-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Sesi Bilateral Menkeu Di G20

Sesi Bilateral Menkeu Di G20

Indonesia sampaikan reformasi arsitektur keuangan di G20

Indonesia sampaikan reformasi arsitektur keuangan di G20


Indonesia sampaikan reformasi arsitektur keuangan di G20
Presiden Joko Widodo (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
 
Antalya, Turki (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan perlunya reformasi arsitektur keuangan global dalam KTT G20 di Antalya Turki, Minggu.

"Presiden juga akan menyampaikan perlunya diferensiasi curency international, perlunya memperhatikan dampak kebijakan moneter suatu negara lain ke negara lain," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam jumpa pers di Hotel International Comfort (IC) Santai Antalya Turki, Sabtu malam.

Agenda pertemuan G20 pada Minggu (15/20) antara lain pertemuan pengusaha negara-negara G20 (B0) dan pertemuan para pemimpin G20 (L20) pada pukul 09.30-11.00 waktu setempat (WS)

Kemudian penyambutan resmi dan sesi foto pada pukul 12.00-13.30 WS, makan siang pukul 13.30-15.00 WS yang juga diisi dengan pembahasan pembangunan dan perubahan iklim.

Kemudian pukul 15.30-18.00 Sesi Kerja I yang membahas pertumbuhan inklusif, ekonomi global, strategi pertumbuhan serta strategi penyediaan lapangan kerja dan investasi.

Kemudian dalam sesi makan malam jam 20.30-22.30 WS akan dibahas tantangan global terorisme dan krisis pengungsi.

"Dalam sesi soal climate change, Indonesia akan mendorong suksesnya pertemuan di Paris 30 November 2015 dan komitmen tinggi Indonesia penanganan emisi," kata Retno.

Sementara itu agenda pada Senin (16/11) antara lain Sesi Kerja II yang membahas ketahanan ekonomi yang menyangkut regulasi keuangan, pajak, anti korupsi reformasi IMF.

Pada sesi makan siang akan dibahas antara lain mengenai perdagangan, energi, adopsi komunike dan Rencana Aksi Antalya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah Indonesia akan menyerukan pentingnya pembiayaan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global dalam pertemuan tingkat tinggi G20.

"Indonesia akan terus mendorong munculnya atau tumbuhnya infrastructure financing dan mendorong agar semua sepakat bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkualitas dengan pembangunan infrastruktur," kata Menkeu.

Poin tersebut merupakan salah satu agenda yang akan disuarakan oleh pemerintah Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang berlangsung di Antalya, Turki pada 15-16 November 2015.

Menkeu menjelaskan agenda pembiayaan infrastruktur ini sejalan dengan hasil dari forum G20 sebelumnya, yang menargetkan tambahan dua persen pertumbuhan ekonomi global dalam lima tahun mendatang.

"Pertumbuhan global tahun ini hanya 3,1 persen, jadi ini memang agak berat, karena tahun depan perkiraan hanya 3,6 persen. Ini tugas berat tapi menjadi komitmen G20, karena pertumbuhan bisa mengatasi masalah sosial, seperti pengangguran, kemsikinan dan ketimpangan," ujarnya.
Pembangunan infrastruktur bisa menjadi solusi utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi global dalam lima tahun menjadi kisaran empat atau lima persen, apalagi banyak lembaga multilateral yang saat ini memberikan pinjaman untuk pembiayaan proyek infrastruktur.

Pembiayaan investasi untuk sarana infrastruktur juga menjadi perhatian khusus, karena Indonesia saat ini merupakan co-chair Investment and Infrastructure Working Group di G20 bersama dengan Jerman dan Meksiko.

Selain itu, Indonesia akan menyuarakan kepentingan negara berkembang (emerging market) terkait reformasi di dalam Dana Moneter Internasional (IMF) yang hingga saat ini belum menemui titik temu karena AS belum memberikan persetujuan.

"Indonesia pada posisi dan mendorong agar reformasi ini terus berjalan dan negara yang mengalami hambatan bisa mengatasi masalahnya. Ini untuk kepentingan bersama, karena kami ingin IMF yang lebih kuat dan peduli pada emerging market dan developing countries," kata Menkeu.
Menkeu menambahkan Indonesia dalam forum G20 akan kembali mengingatkan bagi negara maju yang ingin menyesuaikan kebijakan moneternya agar mempertimbangkan dampaknya secara global kepada negara-negara berkembang.

"Indonesia ingin agar siapapun yang membuat kebijakan moneter agar memperhatikan dampaknya secara global. Siapapun silahkan, karena itu hak mereka untuk menjaga stabilitas makro, tapi perhatikan juga dampaknya," ujarnya.
Menkeu mengacu pada kebijakan stimulus moneter Quantitative Easing (QE) 2008, yang ternyata merupakan stimulus semu bagi pertumbuhan global, apalagi saat ini dunia sedang menanti kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed (Bank Sentral AS).

