-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Mukidi dan Sokrates

Mukidi dan Sokrates

Mukidi dan Sokrates
sakit jiwa, stress, stes, depresi, ilustrasi stres, ilustrasi depresi, gangguan jiwa, gangguan kejiwaan, gangguan mental (ANTARA News / Insan Faizin Mubarak)
Heboh tokoh Mukidi di jagat media sosial menyeret khalayak saling bersahutan dan bertukar komentar bernada jenaka bertabur kekonyolan demi kekonyolan di bawah kubah keseharian dan kepenatan ziarah hidup.

Mu-ki-di..., sengaja nama sang tokoh dipenggal tiga suku kata agar dapat dilafalkan dengan mulut sedikit monyong sebagai ujaran yang mengusik dan mengundang mereka yang hendak menertawakan diri sendiri dengan membongkar lalu menggeledah teks berjudul MUkidi.

Memasuki pekan keempat Agustus 2016, tokoh Mukidi ramai-ramai dibincang di media sosial baik dengan tulisan maupun gambar. Dikesan-dikesankan bahwa tokoh yang satu ini memiliki silsilah keluarga dan melakukan aktivitas keseharian bersama dengan orang lain.

Perilaku Mukidi mengundang tawa. Dikisahkan bahwa suatu ketika, sang tokoh menelepon ke kantor bioskop sampai tiga kali untuk menanyakan jam tayang bioskop.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, Mukidi bertanya kepada petugas bioskop lewat pesawat telpon. "Halo, Mas...aku arep takon bioskop buka jam pira...? (Halo, mas...saya mau tanya, bioskop buka jam berapa?"

Penjaga menjawab, "jam siji, mas. (Jam satu, mas)." Setelah mendengar jawaban itu, Mukidi meminta kepada penjaga bioskop agar bersedia memulai jam tayang sebelum pukul satu.

Mukidi memohon dengan mengiba bertelepon sampai tiga kali kepada penjaga bioskop. Mengapa?

Sontak, tersulut dan tersambar kesal oleh "rongrongan" Mukidi itu, penjaga bioskop dengan hati mendongkol kemudian menjawab, "sakjane sampeyan arep nonton pilem apa toh...kok telepon terus-terusan? (sebenarnya anda bermaksud menonton film apa?"

Pembaca boleh jadi tertawa setelah membaca jawaban Mukidi atas pertanyaan penjaga bioskop. Ditulis dalam kisah bertajuk "Mukidi Nonton Bioskop", sambil menangis, Mukidi menjawab, "aku iki kekuncen nang njero bioskop, mas...mau bengi pas nonton pilem keturon...tulungana ta mas...bukakke lawange...aku pingin mulih."

"Saya ini terkunci di dalam bioskop, mas...saya tertidur tadi malam pas nonton film. Tolong, mas...buka pintunya...saya ingin pulang," kata Mukidi.

Dikisahkan pula bahwa Mukidi memiliki silsilah keturunan keluarga. Orangtua Mukidi bernama Mukirun (Ayah) dan Mukiatun (Ibu).

Mukirun lahir dari perkawinan antara Moekiro dan Moekiyah. Buah hati mereka berjumlah lima orang, salah satunya Mukirun yang ditulis "dengan menggunakan ejaan baru".

Selanjutnya, Moekibat kawin dengan Moekinah, memiliki lima orang anak, salah satunya Moekiro. "Moekidjo kawin dengan Moekirah, punya empat buah hati, salah satunya Moekibat."

Selain Mukidi Nonton Bioskop, ada beberapa kisah jenaka lainnya, antara lain berjudul, Ini...Mukidi Maning, Mukidi Maning (Ini...Mukidi lagi, Mukidi lagi), Ternyata Mukidi Terlalu Sayang sama Istrinya, Arwah Mukidi dan istrinya, Naik Tangga.

Ada apa dengan teks berjudul Mukidi yang berwarna humor? Apa makna teks Mukidi yang dijejali dan disesaki dengan kejenakaan bagi ziarah hidup?
Keberanian, inilah satu kata jawaban yang membingkai tiga sepak terjang keseharian manusia. Pertama, milikilah keberanian untuk menertawakan diri sendiri setelah membaca kisah humor Mukidi.

Kedua, milikilah keberanian untuk membongkar kemudian mengambil jarak secara geguyon dengan bersikap agresif terhadap kemapanan, atau mengguncang segala bentuk kepalsuan yang membelenggu kreativitas demi memperoleh rasa aman di bawah kungkungan gheto berupa iming-iming jabatan mapan, bujuk rayu ingin cepat kaya kemudian sikut sana-sikut sini dengan mengorbankan kebersamaan.

Di rumah, di sekolah, di perguruan tinggi, di kantor, dan di kehidupan sehari-hari-hari, keberanian kerapkali dipandang sebagai virus yang mengganggu rasa aman, yang meneror rasa ingin mereguk nikmat sesaat di menara gading egoisme. 

