-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menkeu optimistis pertumbuhan 5,3 persen bisa tercapai

Menkeu optimistis pertumbuhan 5,3 persen bisa tercapai

Pewarta: 
Menkeu optimistis pertumbuhan 5,3 persen bisa tercapai
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
 Belanja yang akan mendukung konsumsi kita dorong pada triwulan dua, tiga, dan empat. Ini saya yakin masih bisa diperbaiki," 

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro optimistis asumsi pertumbuhan ekonomi 2016 sebesar 5,3 persen masih bisa tercapai dengan dukungan yang kuat dari sektor konsumsi rumah tangga.

"Belanja yang akan mendukung konsumsi kita dorong pada triwulan dua, tiga, dan empat. Ini saya yakin masih bisa diperbaiki," kata Bambang saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Bambang menjelaskan konsumsi rumah tangga diperkirakan membaik pada kuartal berikutnya yang didukung oleh pemberian gaji 13 dan THR kepada pegawai negeri sipil maupun swasta.

"Konsumsi pemerintah juga diharapkan membaik sejalan dengan penyerapan belanja yang optimal," ujarnya.

Selain itu, kontribusi sektor investasi terhadap pertumbuhan ekonomi juga besar, karena pembangunan proyek infrastruktur telah berjalan dan realisasi paket kebijakan ekonomi mulai memberikan dampak.

"Mudah-mudahan dengan paket kebijakan yang memberikan kemudahan berinvestasi bisa meningkatkan kinerja investasi, terutama dari investor swasta," ujar Bambang.

Namun, sektor ekspor dan impor diperkirakan belum memberikan sumbangan terhadap perekonomian, sebagai imbas dari lesunya harga komoditas dunia, meskipun diproyeksikan akan membaik dan tumbuh moderat.

"Mudah-mudahan ekspor bisa berkurang pertumbuhan negatifnya, sehingga itu bisa berpotensi memperbaiki pertumbuhan di triwulan berikutnya," jelas Bambang.

Pemerintah masih menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen di RAPBNP 2016, atau sama seperti APBN 2016, padahal sejumlah asumsi makro sudah mengalami perubahan atau revisi turun.

Angka proyeksi tersebut dianggap sulit untuk tercapai karena pada triwulan I-2016, perekonomian nasional hanya tumbuh sebesar 4,92 persen.

Sementara itu, asumsi makro yang mengalami perubahan adalah laju inflasi dari sebelumnya 4,7 persen menjadi 4,0 persen serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari Rp13.900 menjadi Rp13.500.

Kemudian, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dari 50 dolar AS menjadi 35 dolar AS per barel, lifting minyak dari 830 ribu barel menjadi 810 ribu barel per hari dan lifting gas dari 1.155 ribu barel menjadi 1.115 ribu barel setara minyak per hari.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Menko Maritim: genjot pertumbuhan untuk tarik investor

Menko Maritim: genjot pertumbuhan untuk tarik investor

Menko Maritim: genjot pertumbuhan untuk tarik investor
Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

"Percuma kita bolak-balik mengundang perusahaan asing di dalam negeri. Karena asing tidak bodoh," kata Rizal Ramli dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa,

Menurut Rizal, dengan pertumbuhan Indonesia hanya sekitar 5 persen tak akan membuat investasi mengalir deras ke dalam negeri. 

Pasalnya, ujar dia, investor lebih tertarik ke India dan China yang pertumbuhannya di atas 7 persen.
Sebagaimana diberitakan, Ekonom HSBC untuk ASEAN, Su Sian Lim mengatakan masih lemahnya perekonomian Tiongkok akan mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara karena permintaan ekspor dan investasi menurun, meskipun setiap negara memiliki paparan resiko yang berbeda-beda.

"Selain itu, prospek normalisasi Amerika Serikat juga memiliki dampak pada kawasan ini. Anggota ASEAN harus menghadapi potensi risiko domestik dan eksternal untuk mempertahankan dorongan pertumbuhan," katanya di Jakarta, Kamis (12/5).

