-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Iran bantu pasutri biayai terapi kesuburan

Iran bantu pasutri biayai terapi kesuburan

Teheran (ANTARA News) - Iran akan membantu pasangan suami istri menutupi biaya terapi kesuburan untuk mengatasi krisis infertilitas yang memengaruhi jutaan pasangan di negara itu, kata pemerintah pada Selasa.

"Pada hari ini, semua pasangan suami istri di Iran yang tidak dapat memiliki keturunan, yang berjumlah sekitar dua juta pasangan, dapat menikmati bantuan keringanan untuk biaya pengobatan mereka," seperti dikutip kantor berita ISNA dari pernyataan wakil menteri kesehatan Mohammad Aghajani.

Asuransi negara akan menutupi 85 persen biaya tersebut, katanya, dan pemerintah telah mengalokasikan sekitar 30 juta dolar Amerika untuk proyek tersebut.

Para pakar meyakini bahwa kasus infertilitas kian meningkat di Iran, dan mengatakan bahwa polusi yang makin memburuk di Iran adalah penyebab utamanya. 

Sebuah penelitian pada 2012 menemukan bahwa 20 persen pasangan tidak bisa mendapatkan keturunan setelah mencoba selama setahun.

Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyerukan upaya untuk meningkatkan jumlah penduduk, yang saat ini berjumlah 80 juta jiwa, demikian laporan AFP.  (kn)

Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Iran mau borong 118 Airbus tapi harus dapat restu Amerika

Iran mau borong 118 Airbus tapi harus dapat restu Amerika

 | 3.395 Views
Iran mau borong 118 Airbus tapi harus dapat restu Amerika
ilustrasi - Airbus A380, pesawat penumpang jet terbesar di dunia, membuat pusaran saat melakukan pameran terbang di Paris Air Show ke 51 di bandara Le Bourget dekat Paris, pada foto 18 Juni 2015. (REUTERS/Pascal Rossignol)


Iran memesan sekitar 200 pesawat dari tiga produsen Barat sejak sanksi nuklir dicabut pada pertengahan Januari. 

Namun, kontrak Airbus itu masih membutuhkan persetujuan dari US Office of Foreign Assets Control (OFAC) mengingat lebih dari 10 persen komponen pesawat Airbus berasal dari AS. 

Sejumlah produsen Barat selama hampir dua dekade dilarang menjual pesawat atau perlengkapan serta suku cadang untuk maskapai Iran.

Setelah pencabutan sanksi, Teheran dan Airbus menandatangani nota kesepahaman untuk pembelian tersebut saat kunjungan Presiden Hassan Rouhani ke Paris pada Januari, demikian dilaporkan AFP.

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Saudi sebut persyaratan haji Iran "tak bisa diterima"

Saudi sebut persyaratan haji Iran "tak bisa diterima"

Saudi sebut persyaratan haji Iran
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel bin Ahmed Al-Jubeir. (ANTARA FOTO/OIC-ES2016/Puspa Perwitasari)
Jeddah (ANTARA News) - Arab Saudi menyebut persyaratan Iran untuk menyertakan warganya dalam ibadah haji tahun ini "tidak bisa diterima" pada Minggu (29/5), setelah Teheran menuduh Riyadh memperbesar hambatan.

"Iran menuntut hak untuk mengatur...mendemonstasikan dan mendapat keistimewaan... yang akan menimbulkan kekacauan saat ibadah haji. Ini tidak bisa diterima," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dala sebuah konferensi pers gabungan dengan Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond.

Teheran pada Minggu mengatakan bahwa warga Iran akan melewatkan ibadah haji di Tanah Suci tahun ini, dan menuduh Riyadh "menghalangi jalan menuju Allah."
Jubeir mengatakan Arab Saudi setiap tahun menandatangani nota kesepahaman dengan lebih dari 70 negara "untuk menjamin keamanan dan keselamatan jemaah haji."

"Tahun ini, Iran menolak menandatangani nota kesepahaman," katanya, berargumen bahwa Riyadh telah sepakat memfasilitasi pengaturan perjalanan jemaah Iran meski tidak memiliki hubungan diplomatik atau penghubung perjalanan udara.
"Sangat negatif jika niat Iran sejak awal adalah bermanuver dan mencari-cari alasan untuk menghalangi jemaahnya melakukan ibadah haji," katanya.

"Jika masalahnya tentang kebijakan dan prosedur, saya rasa kami sudah melakukan lebih dari tugas kami untuk memenuhi kebutuhan itu, tapi pihak Iranlah yang menolaknya," kata dia seperti diwartakan kantor berita AFP.