"Mengapa harus menempuh yang sulit-sulit di tengah hidup yang sudah sulit? Keberanian hanyalah milik mereka yang hidup berkelana di dunia entah berantah!"
Ketiga, bicara keberanian, filosof Yunani klasik Sokrates bersikap dan bertindak autentik. Ia tidak ingin mencari rasa tenang dalam menara gading kepentingan diri sendiri.

Ia justru terus menjalin dialog satu lawan satu dengan dilandasi perilaku yang tekun memeriksa diri setiap hari. Sokrates memilih berefleksi ketimbang bereaksi tanpa kendali diri.

Akhir hidup Sokrates mencerminkan keberanian untuk menertawakan diri sendiri dan melawan perilaku mencari nikmat sebesar-besarnya demi kepentingan diri pribadi atau kelompok.
Sokrates menertawakan diri sendiri ketika sahabat-sahabat dekatnya menawarkan pembebasan dari hukuman mati. Ia menolak (keinginan dan perilaku mencari nikmat bagi diri sendiri) kemudian memilih setia dengan hukum polis yang memutuskan bahwa ia harus menemui ajal dengan meminum racun.

Sokrates dituduh telah meracuni kaum muda zaman itu dengan sejumlah ajaran-ajaran bijaknya. "...dan Dia mengatakan kepada kita melalui orakulum itu, bahwa hikmat insani sedikit saja harganya atau sama sekali tidak berharga." (Apologia 23a, terjemahan Ioanes Rakhmat, halaman 92).

Teks berjudul Mukidi membawa pembaca kepada sikap sinis setelah merespon situasi yang ada, dan berani menertawakan diri sendiri.

Sepakat dengan itu, Sokrates mengajak khalayak untuk memahami yang ada, bukan yang seharusnya ada, kemudian memilih untuk mendengar setiap buah dari refleksi diri.

Kisah humor Mukidi merupakan pemenuhan dari salah satu peribahasa Jawa, yakni guyon parikeno. Artinya, geguyon atau guyon yang artinya canda ria bertujuan menghilangkan stres dan menyampaikan kritik.

Dengan kisah Mukidi yang sarat canda, pihak yang dikritik kemudian diharapkan tidak merasa sakit hati. Dan Sokrates bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari, bukan melulu pertimbangan akal budi.

Dan tertawa merupakan jalan melingkar dari kebijakan hidup bahwa manusia adalah dia yang tahu bahwa ia tidak tahu, namun selalu perlu untuk senantiasa belajar bahwa manusia tidak akan pernah tahu sepenuh-penuhnya. 
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Surat cinta Bung Tomo untuk "Lies" Sulistina

Surat cinta Bung Tomo untuk "Lies" Sulistina

Surat cinta Bung Tomo untuk
Sulistina Sutomo (arsip/ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Surabaya (ANTARA News) - Lies, begitulah sapaan akrab untuk Sulistina Sutomo, istri Pahlawan Nasional Bung Tomo, yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu (31/8) dini hari. 

Lies pergi menyusul sang suami tercinta yang telah lebih dulu meninggalkannya. Meski raga telah tiada, namun nama istri pejuang ini tersimpan rapat di hati warga Surabaya. Semangat perjuangan Bung Tomo saat memerdekakan republik ini, tidak lepas dari sosok Lies yang setia menemaninya.

Semangat itu terus ada pada diri Lies hingga usia senjanya. Kisah heroik masa lalu terpatri dalam diri Lies bersama kenangan indah dan romantis bersama Sutomo atau yang dikenal Bung Tomo.

Di usia senja sebelum ajal menjemput, ibu empat anak dan nenek dari 12 cucu ini menyibukkan hari-harinya dengan berkebun dan menulis di kediamannya di kawasan Kota Wisata, Cibubur, Bogor.

Salah satu karya yang cukup romantis dari almarhumah Lies adalah buku berjudul "Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan".

Buku itu adalah hasil kumpulan surat-surat Bung Tomo yang dikumpulkan Sulistina selama puluhan tahun.

Salah seorang jurnalis di Surabaya, Hany Akasah mengaku kagum dengan sosok Sulistina ini. Bahkan Hany sempat membuat catatan khusus di blog pribadinya pada saat ia ngobrol dengan Lies beberapa waktu lalu saat berada di Surabaya.

"Pasangan suami istri Bung Tomo dan Lies adalah pasangan romantis. Bahkan semboyan "tresno jalaran soko kulino" pun sukses dilakukan Bung Tomo yang menikahi Lies di Malang pada tahun 1947," katanya.

Ia mengatakan awal pertemuan Lies dengan Bung Tomo pada tahun 1945, saat Lies bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI). Lies dari Malang dikirim khusus ke Surabaya untuk merawat para pejuang yang gugur dan terluka dalam peristiwa bersejarah 10 November.

