-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Warga Palembang padati pasar siapkan menu sahur

Warga Palembang padati pasar siapkan menu sahur

Warga Palembang padati pasar siapkan menu sahur
Pelajar mengikuti pawai keliling kota menyambut bulan suci Ramadan di Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/6/2016). (ANTARA FOTO/Ampelsa/kye/16)
Palembang (ANTARA News) - Warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, memadati pasar tradisional dan modern untuk membeli berbagai bahan makanan persiapan menu sahur puasa pertama bulan Ramadan 1437 Hijriah/2016 Masehi.

Pantauan di Palembang, Minggu, warga memadati pasar tradisional seperti pasar kawasan Jalan Merdeka, Pasar 16 Ilir, dan pasar Sekip Ujung, serta sejumlah pasar swalayan seperti di mal Palembang Square, Palembang Trade Center, dan Palembang Indah Mal untuk membeli bahan makanan dan makanan siap saji persiapan sahur hari pertama dan sekaligus untuk menu berbuka puasa Senin (6/6).

Akibatnya, arus lalu lintas menuju tempat belanja menjadi padat dan pengunjung sulit mendapatkan tempat parkir kendaraan terutama parkir mobil.

Sejumlah warga Palembang, mengatakan, mereka yang meyakini awal Ramadan pada 6 Juni 2016, berupaya menyiapkan makanan untuk sahur dan sekaligus berbuka puasa bersama keluarga, karena momentum hari pertama puasa bulan Ramadan ini akan dimanfaatkan dengan baik.

Bahan makanan yang dibeli di pasar tradisional seperti ikan, ayam, sayur mayur, kurma, dan aneka jenis buah-buahan.

"Sahur dan berbuka puasa bersama pada hari pertama akan dimanfaatkan sebaik mungkin dengan menu makanan yang spesial, karena jika pada hari biasa anggota keluarga sulit berkumpul secara utuh karena ada yang sibuk bekerja dan kuliah, kini momentum bulan Ramadan berupaya menyediakan waktu kebersamaan yang lebih banyak" ujar Rosmala. 

Selain warga yang mendatangi pasar tradisional dan mal untuk membeli bahan makanan dan makanan siap saji menu sahur dan persiapan berbuka puasa, ada juga yang membeli beberapa barang keperluan lainnya dan perlengkapan rumah tangga.

Menurut Dewi, menyambut datangnya bulan suci Ramadan, selain membeli makanan untuk sahur dan berbuka puasa, dia memanfaatkan waktu libur akhir pekan ini untuk mencari sejumlah barang keperluan lainnya di mal untuk menunjang aktivitas kerja, dan melengkapi peralatan dapur dan makan. 

COPYRIGHT © ANTARA 2016
Banda Aceh kembangkan pasar Islami

Banda Aceh kembangkan pasar Islami

Banda Aceh kembangkan pasar Islami
Pedagang manata busana muslim dan perlengkapan ibadah di Pasar Aceh, Banda Aceh, Aceh, Jumat (12/6).(ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Banda Aceh (ANTARA News) - Pemerintah Kota Banda Aceh akan mengembangkan pasar-pasar yang dijalankan sesuai dengan syariat Islam.

"Pemerintah kota terus berusaha mewujudkan pasar Islam, di mana transaksi maupun aktivitas lainnya sesuai dengan syiar Islam," kata Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal di Banda Aceh, Senin.

Ia mengatakan mewujudkan pasar Islami tidaklah mudah, banyak tantangan dan hambatannya, namun pemerintah kota akan terus berusaha mewujudkannya.

Pemerintah kota, ia melanjutkan, mengharapkan dukungan dari para ulama dan masyarakat dalam mengembangkan pasar Islami.

Upaya Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mewujudkan pasar Islami di antaranya dilakukan dengan membina dan memberikan pelatihan peningkatan kapasitas kepada para pedagang.

"Termasuk penyediaan sarana dan prasarana pasar, juga harus sesuai standar Islam. Begitu juga dengan ijab kabul antara pedagang dan pembeli, harus dibudayakan," kata Illiza.

