-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
UGM jalin kerja sama dua universitas hongaria

UGM jalin kerja sama dua universitas hongaria


London (ANTARA News) - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjalin kerja sama dengan dua universitas di Hongaria yakni Budapest Business School (BBS) dan Universitas Pecs.

Duta Besar RI untuk Hongaria Wening Esthyprobo mengatakan kerja UGM dan BBS sama ini akan menjadi landasan penguatan kerjasama lainnya, kata Fungsi Penerangan Sosial Budaya Kedutaan Besar RI Yudhi Gunawan kepada Antara London, Jumat.

UGM dan BBS akan bekerja sama bidang ilmu ekonomi, bisnis dan manajemen.

Kerja sama kedua negara ini ditandatangani oleh Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati dan Rektor BBS Prof Eva Kriszt.

Inisiasi kerja sama itu diawali dengan saling tukar staf pengajar, peneliti dan mahasiswa, kemudian ditingkatkan dengan joint research serta joint publication.

Sementara itu bertempat di gedung KBRI Budapest, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Dwikora Karnita juga menandatangani perjanjian kerja sama pendidikan tinggi dengan Universitas Pecs yang diwakili Wakil Rektor Urusan Pendidikan Dr. Gyula Berke.

"Kerjasama kedua universitas tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara kedua negara melalui sektor pendidikan tinggi," kata Wening Esthyprobo.

Ia mengharapkan kerja sama tersebut akan menjadi pemicu bagi peningkatan sektor pendidikan tinggi.

Kerja sama tersebut meliputi pertukaran dosen dan peneliti, pertukaran mahasiswa dan penelitian bersama. Teknis pelaksanaannya akan segera ditindaklanjuti melalui unit pelaksana di masing-masing universitas.

Wakil Rektor Universitas Pecs Dr Gyula Berke menjelaskan Universitas Pecs sebagai universitas pertama dan tertua di Hongaria yang didirikan tahun 1367 memiliki pengalaman baik dari segi teknik pengajaran maupun penelitian.

Pengalaman tersebut dapat disalurkan bagi pengembangan dan peningkatan Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu universitas unggulan di asia bahkan di dunia.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
UGM jalin kerja sama dua universitas hongaria

UGM jalin kerja sama dua universitas hongaria


London (ANTARA News) - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjalin kerja sama dengan dua universitas di Hongaria yakni Budapest Business School (BBS) dan Universitas Pecs.

Duta Besar RI untuk Hongaria Wening Esthyprobo mengatakan kerja UGM dan BBS sama ini akan menjadi landasan penguatan kerjasama lainnya, kata Fungsi Penerangan Sosial Budaya Kedutaan Besar RI Yudhi Gunawan kepada Antara London, Jumat.

UGM dan BBS akan bekerja sama bidang ilmu ekonomi, bisnis dan manajemen.

Kerja sama kedua negara ini ditandatangani oleh Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati dan Rektor BBS Prof Eva Kriszt.

Inisiasi kerja sama itu diawali dengan saling tukar staf pengajar, peneliti dan mahasiswa, kemudian ditingkatkan dengan joint research serta joint publication.

Sementara itu bertempat di gedung KBRI Budapest, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Dwikora Karnita juga menandatangani perjanjian kerja sama pendidikan tinggi dengan Universitas Pecs yang diwakili Wakil Rektor Urusan Pendidikan Dr. Gyula Berke.

"Kerjasama kedua universitas tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara kedua negara melalui sektor pendidikan tinggi," kata Wening Esthyprobo.

Ia mengharapkan kerja sama tersebut akan menjadi pemicu bagi peningkatan sektor pendidikan tinggi.

Kerja sama tersebut meliputi pertukaran dosen dan peneliti, pertukaran mahasiswa dan penelitian bersama. Teknis pelaksanaannya akan segera ditindaklanjuti melalui unit pelaksana di masing-masing universitas.

Wakil Rektor Universitas Pecs Dr Gyula Berke menjelaskan Universitas Pecs sebagai universitas pertama dan tertua di Hongaria yang didirikan tahun 1367 memiliki pengalaman baik dari segi teknik pengajaran maupun penelitian.

Pengalaman tersebut dapat disalurkan bagi pengembangan dan peningkatan Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu universitas unggulan di asia bahkan di dunia.
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Ribuan alumni UGM lakukan "Niti Laku"

Ribuan alumni UGM lakukan "Niti Laku"

Yogyakarta (ANTARA News) - Ribuan alumni Universitas Gadjah Mada melakukan kegitan "Niti Laku" atau napak tilas dengan berjalan kaki dari Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Kampus UGM Bulaksumur, Minggu, guna mengenang sejarah berdirinya kampus itu.

Kegiatan yang diselenggarakan sebagai rangkaian Dies Natalis UGM ke-66 itu juga diikuti Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, serta Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang juga merupakan alumni kampus itu.

"Dengan Niti Laku kita akan selalu megingatkan kepada seluruh jajaran keluarga alumni maupun masyarakat luas bahwa dulu UGM dimulai dari Pagelaran Keraton," kata ketua panitia Niti Laku, Toyo S Dipo di sela kegiatan itu.

Menurut Toyo, sejarah berdirinya UGM tidak dapat dilepaskan dari peran Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB IX, yang mempersilakan aktivitas perkuliahan mahasiswa UGM dilaksanakan di Pagelaran Keraton pada awal berdirinya kampus itu.

Bahkan saat itu Sultan HB IX juga menyerahkan sebagian tanahnya untuk pembangunan kampus UGM di wilayah Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

"Sehingga UGM dan Keraton jelas tidak akan bisa dipisahkan," katanya.
Sebelum pelepasan peserta Niti Laku yang dilakukan oleh Sri Sultan HB X, panitia juga mempersembahkan fragmen yang menggambarkan perbincangan para tokoh khususnya Bung Karno dan Sri Sultan HB IX pada awal pendirian UGM.

