-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Pesawat Rusia dengan 3 kosmonot mendarat di Kazakhstan

Pesawat Rusia dengan 3 kosmonot mendarat di Kazakhstan

Pesawat Rusia dengan 3 kosmonot mendarat di Kazakhstan
Dokumentasi: Astronot Amerika Serikat Scott Kelly (kanan) dan kosmonot Rusia Sergei Volkov (tengah) dan Mikhail Korniyenko, dikelilingi personel darat, beristirahat beberapa saat setelah mendarat di dekat kota Dzhezkazgan (Zhezkazgan), Kazakhstan, Rabu (2/3/2016). (REUTERS/Kirill Kudryavtsev)
Moskow (ANTARA News) - Pesawat ruang angkasa Rusia Soyuz TMA-20M dengan tiga awak kosmonot atau astronot mendarat di Kazakhstan, demikian disampaikan kantor berita Rusia TASS dilansir Xinhua.

Tim Pencarian dan Penyelamatan berangkat ke tempat pendaratan untuk mengevakuasi awak keluar dari kapsul usai pendaratan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Kosmonot Rusia Alexey Ovchinin, Oleg Skripochka dan astronot Amerika Serikat Jeffrey Williams pergi ke orbit pada 19 Maret dan menghabiskan 172 hari di luar angkasa.

Ini adalah penerbangan ruang angkasa pertama untuk Ovchinin, kedua untuk Skripochka dan keempat untuk Williams.

Pesawat ruang angkasa Soyuz berikutnya dengan kosmonot Rusia Sergey Ryzhikov , Andrey Borisenko dan AS astronot Robert S. Kimbrough akan terbang ke ISS pada 23 September.


Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kehidupan di Bumi lebih tua dari perkiraan

Kehidupan di Bumi lebih tua dari perkiraan

Kehidupan di Bumi lebih tua dari perkiraan
Planet Bumi. (NASA)
Sydney (ANTARA News) - Kehidupan di Bumi lebih tua dari perkiraan sebelumnya menurut para ilmuwan Australia yang pada Kamis (1/9) mengungkap temuan fosil baru berusia 3,7 miliar tahun.

Struktur fosil yang disebut stromatolit itu tersimpan di bebatuan kuno di sepanjang tepian tudung es Greenland dan berusia 220 juta tahun lebih tua dari pemegang rekor sebelumnya.

Fosil-fosil itu membuktikan bahwa kehidupan muncul hanya beberapa ratus tahun setelah Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, kata ketua peneliti Allen Nutman dari University of Wollongong tentang temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature.

"Penemuan ini merepresentasikan patokan baru bukti tertua kehidupan yang ada di Bumi," kata Profesor Martin Julian Van Kranendonk, pakar geologi di University of New South Wales dan salah satu penulis studi itu dalam sebuah pernyataan.
"Struktur dan geokimia dari singkapan yang baru ditemukan di Greenland tersebut menunjukkan semua fitur yang digunakan dalam batuan lebih muda untuk mendebat asal biologis. Itu merujuk pada kemunculan cepat kehidupan di Bumi."
Stromatolit Isua sebesar satu sampai empat centimeter yang ditemukan setelah salju di Isua Greenstone Belt mencair itu cocok dengan bukti biologis lain dalam evolusi kode genetik yang menempatkan asal mula kehidupan di periode yang sama, kata Nutman.
Ia menambahkan penemuan itu bisa membantu perburuan untuk kehidupan di Mars, yang dianggap sebagai lokasi yang mungkin sesuai untuk bentuk kehidupan mikrobial ketimbang planet lain dalam Tata Surya.

Planet Merah diyakini pernah dialiri air dan memiliki atmosfer, yang bersama dengan kehangatan akan menyediakan kondisi yang tepat untuk kehidupan bakteri.

"Arti penting Mars itu 3.700 juta tahun lalu, Mars mungkin masih basah dan mungkin punya samudra dan lainnya, jadi jika kehidupan berkembang secepat di Bumi sehingga bisa membentuk hal-hal seperti stromatolit, mungkin akan lebih mudah mendeteksi tanda-tanda kehidupan di Mars," kata Nutman kepada kantor berita AFP.
"Alih-alih melihat hanya pada tanda kimia, kita bisa melihat hal-hal seperti stromatolit di foto-foto yang dikirim kembali ke Bumi (dari Mars)."

