-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Wapres setuju tes urine pejabat negara

Wapres setuju tes urine pejabat negara

Wapres setuju tes urine pejabat negara
Wapres Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
 Baguslah kalau begitu, setuju. Kita kan dalam rangka memerangi narkoba,"

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan setuju dengan usulan pemeriksaan urine bagi pejabat negara, termasuk anggota DPR.

"Baguslah kalau begitu, setuju. Kita kan dalam rangka memerangi narkoba," kata Wapres Kalla di Jakarta, Jumat.

Bahkan, Wapres mengaku siap jika harus diminta melakukan tes urine untuk memberi contoh bagi pejabat negara lainnya.

"Semua pihak harus menjadi contoh, kalau perlu saya tes urine, saya juga siap," katanya.


Sebelumnya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso masih menyelidiki adanya dugaan oknum anggota DPR yang terlibat kasus penyalahgunaan narkoba.

"Saya malah belum tahu, kalau itu ada maka serahkan ke polisi atau kita proses dulu," kata Budi Waseso di Jakarta.


(F013/M029)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
KPK tangani 261 kasus korupsi pejabat negara

KPK tangani 261 kasus korupsi pejabat negara

KPK tangani 261 kasus korupsi pejabat negara
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
KPK telah menangani kasus 81 orang anggota DPR/DPRD, 14 gubernur, 48 bupati/wali kota, dan 118 pejabat eselon,"
Makassar (ANTARA News) - Direktur Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Cahya Hardianto Harefa mengatakan hingga Juni 2015 KPK telah menangani 261 kasus korupsi pejabat negara.

"KPK telah menangani kasus 81 orang anggota DPR/DPRD, 14 gubernur, 48 bupati/wali kota, dan 118 pejabat eselon," papar Cahya pada acara Semiloka Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi dan Deklarasi Laporan Harta Kekayaan Calon Kepala Daerah, di Makassar, Rabu.
Banyaknya jumlah kasus korupsi oleh pejabat negara ini, menurut Cahya, sangat disayangkan mengingat besarnya dampak sosial dari korupsi ini.

"Studi yang dilakukan menunjukkan korupsi menimbulkan biaya sosial yang dampaknya berpuluh kali lebih besar daripada nilai ekonomi," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan Indonesia pada dasarnya memiliki modal besar sebagai sebuah negara, termasuk kekayaan alam seperti tambang emas terbesar.
Sayangnya, korupsi telah menyebabkan negara ini terpuruk. Salah satu indikatornya adalah jumlah penduduk miskin yang mencapai 30,25 juta jiwa.

Karenanya, Cahya menegaskan para pemangku kepentingan daerah dituntut agar memiliki integritas yang tinggi.
"KPK terus mendorong pembangunan integritas nasional," imbuhnya.
Sementara terkait Semiloka ini, ia berharap kegiatan tersebut tidak sekedar menjadi acara seremonial belaka.

"Kami harap ada langkah konkret menindaklanjuti semiloka ini," katanya mengharapkan.
Kegiatan Semiloka ini dibuka oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan turut dihadiri oleh Direktur Pengawasan Lembaga Pemerintah BPKP Gilbert A. Hutapea, Ketua KPU Sulsel Iqbal Latief, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, dan Bupati Pinrang Aslam Patonangi.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top