Di Surabaya itulah Lies kenal Bung Tomo. Lies cukup salah tingkah dengan gerak-gerik pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya yang saat itu sudah menjadi idola rakyat. Bung Tomo selalu cari perhatian ketika Lies bekerja merawat para pejuang yang terluka di tenda-tenda pertolongan.

Perjuangan Bung Tomo menaklukkan istrinya tak berhenti ketika itu saja. Bung Tomo terus merajut romantismenya dalam setiap surat-surat yang dikirim ketika bertugas keluar kota.

Sosok Bung Tomo adalah seorang pribadi yang memiliki jiwa ksatria, pemberani, dan romantis. Di bawah berbagai tekanan yang dialaminya, Bung Tomo selalu mencurahkan isi hati kepada keluarga melalui puisi dan surat-surat cintanya di balik kamar tahanan.

Karena merasa surat-surat yang jumlahnya ratusan itu sangat berharga, wanita itu mengumpulan kumpulan surat yang didokumentasikan melalui buku yang disusunnya pada 2006.

Banyak cara orang mengungkapkan rasa cinta kepada pasangannya. Namun, Sulistina memilih membuat buku untuk mengungkapkan cintanya kepada Bung Tomo. Bahkan Lies mengumpulan sajak-sajak Bung Tomo.

Lies telah melahirkan empat buku, buku pertama berisi kumpulan karangan Bung Tomo, kedua berjudul Bung Tomo, Suamiku (Pustaka Sinar Harapan, 1995); ketiga, Bung Tomo Vokalis DPR 1956-1959 (Yayasan Bung Tomo, 1998), keempat Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan.

Bung Tomo juga sering berpesan kepada Lies melalui suratnya supaya terus merindukannya. "Bila kesepian, ambilah buku pelajaran Bahasa Inggris kita, ensuccess," begitu isi surat Bung Tomo.

Panggilan "Tiengke" atau sayang juga diberikan kepada Lies. Kata itu selalu menghiasi kop surat yang dikirim Bung Tomo kepada Lies.

Dalam beberapa surat panggilan sayang itu dikombinasi dengan kata-kata mesra lainya. Misalnya "Tieng adikku sayang", "Tieng isteri pujaanku", "Dik Tinaku sing ayu dewe", "Tieng Bojoku sing denok debleng" atau "Tiengke Sayang".

Bung Tomo sibuk dengan tugasnya. Tak heran, ketika pulang Bung Tomo selalu memanjakan istrinya itu. Ketika berdua dan anak-anak tidak ada, Bung Tomo sering menarik tangan Lies, lalu berdansa.

Cinta yang ditanam Bung Tomo selama bertahun-tahun sungguh merasuk ke relung jiwa Lies. Cinta mereka tak terhalang ruang dan waktu. Ketika meninggal pada tahun 1981 di Mekkah, berkali-kali Lies bermimpi dipeluk Bung Tomo yang menggunakan baju biru.

Setelah Bung Tomo meninggal dunia pun, Lies tetap rajin menulis surat. Kejadian apa pun selalu diceritakan dalam surat yang tak pernah terkirim itu. Salah satu surat yang termuat dalam buku keempatnya, Lies menulis:.

"Untuk Suamiku, kemarin tanggal 18 Desember 2004 saya telah menghadiri peluncuran buku Tarbawi dengan anak kita Bambang Sulistomo. Saya telah tertarik dengan surat undangannya, karena di situ tercantum nama Mas Tom. Meskipun saya masih sakit, karena tangan saya yang kiri masih dalam gedongan, saya perlukan datang. Saya waktu itu sedang pulang dari sholat Idul Adha, jatuh di tengah jalan dan tangan saya yang kiri patah," begitulah cuplikan suratnya.

Lies sempat mengatakan ada ajaran Bung Tomo yang sering didengungkan kepada keluarga dan masyarakat waktu itu yakni jujur dan berjuang. "Jika kita jujur, sehingga tidak merugikan orang lain, sehingga bisa memakmurkan orang lain," kata Hany menirukan perkataan Lies saat itu.

Taman PerdamaianSebagai istri yang tahu betul bagaimana perjuangan suaminya, Lies begitu mengingat bahwa suaminya hanya ingin rakyat Indonesia makmur dan sejahtera. Ide membangun Taman Perdamaian Dunia di Jawa Timur pun muncul dari benak Lies untuk merealisasikan apa yang diinginkan suaminya.

Dalam Taman Perdamaian dunia itu akan ada berbagai budaya asing yang terlihat, misalnya saja Jepang, Thailand, Australia, Prancis, Amerika dan lain-lainya. Sehingga, masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk melihat budaya asing.

Selain pengetahuan terhadap budaya luar negeri, Taman Perdamaian Dunia ini bisa membuka lapangan pekerjaan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia. Kalau taman mini yang ditampilkan cuma Indonesia. Tapi kalau Taman perdamaian dunia ini, seluruh budaya dunia ada disini, jadi rakyat bisa belajar dengan melihat teknologi dan budaya negara lainnya.

