-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Amerika Serikat terpecah akibat kebijakan Rusia di Suriah

Amerika Serikat terpecah akibat kebijakan Rusia di Suriah

Amerika Serikat terpecah akibat kebijakan Rusia di Suriah
Foto udara menunjukkan sebuah masjid dan gedung-gedung di sekitarnya yang rusak di Al-Maysar, Aleppo, Suriah, Kamis (23/4). (REUTERS/Hosam Katan)
 ... negara Barat kebingungan dalam membaca niat Putin sebenarnya sejak tokoh itu mengirim pesawat tempur mendukung Bashar pada September...

Kubu pertama yakin Presiden Rusia, Vladimir Putin, sungguh-sungguh mendukung prakarsa PBB mengakhiri perang di Suriah, yang sudah berlangsung lima tahun. 

Sementara itu, kubu berseberangan menyatakan Moskow hanya memanfaatkan perundingan PBB untuk memperkuat dukungan militer kepada Presiden Suriah, Bashar al Assad.

Kebijakan militer terkini Rusia itu adalah penempatan meriam di dekat medan tempur Aleppo. 

Meski sudah menarik sejumlah pesawat tempur pada Maret, Rusia memperkuat pasukannya di Suriah dengan beberapa helikopter perang canggih untuk menyerang kelompok oposisi moderat, kata sejumlah sumber pemerintahan Amerika Serikat.

Menurut kubu meragukan niat Putin, penguatan kehadiran militer Rusia di Suriah harus ditanggapi tegas. Jika tidak, Moskow akan meremehkan kekuatan Amerika Serikat sehingga membuat negara tersebut semakin garang.

Selain itu, hubungan Washington dengan Arab Saudi dan negara Teluk --yang pada umumnya anti al Asaad-- akan semakin memburuk jika langkah Rusia tidak direspon dengan segera.

Menurut mereka, Amerika Serikat harus meningkatkan dukungan kepada unsur gerilyawan moderat dengan bantuan berupa rudal anti-tank dan pelempar granat.
Namun, kubu lain dalam pemerintahan Amerika Serikat tidak sependapat. Penasihat Keamanan Nasional, Susan Rice, menolak eskalasi keterlibatan Washington di Suriah.
"Rice adalah yang kukuh menolak," kata sumber yang mengetahui perpecahan dalam pemerintahan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama sendiri selama ini keberatan untuk meningkatkan keterlibatan negaranya dalam perang di Suriah. Pada Oktober lalu, dia menyatakan bahwa Washington tidak akan terseret dalam perang proksi dengan Moskow.

Mengenai perpecahan dalam menanggapi langsung Putin tersebut, Gedung Putih menolak berkomentar.

Selama ini, negara Barat kebingungan dalam membaca niat Putin sebenarnya sejak tokoh itu mengirim pesawat tempur mendukung Bashar pada September.
Kebingungan Barat semakin bertambah setelah Putin tiba-tiba menarik sebagian pesawat tempurnya dari Suriah pada Maret.
Pertanyaan utama yang tidak bisa dijawab oleh Amerika Serikat dan negara Barat lain adalah; kenapa Putin tidak mampu menekan Assad untuk berkompromi dalam perundingan perdamaian dengan oposisi.

Pertanyaan lebih lanjut, apakah Putin benar-benar berniat baik dalam mendorong keberhasilan perundingan di Jenewa yang diprakarsai PBB.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016
AS-Rusia sepakati gencatan senjata terbatas di Suriah

AS-Rusia sepakati gencatan senjata terbatas di Suriah

AS-Rusia sepakati gencatan senjata terbatas di Suriah
Pasukan Rusia (Reuters)


Kesepakatan itu tidak berlaku untuk sejumlah kelompok seperti organisasi bersenjata ISIS dan Front Nusra. Akibatnya, sejumlah gerilyawan Suriah langsung memprotes kelemahan tersebut.

Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut kesepakatan yang dicapai pada Senin itu sebagai "langkah awal menuju gencatan senjata yang lebih luas" dan buah dari diplomasi antara Washington dengan Moskow yang selama ini berseberangan sikap soal Suriah.

