-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
PM Inggris pakai cara Beatles untuk kampanye Uni Eropa

PM Inggris pakai cara Beatles untuk kampanye Uni Eropa

PM Inggris pakai cara Beatles untuk kampanye Uni Eropa
Perdana Menteri Inggris David Cameron berpidato tentang pembaruan tujuan Inggris di Uni Eropa di Chatham House, London, Inggris, Selasa (10/11). Cameron menyatakan bahwa ia berharap bisa membuat kemajuan berarti dengan pembaruan ini saat para pemimpin dari blok tersebut bertemu bulan depan, tetapi dia tidak memberikan keterangan apa pun saat dia berencana menunda referendum keanggotaan Inggris di Uni Eropa. (REUTERS/Kirsty Wigglesworth )

Ia mengunjungi studio musik itu untuk menemui para musisi yang akan mendukung referendum agar Inggris "tetap" bergabung dalam Uni Eropa.

Turut menyertai Cameron dalam aksi jalan bersejarah itu adalah mantan Menteri Kebudayaan Tessa Jowell. Cameron kemudian berbincang dengan para musisi tersebut menjelang jajak pendapat pada 23 Juni.

Tanggal 23 Juni akan menjadi hari khusus bagi rakyat Inggris memutuskan apakah negaranya akan tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Cameron juga merasakan kehidupan di studio dengan duduk di galeri dan menyaksikan pertunjukan.

" ... Memimpin orang-orang dari industri kreatif kami yang besar (telah) mengungkap suatu kasus yang kuat mengapa kreativitas negara ini, industri kreatif negeri ini lebih kuat di Eropa," kata Jowell.

Lebih dari 250 pesohor Inggris dari dunia seni, termasuk aktor Benedict Cumberbatch dan Helena Bonham Carter, telah menandatangani surat yang mendesak warga Inggris untuk memilih negara mereka tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde pada Jumat memperingatkan bahwa jika Inggris meninggalkan Uni Eropa (Brexit) sebagai hasil dari referendum 23 Juni, Inggris bisa mengalami kejatuhan pasar saham dan penurunan harga rumah.

"Kami telah melihat semua skenario. Kami telah melakukan pekerjaan rumah kami dan kami belum menemukan sesuatu yang positif untuk mengatakan tentang pemilihan Brexit," kata Lagarde dalam konferensi pers di Departemen Keuangan Inggris di London yang diadakan untuk meluncurkan penilaian tahunan IMF atas ekonomi Inggris.

Penilaian, yang dilakukan pada semua negara anggota IMF setiap tahun, memperingatkan bahwa pilihan untuk meninggalkan Uni Eropa dalam referendum akan meningkatkan gejolak di pasar keuangan dan merusak "output" (keluaran) Inggris.

Laporan itu mencatat: "Sebuah pilihan untuk meninggalkan Uni Eropa akan menciptakan ketidakpastian tentang sifat hubungan ekonomi jangka panjang di Inggris dengan Uni Eropa dan seluruh dunia. Pilihan untuk keluar akan memicu periode ketidakpastian tinggi secara berlarut-larut, mendorong gejolak pasar keuangan dan memukul "output"."

Dampak-dampak itu akan dirasakan dalam jangka pendek, namun laporan juga meramalkan masalah yang akan muncul dalam jangka panjang, termasuk penurunan peringkat London sebagai pusat keuangan global, dan transfer struktur pasar valuta asing London yang dominan ke dalam zona euro.

IMF mengatakan dalam laporan itu, "Status London sebagai pusat keuangan global juga bisa tergerus, karena perusahaan yang berbasis di Inggris mungkin kehilangan hak-hak passporting mereka untuk menyediakan layanan keuangan ke seluruh Uni Eropa dan banyak bisnis dalam mata uang euro mungkin seiring perjalanan waktu pindah ke negara Eropa lain."

