-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Gempa Sumbar terasa sampai Pekanbaru

Gempa Sumbar terasa sampai Pekanbaru

 Pekanbaru (ANTARA News) - Gempa bumi yang berpusat di pesisir Selatan Sumatera Barat terasa sampai ke Kota Pekanbaru, Riau, pada Kamis pagi.

Seorang warga Jl. Kemuning Kota Pekanbaru, Riana Tri Handayani (34), mengatakan merasakan gempa itu saat menyusui bayinya yang baru berusia dua bulan. Ia mengaku ada sedikit goncangan hingga menciptakan riak di teko air minumnya dan tirai kamarnya bergoyang seperti terhembus angin.

"Saya baru tahu itu gempa setelah melihat berita di televisi. Awalnya saya kira itu jin atau makhluk halus yang mencoba mengganggu," kata Riana.

Seorang warga lainnya, Dadan (37), mengaku juga merasakan gempa hingga terbangun dari tidurnya. "Kasur bergoyang-goyang sampai saya terbangun dibuatnya. Ternyata itu gempa dari Sumbar," katanya.

Gempa berkekuatan 6,5 skala Richter (SR) melanda pesisir selatan Sumatera Barat. Gempa tersebut terjadi pada Kamis, sekira pukul 05.56 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa itu berlokasi di titik 2,29 Lintang Selatan dan 100,46 Bujur Timur. Lokasi gempa itu sekira 79 kilometer dari barat daya pesisir selatan.

Gempa itu terjadi di kedalamam sekira 72 kilometer. Namun, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami.

Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kedatangan Presiden berpengaruh positif bagi nelayan Sumbar

Kedatangan Presiden berpengaruh positif bagi nelayan Sumbar

Pewarta: 
Kedatangan Presiden berpengaruh positif bagi nelayan Sumbar
Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno (ANTARA FOTO/Arif Pribadi)
 Hasil pertemuan saya dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti, sangat positif. Presiden minta sejumlah regulasi yang menyulitkan nelayan dievaluasi dan direvisi,"

Padang (ANTARA News) - Kedatangan Presiden Joko Widodo ke Sumatera Barat dalam rangka Komodo 2016, membawa "angin segar" bagi nasib nelayan di daerah itu, yang selama beberapa waktu terakhir terkena dampak negatif sejumlah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Hasil pertemuan saya dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti, sangat positif. Presiden minta sejumlah regulasi yang menyulitkan nelayan dievaluasi dan direvisi," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Padang, Selasa.

Menurutnya, peraturan yang diminta evaluasi dan revisi itu diantaranya mengenai kemudahan perizinan kapal-kapal nelayan lokal yang berkapasitas di atas 30 GT agar bisa diurus di provinsi.

Kemudian, peraturan tentang batas wilayah tangkapan nelayan, peraturan untuk kemudahan lalu-lintas ekspor hasil tangkapan nelayan, dan beberapa peraturan lainnya.

"Kita berharap hal ini akan dilaksanakan sesegera mungkin, dan peraturan teknis berupa Peraturan Menteri dan turunannya akan segera dikeluarkan," ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya bersama Dinas KKP Sumbar akan dengan intens menjadi mitra Menteri KKP dalam mengawal proses pelaksanaan perintah presiden tersebut.

Seiring evaluasi dan revisi, Pemprov Sumbar menurutnya juga akan menyusun kebijakan lain untuk memberi peluang peningkatan kesejahteraan nelayan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri mengatakan, selama beberapa waktu terakhir Pemprov Sumbar sebenarnya telah berusaha untuk memperjuangkan nasib nelayan Sumbar ke Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Gubernur menurutnya juga telah mengirim surat yang juga ditembuskan pada presiden.

"Sekarang dengan pertemuan langsung antara gubernur dengan presiden dan Menteri KKP, tentu persoalannya segera bisa teratasi," katanya.

Sebelumnya nelayan bagan di Sumbar mengeluhkan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang tidak kunjung menerbitkan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) mereka, meski telah diurus cukup lama.

