-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menlu tenangkan WNI terjebak di bandara Istanbul

Menlu tenangkan WNI terjebak di bandara Istanbul

Menlu tenangkan WNI terjebak di bandara Istanbul
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi (REUTERS/Stephane de Sakutin)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menenangkan puluhan WNI yang terjebak di Bandara Attaturk Istanbul, Turki, pascakudeta militer terhadap Presiden Raceep Thayyeb Erdogan, Sabtu.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu Lalu Muhammad Iqbal mengatakan melalui pesan pendek yang diterima di Jakarta, Sabtu, bahwa Menlu Retno berbicara langsung melalui telepon dengan perwakilan dari sekitar 60 WNI yang terjebak di Bandara Attaturk.

"Menlu meminta agar para WNI tidak panik, tetap tenang dan tidak keluar bandara," kata dia.

Iqbal menambahkan Menlu Retno juga meyakinkan WNI bahwa Konsulat Jenderal RI di Istanbul telah mengetahui keberadaan mereka dan akan segera memberikan bantuan yang diperlukan begitu akses bandara dibuka.

Berikut daftar WNI yang berhasil dihimpun PWNI melalui koordinasi sukarela dari perwakilan WNI yang berada di Bandara Attaturk, Qamaruzzaman Badri Umar.
Rombongan Daya Wisata Tour:

1. Bambang Purwinto Soeparto

2. Roeswandi, Roekiman Roestamadji

3. Rina Yuniarti Kurnia

4. Raka Reyhananda Andi

5. Kintan Putri Resvaldy

6. Debby Rismawati, Telaumbanua

7. Tadjuddin Ius Agung

8. Nazla Meuthia Tadjuddin

9. Danish Danial Tadjuddin

10. Davin Gifara Tadjuddin

11. Maezar Maolana, Udjang Dady

12. Imas Yayah Suryani

13. Aiko Maolana

14. Aoki Maolana

15. Sri Widyati Sutjipto

16. Kartika Laksmi Sutjipto

17. Adristi Sitineysa Prasetyo

18. Muhammad Vito Prasetyo

19. Chairul Saleh, Waro

20. Riezca Ausvia, Ausri

21. Isnania Nurlintang Aqmarina

22. Amalia Nuril Aqmarina

23. Qomaruzzaman, Badri Umar

24. Oktarina Kariani Hamid

Rombongan Teavelindo:

1. Nesya Yunitasari

2. Rujito Siswoyo Putro

3. Julianti Sukadi Sukatno

4. Nabilah Fadwa Siswoyo Putri

5. Cahaya Marwah Siswoyo Putri

6. Muhamad Aziz Fahrit

7. Nur Muhammad Ihsan Mufidz

8. Muhammad Wahid Abdulloh

Rombongan Bayu Buana:

1. Findi Yapin Lie

2. Luluq Carbellani Erwan

3. Camila Bani Alawia

4. Rachmat Santosa

5. Deni Karnia

6. Vennyra Alpan Kowtianata

7. Sidharta Utama

8. Cyntia Afriani

9. Jasmine Nadhira

10. Farrel Azhar Sarfaraz

11. Inita Lianawati

12. Azwar Darassim

13. Widyawati Jahja

14. Ni Penelope Aiku

15. Freshta Rio

16. Rio Chandra

Selain itu, terdapat pula WNI lainnya yang tidak tergabung dalam tur wisata:

1. Rabin Upakerti Rana

2. Agus Ellan Budiono

3. Andreas Kurniawan

4. Munarto

5. Ate Nurmasyah Tohirin

6. Rudi Sugiarto

7. Yanuar Anwas

8. Agustiar

9. Supama

10. Widya Kusuma

11. Rahayu Ferlina

12. Anatolia Marrakesh
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Bupati: WNI yang disandera asal Flores Timur

Bupati: WNI yang disandera asal Flores Timur

Bupati: WNI yang disandera diculik asal Flores Timur
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) memberikan keterangan pers di Gedung Kemenlu, Pejambon, Jakarta, Senin (11/7/2016). Menlu mengatakan Pemerintah terus melakukan upaya pembebasan tujuh anak buah kapal (ABK) yang disandera kelompok Abu Sayyaf serta melakukan koordinasi lebih lanjut tentang tiga WNI yang diculik oleh lima anggota kelompok bersenjata di Lahad Datu, Sabah, Malaysia pada Sabtu (9/7/2016) malam. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Kepastian status tiga WNI itu diperoleh setelah pemerintah melakukan penelusuran ke desa-desa di wilayah ini, kata Yoseph Lagadoni Herin kepada Antara di Larantuka, Selasa, terkait hasil penelusuran terhadap identitas tiga WNI yang diculik.

"Salah satu di antaranya memang belum diketahui desa asalnya, tetapi yang pasti bahwa ketiganya berasal dari Flores Timur," katanya.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran, Kapten Kapal Lorens Koten lahir dan besar di Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur.

Hanya saja, dia sudah belasan tahun meninggalkan kampung halaman untuk merantau, dan sudah menikah dengan orang Toraja dan saat ini sudah ber-KTP Toraja, Sulawesi Selatan.

