-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Tiga hal untuk buktikan anak kompeten secara sosial

Tiga hal untuk buktikan anak kompeten secara sosial

Tiga hal untuk buktikan anak kompeten secara sosial
ilustrasi Dua anak hasil program bayi tabung Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), mengikuti diskusi tentang bayi tabung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (4/6). (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)


Perempuan yang akrab disapa Vera itu mencontohkan, umumnya anak-anak tak suka bila diminta orangtuanya membereskan mainan. Namun, anak yang mampu mengontrol emosi pada akhirnya membereskan mainannya itu. "Anak mampu membereskan mainannya tandanya mampu mengelola emosi negatifnya," kata Vera dalam acara bertajuk "BebeHero Media Gathering" di Jakarta, Selasa.

Selain itu, anak yang kompeten secara sosial juga mampu mengontrol emosi ke-aku-annya. Sekalipun merasa dirinya hebat, namun anak mampu mengenali batas-batasnya.

"Terakhir, empati. Anak-anak tidak akan kompeten secara sosial bila tidak belajar dan mampu berempati. Rasa empati ini sebenarnya berkembang sejak bayi," kata dia.

Orang tua bisa mengajarkan karakter empati pada anak, misalnya dengan memberi contoh aksi yang membawa manfaat bagi orang lain tanpa pamrih. Lalu, mengajarkan konsep benar dan salah terkait pelanggaran atas hak orang lain pada anak.

"Serta mengajarkan anak mengikuti aturan. Tips bagi orang tua, yakni berikanlah anak kesempatan menampilkan prilaku di rumah. Orang tua harus jadi model, transfer nilai via diskusi dan terapkan reinforcement pada anak," pungkas Vera.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
MKD: Pemanggilan Riza Chalid untuk buktikan Setya Novanto

MKD: Pemanggilan Riza Chalid untuk buktikan Setya Novanto

18:12 WIB | 1.692 Views
MKD: Pemanggilan Riza Chalid untuk buktikan Setya Novanto
Dokumentasi Ketua DPR, Setya Novanto, memberikan keterangan usai menjalani sidang dugaan pelanggaran etik oleh Mahkamah Kehormatan Dewan DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (7/12). (ANTARA FOTO/Akbar Gumay)
 
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, Ridwan Bae, pemanggilan Muhammad Riza Chalid ke MKD sangat penting untuk membuktikan Ketua DPR, Setya Novanto, bersalah atau tidak.

MKD DPR sudah dua kali melayangkan surat pemanggilan kepada Riza, tapi tak datang. Ada sinyalemen Riza sudah beberapa hari lalu meninggalkan Tanah Air. 

"Kesaksian apalagi yang dibutuhkan dari Pak Riza. Cuma kan yang mau dibuktikan dari pak Riza, apakah benar yang menginisiasi pertemuan itu adalah Pak Novanto  atau Pak Riza begitu, lebih pada persoalan disana sebenarnya," kata Bae, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis.
Terkait dengan rencana pemanggilan Menko Polhukam, Luhut Pandjaitan, tentu juga sangat penting bagi terlapor (Setya Novanto). Nama Pandjaitan disebut-sebut sebanyak 66 kali dalam rekaman pembicaraan itu. 

"Ya bisa dua-duanya (memberatkan atau meringankan Setya Novanto), tergantung bagaimana yang sesungguhnya terjadi. Bisa meringankan bahkan bisa juga memberatkan. Bahkan bisa meniadakan bahwa Pak Novanto tidak bersalah seperti seperti yang dilaporkan," kata Bae.
Ketika ditanya soal banyaknya desakan mundur terhadap Novanto, dia enggan menjawab. Sebab, katanya, desakan mundur bukan ranahnya untuk dikomentari.

"Mari kita buktikan dulu, dia bersalah atau tidak bersalah. Kalau saja pernah barang satu saja di Indonesia ini, pejabat dipersoalkan misalnya langsung mundur, itu lain ceirta. Jadi ini kan tidak demikian. Tapi ini kan bukan ranah saya, itu tanyakan ke pribadi pada pak Novanto begitu," katanya. 

"Kalau saya sebagai MKD kan, ya kita melihat objektif, salah atau tidak salah. Melanggar etika atau tidak melanggar etika. Itu tugas kita. Persoalan mundur persoalan yang bersangkutan saja," demikian Bae. 
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top