Mimpi sang suami itu tak lepas dari karier Bung Tomo sebagai wartawan sejak usia 17 tahun. Ia sempat bekerja pada harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer. Bung Tomo pernah menjabat wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang, Domei, dan pemimpin redaksi kantor berita Antara di Surabaya.

Menanggapi keinginan sang suami Lies itu, Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan pihaknya akan mewujudkan keinginan almarhumah sebelum meninggal yakni mendirikan Taman Perdamaian di Trowulan, Mojokerto.

"Nanti pasti akan saya wujudkan mimpi beliau. Karena memang sebelumnya Pemprov Jatim juga terlibat di dalamnya," kata Soekarwo sebelum melakukan shalat jenazah untuk Sulistina di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.

Soekarwo mengaku terakhir bertemu dengan Sulistina saat menikahkan putri bungsunya, Kartika, pada Maret 2016. Bahkan, saat itu, Sulistina juga menjadi saksi akad nikah putrinya.

"Setelah itu saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi," ujar Soekarwo.

Meski demikian, Soekarwo mengatakan dia terus memantau kondisi kesehatan Sulistina saat sakit, termasuk saat Sulistina sedang dirawat di ruang ICU.

"Istri saya juga tanya ke putri ketiga beliau karena teman S2, tentang kondisi kesehatan beliau," kata Soekarwo.

Menurut Soekarwo, Sulistina merupakan sosok wanita yang kuat, sebab peranan Sulistina terhadap perjuangan Bung Tomo sangat dominan.

"Bu Sulistina itu sendiri kan pejuang, karena merupakan perawat di PMI saat perang kemerdekaan," ujar Soekarwo.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai Sulistina Sutomo bisa saja diusulkan menjadi pahlawan nasional seperti halnya Bung Tomo. "Bisa saja beliau diusulkan menjadi pahlawan, asalkan ada yang mengusulkan karena itu prosedur standar operasionalnya," katanya.

Sementara itu, putra kandung Almarhumah Sulistina Sutomo, Bambang Sulistomo, menyampaikan bahwa sebelum meninggal dunia, ibunya berpesan agar rakyat Indonesia jangan sampai mengkhianati Merah Putih.

"Ibu berpesan jangan sampai berkhianat pada Merah Putih yang berarti Bangsa Indonesia, sebab saat perjuangan sangat banyak rakyat Indonesia menjadi korban mempertahankan bangsa," ujarnya di sela pemakaman Sulistina Sutomo di TPU Ngagel Surabaya.

Pesan tersebut tak hanya dikatakan sesaat sebelum meninggal dunia, namun selalu disampaikan kepada keluarga setiap saat agar tak berhenti mencintai Tanah Air.

Menurut dia, ucapan dari sang ibu menjadi motivasi dan pelecut bagi keluarga maupun rakyat Indonesia untuk tidak melukai negara, terutama pada era sekarang.

"Ibu selalu bilang ke anak-anaknya seperti itu. Dulu rakyat berkorban tanpa pamrih, jadi jangan khianati apa yang sudah diperjuangkan oleh para pejuang," ucap putra kedua pahlawan nasional Bung Tomo tersebut.

Sulistina Sutomo meninggal dunia di usia 91 tahun pada Rabu dinihari pukul 01.42 WIB setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena sakit.

Sebelum meninggal, Sulistina sempat menjalani perawatan selama kurang lebih dua minggu karena bermasalah di bagian paru-paru dan berusia lanjut sehingga sistem metabolisme tubuh menurun.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Berhijrah melalui haji

Berhijrah melalui haji

Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berbondong-bondong berkumpul di Mekkah. Mengikuti jejak Sang Nabi, Muhammad SAW, untuk berkunjung ke Baitullah. Sebuah "ritual" tahunan yang juga tentu saja melibatkan ratusan ribu jamaah asal Indonesia.

Perjalanan seseorang untuk berhaji tidak bisa disebut mudah. Mulai dari penantian panjang di tanah air hingga segala kesulitan yang harus dihadapi di negeri orang, baik dari segi perbedaan cuaca maupun budaya yang jauh dari sama. Dan tak ketinggalan tentunya fakta bahwa haji adalah sebuah aktivitas fisik yang tak ringan.

Kenapa jutaan orang rela menanti sekian lama untuk berhaji? Dr. H. Ali Rokhmad, M.PD, Kabid Bimbingan Ibadah Kementerian Agama menyebut ibadah haji sebagai puncak ritual bagi umat Muslim.

"Sempurna sudah keislaman seseorang bila sudah menjalankan syariah yang satu ini. Bagi masyarakat Indonesia, berhaji merupakan dambaan dan cita-cita setiap Muslim karena panggilan Allah SWT yang syarat dengan ampunan dan pahala surga".

Ali juga mengatakan bahwa di sejumlah daerah tertentu, menunaikan haji tidak hanya sebagai pencapaian puncak spiritual seseorang bahkan dapat menjadi simbol eksistensi dan statifikasi seseorang di tengah komunitas masyarakatnya.

