PASTI LIBERTI MAPPAPA - detikNews
Namun akhirnya mereka bersahabat baik selama lebih dari 30 tahun. Saking akrabnya hubungan kedua tokoh itu, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di pengujung 1997, Soeharto sempat mengutus dua putrinya, Siti Hardiyanti (Tutut) dan Siti Hediyati Hariyadi (Titik) untuk meminta bantuan Lee.
Selain memberikan nasihat teknis ekonomi, Lee sempat menyarankan agar Tutut dan adik-adiknya menarik diri dari pasar dan tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek baru.
Namun Tutut dan Titik tak berkenan dengan nasihat Lee tersebut. “Tapi Tutut menolak, bahkan membantah bahwa keterlibatan mereka dalam dunia usaha berpengaruh pada perekonomian,” tulis Lee dalam memoarnya “From Third World To First, The Singapore Story: 1965 – 2000” seperti dikutip dari Majalah Detik Edisi 171.
Menjelang Sidang Umum MPR 1998, ketika BJ Habibie menjadi calon kuat wakil presiden untuk mendampingi Soeharto, Lee melontarkan pernyataan mengejutkan. Menurut dia, pasar tak bersahabat dengan pakar aeronotika itu.
Apabila dipaksakan menjadi wakil presiden nilai tukar rupiah akan terus melemah menyentuh Rp 16 ribu per dolar. Tapi Soeharto tak peduli, dan Habibie pun terpilih menjadi wapres menggantikan Try Sutrisno dalam Sidang MPR, 11 Maret 1998. Namun pada akhirnya, Lee meminta maaf pada Habibie dan memujinya.
(erd/nrl)
Presiden Soeharto bersama Lee Kuan Yew. (Foto- Dewira/AFP/Getty Images)
Jakarta - Hubungan Perdana Menteri Singapura
Lee Kuan Yew dengan Presiden Soeharto sempat tak harmonis. Presiden
Soeharto sempat menutup diri atas Lee Yuan Yew selama kurang lebih tujuh
setengah tahun. Namun akhirnya mereka bersahabat baik selama lebih dari 30 tahun. Saking akrabnya hubungan kedua tokoh itu, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di pengujung 1997, Soeharto sempat mengutus dua putrinya, Siti Hardiyanti (Tutut) dan Siti Hediyati Hariyadi (Titik) untuk meminta bantuan Lee.
Selain memberikan nasihat teknis ekonomi, Lee sempat menyarankan agar Tutut dan adik-adiknya menarik diri dari pasar dan tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek baru.
Namun Tutut dan Titik tak berkenan dengan nasihat Lee tersebut. “Tapi Tutut menolak, bahkan membantah bahwa keterlibatan mereka dalam dunia usaha berpengaruh pada perekonomian,” tulis Lee dalam memoarnya “From Third World To First, The Singapore Story: 1965 – 2000” seperti dikutip dari Majalah Detik Edisi 171.
Menjelang Sidang Umum MPR 1998, ketika BJ Habibie menjadi calon kuat wakil presiden untuk mendampingi Soeharto, Lee melontarkan pernyataan mengejutkan. Menurut dia, pasar tak bersahabat dengan pakar aeronotika itu.
Apabila dipaksakan menjadi wakil presiden nilai tukar rupiah akan terus melemah menyentuh Rp 16 ribu per dolar. Tapi Soeharto tak peduli, dan Habibie pun terpilih menjadi wapres menggantikan Try Sutrisno dalam Sidang MPR, 11 Maret 1998. Namun pada akhirnya, Lee meminta maaf pada Habibie dan memujinya.
(erd/nrl)
Labels:
Lee Kuan Yew,
Soeharto
Thanks for reading Kisah Lee Kuan Yew Saat 'Mengusik' Bisnis Anak Soeharto . Please share...!

0 Komentar untuk "Kisah Lee Kuan Yew Saat 'Mengusik' Bisnis Anak Soeharto "