"Ketika QE kemudian dihentikan, kita lihat dampaknya pada perlambatan ekonomi global. Perlambatan ini berpengaruh pada kemiskinan dan pengangguran. Kami hargai dan mengakui pentingnya kebijakan moneter, tapi dampaknya bukan hanya ke sektor finansial, tapi juga ke politik dan sosial," tambahnya.
Poin terakhir yang ingin disampaikan pemerintah Indonesia dalam pertemuan G20 adalah apresiasi atas kesepakatan yang disusun bersama dengan OECD terkait pertukaran informasi pajak internasional antara negara anggota.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Mendag paparkan paket kebijakan ekonomi di G20

Mendag paparkan paket kebijakan ekonomi di G20


Mendag paparkan paket kebijakan ekonomi di G20
Menteri Perdagangan Thomas Lembong. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Thomas Lembong memaparkan Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I dan II di sela-sela pertemuan kelompok 20 negara terbesar di dunia (G20) yang salah satu poin utamanya adalah menarik kembali investasi ke Indonesia.

"Presiden Joko Widodo dalam kurun waktu sebulan ini meluncurkan dua paket kebijakan yang diyakini akan segera memperbaiki tumpang tindih dan kelemahan regulasi yang menghambat pertumbuhan perdagangan dan investasi," kata Thomas, seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima, Selasa.

Thomas yang kerap disapa Tom tersebut mengatakan, paket-paket kebijakan berikutnya akan segera menyusul, dan perhatian utama bagi Indonesia adalah konsolidasi, misalnya menyangkut kemudahan perizinan, bukan peluncuran regulasi-regulasi baru.

Tom menyampaikan Paket Kebijakan Ekonomi RI saat hadir sebagai panelis pada pada G20 OECD Global Forum on International Investment (GFII ke-10), di Istanbul, Turki. Tom meyakini, pemerintah Indonesia dapat menghindari adanya regulasi yang seolah-olah bagus di atas kertas namun merugikan di lapangan.

"Paket kebijakan yang diluncurkan pemerintah dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi seluruh instansi," ujar Tom.
Menurutnya, berbagai kebijakan restriktif di bidang perdagangan dan investasi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi rendahnya kinerja. Dalam forum tersebut, Tom menanggapi rendahnya capaian kinerja investasi global dibanding periode sebelum krisis keuangan global 2009, yaitu hanya 40 persen.

"Pertemuan GFII-10 membahas rekomendasi langkah-langkah untuk mengembalikan kinerja investasi (investment comeback) yang produktif, efisien, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendukung pertumbuhan inklusif," kata Tom.

Sebagian besar pembicara memandang penting dukungan bagi pengembangan global value chain (GVC). Regulasi terhadap GVC yang menghambat akan berakibat langsung pada pelemahan investasi dan perdagangan.

Di lain pihak, pembicara dari negara berkembang, termasuk Menteri Perdagangan Afrika Selatan Rob Davies, mengingatkan bahwa perkembangan perdagangan global dalam konteks GVC harus memperhatikan peran negara berkembang agar tidak hanya ditempatkan sebagai penyedia bahan baku dan pengimpor barang final.

Banyak negara telah melakukan langkah-langkah deregulasi dalam rangka meningkatkan daya tarik investasi. Diyakini bahwa dampak kebijakan itu tidak maksimal karena dilakukan berdasarkan template yang dikembangkan masing-masing. Dalam konteks inilah, pertemuan ini juga menyadari pentingnya peningkatan kerja sama internasional.

Berdasarkan paparan dan diskusi pada pertemuan tersebut, terdapat benang merah berupa harapan agar masyarakat dunia dapat membangun rezim regulasi investasi internasional yang menciptakan iklim terbaik bagi investasi, termasuk bagi kepentingan usaha kecil dan menengah.

Terkait hal tersebut, Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi, menyatakan bahwa Indonesia tetap memandang regulasi internasional dengan kacamata untuk kepentingan nasional.

"Regulasi internasional dapat didorong agar lebih memberikan kepastian iklim investasi dan meningkatkan keterbukaan pasar. Karena itu, Indonesia perlu melakukan kajian untuk memastikan bahwa rezim regulasi internasional dapat menguntungkan kegiatan ekonomi di dalam negeri," ujar Bachrul.

Bachrul meyakini dengan kondisi dunia yang terus berkembang pengembangan regulasi global menjadi tidak dapat dihindari.

"Kita berkepentingan agar perkembangan tersebut selalu selaras dengan kesiapan nasional untuk memetik manfaat yang sebesar-besarnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kemakmuran rakyat," ujar Bachrul.

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top