Bukti kehidupan paling awal Bumi sebelum penemuan Greenland didapat tahun 2006, ketika peneliti Australia dan Kanada mendapati usia mikrofosil dalam bebatuan dari formasi Strelley Pool Chert di Pilbara lebih dari 3,4 miliar tahun.(mu)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Sinyal radio asing picu diskusi tentang makhluk luar angkasa

Sinyal radio asing picu diskusi tentang makhluk luar angkasa

Sinyal radio asing picu diskusi tentang makhluk luar angkasa
Wahana ruang angkasa Philae terlihat setelah mendarat di sebuah komet bernama 67P/Churyumov-Gerasimenko, pada 13 November 2014. (Reuters)
 ... tidak mengatakan apapun terkait hal itu selama lebih dari satu tahun. Jika kami menangkap sinyal, kami akan memeriksanya dan memanggil para pakar astronomi untuk memeriksanya...
Cape Canaveral, Florida (ANTARA News) - Satu sinyal radio yang diterima teleskop kemungkinan bukanlah transmisi dari kehidupan luar angkasa, namun para pakar astronomi di California meninjau ulang hal itu, sebagaimana dinyatakan Institut SETI, Selasa (Rabu WIB).

Sekelompok pakar astronomi Rusia pada tahun lalu mendeteksi apa yang tampak sebagai sebuah sinyal radio non-alami di sebuah lokasi sistem perbintangan yang berjarak 94 tahun cahaya dari Bumi.

Temuan mereka muncul setelah peneliti asal Italia, Claudio Maccone, yang memimpin komite Akademi Astronot Internasional dalam Pencarian Kehidupan Luar Angkasa, atau SETI, mengatakan kepada para rekannya terkait presentasi yang dia dengar tentang sinyal itu, ujar Seth Shostak, seorang petinggi di Institut SETI.
"Saya tidak merasa kami menganggapnya serius. Pihak Rusia memantau arah ini sebanyak 39 kali dan kami dapat mengatakan bahwa mereka menemukannya satu kali," katanya.
Diperkirakan, sinyal radio itu disebabkan gangguan di Bumi atau satelit, yang merupakan kejadian yang biasa, kata Shostak, kepada wartawan Reuters.
Jika pihak Rusia memperkirakan mereka mendapatkan sinyal dari ET (Extra Terrestrial/kehidupan luar angkasa), ujarnya, mereka diperkirakan juga akan membukanya lebih dahulu.

"Mereka tidak mengatakan apapun terkait hal itu selama lebih dari satu tahun. Jika kami menangkap sinyal, kami akan memeriksanya dan memanggil para pakar astronomi untuk memeriksanya," Shostak mengatakan.

Meskipun demikian, para pakar astronomi dari SETI telah menghabiskan dua malam sebelumnya menggunakan serangkaian teleskop radio di California untuk mempelajari bintang yang dicurigai, yang diberi nama HD 164595, yang memiliki satu planet yang diketahui di orbitnya.

Planet itu memiliki ukuran sekitar sebesar planet Neptunus, namun berevolusi mengitari bintangnya lebih dekat daripada planet merkurius yang mengitari matahari. HD 164595 dapat memiliki planet lain di orbitnya yang lebih pas untuk memiliki sumber air, yang diyakini merupakan sebuah kebutuhan bagi kehidupan.

Sejauh ini, meskipun demikian, para pakar astronomi belum mendeteksi sinyal tak biasa apapun dari bintang tersebut, ujar Shostak.

"Kami harus sangat berhati-hati agar tidak sinis terhadap alarm palsu," ujarnya. "Mudah untuk mengatakan 'Sial, itu hanyalah kasus gangguan lainnya', namun itu beresiko untuk tidak memperhatikannya saat anda seharusnya memperhatikannya," tambahnya.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
China perlihatkan foto robot penjelajah untuk misi Mars 2020

China perlihatkan foto robot penjelajah untuk misi Mars 2020

China perlihatkan foto robot penjelajah untuk misi Mars 2020
Foto Planet Mars yang diambil Teleskop Antariksa Hubble ketika planet itu berada 50 juta mil dari Bumi pada 12 Mei 2016. (NASA/ESA/the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)/J. Bell (ASU)/M. Wolff (Space Science Institute))
Beijing (ANTARA News) - China memperlihatkan foto pertama robot penjelajah yang akan dikirim ke Mars pertengahan 2020 untuk menjelajahi permukaan planet itu.

China pada 2003 menjadi negara ketiga yang mampu menerbangkan manusia ke luar angkasa dengan roketnya sendiri setelah Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Negara itu telah mengumumkan rencana penjelajahan bulan, dan pada akhir 2013 menyelesaikan "pendaratan halus" pertama di sana sejak n1976 dengan pesawat Chang'e-3 serta robot penjelajah Jade Rabbit.

Misi antariksa berawak China terkini dijadwalkan mulai Oktober dan ditujukan untuk pendaratan manusia ke bulan pada 2036.

Kantor berita Xinhua, Selasa, melaporkan, robot penjelajah seberat 200 kilogram dengan enam roda itu akan ditenagai empat panel surya, dua kali lebih besar dari robot penjelajah China ke bulan dan 60 kilogram lebih berat.

"Tantangan yang dihadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Zhang Rongqiao, kepala perancang misi ke Mars kepada Xinhua.

