-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Kontras: pemberian gelar pahlawan Soeharto cederai keadilan

Kontras: pemberian gelar pahlawan Soeharto cederai keadilan

Kontras: pemberian gelar pahlawan Soeharto cederai keadilan
Ilustrasi. Catatan Akhir Tahun KONTRAS Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar (tengah) didampingi Staf Div. Advokasi KontraS Satrio Wiratan (kiri) serta Staf Div. International Rei Firdha Amalia (kanan) memaparkan laporan catatan akhir tahun KontraS, Jakarta, Minggu (14/12/2014). KontraS mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang kini berhenti di Kejaksaan Agung, seperti kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, kasus 1998, serta berbagai kasus lainnya. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
 ...jika tetap dilaksanakan maka kami dan elemen masyarakat lainnya akan menggugat itu."
Jakarta (ANTARA News) - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai pemberian gelar pahlawan bagi mantan Presiden Soeharto mencederai nilai keadilan dan hukum.

Kepala Divisi Pemantau Impunitas Kontras Feri Kusuma di Jakarta, Selasa, mengatakan Soeharto adalah orang yang bertanggung jawab atas berbagai peristiwa pelanggaran HAM dan kasus korupsi yang terjadi di era Orde Baru.

Bukan hanya itu, lanjut Feri, pers dibatasi bahkan tidak sedikit yang dibredel karena kritis, partai politik dibatasi dan diawasi ruang geraknya.

"Selain itu, MA juga menyatakan Yayasan Super Semar milik Presiden Soeharto telah melakukan perbuatan melawan hukum dan wajib membayar kerugian negara Rp4,4 triliun berdasar kurs saat itu," ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, TAP MPR XI Tahun 1998 juga mengamanatkan untuk dilakukannya pengadilan bagi mantan Presiden Soeharto dan kroninya atas kejahatannya selama memimpin Indonesia, tetapi hal tersebut tidak pernah terlaksana karena dideponir sebagai akibat dari kondisi kesehatannya yang memburuk.

Menurut Feri, rekam jejak Soeharto itulah yang membuat pemberian gelar pahlawan bagi penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu tidak memiliki dasar yang kuat.

"Hal-hal tersebut yang menjadi keberatan kami sehingga jika tetap dilaksanakan maka kami dan elemen masyarakat lainnya akan menggugat itu," ujar dia.

Sementara itu, Payan Siahaan, orang tua salah satu korban orang hilang periode 1997-1998 Ucok Iskandar Siahaan, menyatakan sangat ironis jika pemerintah sampai memberikan gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto.

Ia menilai rezim Orde Baru melakukan berbagai tindakan yang berlebihan pada seluruh masyarakat yang kritis pada sistem pemerintahan kala itu.

Meski demikian, dia juga menyatakan tidak semua yang dilakukan mantan Presiden Soeharto jahat. Hasil pembangunan yang dirasakan bangsa Indonesia saat ini tidak lepas dari peran Soeharto.

"Namun sayangnya, karena sejarah dulu mencatat banyak kasus yang ternyata berujung pada dirinya, kami tidak dapat menerima usulan penganugerahan pahlawan itu karena jika diberikan maka itu mencederai kami orang tua yang berjuang mencari kebenaran soal keluarga kami yang hingga saat ini belum tuntas," ujar Payan.

Sebelumnya, Munaslub Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu memutuskan akan terus mengupayakan agar pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Kisah Lee Kuan Yew Saat 'Mengusik' Bisnis Anak Soeharto

Kisah Lee Kuan Yew Saat 'Mengusik' Bisnis Anak Soeharto

PASTI LIBERTI MAPPAPA - detikNews

Kisah Lee Kuan Yew Saat Mengusik Bisnis Anak Soeharto  
Presiden Soeharto bersama Lee Kuan Yew. (Foto- Dewira/AFP/Getty Images)
Jakarta - Hubungan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew dengan Presiden Soeharto sempat tak harmonis. Presiden Soeharto sempat menutup diri atas Lee Yuan Yew selama kurang lebih tujuh setengah tahun.

Namun akhirnya mereka bersahabat baik selama lebih dari 30 tahun. Saking akrabnya hubungan kedua tokoh itu, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di pengujung 1997, Soeharto sempat mengutus dua putrinya, Siti Hardiyanti (Tutut) dan Siti Hediyati Hariyadi (Titik) untuk meminta bantuan Lee.

Selain memberikan nasihat teknis ekonomi, Lee sempat menyarankan agar Tutut dan adik-adiknya menarik diri dari pasar dan tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek baru.

Namun Tutut dan Titik tak berkenan dengan nasihat Lee tersebut. “Tapi Tutut menolak, bahkan membantah bahwa keterlibatan mereka dalam dunia usaha berpengaruh pada perekonomian,” tulis Lee dalam memoarnya “From Third World To First, The Singapore Story: 1965 – 2000” seperti dikutip dari Majalah Detik Edisi 171.

Menjelang Sidang Umum MPR 1998, ketika BJ Habibie menjadi calon kuat wakil presiden untuk mendampingi Soeharto, Lee melontarkan pernyataan mengejutkan. Menurut dia, pasar tak bersahabat dengan pakar aeronotika itu.

Apabila dipaksakan menjadi wakil presiden nilai tukar rupiah akan terus melemah menyentuh Rp 16 ribu per dolar. Tapi Soeharto tak peduli, dan Habibie pun terpilih menjadi wapres menggantikan Try Sutrisno dalam Sidang MPR, 11 Maret 1998. Namun pada akhirnya, Lee meminta maaf pada Habibie dan memujinya.

(erd/nrl)
Back To Top