Laporan mencatat bahwa dalam hal referendum memilih untuk tetap di Uni Eropa, pertumbuhan PDB Inggris akan "rebound" pada semester kedua tahun ini, dengan penarikan terkait referendum di tahun pertama mengakibatkan pertumbuhan dua persen tahun ini. Namun, 2017 diperkirakan menikmati pertumbuhan kuat, di 2,25 persen.

IMF memperkirakan bahwa inflasi, saat ini di 0,5 persen, akan naik menuju angka target dua persen, karena pengaruh harga-harga komoditas keluar dari angka-angka dan efek pengangguran rendah mendorong kenaikan upah.

Beralih ke struktur peraturan Inggris, IMF mencatat bahwa gelombang reformasi peraturan sejak krisis keuangan berarti bahwa "bagian-bagian utama dari sistem keuangan Inggris kelihatan tangguh."

Bank-bank memiliki lebih dari dua kali lipat rasio modal tertimbang menurut risiko dari tingkat prakrisis, memperkuat likuiditas dan telah mengurangi pengaruh.

Uji ketahanan (stress test) menunjukkan bahwa unsur-unsur utama dari sistem keuangan --bank-bank besar, perusahaan asuransi, manajer aset, dan rekanan-- tampak tangguh dalam menghadapi guncangan, kata IMF.

(Uu.SYS/A/G003/A/T008) 21-05-2016 13:45:38
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Presiden Jokowi bertemu PM Inggris David Cameron

Presiden Jokowi bertemu PM Inggris David Cameron

Presiden Jokowi bertemu PM Inggris David Cameron
Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/OIC-ES2016/Subekti./foc/par/16)

London (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron di Kantor PM Inggris London, Selasa.

Presiden Jokowi tiba di Downing Street 10 sekitar pukul 10.30 waktu setempat atau sekitar pukul 17.30 WIB.

Presiden Jokowi yang menumpang sedan warna hitam dan mengenakan setelan jas warna hitam langsung disambut oleh PM Inggris David Cameron.

Di depan pintu bernomor 10, Presiden Jokowi dan PM Cameron bersalaman dan berfoto bersama. Setelah itu dua pimpinan negara itu memasuki ruang kantor PM Inggris.

Tampak menyertai Presiden Jokowi dalam pertemuan antara lain Seskab Pramono Anung, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menlu Retno Marsudi, Kepala BKPM Franky Sibarani, Kepala Barekraf Triawan Munaf dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.  

Pertemuan dua pemimpin itu diperkirakan akan berlangsung sekitar satu hingga dua jam termasuk jamuan makan siang.



Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
PM Inggris keluarkan catatan pajak untuk redakan badai Dokumen Panama

PM Inggris keluarkan catatan pajak untuk redakan badai Dokumen Panama

PM Inggris keluarkan catatan pajak untuk redakan badai Dokumen Panama
Perdana Menteri Inggris David Cameron.(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

London (ANTARA News) - Perdana Menteri Inggris David Cameron pada Minggu (10/4) mengambil langkah tak biasa dengan mempublikasikan catatan pajaknya guna mengakhiri pertanyaan-pertanyaan tentang kekayaan pribadinya yang muncul setelah penyebutan dana mendiang ayahnya di luar negeri dalam Dokumen Panama (Panama Papers). 

Sebelumnya, keengganan Cameron untuk mengakui bahwa ia menerima keuntungan dari dana sang ayah telah memunculkan kemarahan, menambah masalahnya saat menghadapi pertarungan politik guna membujuk rakyat Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa dalam referendum 23 Juni.

Masalah keanggotaan Inggris di Uni Eropa itu telah memecah belah partai Cameron, Partai Konservatif.

Sementara itu, pemerintah juga menghadapi masa sulit terkait pengunduran diri seorang menteri senior, perubahan dalam pengurangan anggaran kesejahteraan serta tuduhan-tuduhan bahwa pemerintah gagal melindungi industri baja Inggris.

