-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Gempa guguran dominasi aktivitas vulkanik Gunung Soputan

Gempa guguran dominasi aktivitas vulkanik Gunung Soputan


"Tingkat aktivitas Gunung Soputan saat ini adalah waspada level II," kata Pengamat Asep Saefuloh di Tomohon, Sabtu.

Asep menambahkan, kegempaan yang terekam pada periode tersebut yaitu satu kali tektonik jauh amplitudo amax 11 milimeter dengan durasi 135 detik, selanjutnya dua kali tektonik lokal amax 60 mm selama 65-78 detik.
Tomohon (ANTARA News) - Gempa guguran masih mendominasi aktivitas vulkanik Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara/Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (Sulut) pada Jumat (19/8), kemarin.

"Tingkat aktivitas Gunung Soputan saat ini adalah waspada level II," kata Pengamat Asep Saefuloh di Tomohon, Sabtu.

Asep menambahkan, kegempaan yang terekam pada periode tersebut yaitu satu kali tektonik jauh amplitudo amax 11 milimeter dengan durasi 135 detik, selanjutnya dua kali tektonik lokal amax 60 mm selama 65-78 detik.

Terekam pula satu kali gempa embusan amax 46 milimeter selama 20 detik serta 29 kali guguran amax 4-60 milimeter selama 10-110 detik.

"Secara visual Gunung Soputan tampak jelas dan teramati asap kawah putih tipis diperkirakan setinggi 25 meter," ujarnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, kata dia, merekomendasikan masyarakat dan pengunjung agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari puncak dan di dalam wilayah sektor arah barat-barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Pada bulan Januari dan Februari tahun 2016, salah satu gunung api aktif di Sulut selain Gunung Lokon (Kota Tomohon), dan Gunung Karangetang (Kabupaten Kepulauan Sitaro) dan Gunung Awu (Kabupaten Kepulauan Sangihe) meletus.

Meski begitu, warga tidak diungsikan karena jarak antara pusta letusan dengan permukiman penduduk diperkirakan mencapai delapan kilometer, sementara warga hanya diinstruksikan tidak memasuki radius bahaya sejauh 6,5 kilometer.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Terekam pula satu kali gempa embusan amax 46 milimeter selama 20 detik serta 29 kali guguran amax 4-60 milimeter selama 10-110 detik.

"Secara visual Gunung Soputan tampak jelas dan teramati asap kawah putih tipis diperkirakan setinggi 25 meter," ujarnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, kata dia, merekomendasikan masyarakat dan pengunjung agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari puncak dan di dalam wilayah sektor arah barat-barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Pada bulan Januari dan Februari tahun 2016, salah satu gunung api aktif di Sulut selain Gunung Lokon (Kota Tomohon), dan Gunung Karangetang (Kabupaten Kepulauan Sitaro) dan Gunung Awu (Kabupaten Kepulauan Sangihe) meletus.

Meski begitu, warga tidak diungsikan karena jarak antara pusta letusan dengan permukiman penduduk diperkirakan mencapai delapan kilometer, sementara warga hanya diinstruksikan tidak memasuki radius bahaya sejauh 6,5 kilometer.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kualitas udara masih berbahaya setelah letusan Soputan

Kualitas udara masih berbahaya setelah letusan Soputan

Kualitas udara masih berbahaya setelah letusan Soputan
Gunung Soputan menyemburkan lava pijar dan debu vulkanis terlihat dari Desa Silian 3, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Selasa (5/1/2016). Gunung berapi Soputan mengalami erupsi pada Senin (4/1/2016) tengah malam, dengan mengeluarkan lava dan awan panas, serta semburan material vulkanis mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)
 Dari pemeriksaan memang kualitas udaranya masih tercemar oleh abu vulkanik sisa dari letusan Gunung Soputan, dan berbahaya bagi manusia

Minahasa Tenggara (ANTARA News) - Kualitas udara setelah letusan Gunung Soputan pada Senin (4/1) dan Selasa (5/1) masih membahayakan warga di tiga desa yang berada di Kabupaten Minahasa Tenggara, setelah dilakukan pemeriksaan oleh peneliti dari tim kesehatan lingkungan.

"Dari pemeriksaan memang kualitas udaranya masih tercemar oleh abu vulkanik sisa dari letusan Gunung Soputan, dan berbahaya bagi manusia," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Minahasa Tenggara Robby Ngongoloy di Ratahan, Sabtu.

Dia mengatakan ketiga desa yang terkena dampak letusan Gunung Soputan yakni Desa Pangu, Desa Pangu Satu dan Desa Pangu Dua.

