-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Kemenag Jatim tunggu polisi soal calon haji berpaspor Filipina

Kemenag Jatim tunggu polisi soal calon haji berpaspor Filipina

 Kalau nanti diketahui dari KBIH legal, maka kami akan coret"
Surabaya (ANTARA News) - Kepala Bidang Penyelenggaraan Umrah dan Haji (PUH) Kanwil Kemenag Jawa Timur HM Sakur menyatakan pihaknya menunggu perkembangan penyidikan polisi terkait permasalahan 14 calon haji Jatim di Filipina.

"Itu (14 calhaj Jatim) bukan kewenangan kami, karena mereka dari KBIH ilegal dan kini ditangani Polisi Filipina dan Indonesia. Kalau nanti diketahui dari KBIH legal, maka kami akan coret," katanya saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Rabu.

Menurut dia, kasus 177 WNI yang menggunakan paspor Filipina agar bisa berangkat haji itu merupakan kasus besar dari melibatkan dua negara, sehingga pihaknya belum dapat melangkah lebih jauh, karena pihaknya menunggu laporan dari polisi atau pengaduan dari korban.

"Jadi, kalau ilegal (KBIH ilegal), maka kasus itu masuk ranah pidana dan kalau pidana bukan kewenangan kami, tapi kalau legal (KBIH legal), maka kami akan bertindak," katanya, didampingi Kepala Humas Kemenag Jatim HM Mahsun Zain.

Sakur yang juga Sekretaris PPIH Embarkasi Surabaya itu mengatakan kalau KBIH itu resmi, maka sanksinya akan berat yakni dicoret dan tidak boleh melayani umrah/haji dalam beberapa tahun.

"Kedepan agar tidak terulang, maka kami mengimbau masyarakat untuk bertanya kepada Kemenag terlebih dulu menjelang mendaftar umrah dan haji, karena Kemenag memiliki list KBIH dan travel yang resmi atau terdaftar. Lainnya berarti ilegal," katanya.

Dalam kesempatan itu, Sakur memaparkan pelayanan calhaj di Embarkasi Surabaya hingga kini masih menyisakan empat visa yang belum terselesaikan, karena fotonya salah akibat tertukar foto orang lain.

"Foto yang tertukar karena kesalahan itu telah dikembalikan untuk cetak lagi. Kami tidak memberikan target waktu, karena menyangkut kewenangan negara kain, tapi kami menjamin akan selesai sebelum berangkat," katanya.

Dalam keterangan pers di Jakarta (23/8), Inspektur Jenderal Kementerian Agama M. Jasin memastikan bahwa travel dan KBIH yang diduga memberangkatkan 177 WNI yang menggunakan paspor Filipina agar bisa berangkat haji tidak terdaftar di Kemenag alias ilegal.

"Sepanjang tahun 2015, kami telah memberikan sanksi kepada 14 travel umrah nakal yakni empat travel umrah dengan peringatan tertulis, tiga travel telah dicabut izinnya, dua travel tidak diperpanjang izinnya karena menelantarkan calhaj, dan lima travel tidak diperpanjang karena tidak memenuhi persyaratan akreditasi," katanya.

Ke-14 calhaj yang tertahan di Filipina itu menyalahi proses persyaratan beribadah haji karena ingin jalan pintas akibat antrean haji di Jatim yang mencapai 15-20 tahun. Dua dari 14 calhaj itu belum teridentifikasi karena masih menunggu keluarga.

Ke-12 calhaj yang teridentifikasi itu berasal dari Pasuruan dan dua calhaj yang belum teridentifikasi diduga berasal dari Gresik/Jombang. Ke-12 calhaj Pasuruan yang dimaksud adalah:.

1. Hj. Nurul Mahmudah (Klampok Sumbergedang).

2. Sumiati Bin Katiran Ali (Klatakan Dayurejo Prigen).

3. Joni Bin Farukatari (Bulukandang Prigen).

4. Maslikhah bin Mustakim Rakhmad (Bulukandang Prigen).

5. Satruki Bin Sakiman Sulaiman (Bunut Rembang).

6. Urifah Bin Wakidin Rasito (Bunut Rembang).

7. Sumiati Bin Juari Samawi (Terongdowo Sukoreno Prigen).

8. Yono Noto Sumo (Wonosunyo Gempol).

9. Kasudatin Delan Karjani (Wonosunyo Gempol).

10. Nuriyah bin Wiji Seno (Tejowangi Purwosari).

11. Satruki (Desa Pejangkungan).

12. Uripah (Desa Pejangkungan, Rembang).

"Saat ini, saya sedang koordinasikan untuk menelusuri warga Pasuruan yang ditahan di Filipina. Camat dan kades bergerak cepat. Camat Pandaan segera kroscek ke KBIH yang menyalurkan," kata Bupati Pasuruan M Irsyad (23/8). ***4***

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kemenag: "full day school" ada kekhasan

Kemenag: "full day school" ada kekhasan

Kemenag:
Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag Prof Dr HM Nur Kholis Setiawan. (istimewa)
Jakarta (ANTARA News) - Wacana mengenai sekolah sehari penuh (full day school) harus disikapi dengan arif dan jika ditelaah lebih dalam terdapat kekhasan sebagaimana nampak di beberapa daerah, kata Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Nur Kholis Setiawan.