Pemaknaan haji yang tidak sepenuhnya tepat itu mendorong Konsultan Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Mekkah untuk mengingatkan kembali ratusan ribu jamaah Indonesia akan konsep hijrah dalam haji. Haji adalah berhijrah. Meninggalkan segala yang buruk demi kehidupan yang lebih baik.

Di hadapan ratusan jamaah kelompok terbang (kloter) 6 Embarkasi Surabaya, tim Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Mekkah, di tempat salat Hotel Dar Hadi yang berada di kawasan Aziziyah, Kamis, mengurai kembali satu persatu tak hanya prosesi tapi makna dari setiap prosesi dalam haji.

Mengawali bimbingan terhadap jamaah asal Bangkalan, Madiun dan Surabaya itu adalah KH Ihsanuddin Abdan, Ponpes Awaliyah Alawi Magelang, yang mencoba merinci kembali setiap tahapan yang harus dilalui oleh setiap jamaah untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah, mulai dari mengambil miqat dan niat di tempat pemondokan masing-masing, perjalanan menuju Arafah, Muzdalifah, Mina, hingga Tawaf Ifadlah, Sai, dan Tahallul.

"Karena sudah ahlu Makkah, maka miqat makani nya di maktab masing masing. Jangan lupa niat. Setiap kepala regu dan kepala rombongan harus mengingatkan seluruh jemaah untuk niat," kata KH Ihsan. Ia juga mengingatkan agar setiap jamaah tidak melewatkan kesempatan emas wukuf di Arafah untuk memohon ampunan dan berdoa.

"Selama ini mungkin kita sering berbuat zalim kepada anak istri, keluarga, tetangga, dan lainnya. Saat itu kita mohon ampunan dan yakin kalau Alah mengampuni," ujarnya. Ia meminta agar seluruh jamaah dengan ikhlas mengakui setiap kezaliman dan ketidakberdayaan.

Sementara itu Guru besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya Aswadi menyebut wukuf berarti berhenti. Karena itu ia mengajak jamaah untuk melangitkan harapan kepada Allah agar diberi kemampuan meninggalkan yang tidak benar dan keburukan. Harapan lainnya adalah agar diberi kekuatan istiqamah sehingga bisa melaksanakan nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah sepanjang zaman.
"Setelah meminta kemampuan meninggalkan yang tidak benar dan melaksanakan yang baik harapan lainnya adalah supaya setiap kita dapat mengembangkan kebaikan kepada orang lain sehingga mereka yang saat ini sedang mengalami kesulitan mendapat kemudahan dari Allah," ujar Aswadi.
Penceramah lainnya adalah Sunandar Ibnu Nur, dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta yang salah satu pesannya adalah menekankan pentingnya kesadaran untuk berbuat baik sekecil apapun selagi masih ada kesempatan umur. "Sebab, pada hari kiamat, kebaikan sebesar biji sawi bisa menjadi penentu timbangan seseorang dan itu tidak dapat diharapkan dari siapapun," katanya. 

Bagi para jamaah, bimbingan ibadah tersebut adalah sebuah pengingat positif akan keberadaan mereka di Tanah Suci. Setelah mengalami beragam euforia akibat terwujudnya sebuah mimpi atau pengharapan, sebuah ajakan untuk kembali membumikan konsep ibadah tentu adalah sebuah pengingat yang tepat akan keberadaan mereka di Tanah Suci.

Wajar jika proses bimbingan ibadah yang berlangsung hingga sekitar dua jam ini disambut antusias oleh jamaah. Mereka tampak duduk khusyuk mendengarkan ceramah yang disampaikan dan ikut bertanya dalam sesi tanya jawab.

Fauzan Albaz dari Bangkalan menilai bimbingan ibadah ini sangat positif, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji. "Ini lebih positif, sehingga jamaah yang baru pertama kali berhaji menjadi lebih mantap," ujarnya.
Fauzan berharap, proses bimbingan ini lebih bisa ditingkatkan lagi, karena urusan layanan tahun ini sudah lebih baik. Bahkan menurutnya peningkatannya sangat pesat.

Jamaah lainnya, Susi Diani juga mempunyai penilaian yang sama. Menurutnya, bimbingan manasik yang digelar tim konsultan Daerah Kerja Mekkah ini telah memberinya tambahan wawasan dalam menyongsong puncak penyelenggaraan ibadah haji. "Kami semua para jamaah haji sangat berterima kasih karena betul-betul yang tadinya belum mengerti menjadi tambah mengerti," katanya.
Dalam sepekan terakhir, tim bimbingan ibadah haji bersama para konsultan secara simultan mengadakan kegiatan bimbingan ibadah di beberapa sektor pemondokan jamaah haji. Dalam sehari setidaknya ada tiga jadwal bimbangan, pagi, setelah dhuhur, dan setelah magrib. Tim konsultan yang terdiri dari enam orang pakar itu disebar ke beberapa pemondokan untuk memberikan bimbingan secara terjadwal. Proses bimbingan ini akan terus berjalan mengingat ada lebih dari 100 pemondokan jamaah haji Indonesia di Mekkah.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Hadiah yang pantas untuk juara Olimpiade