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

Dua bank Iran tertarik investasi di Indonesia

"Telah ada dua bank dari Iran yang ingin melakukan investasi di sektor perbankan Indonesia, mereka adalah Bank Saman dan Bank Parsian," ujar Ali Taiebnia kepada Antara.

Ia juga menyampaikan dua bank swasta tersebut berkeinginan membangun bank baru, atau bahkan membeli sebagian saham bank yang ada di Indonesia.
Menurut dia, salah satu alasan bank-bank itu "melirik" Indonesia adalah karena ingin membangun sistem kerja sama yang baik di bidang perbankan kedua negara.
"Tentu saja tujuan lain adalah agar dapat juga memajukan dan mempercepat perkembangan hubungan perekonomian antara kedua negara," kata Ali Taiebnia.
Terkait dengan ketertarikan bank Iran ini, pada Kamis (19/5), Ali Taiebnia direncanakan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, dan hubungan perbankan kedua negara tersebut akan menjadi salah satu agenda pembahasan.
"Selama ini proses komunikasi yang begitu erat telah dilakukan terkait sistem perbankan ini, di mana titik awalnya adalah mengadakan hubungan koresponden perbankan antara Indonesia dan Iran. Kami ingin dan sangat berharap sistem perbankan kedua negara dapat bekerja sama," katanya menambahkan.
Sementara itu, sebelumnya Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia akan membuka kembali hubungan perbankan dengan Iran pada Maret lalu, yang disampaikan usai mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di sela KTT Luar biasa OKI, pada 3 Maret 2016.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Iran siap pasok 200 ribu barel minyak per hari ke Indonesia

Iran siap pasok 200 ribu barel minyak per hari ke Indonesia

Iran siap pasok 200 ribu barel minyak per hari ke Indonesia
Gas memancar dari pusat produksi minyak di ladang minyak Soroush di Iran di Teluk Persia (Reuters)
 saya mengetahui bahwa ada kilang di Indonesia yang dibangun sesuai dengan kualitas dan spesifikasi minyak mentah dari Iran
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Iran menyatakan siap memasok 200.000 barel minyak mentah per hari ke Indonesia setelah sanksi internasional dicabut kepada negara ini.

"Saya rasa kini Indonesia sudah dapat mengimpor minyak mentah dari Iran hingga 200.000 barel setiap harinya, bahkan lebih," ujar Menteri Perekonomian dan Keuangan Iran Ali Taiebnia kepada Antara di Jakarta, kemarin. 

Setelah dibebaskan dari sanksi ekonomi, Iran segera menargetkan peningkatan jumlah ekspor minyak mentah. 

"Sebelum sanksi dikenakan, kami ekspor minyak sebanyak 2,5 juta barel setiap hari. Ketika sanksi diberlakukan angka tersebut turun menjadi satu juta barel per hari. Kami kini menginginkan volume yang sama seperti era sebelum sanksi," katanya lagi.
Ali Taiebnia berpandangan, negara-negara yang menggantikan peran Iran sebagai eksportir minyak mentah selagi Iran dikenai sanksi, harus mulai mengurangi pasokan minyak mereka ke luar negeri. 
"Ini merupakan hak yang wajar untuk kami memiliki target seperti sebelum sanksi, karena negara-negara yang menggantikan kami mengekspor minyak telah banyak mendapat keuntungan. Sekarang mereka yang harus menurunkan jumlahnya dan Iran yang menambah ekspornya," kata Ali Taiebnia.
Oleh karena itu, pemerintah Iran sangat mendukung penguatan kerja sama ekonomi dengan Indonesia dengan meningkatkan volume jual-beli minyak mentah menjadi salah satu yang diincar.

Apalagi, sebelum Iran dijatuhi sanksi, Indonesia memang kerap memenuhi kebutuhan minyak mentah dari negara ini sehingga potensi adanya kerja sama pada sektor perdagangan lebih kuat.

"Dan saya mengetahui bahwa ada kilang di Indonesia yang dibangun sesuai dengan kualitas dan spesifikasi minyak mentah dari Iran, dengan kapasitas dari kilang minyak tersebut adalah sebanyak 120.000 barel per hari," ujarnya.

Januari silam, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengaku tengah menjajaki kerja sama dengan Iran dalam bidang minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan. 

Indonesia juga melihat peluang melibatkan Iran pada sejumlah proyek kilang petrokimia dan listrik.



Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top