Akibatnya nelayan bagan dengan mesin di atas 30 GT, tidak dapat melaut.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kebakaran hutan Riau belum pengaruhi udara Sumbar

Kebakaran hutan Riau belum pengaruhi udara Sumbar

Kebakaran hutan Riau belum pengaruhi udara Sumbar
Riau Siaga Kebakaran. Seorang warga mengamati kebakaran lahan di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (10/3). Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan sejak 7 Maret lalu selama tiga bulan ke depan, dengan pertimbangan potensi kebakaran lahan dan hutan di Riau yang semakin meluas karena faktor kemarau yang tidak normal dan masih adanya pembukaan lahan dengan membakar. (ANTARA FOTO/Wahyudi)

Bukittinggi, Sumbar (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat kebakaran lahan yang terjadi di Provinsi Riau belum mempengaruhi kualitas udara di Sumbar.

"Kemunculan titik panas (hotspot) di Riau masih fluktuatif. Hingga saat ini belum berpengaruh terhadap kondisi kualitas udara di Sumbar," kata Kepala BMKG Stasiun GAW Bukit Kototabang, Edison, saat dikonfirmasi dari Bukittinggi, Minggu.
Ia menyampaikan, kondisi kualitas udara Sumbar saat ini dalam kategori baik dan tetap harus mewaspadai kondisi ke depan.

Sementara berdasarkan pantauan Satelit Terra&Aqua (Modis) pada Minggu (13/3) pukul 6.30 WIB terpantau sebanyak 25 titik panas di Pulau Sumatera.
"Pagi ini terpantau sebaran 22 titik panas berada di wilayah Riau dan tiga di Provinsi Aceh dengan tingkat kepercayaan 71 sampai 100 persen," sebutnya.
Artinya, titik panas tersebut memang ditimbulkan karena kebakaran hutan dan lahan, bukan dari peristiwa kebakaran lainnya.

Berdasar pantauan Satelit NOAA-18 terpantau sebanyak dua titik panas di wilayah Riau.

"Sejauh ini, informasi dari Riau sendiri, pemadaman kebakaran dilakukan cukup intensif oleh pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dengan pihak terkait lainnya sehingga diharapkan kebakaran tersebut tidak berdampak lebih luas," ujarnya.
Andre (33) warga Bukittinggi berharap kebakaran hutan yang terjadi di Riau tidak berimbas negatif pada kualitas udara di Sumbar seperti beberapa waktu lalu.

"Banyak aktifitas yang terganggu jika kabut asap seperti beberapa waktu lalu kembali terjadi. Mudah-mudahan, api segera bisa dipadamkan," katanya.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kementerian BUMN bidik pariwisata Sumbar selain Mandalika

Kementerian BUMN bidik pariwisata Sumbar selain Mandalika

 | 3.532 Views
Kementerian BUMN bidik pariwisata Sumbar selain Mandalika
Menteri BUMN Rini Soemarno. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)


"Sekarang yang kita sedang mengelola Joglosemar (Jogjakarta-Solo-Semarang) dan Mandalika, kita akan lihat destinasi lain untuk dikembangkan potensi pariwisatanya, misal Sumbar di sana ada Bukit Tinggi, kita punya area yang dimiliki PT KAI," kata Menteri BUMN Rini Soemarno di Jakarta, Jumat.

Rini menjelaskan Bukit Tinggi memiliki potensi pariwisata alam yang didukung dengan jalur kereta, namun sayangnya jalur yang cukup panjang tersebut telah nonaktif.

"Kita lihat apakah bisa direaktivasi, kemudian kita kembangkan daerah Bukit Tinggi, lalu coba disambungkan ke Sawah Lunto, di sana ada area Bukit Asam yang mungkin bisa kita kembangkan," ujarnya.

Karena itu, lanjut dia, diperlukan sinergi BUMN di bidang pariwisata sehingga segala visi peningkatan tersebut bisa dicapai terutama terkait konektivitas dan tersedianya penginapan.