Hadiah yang pantas untuk juara Olimpiade

Hadiah yang pantas untuk juara Olimpiade
Presiden Joko Widodo bersama para peraih medali Olimpiade Rio 2016 Tontowi Ahmad (kiri), Liliyana Natsir, Sri Wahyuni, dan Eko Yuli Irawan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (24/8/2016). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA News) - Perjuangan keras pebulutangkis Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad, serta atlet angkat besi Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan pada Olimpiade 2016 bukan hanya berbuah medali dan kebanggaan bagi Indonesia, namun juga memberi berkah bonus miliaran rupiah dan berbagai hadiah kepada keempat atlet.

Sesuai janji Menteri Pemuda dan Olahraga, September mendatang bonus mereka sudah bisa dicairkan. Masing-masing Rp5 miliar akan menjadi milik Tontowi dan Liliyana sebagai peraih medali emas, sedangkan Sri Wahyuni dan Eko masing-masing mendapatkan Rp2 miliar karena meraih medali perak pada pesta olahraga sejagat itu.

Hadiah ini belum termasuk tunjangan tetap sebesar Rp20 juta per bulan untuk peraih emas dan Rp15 juta bagi peraih perak.

Para olimpian ini juga bakal kebanjiran bonus dari berbagai pihak. Misalnya Pemda Sulawesi Utara, tempat asal Liliyana Natsir, sudah menyiapkan sebuah rumah baru di Kota Manado senilai Rp500 juta. Hadiah rumah juga dijanjikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) Rosan Roeslani untuk Sri Wahyuni dan Eko Yuli.

Menurut Menpora Imam Nahwari, sudah sepantasnya mereka mendapat hadiah itu atas perjuangannya memberi kebanggaan kepada bangsa pada event seberat Olimpiade.

"Diharapkan ini juga memotivasi atlet-atlet Indonesia lainnya untuk menjadi olimpian," kata Imam seusai mendampingi para atlet yang baru pulang dari Rio de Janeiro, Brasil, baru-baru ini.

Bonus hingga Rp5 miliar ini adalah rekor tersendiri dan yang terbesar dibandingkan pada olimpiade-olimpiade atau pesta olahraga multievent sebelumnya.

Namun bonus besar ini bukan hal mudah didapat tanpa perjuangan berat. Buktinya pada Olimpiade 2016 ini, hanya Tontowi/Liliyana yang mampu memetik bonus itu.

Tradisi bonus

Penghargaan berupa hadiah atau bonus bagi atletnya yang menjuarai Olimpiade bukan hanya dilakukan Indonesia, namun juga oleh berbagai negara lainnya, tentunya dalam jumlah dan kebijakan yang berbeda-beda.

Seperti dikutip dari The Straits Times, perenang Singapura Joseph Schooling yang meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016  yang merupakan medali emas pertama Singapura dalam sejarah Olimpiade, mendapat hadiah sebesar 1 juta dolar Singapura atau setara dengan Rp9,7 miliar.

Bonus bagi Schooling yang diberikan melalui Komite Olimpiade Singapura itu terbilang yang terbesar dibandingkan dengan atlet-atlet peraih emas Olimipiade 2016.

Schooling membuat kejutan besar pada Olimpiade tahun ini ketika berhasil mengalahkan perenang top Amerika Serikat Michael Phelps pada nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra.

Seperti halnya Tontowi/Liliyana di Indonesia, Schooling yang menjadi pahlawan olahraga Singapura, juga mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Singapura begitu tiba di negaranya.

Negara lain yang memberi bonus besar kepada atletnya di antaranya Azerbaijan yang menyediakan hadiah 250 ribu dolar AS bagi peraih medali emas Olimpiade. Nilai hampir sama didapat oleh atlet Kazhakstan.

Italia membanderol hadiah 185 ribu dolar AS bagi peraih medali emas, Prancis 66 ribu dolar, sedangkan Afrika Selatan menjanjikan 36 ribu dolar AS.

Amerika Serikat yang merupakan juara umum pada Olimpiade ke-31 di Rio de Janeiro 5-21 Agustus 2016 itu memiliki standar tersendiri untuk bonus bagi atlet peraih medali.

Menurut Fox Sports, untuk setiap medali emas, atlet AS mendapat bonus sebesar 25 ribu dolar AS. Bonus juga didapat untuk peraih perak dan perunggu.

Pada Olimpade 2016, AS meraih 46 emas, 37 perak, dan 38 perunggu, jadi total bonus yang dikeluarkan jumlahnya bakal sangat besar, meskipun secara individual nilai yang didapat setiap atlet peraih medalinya tidak sebesar yang didapat atlet Indonesia, Singapura dan Azerbaijan.

