-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Perdana Menteri Ukraina mengundurkan diri

Perdana Menteri Ukraina mengundurkan diri

Perdana Menteri Ukraina mengundurkan diri
Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatseniuk. (REUTERS/Andrew Kravchenko/Pool)

Kiev (ANTARA News) - Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatseniuk mengumumkan pengunduran dirinya melalui siaran televisi pada Minggu (10/4), dan menyiratkan dukungan bagi ketua parlemen Volodymyr Groysman untuk mengambil alih jabatannya. 

Yatseniuk menahan tekanan untuk mundur sejak ia lolos dari mosi tidak percaya yang dihadapi pemerintahannya pada Februari.

Sementara itu, krisis politik di Ukraina telah memecah belah koalisi berkuasa dan lebih lanjut menunda pencairan dana bantuan senilai 17,5 miliar dolar AS (Rp229,3 triliun) di bawah program intervensi Dana Moneter Internasional (IMF).

"Saya telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai perdana menteri Ukraina. Pada Selasa, 12 April, permohonan saya akan diserahkan kepada parlemen," kata Yatseniuk.

"Krisis politik di negara ini telah diatur. Keinginan untuk mengganti satu orang telah membutakan para politisi dan melumpuhkan tekad mereka untuk melakukan perubahan sebenarnya. Proses mengganti pemerintahan telah berubah menjadi upaya tak beralasan yang lari di tempat," katanya.

Faksi pimpinan Presiden Petro Poroshenko (BPP) dan partai pimpinan Yatseniuk, Front Rakyat, diperkirakan akan mengumumkan formasi koalisi baru pada pekan depan.

Saat menyampaikan pidato, Yatseniuk mengatakan partainya bertekad untuk memajukan koalisi. Ia juga menyiratkan keinginan untuk menyerahkan pemerintahan kepada Groysman.

"Kita tidak bisa membiarkan ketidakstabilan pada lembaga eksekutif terjadi dalam sebuah peperangan. Kalau setelah pengunduran diri ini pemerintahan Ukraina tidak segera terpilih, (ketidakstabilan) kemungkinan tidak dapat dielakkan," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa faksi pimpinan Petro Poroshenko telah mencalonkan Volodymyr Groysman untuk menduduki jabatan Perdana Menteri.

"Setelah melakukan segalanya untuk memastikan bahwa stabilitas dan jalur kita terjaga, saya menyatakan keputusan untuk mengalihkan tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai kepala pemerintahan Ukraina," katanya seperti dikutip kantor berita Reuters.(Uu.T008)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Presiden Putin dan Presiden Obama bahas krisis Suriah, Ukraina

Presiden Putin dan Presiden Obama bahas krisis Suriah, Ukraina

Presiden Putin dan Presiden Obama bahas krisis Suriah, Ukraina
ilustrasi Presiden AS Barack Obama (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Los Cabos, Meksiko, Senin (18/6). (REUTERS/Jason Reed)

Paris (ANTARA News) - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melakukan pembicaraan selama 30 menit di sela-sela pertemuan puncak di Paris, Senin, membahas krisis Suriah dan Ukraina, kata juru bicara Kremlin. 

Sang juru bicara, Dmitry Peskov, mengatakan kepada para wartawan bahwa Obama pada pertemuan itu menyampaikan keprihatinannya soal jatuhnya pesawat Rusia karena ditembak jet militer Turki.

Kedua pihak sebelumnya telah berbicara soal pentingnya upaya penyelesaian politik bagi krisis Suriah.

Terkait Ukraina, kedua pemimpin mencatat pentingnya penerapan secara penuh kesepakatan perdamaian Minsk., demikian Reuters.

(Uu.T008)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Ukraina larang penerbangan Rusia lintasi wilayah udaranya

Ukraina larang penerbangan Rusia lintasi wilayah udaranya

Ukraina larang penerbangan Rusia lintasi wilayah udaranya
Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatseniuk (REUTERS/Andrew Kravchenko/Pool)

Kiev, Ukraina (ANTARA News) - Ukraina, Rabu, melarang semua penerbangan Rusia melintasi wilayah udaranya setelah 19 bulan belakangan hubungan kedua negara bertetangga itu memanas akibat pemberontakan di wilayah timur bekas negara Soviet tersebut.

Pengumuman pemerintah Kiev Pro-Barat itu disampaikan beberapa saat setelah Rusia mengumumkan rencananya menghentikan pengiriman gas atas ketergantungan Ukraina sejak Kamis.

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk dalam sidang kabinet, yang disiarkan televisi, menyatakan bahwa larangan terbaru itu dibenarkan sebab "Rusia mungkin menggunakan wilayah udara Ukraina untuk provokasi".

"Ini soal keamanan negara kami, sebagai tanggapan atas Federasi Rusia, dan itu tindakan agresif," katanya.

Ukraina dan sekutu Barat menuduh Moskow mendalangi dan mendukung pemberontak Pro-Rusia untuk membalas penggulingan Kremlin Kiev yang didukung presiden tahun lalu dan keputusan pemerintahan baru untuk menyesuaikan diri dengan Barat.

Pada 25 Oktober, Kiev melarang sebagian besar penerbangan dari Rusia menuju Ukraina -- keputusan yang menyebabkan tindakan timbal-balik oleh Moskow.

Namun, pemerintahan di bawah Presiden Petro Poroshenko mengizinkan penerbangan Rusia melintasi wilayah udara Ukraina untuk tujuan negara lain.

