-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Wagub: Densus 88 pantau terduga teroris di Jatim

Wagub: Densus 88 pantau terduga teroris di Jatim

 | 316 Views
Wagub: Densus 88 pantau terduga teroris di Jatim
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Surabaya (ANTARA News) - Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengaku menerima informasi bahwa saat ini Tim Densus 88/Antiteror Mabes Polri tengah memantau puluhan orang yang diduga terlibat terorisme di sejumlah daerah di provinsi setempat.

"Informasi yang saya terima seperti itu bahwa Densus 88 sedang memantau orang-orang yang diduga terlibat terorisme," ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Minggu.

Tidak hanya memantau dari jauh, kata dia, namun tim yang khusus menangani kasus terorisme itu cukup ketat mengawasinya, bahkan menjadi perhatian khusus.

Menurut Gus Ipul, sapaan akrabnya, sejumlah orang yang diduga terlibat gerakan radikalisme saat ini tidak hanya berasal dari jaringan lama, namun beberapa di antaranya orang baru.

"Seperti saat penangkapan terduga teroris di Surabaya beberapa waktu lalu. Dia adalah narapidana narkoba, tapi keluar malah terlibat gerakan radikalisme," ucap mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor tersebut.

Salah satu upaya yang harus dilakukan, lanjut dia, menghindarkan narapidana terorisme dengan tahanan lain, termasuk usulan membuat rumah tahanan khusus kasus terorisme.

"Gubernur Jatim Soekarwo sudah mengusulkannya ke Kementerian Hukum dan HAM. Semoga ada jalan keluar karena jangan sampai gerakan radikalisme ini menjadi semakin besar dan merekrut anggota baru di tahanan," kata salah seorang ketua PBNU tersebut.

Selain itu, Gus Ipul juga mengajak semua pihak bekerja sama dan pro aktif mencegah munculnya gerakan radikalisme yang dimulai dari lingkungan tempat tinggalnya, terutama menggalakkan gerakan peduli tetangga.

Sebelumnya, pada Rabu (8/6), Tim Densus 88/Antiteror Mabes Polri telah mengamankan tiga terduga teroris di tiga lokasi berbeda di Surabaya, yaitu di Lebak Timur (tempat kos), Kalianak (warung) dan Lebak Agung (tempat kos).

Dari tiga lokasi tersebut, petugas menyita rangkaian bom siap diledakkan, senjata api laras panjang, senjata api rakitan lengkap dengan peluru, sangkur, pemicu bom, serta bahan kimia dan pembuat bom lainnya.
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Hasyim: waspadai potensi konflik Sunni-Syiah di Jatim

Hasyim: waspadai potensi konflik Sunni-Syiah di Jatim

Hasyim: waspadai potensi konflik Sunni-Syiah di Jatim
KH Hasyim Muzadi (ANTARA FOTO/ Dhoni Setiawan)

Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua Umum PBNU yang kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi menyatakan potensi konflik Sunni-Syiah di sejumlah daerah di Jawa Timur, yakni Bangil, Bondowoso, Puger, dan Madura, perlu diwaspadai.

"Konflik Sunni-Syiah di dunia telah terbukti menjadi awal terobek-robeknya kaum Muslimin bahkan penyebab terobek-robeknya sebuah negara. Juga hal ini, di Indonesia pasti merupakan ancaman terhadap NKRI," kata Hasyim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
"Kita tentu bisa ikut merasakan sakit hati kaum Sunni ketika kaum Syiah menghujat Sayyidina Abu Bakar Assiddiq, Sayyidina Umar bin Khottob, Sayyidina Usman bin Affan, Sayyidah Aisyah, dan Sayyidah Hafsoh, bahkan sampai mengkafirkan beliau-beliau yang sangat dihormati di kalangan Sunni. Tapi kaum Sunni harus menahan diri dan selalu bergandengan dengan aparat negara," tambah Hasyim.

Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu menjelaskan bahwa sebenarnya ada kelompok Syiah yang tidak menghujat para Sahabat Nabi, misalnya Kelomlpok Jafariyah dan Zaidiyah, namun jumlahnya sangat kecil bahkan lebih suka hanya digunakan sebagai promosi. 

"Ketegangan sosial yang diakibatkan oleh hujatan ini apabila bersinggungan dengan politik kekuasaan akan terjadi kristalisasi kekuatan antarkeduanya kemudian tahap selanjutnya akan terjadi konflik terbuka," katanya. 

Lebih lanjut Hasyim mengatakan bahwa proses menuju konflik terbuka ini dimanfaatkan oleh banyak kaum islamophobia (musuh Islam dunia) yang diam-diam memperparah arena konflik untuk melakukan devide et impera (pemecahbelahan) serta mempersiapkan intervensi pemikiran/militer asing baik blok timur maupun barat atas dalih keamanan dunia. 

"Inilah yang terjadi di Syuriah pada saat sekarang ini. Kalau sudah sampai tahap ini, sudah tidak lagi kelihatan Sunni-Syiahnya, yang ada hanya penderitaan dan kehancuran kaum Muslimin dan negara Islam," katanya. 

Kenyataan pahit inilah yang mendorong berbagai negara Sunni melarang pengembangan Syiah melalui undang-undang seperti Sudan, Malaysia, Brunei, apalagi Arab Saudi yang memang musuh bebuyutan Syiah, kata Hasyim.

"Sedangkan di Indonesia semua berdasarkan HAM, tidak peduli apakah HAM tersebut menuju persatuan atau cerai berai, bahkan kehancuran Indonesia," kata dia.
Akibatnya, Polri pun akan kehabisan langkah kalau menghadapi konflik sosial ideologis seperti ini karena tidak adanya payung hukum yang melindungi polisi sendiri. 

Khusus terkait potensi konflik di Jawa Timur, menurut Hasyim tidak menutup kemungkinan dalam hitungan waktu bisa saja terus menjalar ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara, kalau tidak ada formula utuh kenegaraan dan sosial masyarakat untuk penyelesaiannya.

"Seharusnya PBNU segera turun ke Jatim menyelesaikan masalah sangat rawan ini karena menyangkut keselamatan warga Nahdliyin, umat Islam, dan negara," kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang dan Depok itu.


(S024/T013)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Back To Top