-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Sandiaga Uno harap masalah transparansi barisan relawan Teman Ahok selesai

Sandiaga Uno harap masalah transparansi barisan relawan Teman Ahok selesai

Sandiaga Uno harap masalah transparansi barisan relawan Teman Ahok selesai
Sandiaga Uno, salah satu bakal kandidat gubernur DKI Jakarta, sesaat setelah memaparkan visi dan program kerjanya di Kantor DPW Partai Kebangkitan Bangsa DKI Jakarta, di Jakarta, awal Juni lalu. (ANTARA News/Ade P Marboen)
 ... Jangan sampai mencederai relawan...


Juga tudingan tidak baik terkait pengumpulan fotokopi KTP pada pendukung Ahok oleh Teman Ahok. 

Belakangan banyak beredar kabar tidak sedap terkait tudingan manipulasi pengumpulan KTP dukungan. Kabar dan komentar ini saling bersahutan di media sosial. 

"Saya berharap itu bisa diselesaikan internal oleh Teman Ahok," kata dia, di Jakarta, Kamis (24/6). Hal yang perlu diperhatikan para relawan adalah mengenai transparansi, menurut pengusaha berusia 46 tahun ini.

Gerakan relawan Teman Ahok itu, kata dia, merupakan hal baru di sistem perpolitikan Indonesia dan membawa angin segar.

Akan tetapi, kata dia, seandainya benar ada aliran dana dari pengembang maupun kecurangan dalam mengumpulkan KTP, itu adalah tanda tanya besar yang harus dijawab secara jelas oleh para relawan. 

"Publik menjadi skeptis," kata dia. Hal-hal seperti ini akan sangat cepat menyebar di dunia media sosial, yang kerap dijadikan basis kampanye. 

Ia menyayangkan bila gerakan yang dimotori anak-anak muda itu tidak murni berbasis suka-rela, pengabdian dan kepedulian. Padahal gembar-gembor selama ini adalah mereka bekerja secara suka-rela jauh dari bayaran dari pihak-pihak tertentu. 

"Jangan sampai mencederai relawan," kata dia. Hal-hal seperti ini akan cepat sekali tersebar di media sosial, salah satu basis kampanye. 

Ahok akan maju ke Pilkada DKI Jakarta pada 2017 nanti yang disebut-sebut melalui jalur independen. Salah satu syarat penting untuk maju melalui jalur independen itu, menurut UU Pilkada, mampu mengumpulkan fotokopi sah pendukung dalam jumlah cukup besar, yaitu 1 juta lembar. Ini juga harus bisa diverifikasi. 

Pada sisi lain, Presiden Jokowi --sebagai bekas pimpinan Ahok di DKI Jakarta-- sebagaimana dikatakan seorang politisi PDI Perjuangan, Adrian Napitupulu, lebih senang jika Ahok melaju ke Pilkada DKI Jakarta 2017 melalui jalur partai politik.  

Ahok akan berhadapan dengan DPRD DKI Jakarta yang seluruhnya representasi partai politik. Di antara masalah yang krusial yang akan dihadapi adalah pemakaian APBD DKI Jakarta karena hak anggaran ada di DPRD Jakarta. 

"Karena Jakarta berbeda dengan provinsi lain. Jakarta adalah ibukota dan membangun Jakarta perlu kekuatan besar dan dikerjakan bersama-sama," kata Napitupulu kepada pers seusai dialog dengan Jokowi saat itu. 

Beberapa waktu lalu, beberapa mantan relawan Teman Ahok membeberkan ada praktik manipulasi adalam mengumpulkan KTP dukungan, antara lain membeli dukungan dari oknum kelurahan dan toko pulsa ponsel.

Menanggapi isu yang berlawanan dengan citra bekerja suka-rela dan murni dukungan masyarakat umum bagi Ahok, Teman Ahok kontan menggelar konferensi pers terpisah, Rabu (22/6). Substansi konferensi pers itu tentu menyangkal tudingan tersebut dan menyebut kabar dan informasi tidak sedap itu sebagai fitnah.

“Kami bisa pastikan ini adalah karangan belaka untuk menjatuhkan Teman Ahok, dan menghilangkan harga satu juta KTP yang sudah terkumpul," kata juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas.

Lebih jauh, Teman Ahok menduga tuduhan terkait bayar-membayar "jasa dukungan" itu bisa jadi merupakan pancingan bagi Teman Ahok untuk mengeluarkan detail laporan keuangan dan menjadi celah serangan berikutnya.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Ahok dinasihati Guntur Soekarnoputra soal Teman Ahok

Ahok dinasihati Guntur Soekarnoputra soal Teman Ahok

Ahok dinasihati Guntur Soekarnoputra soal Teman Ahok
Guntur Soekarnoputra (ANTARA FOTO/Reno Esnir)


Salah satu topik diskusi mereka adalah mengenai relawan Teman Ahok dan mereka disebut sebagai pemuda militan dan revolusioner.

"Kamu harus perhatikan betul Teman Ahok itu. Itu nasihat beliau," kata Ahok di Balai Kota, Kamis (9/6).

Putra sulung Presiden Soekarno itu, dikatakan Ahok, menceritakan pengalamannya dengan sang ayah semasa ia aktif di organisasi kepemudaan. 

Bung Karno, seperti yang diceritakan Ahok, berkata pada Guntur untuk mengumpulkan para pemuda karena bila mengumpulkan seribu orang tua, waktu akan habis untuk bermimpi.

