harus diwaspadai kenaikan harganya. "Kita harus perhatian kepada bawang merah, cabai merah, ayam, dan telur ayam. Dan juga menjelang puasa," kata Agus.

(dnl/hen)
Back To Top