-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menag sambut baik penyelengaraan Jambore Pasraman Hindu IV

Menag sambut baik penyelengaraan Jambore Pasraman Hindu IV

 | 1.984 Views
Menag sambut baik penyelengaraan Jambore Pasraman Hindu IV
Menag, Lukman Hakim Saifuddin (foto:sug/dm/kemenag)
 Kami, Kemenag berterima kasih atas terselenggaranya Jambore ini, karena langsung atau tidak, Jambore ini sangat membantu Kemenag dalam menanamkan nilai-nila agama ke para generasi muda...



Jakarta (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyambut baik rencana penyelenggaraan Jambore Pasraman Tingkat Nasional ke-IV yang akan diselenggarakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 26 – 30 Juli 2016.
“Kami, Kemenag berterima kasih atas terselenggaranya Jambore ini, karena langsung atau tidak, Jambore ini sangat membantu Kemenag dalam menanamkan nilai-nilai agama ke para generasi muda. Saya sangat bersyukur dan terima kasih,” tambah Menag
Panitia menerangkan bahwa Jambore Pasraman kali ini akan diikuti 570 peserta dari 32 provinsi. Para peserta terbagi atas 3 kelompok, yakni tingka SD, tingkatSMP dan tingkat SMA/K.
“Ada sembilan kegiatan yang dilombakan untuk anak-anak kita, dari dasar hingga menengah. Lomba-lomba tersebut antara lain; Lomba Mantra Tri Sandya, Lomba Kramaning Sembah, Lomba Yoga Asanas baik putera maupun puteri, Lomba Pelafalan Doa Sehari-hari, Lomba Puisi Keagamaan, Lomba Cipta Lagu Kreasi Keagamaan Hindu, Lomba Out Bond, Lomba Pantun Keagamaan Hindu, dan lain sebagainya,” lanjut Panitia.
Ikut hadir dalam audiensi tersebut, Dirjen Bimas Hindu, I Ketut Widnya, Pgs Sesditjen Hindu I Made Sutresna, Dirdik Bimas Hindu IB Gd Subawa dan tim. Hadir pula Kapus KUB Feri Meldi. 
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tokoh muda Hindu gagas ritual "Metatah" massal

Tokoh muda Hindu gagas ritual "Metatah" massal

Tokoh muda Hindu gagas ritual
Umat Hindu mengusung benda-benda sakral menuju sumber mata air dalam upacara Melasti di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Rabu (1/4/15). (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

"Gagasan tersebut sebagai upaya meringankan beban masyarakat karena biasanya ritual tersebut memerlukan biaya besar," kata I Kadek Satria di Denpasar, Jumat.

Ia menjelaskan, sebuah gagasan tersebut yang cukup memerlukan perjuangan mengingat desa Pedawa adalah salah satu bagian dari desa Bali aga, sehingga tradisi secara turun-temurun harus dilaksanakan. "Ke depan akan terus dilanjutkan," papar dia.

"Namun berkat dharmawacana atau ceramah secara intens dilakukan hingga ahirnya pelaksanaan tradisi kuna bisa dilaksanakan dengan biaya terjangkau," kata dia.

Ia menambahkan, sampai akhirnya pihaknya bersama-sama masyarakat Pedawa mesangih massal dengan harapan tetap dilakukan dengan tradisi budaya lokal tetapi dengan biaya terjangkau.

Satria memaparkan, pelaksanaan "metatah" massal itu mengeluarkan biaya cukup besar namun karena dikerjakan secara swadaya bersama-sama maka biayanya menjadi kecil dan tidak memberatkan masyarakat. "Satu orang menghasilkan dua juta dan upacara sudah selesai," terang satria.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, salah satu tradisi yang harus ada dalam setiap pelaksanaan metatah massal yang menentukan mahalnya biaya ialah ritual ngandekang, ritual yang melibatkan kehadiran pemuka-pemuka penting di desa Pedawa.

"Setiap pelaksanaan upacara mesangih di Pedawa harus ada upacara Ngendekang yaitu menghadirkan hulun-hulun desa, pemerintah desa dan balian desa," jelasnya.

Sementara tujuan pelaksanaan mesangih yang dilaksanakan di desa pedawa adalah simbol kedewasaan dan sebagai kesiapan seseorang untuk bersiap menapaki masa berumah tangga. Mesangih diartikan sebagai kedewasaan dan juga dapat diperbolehkan untuk menikah, demikian Satria.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top