"Bagi kami, masing-masing model pendidikan itu punya kekhasan. Full day school atau full time school saya pikir sudah diterapkan di beberapa madrasah," kata Nur Kholis saat ditemui seusai menghadiri konferensi pers Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2016 di kantornya Jakarta, Jumat.

Dia mencontohkan sejumlah madrasah di beberapa daerah memiliki model pendidikan terintegrasi dengan konsep full day school. Beberapa daerah itu biasanya merupakan kantong-kantong santri seperti di Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan wilayah lainnya.

Pondok pesantren dan madrasah keagamaan, kata Nur Kholis, juga memiliki sistem pendidikan yang mirip dengan full day school. Di sejumlah daerah itu bahkan didukung oleh pemerintah daerah.

Tolok ukur yang bisa dilihat, lanjut dia, adalah dengan adanya anggaran dari pemda untuk memberikan insentif kepada tenaga pendidik madrasah diniyah.

Menurut dia, wacana sekolah sehari penuh jangan terlalu dikhawatirkan. Alasannya, dengan segala kekurangan dan kendala full day school nantinya akan ada jalan keluarnya.

Terdapat anggapan jika sekolah sehari penuh akan mengurangi peran pondok pesantren dan madrasah keagamaan. Dua model pendidikan keagamaan itu mengisi waktu siswa di selain jam pendidikan reguler. Atas anggapan itu, Nur Kholis menganggap hal itu merupakan kekhawatiran yang wajar.

Kendati demikian, asumsi seperti itu tidak perlu dikhawatirkan karena pondok pesantren dan madrasah keagamaan tetap memiliki tempat di tengah masyarakat dengan kekhasannya tersendiri.

"Tidak kemudian mematikan madrasah diniyah atau taman pendidikan Alquran menjadi tidak jadi relevan. Saya pikir itu kekhawatiran kita dalam mengasumsikan anggapan itu saja," kata dia.

Meski begitu, Nur Kholis enggan disebut mendukung wacana sekolah seharian. Dia lebih memilih disebut netral dalam perkembangan wacana full day school.
"Kami bukan dalam konteks mendukung atau menolak. Kenyataannya madrasah keagamaan (yang beberapa menerapkan model mirip pendidikan sekolah seharian) eksis di daerah kantong santri," katanya.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kemenag imbau jamaah haji antisipasi perubahan cuaca

Kemenag imbau jamaah haji antisipasi perubahan cuaca

Kemenag imbau jamaah haji antisipasi perubahan cuaca
Kementerian Agama RI (Antaranews/goen)
 Untuk menghadapi cuaca panas saat berada di tanah suci, para jamaah diminta untuk menerapkan pola hidup sehat dan memperbanyak minum atau mengonsumsi air putih,"

"Untuk menghadapi cuaca panas saat berada di tanah suci, para jamaah diminta untuk menerapkan pola hidup sehat dan memperbanyak minum atau mengonsumsi air putih," kata Pejabat Kemenag Kabupaten Bangka, Zahwan di Sungailiat, Rabu.

Dia juga mengimba seluruh jamaah mengikuti petunjuk dari petugas pendamping. Selain membiasakan pola hidup bersih dan sehat, jamaah juga harus mengurangi aktivitas tidak penting khususnya di luar ruangan.

"Saat keluar diharuskan menggunakan masker dan dibasahi serta membawa semprotan air, setiap satu jam minum air putih untuk mencegah dehidrasi," katanya.

Menurut dia, ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan kekuatan fisik sehingga seluruh jamaah haji harus benar-benar menjaga kesehatan.

"Dengan kondisi tubuh yang sehat, maka para jamaah dapat melaksanakan haji dengan khusyuk dan sempurna," katanya.

Selain menjaga kesehatan fisik, dia juga mengingatkan jamaah haji untuk menghilangkan sifat-sifat tercela seperti sombong, iri, nafsu dan pertengkaran serta sifat tercela lainnya.

"Ibadah haji merupakan rukun islam kelima dan wajib bagi yang mampu serta sekali dalam seumur hidup. Karena itu, lebih khusyuklah dalam melaksanakan ibadah agar menjadi haji yang mabrur," katanya.

