-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
BNPB : 3.500 personil dikerahkan atasi Karhutla Kalbar

BNPB : 3.500 personil dikerahkan atasi Karhutla Kalbar

BNPB : 3.500 personil dikerahkan atasi Karhutla Kalbar
Seorang anggota TNI AD lahan terbakar seluas sepuluh hektar di Kampung Parit Haji Muksin, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalbar, Senin (29/8/2016). BMKG menyatakan berdasarkan hasil pantauan sensor MODIS (Satelit AQUA dan Terra) per 29 Agustus pada pukul 16.30 WIB menunjukkan adanya 64 titik api yang tersebar di 9 kabupaten di Kalbar. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Jakarta (ANTARA News) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 3.500 personil dikerahkan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

"Penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan, 3.500 personil dari satuan tugas dikerahkan," kata Kepala Pusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dilakukan di 10 kabupaten yang telah menetapkan status siaga darurat yaitu Kubu Raya, Mempawah, Landak, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu dan Kayong Utara. 

"Kendala yang dihadapi adalah masih ada masyarakat membuka lahan pertanian untuk menanam padi dengan cara membakar," katanya.

Selain itu, kata dia, kendala lainnya adalah terbatasnya air untuk pelaksanaan water bombing guna memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

"Selain itu juga, jauhnya sumber air dari lokasi kebakaran hutan dan lahan saat pemadaman darat menjadi kendala tersendiri bagi tim yang bertugas," katanya.

Dia menambahkan, kendala lainnya adalah, lahan yang sudah dipadamkan seringkali dibakar kembali.

"Hotspot baru cenderung muncul pada siang hari karena pembakaran sering terjadi pada siang hari," katanya.

Sementara itu, dia juga mengatakan bahwa Kabupaten Ketapang belum menetapkan siaga darurat meskipun terdapat hotspot di wilayah tersebut.

"Selain itu yang menjadi catatan kami adalah Kabupaten Sambas belum membentuk badan penanggulangan bencana daerah atau BPBD," katanya.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tiga hektare lahan di Kota Pekanbaru terbakar

Tiga hektare lahan di Kota Pekanbaru terbakar

Tiga hektare lahan di Kota Pekanbaru terbakar
Dokumentasi: Pesawat Geothermal jenis Cessna 206H Stationair Sinar Mas Forestry (SMF) wilayah Riau melakukan pemetaan dan monitoring daerah rawan kebakaran lahan dan hutan di Riau, Minggu (3/4/16). Pesawat Geothermal yang dapat mendeteksi dini titik api ini diharapkan dapat membantu Satgas Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Riau dalam menangani kebakaran. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman) ()
Pekanbaru (ANTARA News) - Tiga hektare lahan di pinggiran Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB terbakar hingga harus mengerahkan satu unit pesawat pengebom air jenis Air Tractor sebagai upaya penanggulangan.

Anggota tim udara satuan tugas (Satgas) siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Provinsi Riau, Lettu Sherif Yanuardi di Pekanbaru mengatakan lokasi kebakaran berhasil di lokalisir 30 menit kemudian.

"Keberhasilan itu tidak lepas dari usaha tim gabungan darat dan udara dalam upaya pemadaman," katanya.

Ia menjelaskan, kebakaran lahan di pinggiran Pekanbaru itu tepatnya terjadi di Jalan Nelayan, RT 05/RW 16 Kelurahan Meranti, Kecamatan Rumbai.

Lahan tersebut berupa semak belukar dan diduga kuat sengaja dibakar oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kebakaran lahan di Pekanbaru memang perlu diwaspadai karena berpotensi mengancam aktivitas penerbangan bandara internasional Sultan Syarif Kasim II.

Untuk itu, dia mengatakan Satgas siaga darurat Karhutla Riau harus bertindak cepat, salah satunya langsung mengerahkan Air tractor yang mampu memuntahkan 3.100 liter air sekali terbang.

Selain Pekanbaru, pada akhir pekan ini Karhutla juga terpantau di Kabupaten Pelalawan, tepatnya di Kecamatan Teluk Meranti.

Guna menanggulangi Karhutla di wilayah itu, tim udara mengerahkan heli jenis Sikorsky kapasitas 5 ton air dan Air Tractor. "Alhamdulillah, pantauan terakhir titik api di wilayah Pelalawan berhasil diatasi," ulas Sherif.

Aksi para pembakar lahan cenderung meningkat pada saat akhir pekan atau petugas sedang tidak bertugas. Hal itu diakui oleh Komandan Satgas siaga darurat Karhutla Riau, Brigjen Nurendi yang mengaku geram dengan ulah pembakar lahan yang terus menerus melakukan aksi tidak terpuji itu. Ia menilai para pembakar lahan sudah memiliki pola tertentu seperti membakar lahan pada saat akhir pekan.

