-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
  Pemerintah izinkan nelayan Pantura melaut di Natuna

Pemerintah izinkan nelayan Pantura melaut di Natuna

Pemerintah izinkan nelayan Pantura melaut di Natuna
ilustrasi: Nelayan Ancam Demo Sebuah perahu nelayan bersiap sandar di Pelabuhan Jongor, Tegal, Jateng, Senin (26/1/15). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
 Solusi untuk memaksimalkan pemanfaatan perairan Natuna, kita akan memberikan izin kapal nelayan Pantura dapat melaut di Natuna,"

"Solusi untuk memaksimalkan pemanfaatan perairan Natuna, kita akan memberikan izin kapal nelayan Pantura dapat melaut di Natuna," kata Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim, Kementerian Maritim dan Sumber Daya Arif Havas Oegroseno, dalam diskusi terkait penelaahan keputusan PCA terkait Laut Tiongkok Selatan di Bogor, Rabu. 
Ia mengatakan, Kementerian Maritim dan Sumber Daya telah membahas langkah-langkah strategis untuk mengatasi pencurian ikan di perairan Natuna. Sedikitnya ada empat langkah strategis yang disiapkan yakni di bidang perikanan, pariwisata, minyak dan gas serta pertahanan.

Terkait perikanan, lanjutnya, kapasitas penangkapan ikan masyarakat nelayan setempat setelah dikurangi praktik pencurian ikan, hanya sekitar sembilan persen dari 100 persen potensi dan jenis ikan yang tersedia di perairan tersebut.

"Kondisi ini dikarenakan, hampir 200 unit kapal nelayan yang beroperasi ukurannya hanya dua grosstonase (GT), dan kebanyakan tidak bermesin, atau menggunakan mesin tempel diesel," katanya. 

Selain itu, pola penangkapan ikan yang dilakukan nelayan setempat dengan sistem pergi pagi pulang sore. Sehingga daya tangkap kurang maksimal dengan potensi yang begitu besar.

Solusi untuk mengatasi situasi tersebut, lanjutnya, pemerintah akan memberikan lisensi atau izin kepada nelayan di Pantura yang memiliki kapal dengan kapasitas 20 sampai 35 GT agar bisa melaut di perairan Natuna.

"Kita optimalkan nelayan Pantura yang memiliki kapal kapasitas besar dapat melaut di wilayah ZEE (Zona ekonomi ekslusif)," katanya.
Terkait jauhnya lokasi perairan dengan daerah asal nelayan tersebut, lanjut Arif, kapal-kapal nelayan Pantura tersebut tetap berada di lokasi perairan. Nelayan dapat pulang pergi dengan menggunakan pesawat terbang.

"Konsepnya nanti kita akan libatkan BUMN untuk mengelola perikanan di wilayah Natuna," katanya. 

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Empat nelayan dibebaskan kelompok bersenjata Filipina

Empat nelayan dibebaskan kelompok bersenjata Filipina

Empat nelayan dibebaskan kelompok bersenjata Filipina
Beberapa pekan sebelum ini, empat anak buah kapal (ABK) berwarganegaraan Indonesia dibebaskan oleh penyanderanya dari kelompok Abu Sayyaf. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Staf Teknis Imigrasi Konsulat RI Tawau Negeri Sabah, Ujo Sujoto melalui pesan singkatnya dari Jakarta, Minggu malam mengaku belum mengetahui perkembangan kasus penculikan ketiga warga negara Indonesia (WNI) yang sedang menangkap ikan di perairan Lahad Datu itu karena sedang berada di Jakarta.

"Saya belum tahu adanya kasus penculikan terhadap WNI di Lahad Datu karena masih berada di Jakarta," ungkap Ujo. Namun Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu membenarkan ada kasus itu, sedangkan lokasi kejadian berada pada wilayah kerja Konsulat RI Tawau.

Keempat nelayan yang dibebaskan kelompok bersenjata itu adalah Sar (27) WNI asal Nusa Tenggara Timur, Anukari (20) asal Suku Bajau Palauh Malaysia, Paketoh (25) Suku Bajau Palauh, dan Almi (30) Suku Bajau Palauh.