Dia juga berdoa agar jamaah haji diberikan keselamatan, kesehatan dan kemudahan dalam menjalan ibadah yang mulia ini sehingga pulang ke Tanah Air menjadi teladan bagi masyarakat lainnya.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kemenag atur strategi visa haji

Kemenag atur strategi visa haji

Kemenag atur strategi visa haji
Ilustrasi - Jamaah haji Indonesia Di Bandara AMMA Madinah. (kemenag)
Batam (ANTARA News) - Kementerian Agama mengatur strategi pengurusan visa haji, demi mengantisipasi persoalan penerbitan visa seperti yang terjadi pada musim haji tahun lalu.

"Jadi tahun ini, pengurusan visa per kloter. Kami harapkan, dengan begitu tidak ada lagi kendala (seperti), visa istri ke luar suami belum, sehingga jamaah berangkatnya terpisah-pisah," kata Kepala Seksi Pendaftaran, Dokumen Haji dan Sistem Informasi Haji Kemenag Kepri Alikek di Batam, Sabtu.

Kemenag Kepri sudah mengajukan visa calon jamaah haji ke Jakarta, sejumlah visa sudah diterbitkan.

"Untuk Kepri, baru Kloter 1. Dari 400 jamaah, baru 350 visa yang sudah keluar. Sedangkan 50 lagi masih proses.

Ia mengatakan tidak mengetahui kendala sehingga 50 calon haji belum mendapatkan visa dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta.

Sementara itu, pria yang juga menjadi anggota Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Batam itu mengatakan Kemenag sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melayani jamaah calon haji.

PPIH bekerja sama dengan pengelola Asrama Haji Batam demi meyakinkan seluruh kamar dan ruangan yang diperlukan siap digunakan.

Embarkasi Haji Batam Kepulauan Riau dijadwalkan memberangkatkan 8.911 orang calon haji dari empat provinsi yaitu Kepri, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat.

Seluruh jamaah dibagi dalam 20 kelompok terbang dan dua gelombang penerbangan.

Calon haji dari Provinsi Kepri akan diberangkatkan ke Arab Saudi pada Kloter 1 dan Kloter 15. Kemudian Kloter 2, hingga 10 diisi oleh jamaah dari Provinsi Riau.

Calon haji asal Kalimantan Barat diberangkatkan pada Kloter 11 hingga Kloter 15 sementara yang berasal dari Jambi diberangkatkan pada Kloter 16 hingga Kloter 20.

Kloter pertama akan masuk Asrama Haji pada 8 Agustus dan diberangkatkan ke Madinah pada 9 Agustus 2016.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kemenag resmikan MAN Insan Cendekia Tanah Laut

Kemenag resmikan MAN Insan Cendekia Tanah Laut

Kemenag resmikan MAN Insan Cendekia Tanah Laut
Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag Prof Dr HM Nur Kholis Setiawan. (istimewa)
 Generasi pinter dan bener itu penting karena saat ini banyak orang pintar tapi sering keblinger
"MAN IC diharapkan melahirkan calon pemimpin yang pinter sekaligus bener sehingga dapat mengembangkan masyarakat dan berguna untuk bangsanya," kata Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag M Nur Kholis Setiawan dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Sabtu.

MAN Insan Cendekia Tanah Laut adalah satu dari delapan MAN Insan Cendekia yang mulai beroperasi pada tahun pelajaran 2016/2017. Selain MAN IC Tanah Laut, di antaranya MAN IC di Padang Pariaman (Sumatera Barat), Bengkulu Tengah (Bengkulu), Kota Batam (Kepulauan Riau), Sambas (Kalimantan Barat), Kota Palu (Sulawesi Tengah), Sorong (Papua Barat) dan Kota Kendari (Sulawesi Tenggara).

Saat meresmikan MAN IC Tanah Laut pada Jumat (15/7), Nur Kholis mengatakan Kementerian Agama, Pemda Tanah Laut dan orang tua wali serta civitas akademika MAN Insan Cendekia harus berbagi peran dalam mengembangkan madrasah yang baru diresmikan tersebut.

"Ranah logistik ini bagian saya dan Pak Bupati, berupa pemenuhan sarana prasarana selengkap mungkin. Sementara peran pengembangan logika dilakukan oleh para guru, pembina asrama, bersama siswa dalam kegiatan pengembangan diri. Kami yang di birokrasi melakukan ibadah kebijakan agar berpihak kepada masyarakat, sementara bapak ibu berjuang di level pengembangan logika," katanya.

Sampai Jumat (15/7), peserta didik yang telah melakukan daftar ulang di MAN IC berjumlah 75 orang dari 96 orang yang dinyatakan lolos seleksi.

MAN IC, kata Nur Kholis, harus konsisten dalam melahirkan generasi cerdas dan benar sehingga bisa melakukan tugas-tugas kemanusiaan dan membangun peradaban.

"Generasi pinter dan bener itu penting karena saat ini banyak orang pintar tapi sering keblinger," katanya. 

Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top