Presiden dari dua negara, Barack Obama dan Vladimir Putin, merundingkan kesepakatan itu melalui hubungan telepon. 
Pemimpin Kremlin mengatakan bahwa kesepakatan antara dirinya dengan Obama berpotensi "mengubah secara radikal situasi krisis di Suriah." Sementara itu, Gedung Putih juga merasa optimistis bahwa kesepakatan dapat memajukan perundingan untuk membawa perubahan politik di Suriah.

Untuk bisa berlaku, kesepakatan itu mengharuskan kedua negara untuk mendesak sekutu masing-masing di lapangan agar patuh. Namun demikian, mereka masih diperbolehkan melakukan serangan terhadap ISIS, Nusra Front, dan kelompok garis keras lain.

Menanggapi kesepakatan itu, kepala kantor politik kelompok gerilyawan Tentara Yarmouk, Bashar al-Zoubi, mengatakan bahwa pembolehan serangan terhadap ISIS akan menjadi alasan bagi presiden Bashar al Assad dan Rusia untuk terus menyerang wilayah, yang sama-sama dipenuhi oleh gerilyawan dan kelompok-kelompok garis keras. 

"Rusia dan rezim akan menarget wilayah kelompok revolusioner dengan alasan Nusra Front ada di situ. Kelompok-kelompok itu saling menguasai area yang berdekatan. Dan jika hal ini terjadi, gencatan senjata akan buyar," kata dia.
Sejak membantu Presiden Bashar pada September dengan serangan udara, Rusia berhasil membuka jalan bagi pasukan pemerintah untuk memperoleh sejumlah kemenangan.

Tentara pemerintah Suriah saat ini memperoleh dukungan dari Rusia, Iran, dan kelompok Hizbullah. Di sisi lain, Amerika Serikat, Turki dan Arab Saudi membantu kelompok-kelompok gerilyawan.

Dalam pernyataan resmi terkait kesepakatan Amerika Serikat dan Rusia, kedua negara tersebut akan bekerja sama mengusir ISIS, Nusra Front, dan kelompok garis keras lain dari wilayah yang mereka kuasai.

Namun, tokoh-tokoh gerilyawan mengatakan tidak mungkin memastikan titik wilayah yang dikuasai Front Nusra.

"Bagi kami, al-Nusra adalah persoalan karena mereka tidak hanya berada di Idlib, tapi juga Aleppo, Damaskus, dan daerah selatan. Persoalannya, warga sipil dan gerilyawan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) bisa menjadi sasaran hanya karena berada di wilayah yang sama dengan Front Nusra," kata tokoh senior kubu oposisi, Khaled Hoja.

Sementara itu dalam perkembangan lain, Bashar menetapkan pemilihan umum parlemen pada 13 April mendatang atau empat tahun setelah pemungutan suara terakhir.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyambut baik kesepakatan Amerika Serikat dan Rusia yang terjadi setelah kegagalan perundingan Jenewa pada bulan lalu.
"Sekretaris Jenderal mendesak agar semua pihak mematuhi kesepakatan ini dan bekerja keras mengimplementasikannya," kata juru bicara Ban, Stephane Dujarric. 
Menurut perjanjian kedua negara itu, semua pihak yang berperang di Suriah harus menyatakan persetujuan kepada Amerika Serikat dan Rusia hingga Jumat siang waktu Damaskus.

Setelah itu, gencatan senjata akan mulai berlaku pada tengah malam. Pasukan pemerintah tidak akan menyerang gerilyawan oposisi bersenjata dan sebaliknya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengatakan bahwa ada "tantangan berat ke depan." Dia mendesak agar semua pihak mendukung kesepakatan Washington-Moskow.

"Jika berhasil diimplementasikan, gencatan senjata ini tidak hanya akan mengurangi kekerasan tetapi juga memudahkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terkepung," kata Kerry dalam pernyataan tertulis.