Wali Kota berharap para pedagang berdagang sesuai syariat Islam, tidak mencurangi timbangan, serta tidak mengambil keuntungan yang berlebihan.

"Pemerintah kota sudah membagikan timbangan digital agar ukurannya pas. Gunakan timbangan ini, jangan disimpan," kata Illiza.

Illiza mengatakan bahwa Islam memosisikan kegiatan ekonomi sebagai aspek penting dalam upaya untuk mendatangkan kemuliaan.

"Oleh karena itu, kegiatan ekonomi juga perlu dituntun dan dikontrol agar berjalan seirama dengan ajaran Islam secara keseluruhan. Seperti mewujudkan pasar Islami di Kota Banda Aceh," demikian Illiza Saaduddin Djamal.

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Sebanyak 200 UKM siap tembus pasar Korsel

Sebanyak 200 UKM siap tembus pasar Korsel

Sebanyak 200 UKM siap tembus pasar Korsel
Sejumlah pekerja menyelesaikan pekerjaan membatik topeng di Jarum, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (17/2). (ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho)

Direktur Utama LLP-KUKM Ahmad Zabadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan masuknya produk UKM Indonesia ke Busan merupakan langkah awal yang sangat baik.

"Kalau produk-produk UKM kita masuk ke Busan, berarti produk UKM kita sudah masuk global karena dapat memenuhi permintaan masyarakat yang ada di Busan. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia," kata Zabadi.
Busan Indonesia Center adalah fasilitas dagang berupa gedung seluas 4000 meter persegi dengan penataan sebagai tempat perbelanjaan populer.

Produk UKM Indonesia yang akan dipasarkan di Busan merupakan produk dari mitra-mitra UKM binaan LLP-KUKM, yang terlebih dahulu melalui proses kurasi oleh ketua Busan Indonesia Center Prof. Kim Soo-ll.

"Hasil dari kurasi ini, LLP KUKM akan memfasilitasi para UKM mitra kami," katanya.
Ia mengakui, ada biaya yang harus dikeluarkan para mitra untuk membayar sewa ruang pamer di Busan Indonesia Center yaitu sekitar Rp1,2 juta - Rp1,5 juta sebulan.

Namun menurut dia, harga ini masih relatif terjangkau mengingat peluang besar yang bisa diraih oleh UKM Indonesia.

"Kita tidak terlalu mematok berapa produk yang harus terjual di Busan Indonesia Center. Langkah ini lebih kepada membuka akses produk UKM ke luar negeri. Kalau sudah dapat memenuhi kebutuhan luar negeri, itu sudah cukup membanggakan," kata Zabadi.

Ia menambahkan, para mitra yang dipastikan bisa ikut memasarkan produknya di BIC yaitu UKM yang produknya sudah berorientasi ekspor dan para mitra yang berpeluang ekspor.

Selain itu, para mitra sudah bisa memastikan memenuhi kontinuitas produk ketika produk tersebut banyak permintaan.

"Produk-produk yang akan ditampilkan diprioritaskan pada produk-produk yang memiliki potensi pasar di Korea Selatan, sehingga peluang ekspor juga dapat terbuka bagi produk-produk KUKM yang diminati langsung oleh para pembeli setempat," kata Zabadi.
Pihaknya telah menyeleksi 200 UKM yang terpilih dari 1.600 UKM berorientasi ekspor binaannya.
Tercatat ada delapan kategori produk para mitra UKM di antaranya produk fashion, spa, batik, makanan ringan, home decor, dan kerajinan tangan. 
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Asosiasi pengembang mobil listrik bidik 10 persen pasar

Asosiasi pengembang mobil listrik bidik 10 persen pasar

16:51 WIB | 1.508 Views
Asosiasi pengembang mobil listrik bidik 10 persen pasar
Mahasiswa menunjukan mobil listrik Arjuna di Balairung UGM. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) ()
Jakarta (ANTARA News) - Asosiasi Pengembang Kendaraan Listrik Bermerek Nasional (Apklibernas) membidik 10 persen dari pasar otomotif nasional jika mobil tersebut sudah diproduksi massal.