Tuan rumah Brasil memberikan bonus yang nilainya sama antara peraih medali emas, perak maupun perunggu, masing-masing sebesar 11 ribu dolar AS. Untuk peraih medali nomor beregu, masing-masing anggota tim mendapat separuh dari nilai itu.

Namun ada juga negara yang sejauh ini belum ada kabar bahwa atletnya bakal mendapat bonus setelah meraih medali pada Olimpiade 2016. Misalnya Inggris yang sukses menduduki peringkat kedua klasemen umum perolehan medali.

Namun untuk mencatat sukses di Rio de Janeiro, Inggris telah menginvestasikan jutaan poundsterling dalam persiapan mereka, termasuk untuk kebutuhan para atletnya.

Belum ada standar
Di Indonesia sendiri, bonus belum menjadi kewajiban yang harus selalu ada jika atlet meraih medali pada ajang multievent seperti Olimpiade.

Bisa jadi untuk Olimpiade berikutnya, nilai bonus tidak lagi Rp5 miliar, tapi lebih besar atau lebih kecil, bahkan tidak ada sama sekali, tergantung kebijakan dan situasi nanti.

Belum ada standar aturan yang mengikat. Bahkan ketika Tontowi/Liliyana meraih emas sempat muncul polemik apakah bonus Rp5 miliar itu dibagi dua atau masing-masing mendapatkan jumlah sebesar itu. Namun akhirnya diputuskan masing-masing berhak atas Rp5 miliar.

Para atlet Indonesia sendiri senang mendapatkan bonus yang tidak mereka perkiraan sebelumnya.

Eko Yuli Irawan, peraih perak angkat besi kelas 62 kg putra, bahkan sejak awal tidak tidak terlalu memikirkan bonus karena fokusnya adalah tampil maksimal untuk meraih yang terbaik.

"Saya bersyukur jika memang bakal ada bonus bagi saya," kata Eko seusai meraih medali perak itu.

Ia sendiri masih berkeinginan tampil lagi pada Olimpiade Tokyo 2020 dan menargetkan meraih medali emas yang belum juga didapatnya, tak peduli ada bonus atau tidak.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
NTT pantas jadi "surga" garam Indonesia

NTT pantas jadi "surga" garam Indonesia

NTT pantas jadi
Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
 Berkat panas dan angin saat ini produksi garam kita dalam setiap bulan bisa panen empat kali dengan per hektarenya bisa mencapai 15 ton per minggu. Ini adalah panas dan angin yang membawa berkah bagi kami orang Sabu Raijua."

Sejumlah pekerja tambak garam seluas 170-an hektare, baik pria dan wanita, masih terlihat mengumpulkan kristal-kristal garam yang masih berada di dalam tambak garam tersebut.

Sementara itu, sebagian pekerja lainya sudah mulai bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya masing-masing karena matahari pun perlahan-lahan kembali ke peraduaannya.

Dari kejauhan, suara para pekerja tambak tidak terdengar karena tenggelam oleh suara ombak yang memecah sepenjang garis pantai Bali yang indah.

Sejauh mata memandang, hamparan pasir yang putih, air laut yang jernih dan keemasan langit akibat sisa-sisa pancaran sang surya menambah kecantikan pantai Bali yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Paulus Imihalen (50) tampak telah selesai memanen kurang lebih 15 ton garam di satu hektare tambak tersebut. Dirinya terlihat lelah pada hari itu.

Namun baginya lelahnya bisa terbayar setelah pada akhir bulan dirinya bersama teman-temannya bisa mendapatkan gaji sebesar Rp1,2 juta sesuai dengan upah minimun regional (UMR) dari provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Mau lelah seperti apapun pasti akan terbayarkan dengan gaji sebesar Rp1,2 juta per bulan," kata Paulus.

Paulus mengaku hidupnya benar-benar berubah setelah adanya tambak garam tersebut karena dapat memberikan mereka pemasukan bagi dirinya dan sejumlah pekerja di tambak garam itu, setiap bulannya dengan pasti.

Tambak garam yang dikelola Paulus dan sejumlah pekerja lainnya merupakan sebuah tambak garam milik Pemerintah Daerah Sabu Raijua yang dikelolah tanpa campur tangan dari para pengusaha lainnya.

"Kami senang, karena ada sumber pendapatan baru bagi kami para pekerja tambak garam di desa ini," ujar pria berusia 50 tahun itu.

Sejumlah warga di kampung Bali tersebut pada awalnya nyaris tidak mempunyai pendapatan terutama pada pada musim kemarau di saat semua hasil tanam dan lahan yang digarap untuk pertanian kering akibat krisis air.

Bila kemarau tiba satu-satunya sumber pendapatan warga di desa itu dan sejumlah warga di desa lain di pulau Sabu itu hanya bergantung pada penjualan gula merah cair hasil sadapan dari pohon lontar.