"Kita libatkan juga Garuda Indonesia, PT KAI dan ke depan DAMRI mungkin kita bisa ajak juga. Untuk hotel, kita sinergikan BUMN perhotelan seperti Hotel Indonesia Nature, Aero Wisata, dan Patra Jasa," ujarnya.

Selain itu, Rini juga menekankan pentingnya pelayanan, sehingga Kementerian BUMN berencana akan menginisiasi untuk pembentukan hospitality school yang digawangi Garuda Indonesia untuk bisa dimanfaatkan bagi pengembangan SDM di perusahaan-perusahaan pelat merah.

"Pelayanan ini yang paling utama, karenanya kita menekankan pembentukan Hospitality School dan digawangi Garuda Indonesia yang memiliki fasilitas pelatihan pramugari, sehingga ketika wisatawan naik kereta, pesawat atau berada di hotel dapat pelayanan baik dan bisa mengarahkan ke destinasi wisata yang kita kembangkan," ucapnya. 

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Longsor dan banjir Sumbar telan lima korban jiwa

Longsor dan banjir Sumbar telan lima korban jiwa


Padang (ANTARA News) - Banjir dan lonsor yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan dua korban lainnya belum ditemukan.

"Lima korban meninggal itu di antaranya empat orang tertimbun material longsor di Kabupaten Solok Selatan, dan satu orang hanyut di Kabupaten Limapuluh Kota," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah {BPBD) Sumbar, Zulfiatno dihubungi melalui telepon dari Padang, Senin.

Korban meninggal itu, masing-masing di Solok Selatan, Upik (perempuan 55 tahun), Ramli (laki-Laki 20 tahun), Si Lin (perempuan 18 tahun), Nisa (perempuan 1,5 tahun).

Sementara dua orang yang masih dalam pencarian yaitu, M Yunus (laki-laki 65 tahun) dan Refa (Perempuan 2 tahun).

Sedangkan, korban meninggal di Limapuluh Kota, Padri (laki-laki 16 tahun).

Zulfiatno mengatakan hingga saat ini petugas di Solok Selatan masih berusaha untuk menemukan dua korban yang diduga tertimbun longsor.

Ia mengatakan, untuk membantu anggota BPBD di daerah bencana, BPBD Sumbar menurunkan satu tim untuk masing-masing daerah yang dibekali dengan perahu karet, pompa air, genset, serta makanan siap saji.

"Petugas di semua daerah sekarang terus berjaga dan meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan longsor maupun banjir, untuk ikut meningkatkan kewaspadaan.

Sejumlah daerah di Sumbar dikepung banjir dan longsor sejak dua hari terakhir akibat hujan yang turun dengan intensitas tinggi.

Data BPBD Sumbar, banjir dan longsor terjadi di Kabupaten Solok Selatan, Sijunjung, Sawahlunto, Solok, Agam, Limapuluh Kota, dan Pasaman.

Tidak hanya merendam ribuan rumah warga, banjir dan longsor di beberapa titik juga mengakibatkan arus lalu lintas antar provinsi putus total, salah satunya di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota.

Pj Bupati Limapuluh Kota, Yendri Thomas dihubungi melalui telepon membenarkan hal tersebut.

Ia mengatakan, jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Sumbar dan Provinsi Riau, tepatnya di Kecamatan Pangkalan telah putus total selama 36 jam terakhir akibat genangan air yang cukup tinggi.

"Kami bersama Dandim masih di lapangan untuk melakukan pemantauan," katanya.

Yendri menjelaskan, ribuan warga yang terdampak banjir telah mengungsi dan mendapat pertolongan dari petugas penanggulangan bencana.

Jalur yang terputus akibat banjir dan longsor juga terjadi di Muaro Cubadak Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman.

Longsor terjadi pada enam titik di perbatasan Sumbar dan Sumatera Utara itu mengakibatkan lalu lintas lumpuh.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top