-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Peserta bisa cairkan dana JHT di BTN

Peserta bisa cairkan dana JHT di BTN

Peserta bisa cairkan dana JHT di BTN
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta (ANTARA News) - Pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan yang ingin mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) kini juga bisa dilakukan di Bank BTN, di samping Bank BRI dan Bank Mandiri agar tak perlu antri lama di kantor cabang.

Siaran pers BPJS Ketenagakerjaan yang diterima di Jakarta, Jumat, menyatakan pihaknya menandatangani kerja sama dengan BTN tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan "service point office" (SPO) yang memungkinkan peserta mengajukan pencairan JHT di bank tersebut.

Sebelumnya BPJS Ketenagakerjaan bekerjasama dengan Bank BRI dan Bank BNI dalam melakukan layanan SPO untuk peserta jaminan sosial.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto, dalam acara penandatanganan PKS di Ruang Serba Guna Menara Jamsostek, menyatakan jumlah peserta yng mengajukan klaim JHT meningkat signifikan sehingga terjadi antrian.

BPJS Ketenagakerjaan selama Januari hingga April 2016 saja sudah mencairkan dana JHT sebesar Rp6,5 triliun.

"Kerjasama ini sangat baik karena mendukung pelayanan kami agar tetap prima kepada peserta, apalagi seperti saat ini jumlah permintaan klaim JHT meningkat signifikan," kata Agus.

Terbitnya PP No.46 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Jaminan Hari Tua yang disusul kemudian dengan revisi atas aturan tersebut melalui PP No. 60 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Jaminan Hari Tua, memungkin akan peserta mencairkan 30 persen dana JHT-nya.

PP itu juga memungkinkan peserta bermasa kerja kurang dari lima tahun yang putus hubungan kerjanya (PHK) dengan perusahaan, bisa mengambil dana JHT-nya.

Akibatnya, terjadi lonjakan antrian meski kantor cabang sudah dibuka pada hari Sabtu dan Minggu.

"Kerjasama ini sangat membantu mengurai antrian panjang di kantor cabang kami, jadi peserta bisa datang ke Bank yang telah bekerjasama seperti Bank BRI, Bank BNI dan ditambah sekarang dengan Bank BTN," ujar Agus.

PKS BPJS Ketenagakerjaan SPO ini ditandatangani oleh Agus Susanto, selaku Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan dengan Maryono, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Lingkup kerjasama meliputi pemberian informasi mengenai BPJS Ketenagakerjaan, pendaftaran peserta baru, perekaman data pendaftaran perusahaan hingga perekaman data tenaga kerja dan keluarganya, penerimaan pembayaran iuran pertama dan iuran bulanan peserta BPJS Ketenagakerjaan, penerimaan berkas klaim dana JHT peserta dan pembayaran klaim JHT peserta.

"Jadi peserta atau calon peserta cukup datang ke kantor cabang bank yang berkerjasama dengan kami untuk mendapatkan informasi program, pendaftaran, pembayaran iuran hingga klaim dana JHT mereka," demikian Agus. ***3***

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Peserta Kemah Wirakarya belajar toleransi di pura, gereja dan vihara

Peserta Kemah Wirakarya belajar toleransi di pura, gereja dan vihara

Peserta Kemah Wirakarya belajar toleransi di pura, gereja dan vihara
Peserta Perkemahan Wirakarya mengunjungi beberapa rumah ibadah, di antaranya Vihara Eka Dharma Manggala. (Humas Kemenag)

Kendari (ANTARA News) - Sekitar 200 mahasiswa peserta Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW PTK) XIII di Bumi Perkemahan IAIN Kendari, Jumat, belajar toleransi dengan mendatangi pura, gereja, dan vihara.

Pertama mereka bertemu dengan Dewa Made Sute (70) imam Pura Wawa yang berasal dari Pulau Dewata. Ia sudah menetap di Kendari sejak 1979 melalui program transmigrasi. Mengenakan kemeja tebal warna putih lengan panjang, Made Sute menerima mahasiswa UIN, IAIN, STAIN, dan PTK Swasta.