Meski begitu, tim Satgas berjanji akan terus meningkatkan patroli dan pengawasan rutin meski sedang libur atau akhir pekan.

Saat ini, Satgas telah memiliki sejumlah armada untuk operasi pencegahan dan penanggulangan Karhutla dari udara. Diantaranya adalah 2 unit MI-8, 1 unit heli MI-171, 1 unit heli Sikorsky, 1 unit heli Bolkow 105, serta dua unit pesawat Air Tractor. Seluruh armada itu dimanfaatkan untuk pengeboman air. Selain itu, Satgas juga menyiapkan satu pesawat Cassa modifikasi cuaca.

Armada yang ada itu merupakan pelengkap tim darat Satgas siaga darurat Karhutla Riau. Seluruh komponen Satgas terus bersiaga meski akhir-akhir ini, kondisi Karhutla di Riau cenderung membaik dibanding medio Agustus 2016 lalu.

Berdasarkan data yang dirilis Satgas, Karhutla yang terjadi hampir merata di Riau sejak Januari hingga kini telah menghanguskan sekitar 3.743 hektare. Sementara itu sejauh ini 86 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara Karhutla.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Pemanasan dunia ganggu kehidupan di lautan

Pemanasan dunia ganggu kehidupan di lautan

Oslo (ANTARA News) - Pemanasan dunia dianggap mengganggu keseimbangan kehidupan di lautan, mulai dari plankton hingga paus, kata kajian internasional, Senin. 


Bahkan, panas dapat tersimpan di kedalaman selama beberapa abad, meskipun emisi gas rumah kaca dari kegiatan manusia tidak lagi ditemukan, tambahnya. 

Ketinggian suhu lautan berdampak luas pada pola curah hujan dan cuaca buruk di daratan. Suhu panas juga membantu penyebaran penyakit, yang ditularkan lewat air, kata kajian itu. 

"Pemanasan di lautan adalah tantangan terbesar, yang luput diperhatikan generasi ini," kata laporan 460 halaman dari Serikat Internasional untuk Konservasi Lingkungan (IUCN) itu. 

Kajian tersebut melibatkan ilmuwan, pemerintah dan pegiat. 

"Dampaknya telah terasa," kata hasil kajian 80 ilmuwan dari 12 negara tersebut. 

Lautan menyerap lebih dari 90 persen panas akibat emisi gas rumah kaca hasil aktivitas manusia sejak 1970-an, tambahnya. 

Pemanasan itu menyebabkan kehidupan di bawah laut, terdiri atas plankton, ubur-ubur, ikan, dan penyu bergerak mendekati wilayah kutub, tulis hasil kajian, disiarkan dalam kongres IUCN di Hawaii. 

"Kecepatan perubahan ekosistem di lautan, khususnya terkait rentang pergerakannya, berada di rentang 1,5 sampai lima kali lebih cepat dari kehidupan di daratan. Kisaran tersebut umumnya tidak dapat kembali ke kondisi semula," katanya.

Pola kehidupan hewan migrasi turut terganggu. Misalnya, paus kerap berada di lokasi pembiakkan pada waktu yang salah. 

Bahkan, sejumlah burung laut yang bertelur di Atlantik Utara, kini terlihat menangkap ikan di tempat tak biasa. 

Panas di lautan dapat menembus kedalaman hingga 700 meter. 

"Dampak panas akan berlanjut hingga beberapa dasawarsa, bahkan kemungkinan berabad-abad, walaupun emisi karbon dioksida tak lagi ditemukan," katanya menerangkan. 

Dua negara penyumbang emisi terbesar, China dan Amerika Serikat, pada Sabtu menyatakan mengesahkan isi perjanjian dunia terkait penanggulangan perubahan iklim.

Kesepakatan tersebut bertujuan menghilangkan emisi hingga paruh kedua abad ini. 

Secara keseluruhan, pemanasan global dapat berakibat buruk pada lautan, meskipun tetap ada dampak positifnya, kata kajian itu. 

Tahun ini dianggap sebagai periode terpanas sejak pengukurannya dimulai pada abad ke-19, jelang 2015. 

Akibat lain, pemanasan dunia mengganggu kehidupan karang, yang rentan diputihkan, tambahnya. 

Bahkan, es di wilayah Arktik dapat menghilang pada musim panas dalam lima hingga 15 tahun mendatang.