Sedangkan tiga nelayan semuanya asal Indonesia yang diculik dan belum diketahui keberadaannya sampai saat ini adalah Lorence Koten (34), Teodorus Kopong (42) dan Emanuel (40) ketiga asal NTT.

Kronologinya adalah pada Sabtu (9/7) sekitar pukul 23.00 waktu setempat sebuah speedboat warna putih mendekati kapal milik nelayan itu dengan lima orang penumpang berambut panjang berpakaian baju hitam dan celana loreng.

Kelima orang penculik itu menggunakan senjata laras panjang jenis M16, M16double body, dan M14 langsung bertanya kepada ketujuh nelayan diantaranya empat WNI itu dengan Bahasa Melayu yang tidak fasih, mengenai dokumen keimigrasian yang dimilikinya.

Namun hanya tiga nelayan yang menggunakan paspor sehingga ketiganya langsung dibawa menggunakan speedboat milik kelompok bersenjata sekaligus merampas handphone dan paspor ketiga WNI itu.

Informasi yang dihimpun kelompok bersenjata yang sangat aktif melakukan penculikan itu adalah kelompok Muktadil Brother pimpinan Nikosn Muktadil dan Brown Muktadil yang selama ini diketahui bersembunyi di Languyan Tawi-i-Tawi Filipina yang menunggu kesempatan melakukan penculikan. 


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Nelayan Indonesia di Taiwan shalat Ied sebelum melaut

Nelayan Indonesia di Taiwan shalat Ied sebelum melaut



"Ada sekitar 600 nelayan yang masih bisa ikut shalat Id di sini," kata Dian Ramadani, selaku pengurus Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia, mengenai shalat Idul Fitri di Masjid An Nur di Pelabuhan Donggang, Kabupaten Pingtung, saat dihubungi dari Jakarta.

Di Donggang, kota pelabuhan terbesar di Taiwan selatan itu terdapat sekitar 1.000 orang nelayan asal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal pencari ikan milik warga setempat.

Shalat Id yang diimami dan dikhotibi seorang nelayan tersebut dimulai pada pukul 06.45 waktu setempat (05.45 WIB).

Para nelayan di Donggang menyulap lantai dua tempat penampungan mereka sebagai masjid. Selain untuk beribadah, masjid itu dimanfaatkan sebagai madrasah para nelayan yang mayoritas berasal dari pesisir utara Pulau Jawa itu.

Sementara itu, shalat Ied di Pelabuhan Nanfang Ao, Kabupaten Yilan, diikuti sedikitnya 700 orang nelayan Indonesia.

"Alhamdulillah, hari ini banyak kapal yang sandar. Jadi, jumlah jemaah lebih banyak dibandingkan tahun lalu," kata Basir selaku panitia penyelanggara shalat Idul Fitri di tempat pelelangan ikan Pelabuhan Nanfang Ao, yang berjarak sekitar 100 kilometer sebelah utara Ibu Kota Taiwan, di Taipei itu.

Selain di kedua tempat tersebut, para nelayan Indonesia di Pulau Penghu dan Kabupaten Taitung juga menggelar shalat Id sebelum menjalankan aktivitas sehari-hari.

Halaman Stasiun Utama Taipei masih menjadi tempat favorit penyelenggaraan shalat Ied para warga negara Indonesia yang beragama Islam.

Sedikitnya 3.500 WNI melaksanakan shalat Id yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di poros transportasi tersibuk di Taiwan itu.

Shalat yang digelar dalam tiga gelombang itu dimulai pada pukul 06.30 waktu setempat dan masing-masing gelombang berlangsung sekitar satu jam, termasuk persiapan dan pembacaan khutbah.

"Tahun ini majikan memberikan izin lebih lunak. Kalau dulu saat Lebaran tidak jatuh pada hari MInggu, para TKI, khususnya yang perempuan hanya diberikan izin tidak masuk kerja setengah hari atau bahkan ada yang hanya diizinkan hanya waktu shalat," kata Ketua PCI Fatayat NU, Tarnia Tari.