"Saya berharap kegiatan ini memberikan manfaat dan menjadikan UGM semakin dicintai rakyat karena terus memberikan kemanfaatan bagi masyarakat Yogyakarta pada khususnya, serta nusa dan bangsa," kata Sultan.

Kegiatan Niti Laku dengan tema "Trus Makarya Ngarumke Negara" itu juga diramaikan dengan parade budaya yang menghadirkan berbagai kesenian seperti tari angguk, barongsai, marching band UGM, serta kesenian lain dari berbagai daerah dan diikuti kirab Helikopter Bung Karno, serta Mobil Listrik UGM.

Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2015
UGM beri masukan penanganan gambut kepada Presiden

UGM beri masukan penanganan gambut kepada Presiden


UGM beri masukan penanganan gambut kepada Presiden
Ilustrasi - Kebakaran Lahan Gambut (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Perlu restorasi lahan gambut, intinya pengelolaan tata air dan rekayasa sosial
Jakarta (ANTARA News) - Kelompok Kerja Gambut Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memberi masukan kepada Presiden Joko Widodo mengenai penanganan gambut khususnya kebakaran lahan gambut yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai daerah.

 "Kita identifikasi masalah penanganan lahan gambut termasuk dari sisi antropologi," kata Menko Polhulkam Luhut Binsar Panjaitan dalam jumpa pers seusai mendampingi Presiden menerima Kelompok Kerja Gambut UGM di Istana Merdeka Jakarta, Selasa.
Luhut menyebutkan Presiden meminta agar pengelolaan lahan gambut dibenahi dan meminta UGM melakukan kajian terhadap masalah itu.

Sementara itu Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengatakan UGM melakukan kajian terhadap gambut sejak beberapa tahun lalu.

"Resep atau paket upaya untuk mengatasi kerusakan atau kebakaran adalah perlu integrasi beberapa aspek yaitu sosial dan teknis serta regulasi.

"Perlu restorasi lahan gambut, intinya pengelolaan tata air dan rekayasa sosial," katanya.
Sementara itu pakar gambut UGM, Azwar Maas mengatakan gambut terbentuk dari sisa tanaman hutan yang bersentuhan dengan air dalam jangka waktu panjang.

Menurut dia, di lahan gambut yang masih asli akan terdapat kubah yang menyimpan air.

"Konsepnya air bergerak dari tinggi ke rendah dari kubah itu sehingga lahan tetap basah, sekarang banyak kubah yang dimanfaatkan sehingga fungsinya hilang, areal kubah ini harus dikembalikan dalam fungsinya sebagai penyimpanan air," katanya.

Ia menyebutkan saat ini tidak ada konservasi terhadap fungsi kubah sehingga banyak lahan gabut terbakar.

Ia menyebutkan lahan gambut di wilayah Papua juga harus mendapat perhatian karena juga terjadi kebakaran lahan di daerah itu.

Sementara itu Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Presiden memerintahkan agar rekomendasi itu ditindaklanjuti dengan pemetaaan lahan gambut.

"Waktu yang tersedia tidak banyak sehingga harus segera dilakukan," katanya.
Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan Presiden sudah menginisiasi masalah lahan gambut dengan pembuatan sekat-sekat kanal.
"Presiden memerintahkan segera lakukan proses sesuai rekomendasi UGM," katanya.
Mengenai pemetaan, Siti mengatakan tidak bisa dilakukan dengan foto satelit biasa. "Harus memakai radar yang bisa menembus ke kedalaman lahan gambut," katanya.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Liput acara Menteri Retno, wartawan dikunci di balai senat UGM

Liput acara Menteri Retno, wartawan dikunci di balai senat UGM

Reporter : Kresna 
Liput acara Menteri Retno, wartawan dikunci di balai senat UGM
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. ©AFP PHOTO/Adek Berry

Merdeka.com - Acara Bandung Conference And Beyond 2015 di Balai Senat UGM yang dihadiri Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi mendapat protes dari para wartawan. Hal ini karena para wartawan yang hendak mewawancarai Menteri Retno justru dikunci di dalam Balai Senat ketika menteri wanita itu keluar dari balai senat.

Kejadian tersebut bermula ketika para wartawan yang sudah berada sejak pukul 08.00 WIB berada di Balai Senat UGM untuk meliput acara Bandung Conference And Beyond 2015 yang dihadiri Menteri Retno. Tak berapa lama setelah acara berlangsung, Menteri Retno meninggalkan ruangan.

Para wartawan pun serentak bergegas keluar ruangan. Namun saat sampai di pintu, para wartawan tidak bisa keluar karena ruangan sengaja dikunci oleh panitia. Menurut salah seorang wartawan, Harminanto, saat itu mereka sempat berusaha mendobrak pintu dan berteriak minta dibukakan pintu.

"Saya dan wartawan lain mau keluar wawancara Menlu tapi pintu di kunci dari luar oleh panitia. Kami hanya ingin wawancara, kenapa harus di kunci, kenapa panitianya seperti ini," katanya, Rabu (8/4)

Setelah Menteri Retno pergi, barulah pintu dibuka oleh panitia. Para wartawan pun mendatangi panitia dan memprotes panitia yang menghalangi kerja wartawan.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengaku tidak tahu dengan kejadian tersebut. Menurutnya Menteri Retno terburu-buru mengejar pesawat karena harus segera pulang ke Jakarta.

"Tadi Menlu tergesa-gesa mengejar pesawat. Saya tidak tahu kalau wartawan dikunci di dalam Balai Senat. Saya minta maaf dan akan kami selesaikan nanti dengan panitia" tandya.
[hhw]
Back To Top