-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menaker: sektor pariwisata paling siap hadapi MEA

Menaker: sektor pariwisata paling siap hadapi MEA

 | 1.035 Views
Menaker: sektor pariwisata paling siap hadapi MEA
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
 Kompetensi mereka tidak kalah, apalagi ditunjang dengan sekolah-sekolah pariwisata yang menghasilkan lulusan yang siap bekerja

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menilai tenaga kerja sektor pariwisata paling siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dari segi kualitas dan kuantitas.

"Mereka paling siap menghadapi MEA. Standar kompetensinya sudah sama dengan negara-negara lain. Sebagai contoh standar cleaning service di hotel A pasti sama dengan hotel B di negara lain," ujar Hanif di kantor Kementerian Ketenagakerjaan di Jakarta, Kamis.

Hanif yakin para pekerja sektor pariwisata Indonesia siap bersaing dengan tenaga kerja dari negara ASEAN, berbekal kompetensi kerja dan sertifikasi.

Sektor pariwisata merupakan salah satu dari delapan bidang profesi yang telah disepakati dalam kesepakatan pengakuan bersama (Mutual Recognition Agreement/MRA) dalam penerapan MEA yang dimulai 31 Desember 2015.

Profesi lainnya dalam MRA adalah insinyur, arsitek, akuntan, dokter gigi, tenaga survei, praktisi medis dan perawat.

Menaker mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pariwisata dan pihak terkait lain bekerja sama untuk meningkatkan kompetensi kerja para tenaga kerja yang bergerak di bidang pariwisata, termasuk menyiapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Saat ini, banyak tenaga kerja sektor pariwisata asal Indonesia yang bekerja di negara-negara ASEAN.

"Kompetensi mereka tidak kalah, apalagi ditunjang dengan sekolah-sekolah pariwisata yang menghasilkan lulusan yang siap bekerja," kata Hanif.

Untuk menghadapi persaingan dengan negara lain, Menaker mengatakan persiapan SDM yang kompeten dan profesional merupakan modal utama untuk bisa unggul.

"Di sinilah peranan lembaga pendidikan dan pelatihan menjadi sangat vital untuk meningkatkan daya saing pekerja Indonesia," kata Hanif.

Kurangi pengangguran

Menaker menilai MEA bisa menjadi solusi mengurangi pengangguran.

Selain sebagai lalu lintas tenaga kerja, MEA juga membuat lalu lintas barang, jasa dan modal menjadi lebih terbuka.

Artinya, arus investasi akan lebih mudah dan pemerintah membuat sejumlah terobosan untuk memberikan kemudahan pada investasi melalui paket-paket kebijakan ekonomi.

"Dengan semakin banyaknya investasi masuk, perluasan kesempatan kerja akan semakin besar. Tapi ini harus diiringi dengan percepatan peningkatan kompetensi karena itu salah satu masalah pengangguran di Indonesia," kata Hanif.

Lebih jauh Menaker juga berharap masyarakat Indonesia melihat MEA sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing di berbagai bidang dan memenangkan kompetisi tersebut.

"Semoga dengan ikut serta dalam MEA, kita bisa menjadi salah satu tokoh utama di dalam percaturan pasar global mewakili ASEAN," harapnya.

Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Sektor pariwisata sumbang 45 persen PAD Wakatobi

Sektor pariwisata sumbang 45 persen PAD Wakatobi


Sektor pariwisata sumbang 45 persen PAD Wakatobi
Puluhan warga mengangkat perahu berisi dua boneka dan hasil bumi untuk dilarungkan di Pantai Wangi-Wangi, Wakatobi, Sultra, Kamis (21/8). Bangka Mbule-mbule adalah ritual penolak bala yang dilakukan dengan cara mengarak perahu berisi berbagai hasil bumi dengan hiasan sepasang orang-orangan sebagai simbol kejahatan berkeliling kampung sebelum dilarungkan ke laut. (ANTARA FOTO/Ekho Ardiyanto)
 
Wangiwangi, Sultra, (ANTARA News) - Sektor Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) menyumbang penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 45 persen atau Rp16,6 miliar dari total PAD tahun 2015 sebesar Rp37 miliar.

"Sumbangan PAD dari sektor pariwisata yang cukup besar berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun ke daerah ini," kata Bupati Wakatobi, Hugua, di Wangiwangi, Sabtu.

Sebelumnya, katanya, sumbangan sektor pariwisata terhadap PAD Wakatobi hanya sebesar 11-15 persen per tahun dengan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 3.000-5.000 orang per tahun.

Wakatobi memperoleh sumbangan penerimaan pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 45 persen, kata dia, setelah jumlah kunjungan wisatawan mencapai 17.000 orang pada tahun 2015.

"Tahun depan, jumlah kunjungan wisatawan kita prediksi bisa mencapai sekitar 17.000-25.000 orang, karena Wakatobi saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu daerah dari 10 daerah destinasi pariwisata Indonesia," katanya.
Menurut dia, dengan penetapakan Wakatobi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, diyakini Wakatobi dapat berkontribusi pada target kunjungan wisata nasional yang ditargetkan pemerintah 12 juta wisatawan.

Ia mengatakan, di tahun 2015 Wakatobi mendapat kucuran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp569 miliar.

Sebagian besar dari dana tersebut, kata dia, diarahkan untuk membiayai lima program utama pembangunan di Wakatobi.

"Kelima program utama tersebut yakni, reformasi birokrasi, peningkatan mutu pendidikan dan kesehatan, penanggulangan kemiskinan, pembangunan infrastruktur wilayah serta tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam," katanya.
Kelima program utama tersebut, katanya, dikembangkan dalam upaya mendukung dua sektor prioritas yang menjadi andalan Wakatobi, yakni sektor pariwisata dan sektor kelautan dan perikanan.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top