(G005/T008)
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Desakan bagi gencatan senjata di Suriah meningkat

Desakan bagi gencatan senjata di Suriah meningkat

Desakan bagi gencatan senjata di Suriah meningkat
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry (REUTERS/Kevin Lamarque)

Beirut (ANTARA News) - Usaha-usaha ditingkatkan untuk pemberlakuan gencatan senjata parsial di Suriah sementara pertempuran berkecamuk dekat Aleppo pada Senin dan setelah negara itu menderita serangan paling berdarah oleh kelompok jihadis dalam perang yang berlangsung hampir lima tahun.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan berbicara dalam beberapa hari mendatang setelah Washington mengumumkan suatu persetujuan pendahuluan dicapai mengenai "penghentian kekerasan."

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengumumkan persetujuan itu dicapai pada Minggu ketika serangkaian pengeboman bunuh diri di kawasan-kawasan dekat tempat keramat pengikut Syiah di luar Damaskus dan di kota Homs membunuh sedikitnya 179 orang.

Kelompok Negara Islam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan itu di kawasan-kawasan yang dikuasai pemerintah. Satu kelompok pemantau mengatakan serangan-serangan tersebut membunuh 120 orang dekat tempat suci Sayyida Zainab dan sedikitnya 59 orang di distrik Al-Zaharaa, Homs.

Pengeboman-pengeboman dekat tempat suci itu menandai serangan paling mematikan oleh kelompok jihadis sejak konflik Suriah pecah pada Maret 2011, kata Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah, sebuah kelompok pemantau yang berkedudukan di Inggris.

Kerry mengatakan para pemimpin AS dan Rusia akan berbicara "pada beberapa hari mendatang atau setelah itu" mengenai hal-hal terkait dalam pelaksanaan persetujuan tersebut, yang berlaku bagi pihak-pihak yang bertempur antara pasukan pemberontak di luar IS dan kelompok-kelompok lain dan pasukan pemerintah dukungan Moskow dan Teheran.

Gencatan senjata parsial itu tidak akan melebar ke usaha-usaha internasional untuk memerangi IS dan kelompok-kelompok jihadis lain di Suriah, yang memperumit pelaksanaannya.

Gencatan senjata yang diumumkan para diplomat top di Munchen awal bulan ini gagal dibelakukan pada Jumat lalu sebagaimana rencana semula.


Pembicaraan oposisi di Riyadh

Proposal itu, bagian dari suatu rencana yang juga mencakup akses kemanusiaan yang diperluas, bertujuan memuluskan jalan bagi penyelenggaraan kembali pembicaraan perdamaian yang gagal awal bulan ini di Jenewa.

Pembicaraan itu telah dijadwalkan diadakan pada 25 Februari, tetapi utusan PBB untuk Suriah sudah mengatakan bahwa tanggal itu tak lagi realistik.

Kelompok payung oposisi utama Suriah, Komite Negosiasi Tinggi (HNC), bertemu di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Senin untuk mengadakan pembicaraan mengenai gencatan sennjata itu dan usaha-usaha pembicaraan perdamaian.

Juru bicara HNC Mozer makhous mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pertemuan tersebut akan dilanjutkan selama dua atau tiga hari lagi, demikian AFP.
(M016)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Putin dan Kerry setuju dorong proses perdamaian di Suriah

Putin dan Kerry setuju dorong proses perdamaian di Suriah

Presiden Rusia Vladimir Putin (REUTERS/Mikhail Klimentyev/RIA Novosti/Kremlin )

Moskow (ANTARA News) - Amerika Serikat dan Rusia sepakat pada Selasa untuk mendorong perundingan perdamaian Suriah di New York pekan ini, setelah pembicaraan intensif antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Presiden Vladimir Putin.

Setelah pertemuan tiga jam di Moskow antara Putin dan Kerry, Rusia dan AS mengambil sikap lebih mendekat satu sama lain mengenai Suriah walaupun perbedaan-perbedaan di antara mereka masih ada mengenai masa depan Presiden Bashar al-Assad.

"Kami mendukung gagasan menyelenggarakan pertemuan lain Grup Pendukungan Suriah Internasional di tingkat menteri Jumat, 18 Desember," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov setelah pembicaraan di Kremlin.