Keikutsertaan Indonesia dalam MEA, tambahnya di sela-sela acara HSBC Economic Outlook 2016 berjudul "ASEAN Economic Community: Indonesia to Punch Above Its Weight", merupakan tonggak utama dalam memberikan kontribusi terhadap tujuan kemakmuran bersama.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan pengeluaran belanja pemerintah yang mendukung realisasi investasi menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi triwulan I-2016 mencapai 4,92 persen (yoy).
"Tingginya realisasi investasi berupa bangunan dan konstruksi lain, termasuk belanja modal mengalami ekspansi signifikan," kata Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/5).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi triwulan I juga didukung oleh konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang tumbuh 6,38 persen dan realisasi konsumsi pemerintah yang tumbuh 2,93 persen.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Pertumbuhan industri otomotif dinilai semakin baik

Pertumbuhan industri otomotif dinilai semakin baik

Pertumbuhan industri otomotif dinilai semakin baik
Dokumentasi sejumlah pekerja melakukan perakitan atas sepeda motor jenis All New Honda Beat ESP di Pabrik PT Astra Honda Motor (AHM) terbaru yang baru saja diresmikan di Karawang, Jawa Barat, Kamis. (www.antaranews.com/Gilang Galiartha)
 ... di Vietnam ada insentif, investornya akan lari ke sana. Jadi kami harus berlomba dengan mereka...

Solo (ANTARA News) - Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan, pertumbuhan industri otomotif di Indonesia semakin membaik ditandai dengan penambahan investasi pabrikan otomotif di Tanah Air.

"Industri otomotif memang pertumbuhannya baik. Salah satunya karena Toyota berinvestasi mulai 2015 sampai 2019 dengan nilai sekitar Rp20 triliun," kata Husin, usai Rapat Koordinasi Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri, di Solo, Jawa Tengah, Kamis.

"Pada 2015 mereka sudah mengeluarkan Rp5 triliun dan pada 2016 ini akan menambah investasi Rp5,4 triliun," lanjut Husin.
Menurut data Kementerian Perindustrian, Toyota menguasai 31 sampai 32 persen pasar di Indonesia. Toyota telah mewujudkan investasi Rp40 triliun di Indonesia hingga 2014 sedangkan untuk periode 2015 sampai 2019 Toyota tengah merampungkan pabrik mesin di Karawang.

Husin juga mengapresiasi langkah pabrikan otomotif lain yang serius berinvestasi di Indonesia dengan membuka pabrik baru baik untuk perakitan maupun suku cadang.

"Mitsubishi sudah membangun pabrik baru dengan nilai investasi Rp6 triliun, Isuzu Rp3,5 triliun dan Wuling (pabrikan Tiongkok) mengeluarkan nilai investasi Rp11 triliun," jelas Husin.

Dia mengaku telah berkoordinasi dengan kementerian lain untuk menjaga iklim investasi di Indonesia tetap kondusif sehingga investor tidak lari ke negara tetangga.

"Jika di Vietnam ada insentif, investornya akan lari ke sana. Jadi kami harus berlomba dengan mereka. Pada intinya kami berkoordinasi lintas kementerian guna menciptakan iklim investasi dunia usaha agar lebih kondusif dan nyaman," kata dia.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 sebesar 4,79 persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 sebesar 4,79 persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 sebesar 4,79 persen
Pekerja menggarap pembangunan hunian vertikal di Jakarta, Senin (28/12). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/15

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 sebesar 4,79 persen, setelah perekonomian nasional pada triwulan IV-2015 tumbuh 5,04 persen (yoy), kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Jumat. 

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2015 mencapai 4,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi Kementerian Keuangan sebesar 4,74 persen.

Pertumbuhan ekonomi 2015 itu berada di bawa asumsi APBNP 2015 sebesar 5,7 persen,


(S034/A026) 
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top