Robot itu akan membawa 13 perangkat, termasuk kamera penginderaan jauh dan radar penembus daratan dalam misi tiga bulan yang rencananya diluncurkan dalam bulan Juli atau Agustus 2020.

"Pendarat akan terpisah dari orbiter pada akhir perjalanan selama sekitar tujuh bulan dan mendarat area dataran rendah di belahan utara Mars tempat kendaraan penjelajah mengeksplorasi permukaan planet" menurut laporan Xinhua.

The Beijing News menambahkan bahwa belahan utara Mars bukan tempat yang baik menggunakan tenaga matahari seperti di ekuator, tetapi kondisi geografisnya lebih bagus.

Memajukan program antariksa China menjadi prioritas bagi Beijing, dengan Presiden Xi Jinping menginginkan China membangun kekuatan luar angkasanya sendiri.

China berkukuh programnya untuk tujuan damai, tapi Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah menyorot peningkatan kemampuan luar angkasa China, menyebut negara itu bermaksud mencegah musuh menggunakan aset luar angkasa saat krisis.

Terpisah dari ambisi warganya, Beijing telah menguji misil anti-satelit, dan Kongres Amerika Serikat melarang Badan Aeronautika dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bekerja sama dengan timpalannya di China karena kekhawatiran terkait keamanan, demikian menurut siaran kantor berita Reuters. (Uu. KR-GNT)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Ilmuwan beralih ke citra satelit untuk petakan kemiskinan

Ilmuwan beralih ke citra satelit untuk petakan kemiskinan

Ilmuwan beralih ke citra satelit untuk petakan kemiskinan
Citra Bumi pada malam hari berdasarkan data-data dari satelit Suomi NPP pada April dan Oktober 2012. (NASA Earth Observatory/Robert Simmon)
Washington (ANTARA News) - Menemukan orang yang hidup dalam kemiskinan, seperti melalui survei dari pintu ke pintu, kadangkala sulit dilakukan dan bahkan berbahaya di Benua Afrika, karenanya para ilmuwan kini beralih ke citra satelit.

Dalam studi yang disiarkan Kamis (18/8) di jurnal Science, para peneliti dari Stanford University menggunakan pembelajaran mesin--ilmu pengetahuan mengenai rancangan algoritma komputer yang diperoleh dari data-- untuk mengumpulkan keterangan mengenai kemiskinan dari citra satelit dengan resolusi tinggi.

Mereka mendapati pendekatan yang baru dikembangkan tersebut bisa "membuat perkiraan cukup akurat" mengenai daerah-daerah miskin di seluruh lima negara Afrika: Nigeria, Tanzania, Uganda, Malawi dan Rwanda.

"Metode kami, yang hanya memerlukan data yang tersedia bagi publik, bisa mengubah upaya untuk melacak dan membidik kemiskinan di negara berkembang," kata para ilmuwan dalam makalah mereka yang dikutip kantor berita Xinhua.

Menurut data Bank Dunia dari 2000 sampai 2010, 39 dari 59 negara Afrika melakukan kurang dari dua survei, yang menjadi rujukan dalam pembuatan kebijakan penanganan kemiskinan nasional.

Secara keseluruhan, survei mahal, tidak sering, dan tidak selalu bisa menjangkau negara atau wilayah di dalam negeri, misalnya, gara-gara konflik bersenjata.

Studi-studi terbaru memperlihatkan data-data satelit yang menangkap cahaya pada malam hari dapat digunakan untuk memperkirakan kekayaan di daerah tertentu.

Namun demikian data cahaya pada malam hari saja tidak efektif membedakan wilayah-wilayah yang berada di tempat paling bawah dalam sebaran penghasilan, tempat citra satelie tampak gelap secara serempak.

Untuk memangkas masalah tersebut, studi baru itu mengalihkan perhatiannya ke citra siang hari, yang memberikan resolusi lebih tinggi dan dapat menangkap pola seperti jalan yang diaspal dan atap-atap logam, penanda yang dapat membantu membedakan wilayah miskin dan sangat-miskin.

Para peneliti kemudian mengembangkan algoritma pembelajaran canggih yang mengkategorikan pola itu dan mendapati metode tersebut melakukan pekerjaan yang sangat mengejutkan dalam memperkirakan sebaran kemiskinan.
Dibandingkan dengan model cahaya malam hari, model baru tersebut 81 persen lebih akurat dalam memperkirakan kemiskinan di berbagai wilayah di bawah garis kemiskinan, dan 99 persen lebih akurat di berbagai daerah yang dua kali di bawah garis kemiskinan.

"Kami menunjukkan metode yang akurat, tidak mahal dan terukur bagi perkiraan biaya konsumsi dan kekayaan aset dari citra satelit beresolusi tinggi," demikian kesimpulan studi tersebut. (Uu.C003)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top