Kepada mereka, Made Sute berbagi cerita bahwa Pura yang berlokasi di THR Kota Kendari ini memiliki kurang lebih 200 jamaah yang melakukan ibadah tiap tanggal 15 bulan purnama atau yang dikenal dengan bulan mati. Selain sebagai tempat ibadah, Pura ini sering dijadikan tempat diskusi dan dialog forum lintas agama. 

“Gubernur Sulawesi Tenggara dan Walikota Kendari kerap berkenan mengunjungi Pura yang cukup besar ini,” tuturnya dalam siaran pers Kemenag, Jumat.

Bagi Made Sute, kedatangan peserta PW PTK ke Pure merupakan kehormatan. Langkah seperti ini penting untuk lebih saling memahami perbedaan, sekaligus sarana mengembangkan kebersamaan, menghargai, dan tolong-menolong. Dewa Made mengaku kalau keluarganya juga sangat menghormati perbedan. 

“Saya mempunyai menantu beragama Islam, dan sudah terbiasa hidup bersama lintas iman. Karena aturan agama kami, seorang istri harus mengikuti suaminya, maka anak saya yang perempuan  ketika mempunyai suami orang beragama Islam, dia pun ikut suaminya,” kata Dewa Made Sute.

Kunjungan berikutnya ke Gereja Ora Etlabora yang lokasinya bersebelahan dengan Masjid Agung Al-Kautsar Kota Kendari. Kali ini, mahasiwa peserta PW PTK diterima Pendeta Agustinus Alimin dan salah satu Pengurus Majelis Jemaat, Petrus Sidupa. 

Gereja Era Etlabora yang memiliki jamaah sekitar 365 orang dibangun pada tahun 1963. Ibadah rutinnya dilakukan jam 07.00 sampai jam 11.00 pagi dan sore hari jam 17.00 sampai jam 19.00. Gereja dikelola oleh Majelis Jemaat yang beranggotakan 58 orang yang bertugas secara bergantian. Alimin menuturkan bahwa tiap bulan gereja dapat menghimpun dana dari jamaah hingga Rp2 miliar, bahkan kadang lebih.

Pendeta Alimin menyambut positif kegiatan anjang sana para mahasiswa ke rumah-rumah ibadah. “Sering-seringlah berkunjung kemari dan saya amat senang. Umat Kristiani juga saya kira senang sekali dengan kedatangan kalian semua,” kata Alimin.

Pendeta Asal Makassar ini mengaku siap bekerjasama dalam aksi-aksi sosial, membangun rumah ibadah, masjid, terlibat dalam menyiapkan MTQ, dan juga membangun fasilitas umum lainnya. 

“Dialog dan kerjasama harus menjadi komitmen bersama untuk mempererat persaudaraan kita, yang hidup di negara kesatuan dengan beragam agama, suku, ras dan antar golongan,” kata Alimin.

Pendeta Alimin juga sempat bercerita tentang keluarganya yang  majemuk. “Bapak saya beragama Islam, ibu saya Kristen. Kami sepuluh bersaudara, enam di antaranya Muslim dan empat orang Kristen. Semua hidup rukun saling mendukung,” kisahnya.

Selanjutnya mereka mengunjungi Vihara “Eka Dharma Manggala” yang berlokasi di teluk Kendari. Vihara ini adalah satu dari 4 Vihara yang ada di Kota Kendari. Dibangun pada tahun 1997 dan baru diresmikan 7 tahun kemudian, tepatnya pada Desember tahun 2003. Berdiri di atas tanah 1,7 Ha, vihara ini mempunyai tempat peribadatan 2 lantai yang cukup besar. Tercatat ada sekitar 500 jamaah yang beribadah di tempat ini. 

Pengalaman tersendiri

Berkunjung ke Pura memberi pengalaman tersendiri bagi  Musthofa, mahasiswa asal Afganistan. Musthofa yang kini  duduk di Semster VI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengaku  terkesan dengan kerukunan di Indonesia. “Saya tidak bisa membayangkan di negeri kami Afganistan bisa mengunjungi pura, vihara, dan gereja,” katanya.

Kegiatan semacam ini bagi Musthofa penting untuk mengembangkan semangat toleransi antar umat beragama. “Negara-negara Muslim harus belajar dari Indonesia dalam membangun kehidupan yang rukun, damai,” kata Musthofa.  