Setelah mengatakan pada Sabtu bahwa dia bisa menangani masalah Dokumen Panama lebih baik, Cameron mengeluarkan ringkasan catatan pajaknya dalam periode enam tahun terakhir.

Namun, harapan untuk membungkam serangan tampaknya hanya bertahan sebentar.

Surat-surat kabar Minggu tetap membahas masalah hadiah senilai 200.000 pound (Rp3,7 miliar) yang diterima Cameron dari ibunya pada 2011. Hadiah itu dicurigai merupakan salah satu cara untuk menghindari pajak warisan.

Seorang sumber di kantor perdana menteri mengatakan bahwa kecurigaan itu tidak benar.

Cameron merupakan salah satu dari puluhan politisi di seluruh dunia yang terkena dampak kebocoran 11,5 juta dokumen dari kantor hukum Panama, Mossack Foseca.

Dokumen itu berisi rincian pendirian 200.000 kantor, tempat berlindung di luar negeri untuk menghindari pajak.

Cameron pada Senin akan memberikan penyataan di depan parlemen soal kebijakan pajak dalam upaya untuk mengembalikan kepercayaan terhadapnya.

Sebelumnya, pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn melancarkan tuduhan bahwa Cameron telah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan rakyat sebelum akhirnya mengakui bahwa ia mendapat keuntungan dari dana ayahnya.

Beberapa politisi yang berkampanye agar Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa melalui referendum Juni mendatang khawatir masalah yang dihadapi Cameron akan membawa kerugian di pihak mereka, demikian seperti diwartakan kantor berita Reuters.(Uu.T008)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kunjungan Kerja ke RI, PM Inggris Boyong 30 Pebisnis Papan Atas

Kunjungan Kerja ke RI, PM Inggris Boyong 30 Pebisnis Papan Atas

Yudhistira_detik - detikNews Kunjungan Kerja ke RI, PM Inggris Boyong 30 Pebisnis Papan AtasFoto: Yudhistira Amran Saleh

 Jakarta - Perdana Menteri David Cameron dijadwalkan tiba di Jakarta pada Senin (27/7/2015) esok. Rencananya, sebanyak 30 delegasi pebisnis kenamaan asal Negeri Ratu Elizabeth II tersebut akan diboyong ke Indonesia.

Sebut saja Presiden Airbus Group UK Paul Kahn dan Direktur Internasional Rolls-Royce Ann Cormack. Hal tersebut diungkapkan oleh Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik dalam konferensi persnya di Ruang Pertemuan, Kedutaan Besar Inggris, Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2015).
"Menurut rencana, Perdana Menteri Cameron akan membawa sebanyak 30 pebisnis-pebisnis kenamaan asal Inggris, sebut saja Direktur Internasional Rolls-Royce Ann Cormack dan Presiden Airbus Group UK Paul Kahn," ujarnya.

Moazzam juga mengatakan bahwa Perdana Menteri Cameron akan menghadiri acara bisnis forum antara Indonesia dan Inggris yang membicarakan masalah ekonomi dan energi. Selain itu masalah pembahasan kerjasama pembuatan satelit juga akan dibahas dalam forum ini.

"Perdana Menteri Cameron juga akan hadir dalam forum bisnis antara Indonesia dan Inggris. Di mana dalam forum itu dibahas mengenai masalah ekonomi, energi dan juga pembahasan mengenai pembuatan satelit cuaca yang nantinya dapat juga memantau hutan, laut, illegal fishing disini," lanjutnya.

"Kita akan membawa kesuksesan dari negara kami untuk Indonesia. Karena kami tahu bahwa Presiden Jokowi sangat ambisius dalam membangun infrastruktur untuk negaranya," ucapnya.

Menurut rencana, Perdana Menteri Cameron akan berada di Indonesia hingga Selasa (28/7/2015). Kemudian ia akan bertolak menuju Malaysia untuk kunjungan kerja.
(yds/dha)
Back To Top