Sementara Theodorus Kopong berasal dari Dusun III Desa Adobala, Kecamatan Klubagolit, Adonara. Dalam KTP masih berstatus mahasiswa.

Khusus untuk Emanuel Arakian, dalam paspor tertulis berasal dari Desa Lamahoda, Flores Timur, tetapi setelah ditelusuri ternyata tidak dikenal oleh pemerintah desa setempat, katanya.

Namun setelah dicek pada data kependudukan, berdasarkan Nomor Induk Kepegawaian (NIK), maka dipastikan, bahwa Theodorus Kopong berasal dari wilayah Adonara bagian Tengah.

Saat ini, tim dari Badan Kesbangpol Kabupaten Flores Timur masih menelusuri desa asalnya, kata Bupati Lagadoni.

Artinya, sudah dapat dipastikan bahwa tiga WNI yang diculik kelompok bersenjata itu berasal dari Flores Timur, Pulau Flores, kata Lagadoni Herin.
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Lagi penculikan WNI, kali ini tiga WNI diculik di Sabah Malaysia

Lagi penculikan WNI, kali ini tiga WNI diculik di Sabah Malaysia

 | 2.553 Views
Lagi penculikan WNI, kali ini tiga WNI diculik di Sabah Malaysia
Dokumentasi empat WNI ABK kapal tunda Henry yang diculik pada 15 Maret lalu menuruni tangga pesawat terbang Boeing B-737 TNI AU, di Pangkalan Utama TNI AU Halim Perdanakusuma. Mereka dibebaskan setelah berpekan-pekan disandera kelompok perlawanan bersenjata Abu Sayyaf, di Filipina selatan. Selama 2016, sudah empat kali WNI berprofesi ABK kapal tunda dan kapal tongkang disandera di perairan perbatasan Indonesia-Filipina dan Indonesia-Malaysia. (ANTARA FOTO)
 ... penculik bersenjata berbicara dalam bahasa Melayu dan berlogat Sulu...

Kualalumpur, Malaysia (ANTARA News) - Penculikan WNI di kapal-kapal di mana mereka bekerja terjadi lagi. Kini kelompok bersenjata menculik tiga WNI awak kapal tunda Indonesia di Negara Bagian Sabah, Malaysia timur.

Hal itu dinyatakan secara resmi oleh polisi setempat, Minggu, dalam kejadian terkini dari rangkaian penyergapan di wilayah yang terkenal karena penculikan oleh gerilyawan garis keras.

Belum jelas apakah mereka disergap Abu Sayyaf, kelompok terkait ISIS, yang bertanggung jawab atas pengayauan (penggal kepala) sandera asal Kanada baru-baru ini dan terkenal atas pemerasan jutaan dolar dalam uang tebusan.

Kapal tunda itu, dengan tujuh awak, berada di perairan lepas pantai Sabah di Pulau Kalimantan, sekitar delapan mil laut dari pantai, ketika diserang kelompok bersenjata dalam perahu putih itu, Sabtu malam, kata polisi kelautan daerah setempat. 
"Tersangka bertanya siapa membawa paspor dan tiga yang membawa digiring ke perahu mereka, sementara empat yang tidak membawa ditinggalkan," kata polisi laut dalam pernyataan pers, sebagaimana dinyatakan Reuters.

Lima penculik bersenjata berbicara dalam bahasa Melayu dan berlogat Sulu, tambah polisi. Polisi di Sabah diperkirakan mengadakan jumpa pers pada Minggu.
Di Jakarta, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan belum memiliki keterangan tentang penculikan itu.

Kelompok keras Abu Sayyaf mengayau dua orang Kanada baru-baru ini setelah tenggat tebusan dilewati. Mereka masih menyekap warga Jepang, Belanda, dan Norwegia.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, akhir Juni, mengatakan, akan tiba waktu bagi dia menghadapi Abu Sayyaf di bagian selatan negaranya.

"Akan ada waktu bagi saya untuk menghadapi Abu Sayyaf," kata Duterte setelah bertemu dengan perempuan Filipina, yang dibebaskan setelah sembilan bulan disekap, "Penculikan itu harus dihentikan."

Sebelumnya, Indonesia meminta Filipina memastikan keamanan di perairan Filipina selatan agar penyanderaan awak kapal oleh kelompok bersenjata tidak terulang.
"Pemerintah Indonesia mengecam keras terulangnya penyanderaan terhadap warga Indonesia oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan," kata Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Sehubungan dengan upaya ronda bersama di perairan perbatasan tiga negara yang disepakati Indonesia, Filipina, dan Malaysia, hingga kini, ketiga pihak itu masih membahas aturan baku pelaksanaannya.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
KBRI-KJRI imbau WNI di Arab Saudi waspada

KBRI-KJRI imbau WNI di Arab Saudi waspada

KBRI-KJRI imbau WNI di Arab Saudi waspada
Salah satu posting di tagar #PrayForMadinah di jejaring sosial Twitter. (Twitter)

Jakarta (ANTARA News) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan terkait situasi keamanan pascaserangan bom bunuh diri di beberapa wilayah.

"KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah dengan ini mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi agar tetap tenang dan sekaligus meningkatkan kewaspadaan dan keamanan pribadi dan keluarga," kata pernyataan pers dari KJRI Jeddah yang diterima di Jakarta, Selasa.

Imbauan tersebut dikeluarkan KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah bagi para WNI mengingat perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi, khususnya dengan terjadinya rentetan kejadian bom bunuh diri di beberapa wilayah, yaitu Jeddah, Madinah dan Qatif pada Senin, 4 Juli 2016.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengimbau WNI di Arab Saudi untuk terus memantau perkembangan situasi keamanan dari berbagai sumber pemberitaan, serta menghindari daerah-daerah yang berpotensi membahayakan keamanan diri.

Selain itu, para WNI juga diminta untuk selalu membawa identitas diri (iqomah/paspor) pada saat bepergian.

Selanjutnya, KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi.

Selanjutnya, untuk penyampaian informasi atau hal-hal lain yang terkait perkembangan situasi keamanan di tempat-tempat tinggal WNI di Arab Saudi, WNI dapat menghubungi "hotline" KBRI Riyadh pada nomor +966598881945 dan "hotline" KJRI Jeddah pada nomor +966581781945.

Sebelumnya, pada Senin (4/7) telah terjadi tiga serangan bom bunuh diri di tiga kota berbeda di Arab Saudi, yaitu Jeddah (pukul 03.40), Al Qotif (pukul 19.05) dan Madinah Al Munawarah (pukul 20.10).

Serangan bom bunuh diri di Jeddah berlokasi di depan pintu masuk Konsulat Amerika Serikat, dimana pelaku meledakkan diri dengan mengendarai mobil dan mencoba menerobos masuk barikade pintu gerbang Konsulat AS.

Berdasarkan informasi dari media dan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, pelaku bom bunuh diri itu tewas, sementara dua petugas keamanan Konsulat AS terluka dan telah dirawat di rumah sakit King Faisal Jeddah. Pelaku diketahui seorang ekspatriat asal Inggris.

Ledakan bom bunuh diri kedua terjadi di dekat mesjid Faraj Al Omran, kota Al Qotif, di wilayah Arab Saudi timur. Pelaku meninggal dunia, namun belum ada laporan mengenai warga yang meninggal dunia akibat ledakan itu.

Pelaku bom bunuh diri di Al Qotif itu belum diketahui identitasnya, dan aparat keamanan Arab Saudi masih melakukan.

Kemudian ledakan bom bunuh diri ketiga terjadi di kota Madinah al Munawarah, sekitar 500 meter dari Masjid Nabawi pada pukul 20.10.

Sejauh ini dilaporkan bahwa satu pelaku bom bunuh diri dan empat tentara Arab Saudi meninggal dunia dalam peristiwa ledakan bom di Madinah.

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi belum dapat mengungkap identitas pelaku bom bunuh diri dan masih melakukan investigasi.

Situasi di Arab Saudi pada umumnya berjalan normal, namun terdapat beberapa penjagaan ketat di sekitar lokasi ledakan. Aparat keamanan juga melakukan pemeriksaan di titik-titik tertentu dan memeriksa identitas setiap warga yang lewat.

(Y012)
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Wapres yakin tidak ada penyanderaan WNI

Wapres yakin tidak ada penyanderaan WNI

Wapres yakin tidak ada penyanderaan WNI
Wakil Presiden Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla merasa yakin tidak ada penyanderaan tujuh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia oleh kelompok perompak Abu Sayyaf di Filipina.

"Nggak ada penyanderaan itu," ujarnya saat ditemui seusai buka puasa bersama ribuan anak yatim di Jakarta Convention Center, Senayan, Kamis.
Saat didesak wartawan bahwa penyanderaan itu benar adanya, Wapres mengaku belum menerima laporan lebih lanjut dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Manila, Filipina.

Sementara itu, pihak keluarga tetap yakin bahwa awak kapal tunda Charles milik PT Rusianto Bersaudara disandera kelompok Abu Sayyaf.

"Kami yakin, tujuh kru kapal tunda, termasuk suami saya disandera karena sampai saat ini belum ada kepastian terkait bagaimana kondisi dan nasib mereka," ujar Dian Megawati Ahmad, istri salah satu kru tugboat Charles, dihubungi Antara dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Walaupun belum bisa memastikan, dari hasil percakapan dengan salah seorang ABK yang dibebaskan, dia merasa yakin jika suaminya disandera.

"Salah seorang dari enam ABK yang dibebaskan bernama Rudi sekitar pukul 01.30 WITA sempat menelepon istrinya dan mengatakan, kalau tujuh kru kapal tunda Charles diangkut menggunakan dua perahu. Perahu pertama mengangkut empat orang dan perahu kedua, tiga orang yang diambil," kata Dian Megawati.

Dia menyebutkan bahwa Ismail, suaminya, merupakan Mualim I dari kapal tunda tersebut.

Dian Megawati mengaku, mengetahui penyanderaan itu dari Ismail, suaminya pada Rabu (22/6) sekitar pukul 11.30 WITA.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top