Yatsenyuk mengatakan keputusan tersebut tejadi "dalam bagian eskalasi militer dan situasi geopolitik".

Peningkatan pertempuran baru-baru ini di pusat industri Ukraina bertepatan dengan peningkatan serangan udara Rusia di Suriah untuk mendukung Presiden Bashar Al Assad.

Beberapa pengamat dan politikus di Kiev menuduh Kremlin memanfaatkan perhatian dunia terhadap tindakah Presiden Rusia Vladimir Putin di sekutu utamanya di Timur Tengah untuk melindungi fase baru perang Ukraina.

Rusia menyangkal seluruh keterlibatannya dalam konflik yang merenggut nyawa kurang lebih 8.000 jiwa --mayoritas dari mereka warga-- dan membawa hubungan Moskow dengan Barat hingga tingkat rendah pascaperang dingin.

Moskow melarang impor sebagian besar produk makanan dari Barat untuk menentang sanksi keuangan dan sanksi lainnya yang diberlakukan Brussel dan Washington atas aneksasi Rusia terhadap semenanjung Laut Hitam di Ukraina Crimea tahun lalu.

Hal ini juga membatasi penjualan barang-barang kebutuhan pokok Ukraina di Rusia.

Moskow sekarang mengancam untuk menghentikan semua impor pangan ke Ukraina sehingga Kiev bergabung dengan aliansi perdagangan bebas dengan Uni Eropa yang direncanakan pada tanggal 1 Januari., demikian AFP melaporkan.

(UU.M038)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Pasukan Ukraina Mundur Secara Terorganisasi

Pasukan Ukraina Mundur Secara Terorganisasi

BBC World - detikNews

Presiden Ukraina mengatakan bahwa pasukannya melakukan penarikan mundur secara terorganisasi dari kota yang dikecamuk perang, Debaltseve.

Petro Poroshenko mengatakan 80% pasukan Ukraina meninggalkan kota itu hari Rabu (18/02) pagi waktu setempat setelah pertempuran sengit beberapa hari.

Rusia mengatakan pasukan Ukraina mencoba  mencari jalan keluar dari kota itu setelah terkepung, namun Poroshenko menyatakan bahwa mereka tidak pernah terkepung.

Masuknya pasukan pemberontak ke Debaltseve, meskipun adanya gencatan senjata baru-baru ini, telah dikecam banyak pihak.

Ketua Nato, Jens Stoltenberg, mengatakan serangan pemberontak itu menyebabkan kesepakatan damai menghadapi risiko dan mendesak Rusia "untuk menggunakan semua pengaruhnya pada pihak separatis untuk membuat mereka menghormati gencatan senjata".

Ia juga menyerukan Moskow agar menarik mundur pasukannya dari Ukraina, dengan mengatakan pasukan, artileri, dan unit-unit pertahanan udara Rusia masih tetap aktif di negara itu.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menekankan bahwa aksi-aksi pemberontak di Debaltseve tidak melanggar gencatan senjata karena kota itu sudah dikuasai pemberontak ketika kesepakatan damai ditandatangani minggu lalu.


(rvk/rvk)
Serangan Roket Kaum Separatis Tewaskan 5 Pasukan Ukraina

Serangan Roket Kaum Separatis Tewaskan 5 Pasukan Ukraina

Rina Atriana - detikNews

Serangan Roket Kaum Separatis Tewaskan 5 Pasukan Ukraina 
 Pasukan Ukraina (AFP)
Kiev, - Serangan roket kaum separatis (pro Rusia) meluncur melintasi kawasan perbukitan Ukraina Timur pada Senin (2/2). Lima tentara Ukraina tewas akibat aksi tersebut.

Militer Ukraina menyatakan, seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (3/2/2015), pemberontak menyerang posisi pasukan Ukraina di persimpangan rel di kota yang strategis. Sementara itu 15 warga sipil tewas menyusul gagalnya upaya damai pada Sabtu (1/2).

Adanya pertemuan antara pihak Ukraina, Rusia dan pejabat pemberontak Minsk serta Belarus, memunculkan harapan akan adanya gencatan senjata dari konflik yang memakan korban lebih dari 5000 jiwa itu. Akan tetapi pertemuan tersebut berjalan tanpa kesimpulan. Ukraina dan separatis saling tuduh melakukan sabotase satu sama lain.

Selain 5 tentara tewas, ada 1 warga sipil yang juga menjadi korban tewas pada Senin (2/2). Sepanjang malam terdengar bunyi mortir dan artileri di kawasan Donetsk.

Separatis terus melakukan serangan ke Debaltseve, persimpangan rel di dekat Mariupol, kota strategis di pantai Sea of Azov, untuk mengusir pasukan Ukraina yang ada di sana. Roket dan artileri dilancarkan pemberontak ke kawasan pinggiran Debaltseve yaitu Yenakieve dan Vuhlegirsk.

"Situasi terberat sekitar Debaltseve, di mana formasi tentara ilegal terus menggempur posisi militer Ukraina," kata juru bicara militer Ukraina, Andriy Lutsenko.

Menurut seorang pejabat Kiev, Januari merupakan bulan paling berdarah di Ukraina timur sejak konflik meletus. Juru bicara polisi daerah Vyacheslav, Abroskin, mengatakan 112 warga sipil tewas akibat penembakan dan serangan kaum separatis.

(rna/rvk)
Back To Top