-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
 Suku Anak Dalam harus dicarikan mata pencaharian

Suku Anak Dalam harus dicarikan mata pencaharian


Suku Anak Dalam harus dicarikan mata pencaharian
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan) menyapa anak-anak suku Anak Dalam korban bencana asap yang mengungsi dipingiran Hutan Bukit Suban, Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Jumat (30/10/15). Mensos juga memberikan bantuan sembako dan uang kepada suku yang kerap berpindah-pindah itu. (ANTARA FOTO/Tisna)
 
Jambi (ANTARA News) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan Suku Anak Dalam di Sarolangun, Jambi, harus segera dicarikan sumber penghasilan setelah hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan sehari-hari mereka menyempit akibat kebakaran.

"Cukup banyak lahan mereka yang terbakar. Maka sekarang perlu dicarikan solusi dengan keberlanjutan kebutuhan hidup mereka," kata Mensos Khofifah di Samolangun, Jambi, Jumat.
Mensos mengatakan Anak Rimba ini perlu diperhatikan sumber penghasilannya agar tidak terjadi bencana sosial akibat ketersendatan ekonomi mereka.

Secara alamiah, kata dia, Suku Anak Dalam ini mampu bertahan hidup dengan mengambil hasil hutan tetapi mereka kini terdesak setelah hutan mereka terbakar. Belum lagi kekeringan membuat sejumlah hasil hutan tidak dapat dipanen.


Setelah kunjungan dan atas permintaan Presiden Joko Widodo pada Jumat, masih kata Mensos, Bupati Samolangun rencananya menyiapkan lahan minimal 1,5 hektare untuk Suku Anak Dalam sehingga mereka bisa berladang. Ditargetkan, lahan itu tersedia sebelum Desember 2015.

Menurut Mensos, terdapat kendala dalam mengubah mata pencaharian Suku Anak Dalam. Proses adaptasi Suku Anak Dalam menuju sistem kehidupan sosial yang baru pasti butuh waktu panjang disertai pendampingan.


"Lembaga pemberdayaan Suku Anak Dalam seperti Warsi ini harus banyak kita dengar agar Anak Rimba tidak tercerabut dari akar budaya yang membesarkan mereka. Sehingga jika ada opsi baru untuk sumber mata pencaharian atau sumber dari status sosial mereka maka tidak ada guncangan budaya atau cultural shock di dalamnya," kata dia.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2015
 Jokowi berdialog dengan warga Suku Anak Dalam

Jokowi berdialog dengan warga Suku Anak Dalam

Jokowi berdialog dengan warga Suku Anak Dalam
Presiden Joko Widodo berdialog dengan warga Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Jumat (30/10/15). ((ANTARA News/Hanni Sofia Soepardi))
 
Sarolangun, Jambi (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdialog dengan Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, sekaligus memberikan bantuan bahan makanan dan paket "kartu sakti".

Presiden Jokowi tiba di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Jumat, sekitar pukul 15.30 WIB dan meninggalkan wilayah itu sekitar pukul 17.15 WIB dengan menggunakan helikopter superpuma dari Bandara Sultan Thaha Syarifuddin Jambi.

"Tadi turun terus saya mau ketemu langsung dengan suku anak dalam. Karena juga beberapa kali saya baca mereka ada kesulitan-kesulitan, baik makanan maupun pemukiman. Ini tadi sudah kita tanya langsung apakah mau tinggal di rumah dan tidak muter nomaden lagi," kata Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden berdialog langsung dengan Tumenggung (kepala Suku Anak Dalam) Bukit Surban dengan cara berjongkok melingkar seperti kebiasaan mereka.

Jokowi didampingi seorang penerjemah Babinsa yang paham bahasa mereka.
"Mau, tapi dengan syarat-syarat rumahnya jaraknya agak jauh, lalu ada lahan. Sudah nanti disiapin, Bu Menhut sudah nyiapin, Pak Bupati, Pak Gubernur. Nanti yang mengenai rumahnya diurus Mensos," kata Jokowi.

Presiden mengaku sangat memperhatikan mereka karena merupakan bagian dari rakyat Indonesia.

