-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Pejabat tinggi ASEAN bahas KTT 2016

Pejabat tinggi ASEAN bahas KTT 2016

Pejabat tinggi ASEAN bahas KTT 2016
KTT ASEAN Myanmar (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Ketua Pejabat Tinggi ASEAN Laos, Alounkeo Kittikhoun yang bertindak selaku ketua pertemuan konsultatif gabungan mengajak para peserta agar memanfaatkan sebaik-baiknya kegiatan ini untuk membahas berbagai permasalahan lintas sektoral dan lintas pilar ASEAN.

"Pembahasan isu-isu lintas pilar dan lintas sektoral sangat penting untuk meningkatkan koordinasi dan efektivitas pelaksanaan program-program ASEAN," katanya.

Pertemuan yang dihadiri oleh para pejabat tinggi dari Pilar Politik dan Keamanan, Pilar Ekonomi, dan Pilar Sosial Budaya ini bertujuan membahas penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2016 dan berbagai tindak lanjut dan pelaksanaan program kerja ASEAN.

Dalam pertemuan itu, Indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Jose Antonio Morato Tavares didampingi oleh Wakil Tetap RI untuk ASEAN, Dubes Rahmat Pramono dan Direktur Politik Keamanan ASEAN, M. Chandra Widya Yudha.

Pertemuan tersebut membahas persiapan KTT ke-28 dan ke-29 di Laos serta pertemuan-pertemuan lain yang menyertainya seperti "ASEAN Coordinating Council" (ACC) atau Dewan Koordinasi ASEAN dan "ASEAN Connectivity Coordinating Committee" (ACC) atau Komite Koordinasi Konektivitas ASEAN.

Pertemuan ini juga diharapkan dapat mempersiapkan berbagai dokumen mengenai kerangka kerja ASEAN agar dapat disahkan oleh para Pemimpin ASEAN dalam KTT ke-28 dan KTT ke-29 bulan September mendatang.

Selain itu, pertemuan juga membicarakan berbagai kemajuan penerapan program kerja ASEAN seperti Inisiatif Untuk Persatuan ASEAN dan rekomendasi Satuan Kerja Tingkat Tinggi mengenai Penguatan Sekretariat ASEAN dan Pengkajian Badan-badan ASEAN.

Pertemuan konsultatif gabungan kali ini merupakan yang pertama kalinya setelah sebelumnya bernama Pertemuan Persiapan Gabungan atau "Joint Preparation Meeting".

Perubahan tersebut merupakan implementasi dari rekomendasi Satuan Kerja Tingkat Tinggi pada 2014 yang dimaksudkan agar pertemuan tidak hanya membahas persiapan KTT tetapi juga mengidentifikasi berbagai persoalan yang bersifat lintas sektoral serta lintas pilar ASEAN.
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Pejabat tinggi Korsel serukan pengembangan senjata nuklir

Pejabat tinggi Korsel serukan pengembangan senjata nuklir

Pejabat tinggi Korsel serukan pengembangan senjata nuklir
Benda metal yang diyakini sebagai bagian dari peluncuran roket jarak jauh Korea Utara, Minggu (7/2), terlihat di pangkalan angkatan laut di Pyeongtaek, Korea Selatan, Kamis (11/2). (REUTERS/Hong Ki-won/Yonhap )

Dukungan agar Korea Selatan memiliki senjata nuklir merupakan suara minoritas di negara itu, namun dukungan tersebut terus bertambah dengan cepat setelah uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara.

Senjata nuklir taktis Amerika Serikat ditarik dari Korea Selatan pada akhir 1991, meskipun Korsel tetap di bawah perlindungan payung nuklir AS.

Menyusul uji coba nuklir keempat Korea Utara bulan lalu, ketua fraksi Partai Saenuri yang berkuasa Won Yoo-Cheol mengatakan sudah saatnya penangkal nuklir kembali dikerahkan atau Korea Selatan memiliki perlindungan nuklirnya sendiri.

"Kita tidak bisa meminjam payung dari tetangga setiap kali hujan. Kita perlu memiliki jas hujan dan memakainya sendiri," kata Won seperti dikutip oleh kantor berita Yonhap dalam pidatonya pada Majelis Nasional.

Korea Selatan adalah salah satu dari 190 penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, yaitu sebuah pakta di mana Korea Utara keluar pada 2003.
Di Washington hanya ada sedikit pendukung untuk ide Korea Selatan memiliki senjata nuklir, yang dinilai akan menjadi suatu kemunduran bagi prinsip lama yang tidak memungkinkan munculnya negara-negara baru untuk bergabung dalam klub negara bernuklir.

Dalam upaya untuk meyakinkan salah satu sekutu Asia-nya itu, Angkatan Udara AS mengirim sebuah pengebom berkemampuan nuklir B-52 secara tiba-tiba untuk Korea Selatan, tak lama setelah uji coba nuklir Korea Utara pada 6 Januari.

Mantan pemimpin kuat militer Korea Selatan Park Chung Hee -- ayah dari Presiden Korsel saat ini Park Geun Hye -- telah "bermain mata" dengan senjata nuklir pada 1970-an ketika presiden AS Jimmy Carter berencana untuk menarik pasukan Amerika dari Korsel, demikian laporan AFP.
(Uu.Y012)


Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top