Demikian pula pada bulan puasa, para TKI mendapat perhatian dengan memberikan waktu istirahat kerja lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Besarnya perhatian majikan terhadap para TKI dalam menjalankan ibadah dilatarbelakangi oleh imbauan pemerintah Taiwan melalui Perhimpunan Muslim China.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tangkapan nelayan Aceh Barat turun 50 persen karena cuaca ekstrem

Tangkapan nelayan Aceh Barat turun 50 persen karena cuaca ekstrem

Tangkapan nelayan Aceh Barat turun 50 persen karena cuaca ekstrem
Ilustrasi: kapal-kapal nelayan Aceh. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Heri, salah seorang nelayan Desa Ujong Baroh di Meulaboh, Rabu, mengatakan, jarak tempuh nelayan juga sudah sedikit berkurang dari biasanya, karena kondisi "bakad" (gelombang) di perairan lepas sudah sangat mengkhawatirkan.

"Bakad di tengah laut besar-besar dan badai juga. Tapi saat seperti itu kami juga memancing maupun menjaring ikan. Yang sedikit berubah jarak tempuh yang biasanya 10-15 mil sekarang paling berani sekitar 5-7 mil," katanya.
Dengan jarak tempuh terbatas itu, para nelayan juga hanya mendapatkan ikan-ikan dengan ukuran maksimal hanya 400-600 gram/ekor.

Sementara itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Barat M Iqbal membenarkan terkait kesulitan yang dihadapi masyarakat nelayan disaat cuaca ekstrim saat ini. Ia mengatakan, akibat kondisi ini harga ikan basah di pasar mengalami kenaikan cukup drastis karena tingginya kebutuhan masyarakat.

"Hampir setiap hari hasil tangkapan nelayan kita menurun sampai 50 persen, biasanya hasil tangkapan dipasar itu rata-rata 30 ton per hari, tapi sejak cuaca ekstrim ini kami lihat cukup jauh berkurang," katanya.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Menteri Susi minta BUMN beli ikan nelayan

Menteri Susi minta BUMN beli ikan nelayan

Menteri Susi minta BUMN beli ikan nelayan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Negara (ANTARA News) - Menteri Kelautan Dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta dua perusahaan perikanan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), membeli ikan hasil tangkapan nelayan Kabupaten Jembrana, Bali.

"Perindo dan Perinus, sebagai perusahaan BUMN harus membeli ikan nelayan disini agar harganya stabil," katanya, saat bertatap muka dengan nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Sabtu.

Ia mengatakan, PT Perikanan Nusantara (Perinus) dan Perum Perikanan Indonesia (Perindo), bisa memainkan peran agar harga ikan tidak anjlok saat hasil tangkapan nelayan melimpah.

Kepada pimpinan Perindo dan Perinus yang hadir, ia memerintahkan mereka untuk secepatnya melaksanakan hal tersebut, termasuk membangun cold storage di areal PPN untuk menampung ikan.

Mendapatkan perintah tersebut, Perindo sanggup melaksanakan perintah Susi dua minggu ke depan, sementara Perinus minta waktu sampai usai Hari Raya Idul Fitri.

"Para nelayan yang hadir disini mendengar langsung kesanggupan Perindo dan Perinus untuk membeli ikan. Saya minta kesanggupan mereka itu diawasi, agar benar-benar dilaksanakan," ujar Susi, disambut tepuk tangan nelayan yang hadir.

Menurutnya, dengan peran dua BUMN tersebut, pihaknya berharap harga ikan jenis lemuru, yang merupakan hasil tangkap laut utama di Kabupaten Jembrana, harganya bisa naik dari semula Rp4 ribu hingga Rp6 ribu, menjadi Rp7 ribu hingga Rp9 ribu perkilogram.

Kepada pengusaha pengalengan ikan yang ada di Desa Pengambengan, ia mengimbau, mereka tidak terlalu menekan harga saat nelayan panen hasil tangkap.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top