Warga di daerah itu pun baru memulai mengolah lahan untuk ditanami padi dan jagung pada saat musim penghujan pun tiba.

Perlahan-lahan kesulitan warga di Kampung Bali tersebut mulai teratasi, setelah Pemerintah Daerah Sabu Raijua mulai berinisiatif untuk memanfaatkan lahan pesisir pantai Bali untuk dikembangkan menjadi tambak garam.

Teknologi yang digunakan oleh Pemerintah Daerah Sabu Raijua untuk mengolah tambak garam tersebut adalah dengan cara "Geomembran High Density Polythylene" (HDPE).

HDPE sendiri merupakan cara yang digunakan untuk menghasilkan garam berupa sebuah lembaran yang dihamparkan pada lahan garam yang tahan air, korosi, minyak, asam dan panas tinggi.

Hingga saat ini sudah ada tiga lokasi dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Sabu. Ketiga daerah pengembangan garam itu sendiri adalah di Desa Bali, Kecamatan Sabu Timur, Desa Tulaika (Sabu Barat) dan Desa Lobo Hede (Hawu Mehara).


Membawa Berkah

Cuaca panas dan angin kencang di pulau yang berhadapan dengan laut lepas, Samudera Hindia itu tidak menjadi bencana bagi Pemda dan masyarakat di Sabu Raijua.

Bupati Sabu Raijua Marthen Luther Dira Tome justru berpendapat panas dan angin di daerah itu patut disyukuri, bukan untuk ditakuti dan menyerah dengan keadaan.

"Berkat panas dan angin saat ini produksi garam kita dalam setiap bulan bisa panen empat kali dengan per hektarenya bisa mencapai 15 ton per minggu. Ini adalah panas dan angin yang membawa berkah bagi kami orang Sabu Raijua," tutur Marthen.

Hingga saat ini setiap kali panen ada sekitar 15 ton yang dipanen sehingga dalam sebulan tambak garam tersebut bisa menghasilkan kurang lebih 10 ribuan ton.

Garam yang ada di Sabu juga saat ini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia mengingat garam milik Sabu sendiri telah mengantongi sertifikat SNI sejak 2015 lalu.

Sejumlah daerah yang telah menjadi pelanggan tetap bagi Pemda Sabu sendiri saat ini ada tiga yakni dari Makasar (Sulawesi), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Surabaya (Jawa Timur).

Setiap bulan para pelanggan yang membeli garam di Sabu justru hanya bisa membawa kurang lebih 1.600 ton garam ke daerahnya masing-masing.

"Kita berharap agar kapal-kapal yang datang bisa membawa dengan jumlah yang lebih dari 2 ribuan ton tetapi kendala saat ini adalah kondisi dermaga kita yang masih sangat terbatas, dan kalau ada kapal yang membuat bawaan lebih banyak pasti akan kandas," ujarnya.

Melihat potensi garam di daerahnya bagus, pria yang telah menjabat sebaagi bupati selama dua periode tersebut bercita-cita untuk terus mengembangkan garam di sepanjang pesisir pantai Sabu Raijua.

Dengan luas lahan yang hingga saat ini ada kurang lebih mencapai 170-an hektare, ia pun bertekad mengembangkannya menjadi 400 hektare dengan harapan bisa mempekerjakan kurang lebih 4.000 orang di daerah Sabu, sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di Sabu Raijua.

Hingga saat ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, tingkat pengangguran di Sabu Raijua sudah berkurang menjadi 3.000 orang dari 17.000 sejak pembentukan kabupaten pada pada 36 November 2008, berdasarkan undang-undang Nomor 52 tahun 2008.


Pemasok Garam 

Nusa Tenggara Timur memiliki potensi "surga" garam karena didukung oleh kemarau yang berlangsung selama delapan bulan, sementara kecepatan anginnya di tempat terbuka seperti di pesisir pantai bisa mencapai 40 kilometer per jam.

Bahkan luas laut yang ada di NTT justru bisa dikembangkan untuk potensi tambak garam seperti yang dilakukan oleh Pemda Sabu Raijua.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam setiap pidatonya dalam setiap kegiatan selalu menyampaikan dan mengingatkan agar baik para nelayan serta petani bisa mengembangkan laut yang luas untuk tambak garam.

"Panas berlebihan di bukan sebagai kutukan melainkan potensi yang yang harus dikembangkan untuk potensi garam," tuturnya.

Hingga saat ini sudah dua daerah yang sudah mengembangkan tambak garam, baik di Sabu Raijua serta di Kabupaten Kupang seluas 4.000 hektare yang dikelola oleh PT. Garam Indonesia.

Bahkan menurut Gubernur Frans, saat ini sejumlah daerah seperti, Nagekeo, Ende, Manggarai serta Sumba juga memiliki potensi untuk pengembangan garam.

"Saya Rasa NTT bisa menjadi provinsi pemasok garam terbesar jika kita mau bekerja keras," harapnya.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top