Kerry, yang mengatakan pembicaraan Moskow dipusatkan pada Suriah, kontra terorisme dan Ukraina, juga mengonfirmasi pertemuan yang dijadwalkan itu akan terjadi.

Kerry dan Lavrov mengatakan perundingan-perundingan akan mengarah kepada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyokong proses perdamaian Suriah.

"Kami hari ini membahas secara terperinci mengenai perlunya mempercepat usaha," kata Menlu Kerry.

"Anda tidak dapat mengalahkan Daesh tanpa juga menurunkan tingkat pertempuran di Suriah," katanya, menggunakan nama lain yang merujuk kepada kelompok Negara Islam.

Washington dan Moskow merupakan kekuatan kunci dalam proses perdamaian, dan memimpin pembicaraan Kelompok Dukungan Suriah Internasional yang beranggota 17 negara.

Setelah pembicaraan Kremlin, Kerry dan Lavrov mengakui perbedaan-perbedaan yang masih ada di antara kedua negara itu mengenai nasib Presiden Bashar tetapi menekankan bahwa mereka tidak membiarkannya memperlembat proses politik.

"Apa yang telah kami katakan ialah bahwa kami tidak percaya bahwa Bashar sendiri punya kemampuan memimpin Suriah masa depan," kata Kerry.

"Tetapi hari ini kami tidak fokus pada perbedaan kami mengenai apa yang dapat dan tidak dapat lakukan segera mengenai Bashar, kami fokus pada proses politik dimana pihak-pihak Suriah akan memebuat keputusan mengenai masa depan Suriah."

Ia juga menyampaikan kepada Putin mengenai kecemasan Washington "bahwa serangan-serangan Rusia telah mengenai oposisi moderat" di Suriah, tidak hanya IS.

"Dan saya senang mengatakan ia memperhatikan hal tersebut," kata Kerry.

Sebuah kelompok pemantau mengatakan pada Selasa bahwa serangan-serangan udara yang diduga dilakukan Rusia mengenai dua pasar di Suriah telah membunuh sedikitnya 30 warga sipil.

Lebih 250.000 orang meninggal sejak konflik Suriah pecah pada Maret 2011, dan jutaan lagi telah meninggalkan rumah-rumah mereka ke tempat-tempat yang aman.
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Jika ditembak lagi, Rusia jalan sendiri di Suriah

Jika ditembak lagi, Rusia jalan sendiri di Suriah


Jika ditembak lagi, Rusia jalan sendiri di Suriah
Presiden Rusia Vladimir Putin (REUTERS)
hal ini tidak boleh terulang, kecuali kita tidak perlu lagi kerja sama dengan siapa pun, dengan koalisi mana pun, dengan negara mana pun
Moskow (ANTARA News) - Rusia akan tetap bekerja sama dengan Amerika Serikat dan mitra-mitra koalisinya dalam memerangi ISIS di Suriah, namun kerja sama itu berada dalam bahaya jika penembakan pesawat Rusia oleh Turki terulang, kata Presiden Vladimir Putin.

Berbicara setelah bertemu dengan Presiden Prancis Francois Hollande di Kremlin, Putin tetap marah kepada Turki karena merasa dihianati oleh negara yang dinggap Rusia sahabat.

Tetapi Putin akan memerintahkan militer Rusia untuk mengintensifkan kerja sama dengan pasukan Prancis, termasuk pertukaran informasi mengenai target serangan, yang dianggapnya sebagai bagian dari menciptakan koalisi internasional yang lebih luas guna mempersatukan Rusia dan Barat.

"Kami siap bekerja sama dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Tetapi tentu saja insiden-insiden seperti penghancuran pesawat kami dan kematian prajurit kami sama sekali tak bisa diterima," kata Putin.

"Dan kami bertahan pada posisi bahwa hal ini tidak boleh terulang, kecuali kita tidak perlu lagi kerja sama dengan siapa pun, dengan koalisi mana pun, dengan negara mana pun," demikin Putin seperti dikutip AFP.

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Back To Top