"Mobil listrik ini jawaban terhadap polusi. Target kami cuma 10 persen dari pasar otomotif yang 1 juta itu," kata Chairman Apklibernas Sukotjo Herupramono di Jakarta, Rabu.

Sukojto mengatakan, pasar otomotif di Indonesia saat ini sangat menggeliat, terlebih industri di dalam negeri mampu bersaing dengan negara tetangga Thailand dalam mengenkspor kendaraan roda empat.

Pasar tersebut perlu terus dijaga, di mana saat bersamaan, pengembangan mobil listrik terus diperdalam dan dimatangkan.

Untuk mewujudkannya, Sukotjo menilai dibutuhkan gotong royong dari semua pihak, mulai dari pemetintah melalui Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta pihak akademisi.

Dalam hal investasi, Sukoco meminta agar pengembangan mobil listrik dibawah 75 kilo watt per hour (kwh) diberikan kepada penanam modal dalam negeri.
Sementara untuk mobil listrik di atas 75 kwh, investasinya dibuka bagi para penanam modal di luar negeri.
Terkait target produksi massal, Commisioner President produsen mobil listrik PT Great Asia Link ini belum bisa menentukan, karena semuanya tergantung pada kebijakan pemerintah.

"Banyak tergantungnya, kebijakan-kebijakan dan peta jalannya," ujar Sukotjo.

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2016
Mendag : 8.000 pasar layak terapkan SNI

Mendag : 8.000 pasar layak terapkan SNI


Mendag : 8.000 pasar layak terapkan SNI
Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong (kedua kanan) bersama Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas (kanan) berbincang dengan wisatawan asing saat meninjau Pasar Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (10/10). Kementerian Perdagangan pada APBN 2016 menganggarkan Rp1,7 triliun untuk pembangunan pasar tradisional di seluruh Indonesia. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
 
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong mengatakan sebanyak 8.000 pasar tradisional maupun modern layak menerapkan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagaimana yang sudah disyaratkan.

"Ada sekitar 8.000 yang layak, sekitar 118 diantaranya sudah wajib menerapakan SNI," kata Thomas Lembong ketika menghadiri pameran produk ber-SNI di JCC Senayan, Jakarta, Senin.
Ia juga menjelaskan, sekitar 1.000 pasar diperbaiki menurutnya sebenarnya mudah, hanya saja menjadi susah jika dikerjakan secara asal-asalan. Menurut aturan, persyaratan klasifikasi pasar rakyat tipe I adalah, kemudahan dengan akses SPBU terdekat. Kemudian, jumlah pedagang lebih dari 750 orang.

Kantor pengelola juga harus berada di dalam pasar, kemudian jumlah parkir harus proporsional dengan ukuran dan kuantitas gerai penjual.

Penyediaan pos ukur ulang minimal dua pos, area bongkar muat juga harus tersedia khusus, minimal juga harus ada empat area cuci tangan di empat lokasi yang berbeda.

Pemilahan sampah melalui ketersedian tempat sampah, alat angkut sampah, TPS sementara dan pengelolaan sampah 3R.

Juga harus ada ruang disinfektan, ruang menyusui minimal dua ruangan. dan adanya pencegahan kebakaran.

Sedangkan pasar tipe II jumlah pedagang antara 501 - 750 orang, ada juga pengaturan ruang zona pedagang seperti pangan basah, kering, siap saji, non pangan dan sebagainya.

Jika pasar tipe III perbedaan pada jumlah pedagang antara 250-500 penjual. Untuk pasar tipe IV jumlah pedagang kurang dari 250 penjual, persyaratan lainnya tidak banyak berubah, hanya menyesuaikan rasio jumlah pedagang dengan fasilitas seperti parkir, kamar madi, tempat cuci tangan dan pembagian zona-nya.

Thomas juga menjelaskan. dengan adanya aturan standardisasi tersebut, maka pengelolaan pasar akan lebih bersih dan rapi, tidak menimbulkan berbagai penurunan kualitas pelayanan dan barang.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top