Ia menuturkan tim peneliti yang melibatkan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Manado, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Politeknik Kesehatan (Poltekes) Manado, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Selama dua hari ini mereka memantau terus kondisi kualitas udara ini setelah letusan, dan memberikan rekomendasi hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kondisi yang terjadi," katanya.

Sementara itu menurut Iwan Munaiseche Kasie Penanggulangan Wabah Penyakit Dinkes Kabupaten Minahasa Tenggara, hasil pemeriksaan udara debu yang tersisa dari letusan Soputan dapat menimbulkan penyakit.

"Hasil pemeriksaan kualitas udara yang ada sekarang dapat menimbulkan penyakit, yaitu PM 10 mencapai 305 mg per meter kubik, yang seharusnya normalnya pada angka 150. Ini sangat berbahaya," ungkap Iwan yang didampingi Ronald Wenas dari BTKL Manado.

Iwan mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya bagi anak-anak.

"Sebab, PM 10 ini merupakan partikel-partikel yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat secara kasat mata. PM 10 ini merupakan debu pemicu penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), paru-paru, juga kanker. Dan perlunya penggunaan masker jika di luar rumah," terang Iwan.

Lebih lanjut ia menyebutkan, pemeriksaan udara dilakukan untuk menghindarkan masyarakat dari penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan, seperti iritasi mata, ISPA, bahkan alergi.

"Selain itu kita sudah lakukan pemeriksaan dan pemantauan, kualitas sumber air minum di tiga desa yang ada di Pangu masih sangat tinggi derajat kekeruhannya. Kita periksa rasa air, warna air, serta bau air. Air di sana, belum layak untuk dikonsumsi. Sebab masih banyak mengandung partikel debu," ungkap Iwan.

Selain di Desa Pangu, Permukiman Kalatin juga diperiksa kadar kelayakan air minumnya. Sebab Kalatin merupakan pusat mata air untuk masyarakat di sana.

"Kita juga periksa kandungan debu yang ada di sana (Kalatin). Karena di Kalatin juga terkena dampak letusan Gunung Soputan," tambahnya.

Pemeriksaan juga dilakukan di lingkungan pemerintah Kabupaten Mitra di Kelurahan Wawali Pasan, Kecamatan Ratahan. Hasilnya, kadar PM10 di Blok A 151 mg per meter kubik, sementara di Blok B hanya 98 mg per meter kubik.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Warga sekitar Soputan diminta waspadai lahar dingin

Warga sekitar Soputan diminta waspadai lahar dingin

Warga sekitar Soputan diminta waspadai lahar dingin
Gunung Soputan menyemburkan lava pijar dan debu vulkanis terlihat dari Desa Silian 3, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Selasa (5/1/2016). Gunung berapi Soputan mengalami erupsi pada Senin (4/1/2016) tengah malam, dengan mengeluarkan lava dan awan panas, serta semburan material vulkanis mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)
 Saya sudah perintahkan untuk melarang aktivitas di kaki gunung sesuai yang sudah ditetapkan...

Minahasa Tenggara (ANTARA News) - Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap meminta warga agar tak melakukan aktivitas di sekitar aliran sungai yang menjadi jalur lahar dingin.

"Memang saat ini aktivitas Gunung Soputan sedang menurun, tapi yang perlu kita waspadai khususnya warga yakni adanya ancaman lahar dingin apalagi hujan cukup lebat," kata James di Ratahan, Sabtu.

James meminta para kepala desa, dan camat yang berada di sekitar Gunung Soputan agar mengingatkan warganya untuk tidak melakukan aktivitas pada radius 6,5 kilometer dari puncak gunung.

"Saya sudah perintahkan untuk melarang aktivitas di kaki gunung sesuai yang sudah ditetapkan, dan kepala desa dan camat yang daerahnya dekat dengan gunung menyampaikannya ke masyarakat," terangnya.

James menambahkan, jajaran pemerintah kabupaten (Pemkab) terus melakukan koordinasi untuk mengantisipasi letusan susulan dari Gunung Soputan dalam beberapa hari ke depan.

"Letusan susulan tak dapat kita prediksi, tapi tetap kita harus siaga," ujarnya.

Ia pun langsung memerintahkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait melakukan pendataan dampak kerusakan yang terjadi akibat letusan Gunung Soputan.

"Apa-apa kerusakan didata, khususnya untuk tanaman pertanian milik warga, dan mendata warga masyarakat yang terkena dampak erupsi," ujarnya.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top