-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Indonesia-Rusia jajaki kerja sama intelejen

Indonesia-Rusia jajaki kerja sama intelejen

Indonesia-Rusia jajaki kerja sama intelejen
Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev telah menjajaki kerja sama di bidang intelejen untuk mengatasi isu keamanan dan pertahanan.

"Tidak ada salahnya juga kalau kita berbagi intelejen dengan mereka. Bentuknya ada pertukaran mungkin training dan ada mungkin peralatan serta hal lain," kata Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan yang ditemui di Kantor Presiden, Jakarta pada Rabu.

Presiden Jokowi serta sejumlah menteri dan pejabat terkait di antaranya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly serta Kapolri Jenderal Badrodin Haiti telah melakukan pertemuan bersama Nikolai yang didampingi oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikail Galuzin di Istana Merdeka, Jakarta yang membahas kerja sama pertahanan dan keamanan.

Menurut Luhut, sebelumnya Indonesia kurang melakukan kerja sama intelejen bersama Rusia dengan mengatakan terlalu banyak kerja sama dengan negara barat.

"Bisa saja pertukaran informasi kalau dibutuhkan apalagi kalau menghadapi narkoba, menghadapi terorisme atau ancaman lain," jelas Luhut terkait bentuk kerja sama intelejen dengan Rusia.

Luhut juga memuji kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh badan intelejen Rusia.

Sementara itu, terkait kerja sama alat utama sistem senjata (alutsista), Indonesia-Rusia telah menjajaki kemungkinan pembelian senjata dengan usulan dari TNI.

"Tentu tidak lepas dari usulan TNI karena TNI yang paling berkepentingan atau sebagai pengguna. Jadi tidak harus top-down tapi bottom-up saya kira harus menjadi salah satu persayaratan," kata Luhut.

Selain itu, kerja sama alutsista bersama Rusia juga harus mengutamakan transfer teknologi bagi industri alutsista dalam negeri.

Luhut menilai seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin baik, maka anggaran untuk pertahanan dan Polri akan semakin besar sehingga berpotensi untuk mengembangkan industri strategis dalam negeri.

"Dalam konteks itu, kita buka peluang kerja sama dengan industri pertahanan mereka," jelas Menko.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada Selasa (9/2) berencana mengunjungi Negeri Tirai Besi pada Maret 2016 untuk membicarakan kerja sama pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) terutama mengenai pembelian pesawat tempur multifungsi Sukhoi Su-35.

Ryamizard mengatakan Indonesia berencana membeli delapan-10 pesawat tempur tersebut.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
 Badan Cyber Tiongkok kunjungi Indonesia jajaki kerja sama

Badan Cyber Tiongkok kunjungi Indonesia jajaki kerja sama


Jakarta (ANTARA News) - Badan Cyber Tiongkok atau Cyberspace Administration of China (CAC) akan mengunjungi Indonesia untuk menjajaki kemitraan pada segi capacity building sumber daya manusia (SDM) yang bergerak dalam bidang keamanan cyber.

Kepala Bidang Ketahanan Informasi Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional (DKKICN) Kun Arief Cahyantoro di Jakarta, Selasa, mengatakan delegasi CAC akan berkunjung ke Indonesia pada Kamis (21/1).

"Delegasi CAC akan berkunjung ke Kementerian Politik Hukum dan Keamanan khususnya DKKICN," kata Kun Arief.
Ia mengatakan, kunjungan CAC ke Indonesia menunjukkan betapa pentingnya posisi Indonesia di mata Tiongkok.

Pada kesempatan kunjungan, delegasi CAC yang dipimpin Ren Xianliang, Deputy Director of CAC, akan bertemu dengan Deputi VII Menko Polhukam Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur (Kominfotur) Agus Barnas dan anggota DKKICN.

"CAC dan DKKICN selanjutnya akan mempresentasikan soal keamanan cyber di masing-masing negara," katanya.

Sejumlah hal yang juga akan dibahas dalam pertemuan itu yakni capacity building dalam hal keamanan cyber. Selain itu pre-MoU CAC dengan DKKICN, serta bertukar pengetahuan teknis terkait pelatihan dan pertukaran SDM bidang keamanan cyber.

"Pertemuan juga akan membicarakan tentang kemungkinan Indonesia menjadi ASEAN hub dengan dukungan CAC. Pada akhirnya kita akan menuju pada cyber untuk kesejahteraan rakyat," katanya.
Kun Arief menekankan pentingnya membuka jejaring dan kemitraan dengan banyak negara terkait keamanan cyber sebab upaya tersebut tidak mungkin dilakukan Indonesia sendirian melainkan harus menggunakan jejaring.

Ia menegaskan Indonesia akan tetap berprinsip pada asas bebas aktif dalam hal keamanan cyber.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top