(Uu.SYS/C/KR-GNT/A/B002) 
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Darmin: Perusahaan sawit dukung pencegahan kebakaran hutan

Darmin: Perusahaan sawit dukung pencegahan kebakaran hutan

Darmin: Perusahaan sawit dukung pencegahan kebakaran hutan
Kebakaran Lahan Gambut Di Riau Sejumlah prajurit TNI AD melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan gambut yang terbakar di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Selasa (30/8/2016). Untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan, satgas kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau terus melakukan pemadaman dari darat maupun udara. (ANTARA /Rony Muharrman) ()
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perusahaan sawit telah berkomitmen untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

"Kita harus mengubah pendekatan dari pemadaman ke pencegahan. Untuk itu, perusahaan perkebunan sawit juga harus memiliki komitmen untuk mendukung," kata Darmin seusai memimpin rapat koordinasi pencegahan kebakaran hutan di Jakarta, Kamis malam.

Hadir dalam rapat koordinasi ini para pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, perwakilan 20 perusahaan sawit terbesar yang ada di Indonesia seperti Grup Sinar Mas, Grup Asia Pulp, Grup Wilmar, Grup Salim, Grup Tripatra, dan Grup Astra.

Darmin mengatakan sebagai wujud komitmen nantinya akan dibuat tim teknis yang bertugas menyusun standar maupun sistem untuk diterapkan bersama oleh seluruh perusahaan perkebunan sawit.

Selanjutnya, bersama dengan pemerintah pusat dan daerah, perusahaan sawit akan membuat suatu model agar desa-desa di sekitar wilayah perkebunan tidak menggunakan api dalam membuka lahan.

Selain itu, juga akan dibuat mekanisme insentif-disinsentif pada masyarakat terutama bagi desa yang dalam setahun tidak mengalami kebakaran.

Kemudian, benteng terakhir dari mekanisme pencegahan ini adalah akan dibuat pusat krisis yang dilengkapi dengan peralatan dan sumber daya manusia yang profesional.

Darmin menegaskan pembuatan standar dan sistem pencegahan kebakaran sangat penting karena hal ini lebih mudah direncanakan daripada harus memadamkan api.

"Prinsipnya adalah perusahaan sawit berkewajiban memenuhi standar berkebun untuk mencegah terjadinya kebakaran," katanya.

Namun, apabila mekanisme peringatan dini sudah dilakukan, tetapi kebakaran tetap terjadi dan perusahaan tidak mampu menanggulanginya, maka mereka harus meminta bantuan pusat krisis.

"Akan dikenai biaya (charge) dan denda untuk hal ini. Bahkan, apabila nanti perusahaan terbukti terlibat dalam kebakaran maka berarti mereka melakukan wanprestasi atas izin yang diberikan," ujar Darmin.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Penerbangan Bandara Dumai tergganggu asap

Penerbangan Bandara Dumai tergganggu asap

Penerbangan Bandara Dumai tergganggu asap
Dokumen foto petugas hanggar mengamati kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mulai meyelimuti Bandara Pinang Kampai, Kota Dumai, Dumai, Provinsi Riau. (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)
 Pelita Air divert ke Pekanbaru karena tidak bisa mendarat di Dumai diakibatkan asap."
Pekanbaru (ANTARA News) - Pesawat Pelita Air rute Jakarta-Dumai terpaksa mengalihkan penerbangan karena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu jarak pandang di Bandar Udara (Bandara) Pinang Kampai, Kota Dumai, Riau, Minggu.

Pelita Air jenis ATR 72 itu akhirnya melakukan pengalihan penerbangan (divert) ke Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II di Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.

"Pelita Air divert ke Pekanbaru karena tidak bisa mendarat di Dumai diakibatkan asap," kata Airport Duty Manager Bandara SSK II, Bambang.

Ia mengatakan pesawat Pelita Air itu mendarat di Bandara Pekanbaru pada pukul 09.30 WIB.

Sejauh ini, menurut dia, penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru masih normal, meski udara diselimuti asap tipis. Jarak pandang pada pagi hari sempat mencapai 1.800 meter, namun berangsur membaik pada pukul 10.00 WIB mencapai 5.000 meter.

Kota Dumai pada Minggu pagi jarak pandangnya sangat buruk karena tercemar asap karhutla. Data dari Satuan Tugas (Satgas) Siaga Darurat Kahutla Riau memperlihatkan, jarak pandang pada pagi hari di Dumai hanya sekitar satu kilometer akibat asap.

Adapun tingkat konsentrasi polutan mencapai 475 atau setara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 369, yang artinya kondisi udara sangat berbahaya akibat tercemar asap, demikian catatan satgas tersebut.
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top