Jokowi membagikan bantuan paket sembako dan paket kartu sakti terdiri dari Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera kepada masyarakat Suku Anak Dalam.
Jokowi tidak segan berinteraksi dengan masyarakat Suku Anak Dalam yang bahkan banyak di antaranya tidak mengenakan pakaian lengkap.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Mensos bantu stok makanan Suku Anak Dalam

Mensos bantu stok makanan Suku Anak Dalam


Mensos bantu stok makanan Suku Anak Dalam
Mensos Dan Suku Anak Dalam. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan) menyapa anak-anak suku Anak Dalam korban bencana asap yang mengungsi di pingiran Hutan Bukit Suban, Air Hitam, Sarolangun, Jambi, Jumat (30/10). Mensos juga memberikan bantuan sembako dan uang kepada suku yang kerap berpindah-pindah itu. (ANTARA FOTO/Tisna)
 
Jambi (ANTARA News) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memberi santunan stok makanan kepada masyarakat korban asap yaitu Suku Anak Dalam di Bukit Dua Belas dan Desa Air Hitam, Sarolangun, Jambi.

"Setelah ditinjau mereka adalah korban asap kebakaran hutan dan lahan, membutuhkan stok makanan," kata Mensos Khofifiah di Jambi, Jumat.
Khofifah sebagai perwakilan dari pemerintah menyantuni Suku Anak Dalam berupa makanan dan uang tunai. Untuk bantuan dana, ia harapkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pokok Suku Anak Dalam.

Dalam kunjungan itu, Mensos juga mengunjungi lembaga swadaya masyarakat Warsi yang mengelola pemberdayaan Suku Anak Dalam di Bukit Dua Belas.

Khofifah mengatakan sebagian Anak Rimba itu mendiami hutan yang terbakar sehingga harus berpindah lokasi tinggal menepi dari tengah hutan. Sementara itu, Suku Anak Dalam ini merupakan masyarakat yang terpapar asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.
Selain mengunjungi Anak Rimba, Mensos juga mengunjungi sejumlah fasilitas publik seperti sekolah, Puskesmas dan fasilitas darurat untuk korban asap di Sarolangun.
Kegiatan Mensos ini merupakan bagian dari kegiatan Presiden Joko Widodo yang mengunjungi sejumlah titik yang terdampak asap kebakaran, termasuk Samolagun.
Tercatat penduduk di wilayah ini sebanyak 1.738 jiwa dengan 257 kepala keluarga. Sementara Suku Anak Dalam yang sudah menetap di Bukit Dua Belas ada 24 rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Mensos Tawarkan Hunian Tetap Bagi Suku Anak Dalam

Mensos Tawarkan Hunian Tetap Bagi Suku Anak Dalam

Ray Jordan - detikNews
Mensos Tawarkan Hunian Tetap Bagi Suku Anak Dalam 
Foto Ilustrasi (Dok Detikcom) 

  Jakarta - Tewasnya 11 Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi membuat prihatin banyak pihak. Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa akan mendatangi Komunitas Adat Terpencil (KAT) tersebut.

"Kami prihatin dengan kejadian tersebut, Jumat (13//2), saya berangkat ke Jambi untuk bertemu dengan KAT Suku Anak Dalam," kata Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Kamis (12/3/2015).

Melalui Direktorat KAT, berbagai intervensi pemerintah disiapkan untuk mengatasi berbagai permasalah terkait Suku anak Dalam. Di antaranya memberikan tawaran hidup menetap dengan memberikan bantuan hunian tetap (huntap).

"Pertemuan tidak hanya mendengarkan kronologis terkait tewasnya 11 Suku Anak Dalam, tetapi akan ditawarkan kepada mereka untuk hidup menetap dengan diberikan Huntap," katanya.

Terkait penyediaan tanah komunal akan segera dikoordinasikan dengan pihak terkait, yaitu Kementerian Agraria dan Kementerian Kehutanan. Selain itu, berdasarkan Peraturan Presiden akhir tahun lalu, pemberdayan KAT di kabupten penanggungjawabanya bupati, di provinsi gubernur dan di pusat menteri sosial.

"Kami berharap mereka berkenan berintegarasi secara sosial, sebab dalam pertemuan di KAT di Kabupaten Meranti, Riau, ada perwakilan Suku Anak Dalam yang menyatakan siap menerima huntap," tandasnya.
Untuk mendapatkan berbagai paket bantuan sosial, seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), beras miskin (Raskin) diperlukan persyaratan administratif dari desa setempat sebagai alat indentifikasi.

Pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), mereka tidak tercover, sehingga untuk mendapatkan perlindungan sosial harus ada alat indentifkasi minimal keterangan dari kepala desa setempat.

"Paling tidak bisa sebagai unregister people dan Kemensos menyediakan 500 ribu KKS," katanya.
(jor/bil)
Back To Top