"Tapi kalau kamu kumpulin satu pemuda saja yang revolusioner, kamu akan mengguncang dunia", kata Ahok menirukan cerita Guntur.

Selain berdiskusi dengan Guntur, Ahok juga mengobrol singkat dan makan bersama  Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo.

Menurut cerita Ahok, tidak ada obrolan mengenai politik saat itu, hanya beramah-tamah.

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Basuki Tjahaja Purnama isyaratkan tidak bisa tinggalkan Teman Ahok

Basuki Tjahaja Purnama isyaratkan tidak bisa tinggalkan Teman Ahok

Basuki Tjahaja Purnama isyaratkan tidak bisa tinggalkan Teman Ahok
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta (ANTARA News) - Basuki Tjahaja Purnama memberi sinyal tidak mungkin meninggalkan relawan Teman Ahok yang mendukungnya sebagai calon independen pada Pilakda 2017 mendatang.

“Sekarang, kamu tega nggak, orang udah berjuang, tanpa pamrih buat nyediain kamu maju, terus kamu boleh putuskan siapa wakil, nyari duit sendiri, nggak usah keluar duit. Kita arahkan jual tiket, dia jual. Masa kamu tinggal?” kata Basuki “Ahok” di Jakarta, Rabu (8/6).

Apalagi, hingga hari ini, para relawan telah mengumpulkan 950.929 KTP dukungan, mendekati target yang mereka sepakati satu juta KTP.

Ketika disinggung mengenai pertemuan dengan Megawati Soekarnoputri dan Djarot Saiful Hidayat beberapa waktu lalu, Ahok menyatakan sejak dulu putri Presiden Soekarno itu memang berniat untuk mengusungnya sebagai pemimpin ibu kota.

Hanya saja, para relawan tidak yakin PDIP mau mengusung Ahok mengingat partai tersebut turut protes mengenai e-budgeting beberapa waktu lalu.

Ahok mengaku saat pertemuannya dengan relawan Teman Ahok, mereka khawatir partai tidak mendukung dan mereka tidak ada waktu lagi untuk menolong dirinya mencalonkan diri.

Kala itu, Ahok pun mengusulkan nama Djarot sebagai wakilnya dan sudah disetujui para relawan, hanya saja Djarot tidak mendapat persetujuan dari partai waktu itu.

Teman Ahok, lanjut dia, mau saja berjalan beriringan dengan partai hanya saja ada kekhawatiran bagaimana bila nanti partai tidak mau mendaftarkan Ahok.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Penjelasan Basuki soal sewa kantor Teman Ahok

Penjelasan Basuki soal sewa kantor Teman Ahok

 | 2.062 Views
Penjelasan Basuki soal sewa kantor Teman Ahok
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

Jakarta (ANTARA News) - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menegaskan bahwa kantor yang digunakan relawan pendukungnya, Teman Ahok, adalah tempat yang disewa.
"Itu memang aset Pemda, sudah serahkan ke Sarana Jaya. Sarana Jaya serahkan ke swasta, swasta sewakan ke orang untuk tempat usaha," katanya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin.

Menurut dia, pemerintah daerah menyewakan banyak lahan dan bangunan ke swasta dengan besaran sewa 3,3 persen dari Nilai Jual Objek Pajak.

Penyewa lahan atau aset pemerintah daerah, ia melanjutkan, boleh menyewakan kembali bangunan yang mereka sewa karena telah membayar lunas biaya sewanya ke pemerintah daerah.

Bangunan yang digunakan sebagai kantor Teman Ahok, ia menjelaskan, disewa dari perseroan terbatas yang menyewanya dari pemerintah daerah.

Menanggapi pernyataan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M. Taufik yang ingin membentuk panitia khusus untuk mendata pengguna aset pemerintah provinsi, Ahok mengaku senang.

Dia menyebut ada partai politik yang menggunakan aset pemerintah dan tidak membayar sewa.

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Ahok persilakan dewan awasi aliran dana Teman Ahok

Ahok persilakan dewan awasi aliran dana Teman Ahok

Ahok persilakan dewan awasi aliran dana Teman Ahok
Suasana sekretariat Teman Ahok yang berlokasi di Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (11/3/16). (ANTARA News/Try Reza Essra)


"Mereka nanti waktu pendaftaran (relawan) bisa saja diperiksa. Silakan saja," katanya di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat.

Komunitas Teman Ahok menyatakan tidak menerima sumbangan uang tapi mendapatkan uang dari penjualan berbagai jenis barang suvenir terkait Ahok.
"Masa mau diaudit orang datang ke posko, bayar berapa bensin, naik taksi, isi formulir dukungan. Kamu lihat saja di posko, saya dikirimin foto saja kaget ada nenek-nenek mendaftar, dia dibantu orang isi formulir, seharian sampai tidak mau makan. Itu mereka lakukan, nah gimana mau nilai," kata Ahok.

"Saya kira ini satu gerakan yang baik lah ya," tambah dia.

Ia menambahkan gerakan semacam itu pernah ada saat warga memberikan dukungan ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

"Kita pernah punya pengalaman waktu tahun 1997, ketika semua orang berbondong-bondong mau dukung PDI terus tahun 1999 PDI Perjuangan ikut, semua orang berbondong-bondong keluarkan uang. Saya pun mengeluarkan uang bikin posko, bikin baju. Apa mau diaudit kalau masyarakat yang bergerak? Itu kan kerelaan orang," katanya.


Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top