Hal sama dirasakan Ade, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUAD) IAIN Langsa Aceh Timur. Berkunjung ke  Pura Wawa adalah pengalaman pertamanya. Sebagai mahasiswa Ushuluddin, Ade mengaku belajar tentang  perbandingan agama dan ajaran agar hidup saling memahami dan menghargai perbedaan.  “Nah ini bagi saya implelemtasi dari ilmu yang saya pelajari di IAIN,” kata Ade.

Kunjungan ke Rumah Ibadah diakhiri di Masjid Agung Al-Firdaus yang bersebelahan dengan Gereja Ora Etlabora. 
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Tahun ini peserta UN SMA berbasis komputer jauh lebih banyak

Tahun ini peserta UN SMA berbasis komputer jauh lebih banyak


Tahun ini peserta UN SMA berbasis komputer jauh lebih banyak
Mendikbud Anies Baswedan (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan sampai detik ini persiapan logistik menjelang Ujian Nasional SMA/MA dan SMK pada 4 April 2016 berjalan lancar sampai di mana peserta ujian berbasis komputer jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumya.

"Persiapan logistik dan lain-lain berjalan lancar dan tahun ini kita menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer di banyak sekolah jadi jauh lebih banyak jangkauannya," kata Anies di sela acara "Kelas Inspirasi Sineas (KIS) Sebagai Rangkaian Peringatan Hari Film Nasionl (HFN)" di SMK Negeri 57, Jakarta.

Ia mengungkapkan sekitar 960 ribu anak akan mengikuti UN berbasis komputer.


"Jadi, lebih banyak dari pada tes masuk perguruan tinggi, tes masuk perguruan tinggi hanya 600 ribu anak itu aja masih belum menggunakan komputer, ini kita sudah menggunakan komputer untuk 960 ribu anak. Dengan menggunakan komputer, kualitas soal Insya Allah bisa ditingkatkan," kata Anies.

Menurut Anies, apabila soalnya memakai kertas, jawabannya selalu pilihan ganda, namun kalau menggunakan komputer jawaban bisa dengan gambar dan tulisan sehingga jauh lebih kaya.

"Jadi, Alhamdulillah persiapannya baik. Insya Allah Senin (4/4) berjalan dengan baik, mohon doanya," ucap Anies.

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Peserta IMT 2015 akan arungi Sungai Musi

Peserta IMT 2015 akan arungi Sungai Musi

Peserta IMT 2015 akan arungi Sungai Musi
Perahu tradisional bersandar di pinggir Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan, Senin (2/11). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) 
 
Jakarta (ANTARA News) - Lima belas tim dari dalam dan luar negeri yang menjadi peserta International Musi Triboatton (IMT) IV 2015 akan mengarungi 500 kilometer Sungai Musi pada 15 -19 Desember 2015.

Menurut siaran pers Kementerian Pariwisata, Senin, kegiatan itu diikuti oleh tim-tim dari dalam negeri serta dari negara tetangga Singapura, Malaysia, Hong Kong, Filipina dan Brunei Darussalam akan berperahu melewati Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas, dan Empat Lawang.

IMT 2015 merupakan gabungan wisata penjelajahan sungai dengan lomba dayung variatif. Ada tiga jenis perahu yang digunakan dalam ajang itu yakni perahu sungai, kayak dan perahu tradisional (perahu naga).

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Sungai Musi, yang merupakan ikon pariwisata Sumatera Selatan, akan dijadikan sebagai beranda depan Indonesia.

Pemerintah berencana menggelar berbagai ancara internasional seperti IMT untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara ke Musi.

Arief ingin Sungai Musi bisa menjadi seperti Borobudur di Yogyakarta atau Danau Toba di Sumatera Utara.

"Setiap destinasi wisata harus punya ikon. Ikon Sumsel adalah Sungai Musi, dan ini harus dijaga karena ketika menjadi ikon maka turis asing akan mudah mengenal destinasi wisata itu," kata dia.

Acara olahraga, ia melanjutkan, merupakan sarana efektif untuk mempromosikan potensi pariwisata minat khusus yang menggabungkan potensi alam, budaya, dan buatan.

"IMT diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi pariwisata secara langsung kepada masyarakat serta membantu mempromosikan pariwisata Sumsel ke dunia," kata Arief Yahya.
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top